Cinta Si Gadis Buta

Cinta Si Gadis Buta
Fitting baju


__ADS_3

Keesokan pagi nya Hanna telah sadar namun kondisi nya masih sangat lemah, untuk bertanya mengapa penglihatannya menjadi gelap pun ia tak kuat mengeluarkan suara, ia pun memilih untuk diam namun air mata nya selalu mengalir.


"Apakah aku memang di takdir menjadi buta, jika memang begitu mengapa aku di beri kesempatan untuk melihat isi dunia, mengapa aku di beri kesempatan untuk melihat orang orang di sekitar ku, terutama Bara" batin Hanna.


Tak lama kemudian Bara datang membawa bubur, ternyata firasatnya benar bahwa Hanna sudah sadar, ia pun segera menghampiri Hanna yang masih terpejam. Bara mengerutkan dahi nya saat melihat air mata yang membasahi bantal Hanna, ia pun segera menatap Hanna dan merasa bahwa Hanna sedang berpura-pura tertidur.


"Hanna aku tau kamu sudah bangun, jangan sedih disini masih ada aku, aku akan tetap berada di sisi kamu dan melindungi mu dengan baik" ujar Bara sambil menggenggam tangan Hanna.


Hanna hanya bergeming, ia sudah pasrah menerima takdir. kedepannya ia berpikir akan hidup seperti sebelumnya di kampung halaman kakek dan nenek nya, ia tak ingin tinggal bersama dengan Bara karena ia masih mengingat kejadian saat dirinya sedang berbicara dengan wanita yang tak lain adalah pacar Bara.


Satu minggu telah berlalu Hanna sudah bisa berbicara dan tubuhnya mulai membaik, keluarga Bara membawa nya ke kediaman Kartajaya, mereka akan berniat untuk menikahkan Bara dan Hanna kembali, Hanna belum mengetahui mengenai hal tersebut sehingga ia masih mau mengikuti keluarga Bara.


"Hanna ada yang mau mama dan papa bicarakan sama kalian berdua" ucap nyonya Nadia


"Bicara apa?" sahut Hanna dengan perasaan penasaran.


"Kami berencana untuk menikahkan kamu kembali dengan Bara" ujar tuan Herwin.


Hanna terkejut mendengar apa yang di katakan oleh Orang tua Bara, padahal setelah tiba di rumah Kartajaya Hanna akan meminta izin untuk tinggal kembali di kampung, Hanna masih bergeming ia merasa bingung harus berkata apa, jika ia menolak nya mungkin orang tua Bara akan kecewa pada nya, apa lagi saat Hanna di rumah sakit nyonya Nadia sangat setia menunggu dan merawatnya.


Namun jika ia menerima nya apakah dirinya pantas untuk bersama dengan Bara, apa lagi yang Hanna tahu Bara masih memiliki pacar, mana mungkin ia harus menikah dengan pria yang sudah punya pacar.


"Hanna mau istirahat dulu" lirih Hanna.


"Ah baik lah maaf kami terlalu cepat untuk memberitahu hal ini". ucap tuan Herwin.


"Bara kamu antar Hanna ke kamar" titah tuan Herwin.


Saat tiba di depan pintu kamar Hanna menghentikan langkah nya kemudian membalikkan tubuh nya sehingga ia dan Bara saling berhadapan.

__ADS_1


"Bara ada yang ingin aku tanyakan" ucap Hanna serius.


"ya ada apa katakan saja" sahut Bara sambil menatap manik mata Hanna.


"Bagaimana dengan hubungan kamu dan wanita itu" tanya Hanna sedikit ragu ragu.


Bara mengerutkan dahi nya, ia tak mengerti siapa wanita yang di maksud oleh Hanna, karena belakangan ini ia hanya dekat dengannya saat Hanna masih menjadi Liora.


"Wanita yang mana?" ucap Bara sedikit heran.


Hanna hanya tersenyum kecil kemudian berkata. "Wanita yang saat itu diam diam bertemu dengan kamu di jepang"


Deg.. Bara pun teringat kembali pada beberapa tahun sebelum nya sebelum Hanna hilang ia bertemu dengan Leona, apakah yang di maksud Hanna itu adalah Leona?


"Hanna aku dan dia sudah tidak ada hubungan lagi" bantah Bara.


"Sejak kamu menghilang aku baru sadar jika wanita yang benar-benar aku cintai adalah kamu" jelas Bara kemudian meraih tangan Hanna lalu menggenggam nya. Sayangnya Hanna langsung menepis tangan Bara.


"Bara aku mau istirahat dulu, sebaiknya kamu juga pergi dan beristirahat" Hanna melangkahkan kembali kaki nya dan masuk ke dalam kamar.


Bara masih berdiri di depan pintu kamar, ia masih terdiam sambil berpikir mengapa Hanna tiba tiba menanyakan hal tersebut, apakah di hatinya masih menyimpan rasa sakit hati atas perbuatan Bara terhadap Hanna sebelumnya.


Hari mulai berganti dengan cepat, hari itu keluarga Kartajaya sedang menyiapkan tempat untuk acara pernikahan putra nya, Hanna menerima permintaan kedua orang tua Bara, namun hati nya masih belum bisa menerima Bara sepenuh nya.


"Bara kamu harus menjaga Hanna dengan baik, jangan sampai kejadian beberapa tahun lalu terulang lagi" ucap tuan Herwin serius.


"Iya ayah, Bara akan menyayangi dan melindungi Hanna dengan sepenuh hati, ayah tenang saja" sahut Bara yakin.


Tuan Herwin bernafas lega saat mendengar keyakinan yang terucap dari Bara, kali ini ia benar benar yakin jika putranya sudah berubah dan menjadi lebih dewasa.

__ADS_1


Di dalam kamar Hanna masih termenung, lagi lagi pikirannya teringat pada saat Bara sedang berbicara dengan seorang wanita yaitu Leona, hati nya merasa teriris kembali, namun ia masih berusaha untuk tidak mengingat hal tersebut.


Setelah Hanna tersadar paska kecelakaan yang mengakibatkan kebutaan untuk mata nya, ingatan Hanna telah kembali, ia juga merasa kasihan pada Marlon yang harus meninggal dengan keadaan jauh dari keluarga nya, bahkan Bara sudah membungkam semua media agar tidak menyebarkan berita tentang kematian artis berasal dari Inggris tersebut.


"Nona Hanna apakah anda sudah bangun" tanya seorang pelayan sambil terus mengetuk pintu kamar Hanna.


"Sudah, masuk saja" sahut Hanna dari dalam kamar.


Pelayan itu pun masuk dan membantu Hanna untuk keluar dari kamar itu menuju ruang makan, saat tiba di ruang makan Bara langsung mendekat ke arah Hanna dan membantu menarik kursi agar Hanna dapat lebih mudah menduduki kursi tersebut, Hanna pun memberikan senyuman singkat saat mengetahui Bara ikut membantunya.


"Hanna setelah selesai makan, kamu ikut mama ke butik untuk fitting baju pernikahan kalian ya" Ucap nyonya Nadia.


Hanna hanya mengangguk ia tak bisa menolak ajakan ibu dari mantan suami nya itu, ia hanya bisa terdiam dan menuruti apa yang mereka katakan, saat Hanna ingin meminta izin pergi ke kampung tempat kakek dan nenek nya tinggal tuan Herwin melarangnya dan malah ingin membawa kakek dan nenek nya Hanna untuk datang menghadiri acara pernikahan Hanna dan Bara.


Saat di butik nyonya Nadia sibuk memilih beberapa gaun pernikahan yang cocok untuk Hanna, sedangkan Hanna hanya duduk terdiam di kursi tunggu, begitu juga Bara. ia ikut duduk di samping Hanna sambil menunggu nyonya Nadia selesai memilih pakaian.


"Hanna apakah kamu bosan?" tanya Bara. Sebenarnya ia hanya ingin memecah keheningan antara mereka berdua.


Hanna hanya menggelengkan kepala nya, ia masih enggan untuk berbicara dengan Bara, beberapa saat kemudian terdengar suara wanita yang menyapa Bara, Hanna pun mengingat suara tersebut. suara itu milik Leona wanita yang ia tahu bahwa dirinya adalah kekasih Bara.


"Bara kalian disini ngapain?" tanya Leona.


"Kita di sini sedang fitting baju pengantin" sahut Bara.


"Kalian mau menikah? ya ampun nona Liora baru juga di tinggal suami kenapa sekarang udah mau menikah lagi" sindir Leona sengaja.


mendengar apa yang di katakan Leona, Hanna mengerutkan kening nya, ia tak mengerti dengan apa yang di maksud oleh Leona, karena yang ia tahu pernikahannya dengan Marlon hanyalah kebohongan belaka yang di buat oleh Marlon.


"Leona jangan bicara sembarangan, dia Hanna bukan Liora" bantah Bara.

__ADS_1


__ADS_2