
"Bara" ucap Liora sambil melotot ke arah pria yang sedang memangku nya itu.
"Aku sedang mengejar mu kembali, jadi tolong jangan memberontak" bisik Bara dengan suara yang santai kemudian mengulas senyuman manis pada Liora.
"Permisi nona mari ikut kami untuk mencoba beberapa gaun ini" ucap salah satu karyawan sambil membawa beberapa gaun.
Liora dengan cepat mengikuti pegawai itu kemudian masuk ke ruang ganti untuk mencoba beberapa gaun, sebenarnya Liora masih bingung mengapa Bara mengajak nya mencari gaun, apakah dia akan membawa nya ke sebuah acara, entah lah hanya Bara sendiri yang tahu apa rencana nya.
Beberapa saat kemudian Liora keluar dengan menggunakan gaun yang sangat elegan, putih perpaduan dengan warna gold dengan panjang di atas lutut, Bara terpesona melihat Liora memakai gaun tersebut, namun ia kurang setuju jika Liora memakainya karena gaun itu sangat seksi sehingga membuat bagian tubuh belakang Liora jadi terpampang polos, ia tak ingin orang lain melihat bagian tubuh milik mantan istrinya itu.
Sudah satu jam Liora mencoba gaun gaun yang ada di toko tersebut namun belum ada satu pun yang cocok dengan nya, sebenar nya semua yang ia coba sangat cocok namun Bara malah melarangnya karena gaun itu terlalu terbuka untuk nya.
"Bara stop, aku lelah kenapa kamu malah mempersulit ku, semua gaun ini kamu yang memilih, tapi kenapa kamu juga yang tidak senang" protes Liora sambil berkacak pinggang.
"Liora semua gaun itu terlihat sangat seksi, aku tidak bisa membiarkan orang lain melihat bagian tubuh kamu" ucap Bara.
"Kenapa tidak mencari baju muslim saja jika tidak mau aku memakai baju seksi" ketus Liora kemudian menghamburkan tubuh nya di atas sofa.
Beberapa pegawai itu menahan tawa karena jawaban dari Liora yang sedang kesal, Bara hanya tersenyum kemudian menatap Liora dengan tatapan tajam.
"Gak usah ngeliatin sampe begitu" ketus Liora sambil memalingkan wajah nya.
"Kamu terlihat menggemaskan jika sedang marah" goda Bara.
__ADS_1
Liora hanya bergeming sambil menahan kekesalannya, ingin rasanya ia pergi dari tempat itu namun Bara pasti akan mengikuti nya, ia pun lebih memilih untuk tetap berada di mall tersebut.
Beberapa saat kemudian ada seorang pegawai dari toko Gucci membawa beberapa bag paper dan memberikannya kepada Liora, ia langsung melirik Bara karena heran mengapa pegawai toko itu memberikan sebuah bag paper padahal mereka belum pergi ke toko itu.
"Maaf saya tidak memesan ini" ucap Liora.
"Iya nona, tapi suami anda yang sudah memesan pakaian ini" pegawai itu pun akhirnya meletakkan bag paper di atas meja kemudian berpamitan untuk pergi.
"Kapan dia pesannya" batin Liora.
Bara hanya tersenyum tanpa mengucapkan kata apapun, ia mencoba untuk diam agar Liora tidak semakin kesal padanya, Liora pun akhirnya pergi ke kamar ganti untuk mencoba pakaian yang sudah di pesan oleh Bara, ia terkejut melihat sebuah gaun berwarna hitam yang terlihat sangat elegan, Liora pun berdecak kagum pada gaun tersebut, setelah memakai gaun itu Liora keluar untuk di perlihatkan pada Bara.
"Apakah cocok" tanya Liora santai.
"Sekarang kita harus pergi ke salon" ucap Bara sambil meraih tangan Liora dan keluar dari ruangan itu.
Liora hanya dapat mengikuti Bara, ia belum tahu Bara akan membawa nya kemana, saat ini yang ia pikirkan adalah apakah pria yang sedang menggandengnya memperlakukan Hanna seperti ini, jika iya sangat amat kasihan sekali karena harus menghadapi Bara yang penuh dengan teka teki.
Waktu telah berputar begitu cepat, hingga tak terasa bahwa Bara dan Liora sudah memakan waktu selama lima jam di mall, setelah selesai merias wajah dan rambut Liora, Bara mengajaknya pergi meninggalkan mall tersebut, saat ini mata Liora di tutup menggunakan dasi milik Bara, rasa penasaran pun semakin melekat pada pikiran Liora, ia masih belum bisa menebak Bara akan membawa nya ke mana.
Ketika sampai di tempat tujuan mereka turun dari mobil dan Bara menuntun Liora, secara tak sengaja Bara mengingat saat dirinya datang ke tempat itu sambil menuntun Hanna karena perintah dari kedua orang tua nya, tapi kali ini ia menuntun Liora dengan perasaan yang tulus, dan Bara yakin jika yang ia gandeng sekarang adalah istri buta nya Hanna.
"Kita sudah sampai" ucap Bara sambil melepaskan genggaman tangannya.
__ADS_1
"Apakah aku sudah boleh membuka mata" tanya Liora.
"Tunggu sebentar, aku akan membukakannya dalam hitungan ke tiga kamu harus membuka mata nya ya" titah Bara.
Liora hanya mengangguk seraya menunggu Bara membukakan dasi yang menutupi mata nya, setelah terbuka dan bara mulai menghitung mundur.
Satu Dua Tiga!!!
Liora membuka mata nya secara perlahan, matanya membulat sempurna saat melihat keindahan di hadapannya, ia pun langsung berjalan ke depan untuk menyentuh layar yang menampakan gambar 3D kupu kupu dan kunang kunang, Liora tak menyangka jika Bara tahu mengenai pemandangan kesukaannya.
"Apakah kamu suka" tanya Bara.
Liora hanya menganggukkan kepala nya tanpa melihat ke belakang, tepatnya tempat Bara yang sedang berdiri di belakang Liora.
"Liora jadilah istriku, aku ingin mengulang semuanya dari awal lagi" pinta Bara sambil menekuk sebelah lututnya dengan tangan yang sedang memegang cincin berlian yang sangat indah.
Saat Liora membalikkan tubuh nya, ia terperanjat melihat Bara yang sedang melamar nya, ia tak menyangka jika pria yang sedang bersama nya akan melamar dirinya malam itu juga, awalnya Liora sempat berpikir bahwa Bara akan membawa nya ke tempat acara penjamuan pesta besar, tapi ternyata semua nya di luar dugaan.
Liora bingung harus menjawab apa, hatinya ingin menerima lamaran tersebut. Namun ia teringat kembali pada Marlon yang masih berstatus menjadi suami nya, Liora pun akhirnya hanya bergeming lidah nya kelu sehingga tidak bisa mengatakan apapun kepada Bara.
"Liora" Suara Bara langsung memecahkan lamunannya, Liora memalingkan wajah nya seraya menarik nafas secara perlahan dan menghembuskannya, setelah itu ia pun menatap kembali ke arah Bara.
"Maaf Bara, Lamaran kamu terlalu mendadak aku masih berstatus istri Marlon. aku belum bisa menerima lamaran ini" ujar Liora.
__ADS_1
Bara pun hanya menyunggingkan senyumnya kemudian ia berdiri dan memetikkan jadi sehingga datanglah beberapa pria ber jas hitam sambil membawa sebuah amplop besar, Liora bisa menebak jika isi di dalam amplop itu adalah sebuah kertas.