Cinta Si Gadis Buta

Cinta Si Gadis Buta
Kenyataan membawa musibah


__ADS_3

Pria ber jas hitam itu pun memberikan amplop tersebut pada Bara, setelah itu mereka berpamitan dan meninggalkan tempat itu, Bara langsung menyodorkan amplop tersebut pada Liora agar wanita yang ada di hadapannya bisa dapat membaca dan mengetahui apa yang ada di dalam amplop tersebut.


"Ini apa?" tanya Liora penasaran.


"Buka lah jika kamu ingin mengetahui nya" ujar Bara sambil tersenyum.


Tanpa menunggu lama Liora langsung membuka amplop tersebut, betapa terkejutnya ia saat melihat bahwa isi dari kertas itu adalah bukti bahwa dirinya memang benar Hanna, dan Marlon sudah memalsukan identitas nya selama ini, ia merasa telah tertipu oleh sikap lembut Marlon yang telah di berikan pada dirinya selama ini, pantas saja setiap Liora menanyakan dimana foto saat mereka menikah dan Marlon selalu mengelak dan mengalihkan pembicaraan.


"Jadi pernikahan kami pun palsu" lirih Liora dengan ekspresi penuh dengan ketidak percayaan.


Tak terasa air mata nya pun mengalir begitu saja, kaki nya mendadak melemas sehingga Liora jatuh tersungkur, Bara segera memapah Liora agar segera berdiri kemudian ia memeluk Liora yang masih melemas.


"Hanna tenang lah, masih ada aku disini" ucap Bara seraya menenangkan Liora agar tidak berlarut dalam kesedihan.


"Kenapa? kenapa dia melakukan ini pada ku" batin Liora.


Keesokan pagi nya, Marlon datang ke hotel tempat Liora tinggal. mereka seperti biasa bertemu di restoran dan sarapan bersama, saat itu Liora hanya terdiam tanpa bersuara apapun, sehingga membuat Marlon bertanya tanya apa yang sudah terjadi pada Liora.


"Liora ada apa?" tanya Marlon.


"Jangan sebut nama itu" ucap Liora dengan tatapan tajam ke arah Marlon.


"Maksud kamu apa? nama kamu Liora kenapa aku tidak boleh menyebutnya" Marlon masih belum mengerti apa maksud wanita yang ada di hadapannya, mengapa ia malah tidak ingin mendengar nama nya.


"Apakah kamu yakin jika namaku adalah Liora, lantas ini apa Marlon" teriak Hanna sambil melempar sebuah kertas ke wajah Marlon.


Marlon segera memungut kertas yang sudah terjatuh ke lantai, wajahnya berubah menjadi tegang saat membaca isi kertas tersebut, ia pun langsung menggeleng geleng kan kepala nya menandakan bahwa apa yang baru saja ia baca itu tidak benar.


"Tidak! ini tidak benar Liora, kamu Liora istri ku, ini. ini pasti salah mereka sudah membohongi kamu" bantah Marlon sambil merobek kertas tersebut.

__ADS_1


Hanna hanya tersenyum sinis, ia pun duduk kembali dan menunggu agar Marlon dapat memberikannya sebuah penjelasan yang masuk akal.


Beberapa saat kemudian keadaan di restoran itu menjadi hening, pengunjung di restoran itu belum ramai karena sehingga hanya ada beberapa saja dan mereka pun cuek pada perselisihan antara Marlon Dan Hanna.


"Marlon jika sudah tidak ada yang di bicarakan lagi, aku akan segera pergi dari sini dan kembali ke keluarga asli ku" ucap Hanna tegas.


Marlon masih bergeming, lidahnya merasa kelu untuk mengucapkan sepatah kata pun, ada perasaan bersalah namun ada juga perasaan takut kehilangan, ia tidak menyangka jika hari itu akan terjadi secepat ini.


Karena tidak ada reaksi apapun dari Marlon, Hanna melangkahkan kaki nya dan meninggalkan Marlon yang masih memilih terdiam daripada memberikan sebuah penjelasan, padahal Hanna akan memaafkannya jika Marlon mau mengatakan yang sebenarnya.


Saat Hanna sudah mulai menjauh Marlon pun berteriak memanggil nama nya sehingga membuat Hanna menghentikan langkah nya dan menoleh ke arah Marlon.


Marlon pun segera berlari menghampiri Hanna yang sudah berada di pintu masuk restoran.


"Aku akan menjelaskannya, tapi kita berbicara di dalam mobil saja" pinta Marlon.


Tanpa berpikir panjang Hanna pun menuruti keinginan Marlon, mereka pun akhirnya meninggalkan hotel tersebut.


"Jika kamu terus berdiam seperti ini, lebih baik turunkan aku disini saja" ujar Hanna.


"Oke aku akan katakan." Marlon pun menarik nafasnya secara perlahan kemudian menghembus kan nya.


Setelah Marlon mengatakan semua nya, Hati Hanna menjadi sedikit tenang, setidak nya pria yang sudah membohonginya ini tidak pernah melakukan sesuatu yang merugikan Hanna.


"Kembali lah ke Inggris, dan aku akan kembali bersama keluargaku" ucap Hanna.


"Tapi Hanna" Marlon menghentikan ucapannya saat melihat telunjuk Hanna mengisyaratkan dirinya untuk diam.


"Marlon, anggap saja ini tidak pernah terjadi. kita kembali ke kehidupan yang sebelum nya, aku dan kamu memang tidak berjodoh, jadi terima saja takdir yang sudah tuhan garis kan untuk kita" ujar Hanna dengan suara yang merendah.

__ADS_1


Marlon hanya terdiam ia pun menoleh ke arah Hanna, mata nya berkaca kaca seolah tidak ingin berpisah dengan Hanna, wanita yang sudah bersama nya selama beberapa tahun.


pikirannya tak karuan ia sudah tidak fokus menyetir dan mereka tidak sadar jika di depan ada sebuah truk yang melaju dengan kecepatan tinggi sehingga mobil yang di kendarai Marlon tidak dapat menghindar.


Bruk!!


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Dokter cepat selamat kan istri saya" teriak Bara dengan suara panik sambil terus membopong Hanna yang sudah berlumuran darah di bagian kepala nya.


Beberapa perawat dan dokter pun segera menangani Hanna, sedangkan Marlon meninggal di tempat kejadian, pihak rumah sakit pun mulai mengurus jasad nya dan Bara akan mengirimkan jasad Marlon ke kediaman keluarga nya di Inggris.


"Hanna kamu harus selamat, aku tidak ingin kamu pergi lagi" batin Bara sambil bolak balik di depan pintu UGD.


Beberapa saat kemudian kedua orang tua Bara datang, mereka pun tak kalah panik nya dengan Bara. nyonya Diana pun memberikan pertanyaan beruntun pada Bara sehingga membuat Bara semakin merasa khawatir terhadap keadaan Hanna.


Setelah menunggu akhirnya dokter keluar dari ruangan tersebut, Bara pun segera menghampiri nya kemudian menanyakan keadaan Hanna saat ini.


"Bagaimana dok, apakah istri saya baik baik saja" tanya Bara.


"Pasien mengalami luka parah di bagian mata, sehingga kami harus segera mengoperasi mata nya agar luka itu tidak infeksi dan meradang" jelas dokter.


"Apa operasi mata, apakah dia akan buta setelah melakukan operasi?" tanya Bara lagi.


"Benar, ada pecahan kaca yang mengenai kornea mata nya dan jalan satu satunya adalah mengangkat kornea mata nya"


Bara pun mengusap kasar wajah nya kemudian ia menoleh ke arah kedua orang tua nya.


"Baiklah dok jika itu adalah pilihan terbaik untuknya maka lakukan saja operasi nya sekarang" ucap Bara dengan suara yang melemah.

__ADS_1


Dokter pun segera menyuruh perawat untuk menyiapkan ruang operasi dan beberapa perawat lainnya membawa Hanna ke ruang operasi.


"Hanna semoga kamu dapat menerima keadaan ini" batin Bara .


__ADS_2