Cinta Si Gadis Buta

Cinta Si Gadis Buta
teror


__ADS_3

Melihat Hanna yang sedang menangis, bi Tuti mengantar Hanna ke kamar nya, ia merasa kasihan pada majikannya, bi Tuti tak sengaja mendengar percakapan Hanna dan Leona tadi, ia merasa Leona sangat angkuh dan keterlaluan, bi Tuti pun berencana untuk melaporkan hal itu pada Bara.


Saat Bara pulang bi Tuti langsung menghampiri Bara, ia langsung melaporkan apa yang sudah terjadi siang tadi, Bara pun langsung berlari ke arah kamar nya, ia takut jika Hanna termakan oleh ucapan Leona.


Setelah tiba di kamar, kaki nya berhenti melangkah saat melihat Hanna yang sedang berdoa setelah selesai melakukan solat isya, ia menyadari bahwa Hanna sedang menangis dalam doa nya, air mata Bara keluar saat mendengar namanya di sebut dalam doa istri kecilnya itu.


Hanna selalu mendoakan yang terbaik untuk Bara, akan tetapi Bara masih saja selalu mengkhianatinya dan masih belum melepaskan Leona sepenuh nya.


Bara tak sadar jika Hanna sudah selesai berdoa, ia masih mematung di pintu kamar nya, saat Hanna mau berjalan ke luar, ia menabrak Bara dan Bara langsung menahan Hanna agar tidak terjatuh.


"Bara kamu sudah pulang" Ucap Hanna sambil menstabilkan posisi tubuhnya yang masih dalam pelukan Bara.


"Hanna apakah kamu baik-baik saja?" Tanya Bara khawatir.


"Aku baik-baik saja, kenapa kamu sangat khawatir? ada apa Bara" Hanna mencoba agar terlihat biasa biasa saja di hadapan Bara.


"Tadi bi Tuti bilang Leona kesini, apakah dia melukai kamu"


Hanna tersenyum ringan kemudian melepaskan genggaman tangan Bara, ia pun memundurkan langkahnya secara perlahan.


"Untuk apa dia melukai aku, Bara kamu jangan khawatir selama aku masih mempercayai kamu maka semuanya akan baik baik saja"


"Hanna apa yang dia katakan sama kamu, apakah kamu mempercayai apa yang sudah dia katakan?" Bara penasaran dengan apa yang sudah Leona katakan pada Hanna.


"Hanya mengobrol biasa saja ko, lagipula dia berani bicara apa di depan istri sah pacarnya" Hanna menyindir Bara mengenai hubungan mereka yang masih bersama.

__ADS_1


Bara langsung membisu seribu bahasa, ia semakin gelisah dan penasaran dengan apa yang sudah Leona katakan pada Hanna, ia baru pertama kalinya melihat Hanna yang bersikap dingin dan lebih banyak diam padanya.


"Hanna ayolah beritahu aku apa yang sudah dia katakan sama kamu" Bara memaksa agar Hanna mau mengatakannya.


Hanna menarik nafas panjang dan membuangnya secara perlahan, ia pun mengajak Bara untuk duduk di sofa kamar nya, dan berniat untuk memberitahu apa yang sudah Leona katakan padanya.


"Bara dia mengatakan bahwa, hanya Leona yang pantas menjadi pendamping kamu, dan juga kalian sudah pernah tidur bersama"


"Dia gila! Hanna kamu jangan percaya sama ucapan dia, aku berani bersumpah jika aku belum pernah menidurinya" Bara membantah semua yang di katakan Leona pada istrinya itu.


"Bara yang menikahi aku adalah Bara yang sekarang, jadi untuk apa memikirkan masa lalu, Bara. mau benar atau bohong apa yang sudah Leona katakan, aku tidak akan memperdulikannya, Bara apakah kamu sudah benar benar ingin melepaskannya?" Hanna ingin tahu isi hati Bara apakah masih ada Leona atau tidak.


"Terima kasih jika kamu mau menerima aku Hanna, ya aku benar-benar ingin meninggalkannya, aku sekarang tersadar jika kamu lah wanita terbaik yang sudah tuhan berikan untukku"


ia merasa bahwa Bara masih memiliki perasaan pada Leona.


"Hanna kenapa kamu menangis?" Bara semakin khawatir saat melihat Hanna menangis.


Hanna langsung menyeka air mata nya lalu ia tersenyum kembali, agar Bara tidak khawatir pada nya, setelah itu Hanna langsung mengalihkan topik dan menanyakan soal pekerjaan Bara hari ini.


Mereka pun akhirnya mengobrol kan hal yang lain, namun rasa canggung yang di rasakan kedua pasangan itu masih masih terasa, setelah selesai mengobrol Bara mengajak Hanna untuk beristirahat sejenak.


Keesokan pagi nya, Bara mengajak Hanna pergi ke perusahaannya, ia takut jika meninggalkan Hanna di rumah, Leona akan datang mengganggunya lagi.


setelah tiba di kantor para karyawan saling melemparkan pandangan, merek penasaran dengan wanita yang di gandeng oleh Bara.

__ADS_1


"Siapa perempuan itu, ko seperti orang buta ya" bisik salah satu karyawati.


"Hus jangan bicara seperti itu, kalau presdir tau bakal di pecat kita, dilihat dari sikap presdir ke wanita itu terlihat seperti presdir sedang melindunginya, berarti kita jangan menyinggung wanita itu" ucap salah satu karyawati yang tak suka bergosip.


Setelah tiba di ruangan Bara, Hanna pun di persilahkan untuk beristirahat, Bara langsung duduk di meja kerja nya dan menandatangani beberapa berkas yang sudah tersusun rapih di atas meja nya, saat Bara sedang menandatangani salah satu berkas itu, ia mengerutkan dahi nya karena isi dalam berkas itu adalah foto dirinya dengan Leona sedang tertidur di sebuah kamar, Bara tak mengingat kejadian itu, ia merasa bahwa dirinya tidak pernah meniduri Leona.


Setelah bara melihat foto itu, ia langsung memanggil sekertaris nya dan menanyakan tentang berkas yang berisi foto tersebut, beberapa saat kemudian sekertaris itu pun datang dan langsung menghadap ke Bara.


"Maaf presdir, apakah ada yang salah dengan berkas nya"


"Vera siapa yang memberikan berkas ini" Bara memberikan berkas itu pada Sekertaris nya.


Mata Vera membulat sempurna, ia terkejut dengan isi berkas itu, ia sama sekali tidak meletakkan berkas itu di meja Bara, ia pun langsung menjelaskan bahwa dirinya tidak pernah menerima berkas itu.


"Maaf presdir, saya hanya meletakkan lima berkas saja, soal berkas yang ini saya tidak tahu"


Bara mengerutkan dahinya, ia penasaran siapa sebenarnya yang sudah meletakkan berkas itu di atas meja nya, Bara pun mempersilahkan sekertaris nya untuk keluar, setelah Bara duduk kembali ia pun menghubungi bagian pengawasan dan menyuruhnya untuk memeriksa CCTV , beberapa saat kemudian pihak pengawasan mengabari Bara bahwa tadi pagi Leona datang dan masuk ke dalam ruangannya setelah itu langsung pergi meninggalkan ruangan Bara, Bara pun mengakhiri panggilannya dan merobek foto itu kemudian membuangnya ke tempat sampah.


"Leona kenapa kamu sangat keras kepala" Batin Bara kesal. Bara pun kemudian menghampiri Hanna, ia menatap wajah istrinya, entah mengapa setiap kali Bara melihat nya ia langsung merasakan ketenangan.


Hanna menyadari bahwa Bara sedang berada di dekat nya, ia pun memalingkan wajah nya agar Bara tak lagi menatapnya, Bara tersenyum saat melihat Hanna yang sedang menghindari tatapannya.


"Hanna apakah kamu ingin bulan madu" tanya Bara serius.


Mendengar kata bulan madu jantung Hanna langsung berdebar, bulan madu adalah suatu impian nya saat masih remaja, ia sangat ingin berbulan madu dengan suami tercinta nya, kini impiannya menjadi kenyataan, dan yang membuat Hanna berdebar adalah yang mengajaknya untuk berbulan madu ialah pria yang ia sukai sejak dulu.

__ADS_1


__ADS_2