Cinta Si Gadis Buta

Cinta Si Gadis Buta
akhir sebuah kisah


__ADS_3

"Tapi Bara walaupun dia Hanna, sebelumnya dia sudah menjadi istri dari mendiang Marlon" ujar Leona seolah sedang memprovokasi.


"Leona lebih baik kamu urus diri kamu sendiri" ucap Bara kemudian duduk di sebelah Hanna.


Leona pun mendengus kesal kemudian pergi meninggalkan butik tersebut, Bara menoleh ke arah Hanna yang sedari tadi hanya terdiam, ia menggenggam tangan Hanna namun beberapa saat kemudian Hanna melepaskan genggamannya saat nyonya Nadia datang menghampiri mereka.


"Coba kalian pakai ini, seperti nya cocok" titah nyonya Nadia sambil memberikan gaun pernikahan pada Bara agar ia dapat menemani Hanna pergi ke ruang ganti.


Setelah selesai mencoba pakaian, mereka pun kembali ke rumah. Hanna hanya terdiam selama di perjalanan hingga tiba di rumah pun ia langsung masuk ke dalam kamar, nyonya Nadia mengerti perasaannya begitu juga dengan Bara, ia paham bahwa Hanna sedang marah padanya karena masalah beberapa tahun yang lalu yang sudah ia ingat kembali saat ini.


Beberapa minggu kemudian tiba lah dimana Hanna dan Bara melangsung kan akad pernikahan, para tamu undangan pun sudah berkumpul dan menyaksikan prosesi akad nikah, terlihat wajah Hanna yang begitu cantik nan anggun, kebutaannya tidak sedikit pun menghalangi kecantikan natural yang ia miliki.


Setelah selesai akad nikah, Hanna dan Bara duduk di pelaminan dan tamu undangan pun satu persatu datang menghampiri mereka dan memberikan ucapan selamat, hingga setelah itu datang seorang tamu laki laki dengan anak perempuan yang usia nya masih 10 tahun, saat mendengar suara pria itu Hanna merasa tidak asing dan seperti pernah mendengar nya, hingga beberapa saat kemudian anak perempuan itu langsung memeluk Hanna.


"Selamat ya Tante, aku kira Tante akan menjadi mama Raya, ternyata tidak. dan juga aku sangat merasa kehilangan saat Tante di kabarkan menghilang saat berlibur ke jepang" ucap anak perempuan yang tak lain adalah Raya.


Hanna pun teringat saat ia bertemu dengan Raya, dan beberapa saat kemudian Hanna juga teringat pada pria yang bergelar sebagai papa nya Raya adalah Haris yang dulu pernah mengisi kekosongan hati nya saat di desa, namun harapan untuk bersama nya pupus setelah Hanna dan kakek nenek nya pindah rumah dan Haris tidak pernah mengunjungi nya lagi.


"Tuan Bara aku harap anda bisa menjaga Hanna dengan baik"Ucap Haris sambil berjabat tangan dengan Bara.


"Anda jangan khawatir, Hanna akan saya jaga dengan baik" Bara pun merangkul pinggang Hanna yang ramping.


Setelah acara selesai Bara dan Hanna telah masuk ke kamar pengantin, saat itu Bara melihat Hanna yang sedang duduk di tepi ranjang sambil melamun, karena penasaran Bara pun menghampiri Hanna.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Bara dengan lembut.


Hanna hanya menggelengkan kepala nya kemudian berkata, " Bara apakah kamu sudah benar benar mencintai ku?" tanya Hanna.


Bara tersentak saat mendapat pertanyaan seperti itu dari Hanna, rupanya Hanna masih belum yakin jika Bara sudah benar benar mencintai nya.


"Hanna aku benar benar mencintai kamu, apakah kamu lupa saat kamu masih menjadi Liora aku mati matian mengejar kamu" jelas Bara serius.


Hanna hanya menggelengkan kepala nya, kemudian memeluk Bara dari samping, Bara pun terkejut mendapatkan pelukan mendadak dari istrinya.


"Maaf kan aku Bara, bukannya aku meragukan ketulusan mu, tapi aku hanya takut jika semua ini hanya ilusi ku saja" lirih Hanna.


"Seharusnya aku yang minta maaf, semua salah ku yang sudah membuat kamu merasakan sakit hati" ujar Bara kemudian mengecup kening Hanna.


"Bara ingat, jaga Hanna baik baik. setelah pulang dari London tolong bawa kabar baik contohnya seperti memberi kami cucu" ucap nyonya Nadia sambil tersenyum semeringah.


Bara hanya mengangguk kemudian menuntun Hanna untuk pergi ke kamar. Melihat keadaan Hanna yang mulai menerima Bara kedua orang tua nya merasa lega, dan mereka sangat menantikan kehadiran seorang cucu.


Hari keberangkatan Bara dan Hanna pun telah tiba, nyonya Nadia dan tuan Herwin ikut mengantar mereka sampai ke bandara.


"Kalian jaga diri baik baik ya" ucap tuan Herwin sambil mengelus kepala Hanna.


"Iya ayah" sahut Hanna kemudian mencium punggung tangan mertua nya.

__ADS_1


......................


Dua tahun kemudian..


"Bara cepat istri mu mau melahirkan" teriak nyonya Nadia dari dalam kamar Hanna.


Bara pun berlari menghampiri istrinya kemudian bergegas membawa Hanna ke rumah sakit, saat tiba di rumah sakit Hanna langsung di bawa ke ruang bersalin dan Bara pun ikut mendampingi nya.


Terlihat jelas raut wajah Hanna yang sedang merasakan sakit di bagian perut nya, kontraksi demi kontraksi ia rasakan setiap beberapa detik sekali, hingga dokter memberitahu bahwa Hanna telah siap untuk melahirkan.


Dari luar terdengar suara tangisan seorang bayi, nyonya Nadia dan tuan Herwin langsung berdiri dan mengintip di kaca pintu ruang bersalin, tak lama kemudian suster pun keluar membawa anak Hanna dan Bara, terlihat jelas wajah bahagia yang terpatri di wajah kedua orang tua Bara, mereka sangat bahagia karena bisa melihat cucu pertama mereka.


Setelah Hanna di pindahkan ke ruang rawat, suster pun membawa Bayi nya dan meminta agar Hanna memberinya Asi, melihat Hanna yang kesulitan untuk menyusui anak nya, Bara langsung melarang Hanna untuk menyusui putri kecil nya kemudian ia menyuruh suster untuk mencari susu formula, ia tak ingin membuat Hanna kerepotan setelah melewati masa yang menyakitkan saat melahirkan putri nya.


"Sayang, kamu jangan memaksakan diri jika sakit, aku masih punya banyak uang untuk membelikannya susu berkualitas terbaik di dunia" ucap Bara sambil mengecup kening istri nya.


"Tapi Bara memberinya Asi jauh lebih baik dari susu mana pun" sahut Hanna yang kurang setuju dengan saran Bara.


"Iya Bara, akan lebih sempurna jika Hanna memberikan Asi nya pada putri kalian" tutur nyonya Nadia yang juga kurang setuju dengan saran Bara.


"Bu, aku gak mau menyusahkan Hanna, memberinya Asi sepertinya sangat menyakitkan" bantah Bara.


Hanna dan nyonya Nadia pun sama sama menggelengkan kepala, mereka tak habis pikir mengapa Bara malah jauh lebih mencemaskan masalah hal itu, padahal memang sudah resiko menjadi seorang ibu untuk memberikan asi dan pasti akan merasakan nyeri, tapi rasa nyerinya akan hilang setelah lebih sering memberikan asi kepada sang buah hati.

__ADS_1


Tiga hari di rumah sakit mereka pun akhirnya pulang, Hanna berjalan sambil di papah oleh nyonya Nadia, sedangkan Bara sangat kerepotan harus membawa buah hati nya, Bara belum terbiasa menggendong seorang bayi hingga saat tiba di depan rumah sakit banyak orang yang merasa khawatir jika bayi yang Bara gendong akan terjatuh.


__ADS_2