
Setelah beberapa hari di desa, Bara mengajak Liora dan Marlon kembali ke kota, banyak hal yang dapat Liora ketahui mengenai Hanna, ia semakin yakin jika dirinya memang lah Hanna, ia masih curiga pada Marlon yang sudah menutupi kebenarannya.
"Liora besok kita langsung pulang ke Inggris ya" ujar Marlon.
Liora pun melirik ke arah Bara yang sedang fokus menyetir, terlihat raut wajah Bara yang tak suka mendengar ajakan Marlon pada Liora, Liora pun menggelengkan kepala nya, menandakan bahwa dirinya tidak menyetujui ajakan Marlon.
"Maaf Marlon aku masih betah tinggal disini, lagi pula pasport aku kan belum jadi" Sahut Liora sambil tersenyum pahit.
"Tapi Liora sutradara di Inggris sudah menunggu kita untuk syuting film terbaru nya, kita sudah menandatangani kontrak, dan tidak di batalkan" Marlon berusaha agar Liora mau ikut pulang bersama nya.
"Siapa sutradara nya? mungkin saya bisa membantu" Tutur Bara menyela pembicaraan Marlon dan Liora.
"Sutradara Wujien" sahut Liora singkat.
"Perusahaan akan menghubungi nya, mereka akan meminta pengunduran waktu syuting untuk beberapa minggu" ujar Bara sambil tersenyum.
"Tapi tuan Bara apakah anda kenal dengan sutradara Wujien?" tanya Marlon penasaran.
Bara hanya menganggukkan kepala nya, Marlon pun langsung terdiam dan tidak berani berkata apa apa lagi, jika ia tetap bersikeras untuk membawa Liora kembali, ia takut malah membuat Liora curiga pada nya.
Setelah beberapa saat kemudian mereka pun tiba di hotel tempat Liora menginap, Marlon sudah di antar terlebih dahulu oleh Bara ke hotel yang berbeda dengan Liora.
sebenarnya Marlon sangat keberatan jika menginap di hotel yang berbeda dengan Liora, ia takut jika Bara dapat dengan mudah untuk mendekati Liora.
__ADS_1
"Terima kasih" ucap Liora sambil mengembangkan senyumannya.
"Aku langsung pulang ya" Bara pun kembali ke dalam mobil dan langsung meninggalkan hotel tersebut.
Waktu telah berganti dengan cepat, Saat pagi Marlon datang ke hotel tempat Liora. Tak lupa juga ia membawa sarapan untuk Liora dan dirinya, padahal bisa saja Liora sarapan di restoran hotel tersebut, namun Marlon takut jika Bara datang dan mengganggu mereka.
"Kenapa pagi-pagi sekali? sudah datang" ujar Liora sambil melebarkan pintu.
"Aku gak bisa tidur semalaman, tadi pagi memutuskan untuk jalan pagi dan aku lihat ada mie pangsit kesukaan kamu, jadi sekalian aku beli untuk kita sarapan"
Liora pun akhirnya mempersilahkan Marlon untuk masuk, ia pun hanya mencuci wajah nya kemudian ikut menikmati mie pangsit yang sudah di bawakan oleh Marlon untuknya.
"Liora sebenarnya ada apa? kenapa kamu tidak ingin kembali ke Inggris?" tanya Marlon dengan sedikit terbata-bata.
"Liora" panggil Marlon membuat Liora langsung spontan menoleh ke arah nya, ia menatap wajah pria yang ada di hadapannya dengan serius, begitu juga dengan Marlon yang sedang menunggu jawaban dari Liora.
"Sebenarnya aku masih nyaman berada di kota ini, aku merasa bahwa tempat ini tidak asing bagi ku. Marlon tolong beri aku sedikit waktu untuk menikmati kenyamanan di kota ini ya" Liora berpura pura memasang wajah melas agar Marlon merasa kasihan padanya.
Marlon hanya terdiam kemudian meraih tangan Liora dan mengecup punggung tangan yang mulus milik Liora, Marlon sangat mencintai Liora bahkan ia rela menjauhi keluarga nya demi Liora, begitu juga dengan Liora ia sangat menghargai Marlon apapun yang pria itu katakan Liora pasti langsung menuruti nya, tapi semua menjadi berubah sejak Liora bertemu dengan Bara, terlebih Liora sempat mengingat beberapa ingatan nya saat bersama dengan Bara.
Liora kini menganggap Marlon sebagai pembohong, ia ingin mengembalikan semua ingatannya agar dapat segera terlepas dari Marlon, dan kembali bersama Bara, Liora pikir sebelum ingatannya hilang ia sudah hidup bahagia bersama Bara, namun kenyataannya ia hanya di anggap sebelah mata oleh Bara.
"Liora selagi kamu masih percaya pada hubungan kita, aku akan menuruti apa yang kamu inginkan, termasuk menetap di kota ini" ucap Marlon, Liora terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Marlon, ia tak menyangka jika Marlon tidak mempersulitnya.
__ADS_1
"Kamu serius?" tanya Liora memastikan.
Marlon hanya menganggukkan kepala nya kemudian kembali menyantap mie pangsit, Liora hanya menatap Marlon dengan perasaan tak percaya, entah kenapa kini perasaannya menjadi kasihan pada Marlon.
Di siang hari Liora pergi ke sebuah Mall di kota itu, awalnya ia pergi bersama Marlon, tapi saat dalam perjalanan seorang sutradara menelfon nya dan mengajak makan siang bersama, akhirnya Liora memutuskan untuk pergi sendiri dan membiarkan Marlon pergi bersama sutradara.
Saat sedang berjalan jalan melihat beberapa perhiasan, Liora bertemu dengan Bara, entah ini sebuah kebetulan atau memang Bara sudah tahu jika Liora akan datang ke mall itu, mereka pun saling menyapa satu sama lain.
"Kebetulan kamu ada di sini, mari ikut aku untuk mencoba beberapa gaun" ajak Bara tanpa basa basi, saat Bara sudah berjalan melewati Liora, kakinya terhenti saat menyadari Liora yang masih terdiam di tempat semula, ia masih bingung dengan ajakan Bara.
" Hey kenapa diam? ayo ikut aku" ucap Bara sambil meraih tangan Liora.
Liora pun akhirnya mengikuti Bara, matanya membulat sempurna saat Bara menghentikan langkah nya tepat di hadapan gerai yang memajang beberapa gaun dari desainer ternama.
"Tolong pilihkan beberapa gaun yang cocok untuk istri saya" titah Bara kepada salah satu pelayan di toko tersebut.
"Baik tuan" pelayan itu pun segera mencari beberapa gaun termahal yang baru saja selesai di rancang oleh para desainer ternama.
"Hey aku bukan istri kamu" protes Liora sambil mengerucutkan bibir nya, ia takut jika ada paparazi yang mengikutinya kemudian menyebarkan gosip yang tidak tidak mengenai dirinya dan juga Bara, biar bagaimana pun status nya sekarang masih menjadi istri Marlon.
Bara hanya mengulas senyuman kemudian duduk di kursi, berbeda dengan Liora yang masih berdiri sambil memasang wajah kesal, sebenarnya ia bukan kesal pada Bara karena sudah menyebutnya istri, tapi ia kesal pada diri sendiri yang masih belum bisa mengingat ingatannya yang hilang.
Melihat Liora yang masih berdiri Bara langsung menarik tangan Liora hingga terjatuh ke dalam pangkuannya, suasana di tempat itu tiba tiba menjadi gaduh karena beberapa pengunjung di toko itu berteriak melihat adegan yang baru saja Bara lakukan, pengunjung itu menganggap bahwa Bara dan Liora adalah sepasang kekasih yang sangat harmonis, tah hanya satu beberapa pengunjung yang lainnya pun merasa iri pada Liora yang dapat memiliki suami setampan Bara.
__ADS_1