Cinta Si Gadis Buta

Cinta Si Gadis Buta
Ruang kepala sekolah


__ADS_3

Di koridor sekolah Naya,Nasya dan Kanya beberapa teman dan saling menyapa.kini mereka pun berpapasan dengan Reza.


"Kak.."ucap mereka seraya menyapa dengan sopan.


"Iyah."jawab Reza tersenyum ramah.


"Pada mau kemana nih buru-buru banget?''tanya Reza ramah.


''Mau ke ruangan pak kepsek,kak."jawab Kanya.


"Lho ada masalah apa emang nya?"tanya Reza penasaran.


Padahal ia tahu mesti mereka ingin mencari tentang keberadaan Raisa.dan sebelum mereka sampai duluan Reza harus memberitahu pak kepsek.


"Ada deh kak, kita duluan ya."ucap Nasya sopan.


Mereka bertiga melanjutkan langkahnya menuju ruangan pak kepsek.terlihat reza baru saja keluar dari dalam sana.


Saat sampai didepan ruangan ketiga nya saling pandang. Sebelum akhirnya Kanya mengetuk pintu itu.


'tok..tok..tok.'


Suara pintu diketuk terdengar jelas oleh pak kepala sekolah. Beliau memutuskan berdiri dan membuka kan pintu.


"Assalamualaikum."ucap Kanya saat pak kepsek membuka pintu.


"Waalaikumusalam."jawab beliau ramah.


"Mari silahkan masuk, apa ada yang penting?''ucap dan tanya pak kepsek.


Mereka memasuki ruangan dan duduk disana.


"Sebenarnya kita mau nanya sesuatu pak."ucap Kanya pelan.


"Apa bapak tahu dimana Raisa? Mungkin dia memberi kabar ke sekolah karena tidak masuk sudah satu Minggu lebih?"tanya Kanya memberi tahu maksud kedatangan nya.


Kepala sekolah yang sudah diberitahu oleh Reza sebelumnya pun tak terkejut akan pertanyaan dari teman Raisa.


"Oo soal Raisa,"ujar pak kepsek.


"Katanya dia ada urusan/kepentingan jadi,dia pergi untuk beberapa waktu."jelas pak kepala sekolah.


"Apa bapak tau dia kemana?"tanya Naya.


"Soal itu bapak kurang tahu."jawab pak kepsek sekenanya.


"Apa masih ada pertanyaan? Saya masih banyak pekerjaan."ujar pak kepsek.


"Baik pak, terimakasih."ucap Nasya.


"Permisi."ucapnya lagi.


Dibalik ruang pak kepsek Reza tengah mendengar kan pembicaraan mereka. Kini ia bernafas lega. Untuk saat ini kondisi dan keadaan Raisa belum ada yang tau. Ia pun pergi kembali ke kelas nya.


Saat itu juga langsung mendapat pertanyaan dan tatapan dingin dari Aldo.


"Darimana aja za?tanya Aldo dingin.


"Ada urusan bentar."jawab Reza singkat ia memilih untuk duduk di bangkunya.


Aldo melihat ada sesuatu yang aneh pada Reza, terlebih sahabat nya itu menjadi lebih pendiam dari biasanya yang selalu ramah.


"Tumben lagi nggak semangat?"tanya Iyan menghampiri bangku tempat Reza duduk.


"Lagi nggak enak badan aja."jawab Reza bohong.


Hari ini niatnya sepulang sekolah Reza ingin menemui Raisa, dan melihat bagaimana kondisi gadis itu sekarang. Tentu tanpa sepengetahuan sahabat-sahabat nya.


Rapat OSIS ditunda karena ada kepentingan mendadak.membuat Reza begegas membereskan alat tulisnya dan bangkit berjalan keluar kelas.


"Duluan ya gaes."ucap Reza.


"Kamu pulang bareng yang lain aja Al, aku masih ada urusan."jelas Reza dan meninggalkan mereka dengan penuh tanda tanya.


"Aneh."ucap Daffa ambigu.


"Iya ntahla mungkin dia lagi banyak masalah."ucap Iyan santai.


Saat ini Naya , Nasya dan Kanya tengah berjalan bersama keluar kelas.hingga suara seseorang menghentikan langkah mereka.


"Heh kalian berhenti."ucap Kesya lantang.


Membuat ketiga nya berhenti dan menampilkan wajah datarnya.


"Apa?!"tanya Kanya tak kalah berteriak.


"Dimana temen kalian yang murahan itu?"tanya Kesya tak sopan.


"Maksud Lo apa hah?!"ucap Kanya emosi.


"Emang nyatanya gitu kan Raisa tuh murahan."ucap teman Kesya menyahuti.


"Jaga mulut kalian sebelum gue emosi,"ujar Kanya serius.

__ADS_1


"Dan melakukan sesuatu yang buruk."ujarnya lagi.


"Upss..takuttt."ucap Kesya dengan nada yang dibuat-buat.


'bruukkk'


Kanya mendorong Kesya hingga terjatuh,dan meringis kesakitan.


"Gila yah Lo?"ucap Kesya kesal.


"Iya,kenapa nggak suka?"ucap Kanya puas.


"Makanya jangan suka cari masalah."ucap Kanya jelas penuh penekanan.


"Apalagi bicara buruk tentang Raisa."ucap Kanya sebal.


"Awas ya kalian!"ucap Kesya marah.


Setelah itu mereka bertiga pergi meninggalkan Kesya dan geng nya. Tanpa ada keinginan untuk membantu.


Aldo berjalan dengan tergesa-gesa untuk mengikuti kemana Reza pergi.hingga diparkiran ia memakai motor sport milik Iyan.


Reza menyetir dengan tenang tanpa melihat jika Aldo mengikuti nya dibelakang. Mobil Reza berhenti di depan minimarket. kemudian ia masuk kedalam dan membeli makanan untuk Raisa.


"Raisa suka makan apa ya?"ucap Reza bingung.


"Apa aja lah yang penting makanan."ucap Reza final.


Ia berjalan mengambil roti tawar,selai,susu dan berbagai camilan ringan tak lupa ia membayar terlebih dahulu ke kasir.


"Lama banget beli apaan sih dia?"ucap Aldo bertanya dan penasaran.


Rupanya Aldo masih setia menunggu Reza dari kejauhan.


"Makasih kak."ucap Reza pada mba-mba kasir.


"Sama-sama."jawabnya ramah.


Reza keluar dengan membawa dua kantung plastik berisi banyak makanan, memasuki mobil dan melanjutkan perjalanan. Yang membuat Aldo semakin heran. Untuk siapa makanan sebanyak itu...


"Makanan sebanyak itu?"ucap Aldo bingung


"Setahuku dia punya segalanya dan selalu terpenuhi?"ucapnya lagi.


"Lalu untuk siapa?"tanya lagi.


Tak ingin banyak berfikir Aldo segera menyusul mobil Reza yang mulai menjauh. Tak perlu waktu lama. Mobil Reza berhenti didepan kontrakan kecil.


'tok..tok..tok'


"Assalamualaikum..."ucap Reza pelan.


"Waalaikumusalam,"jawab Raisa ramah.


Kemudian Reza meletakkan kantung plastik itu dilantai dan menutup mata Raisa.


"Coba tebak, siapa aku?"tanya Reza tersenyum tipis.


"Hm..kak Reza kan."jawab Raisa.


"Kok tau?"tanya Reza.


"Udah hafal bau parfum kak Reza."jelas Raisa dan membuat Reza tersenyum sendiri.


"Silakan duduk kak."ucap Raisa mempersilahkan.


"Di bangku taman aja gimana?"tawar Reza.


"Kalo dirumah takutnya ada fitnah sa."jelas Reza lagi. Dan mendapat anggukan kepala dari raisa sebagai jawaban.


Raisa berjalan perlahan dengan tangan yang diarahkan ke depan agar tidak menabrak sesuatu. Dengan senang hati Reza menuntun Raisa ke tempat duduk.


"Aku bawa sesuatu buat kamu sa."ucap Reza ramah.


"Apaan kak?"tanya Raisa penasaran.


"Ada deh nanti aku kasih tau,''ujar Reza tenang.


"Okedeh."jawab Raisa sekenanya.


"Tumben kesini lebih awal kak?"tanya Raisa.


"Hm.. hari ini free dan semua siswa dipulangkan."jawab Reza.


Dari balik pohon Aldo masih menatap penasaran, siapa seseorang yang sedang bersama Reza saat ini.


"Siapa dia?"


"Kenapa Reza tak pernah bercerita tentang kekasih nya?"


Banyak pertanyaan yang ingin Aldo tanyakan pada sahabat nya. Namun mengingat waktu sudah sore ia memutuskan untuk pergi dari sana.


Selepas kepergian Aldo, Raisa dan Reza terlihat semakin asyik saja bercerita.

__ADS_1


Sa.."ucap Reza pelan.


"Pernah nggak kamu mencintai seseorang yang tidak memiliki perasaan untuk kita?"tanya Reza sendu.


"Hm..iya gitu deh kak. Apa kak Reza mencintai seseorang?"tanya Raisa kembali.


"Ya..aku mencintai seorang gadis baik hati,"ujar Reza.


"Pasti dia sangat cantik bukan?"tanya Raisa antusias.


"Sangatt.."jawab Reza menatap wajah Raisa dengan tatapan sendu.


"Tapi, dia mencintai orang lain,dan orang lain itu adalah sahabat dekat ku."ucap Reza lagi.


Raisa nampak terdiam mengingat cinta nya yang bertepuk sebelah tangan.Aldo pria tampan yang selama ini mengisi relung hati nya. Hingga kini ia pun masih mencintainya dalam diam.


"Memang susah untuk menerima kenyataan tapi,"ujar Raisa menjawab.


"Kita harus ikhlas jika ia bahagia meski tidak dengan ku."ucap Raisa pilu.


Reza yang mendengar penuturan Raisa lantas tersenyum senang.


"Meski aku bukan orang yang ia cintai. Tapi aku bahagia karena hadir sebagai teman dekat."ucap Reza pelan.


"Udah..udah sedihnya mending sekarang kak Reza pulang gih udah sore juga.''ucao Raisa memotong pembicaraan. Ia tak ingin Reza terlarut dalam kesedihan.


"Iya sa, aku pulang dulu ya.''ucap Reza. Bangkit dan kembali menuntun Raisa kedalam rumah.


"Assalamualaikum sa."ucap Reza ramah.


"Waalaikumusalam kak, hati-hati ya."ucap Raisa dan melambaikan tangan. Setelah suara deru mobil Reza tak lagi terdengar Raisa memutuskan untuk duduk santai menaruh makanan yang Reza bawakan tadi.


"Ya Allah banyak banget."ucap Raisa kaget kala meraba barang yang ada didekatnya.


"Makasih kak Reza."ucap raisa tulus.


Lain kali ia akan mengucapkan nya secara langsung pada Reza.


Kini Raisa telah selesai dengan ritual mandinya. Ia berjalan perlahan,mencari sisir yang ada dimeja rias nya.


Di rumah nya Reza sedang asyik menyisir rambutnya dengan sesekali bersenandung kecil.


Hingga kehadiran sang mama tak ia ketahui.


"Ekhemm.."deheman sang mama mengagetkan Reza .


"Ish..mama jail banget deh."ucap Reza mengerucutkan bibirnya.


"Lagi kenapa nih? Kayaknya anak mama lagi seneng banget deh?"tanya Mama Nenti menatap sang putra bungsu nya.


"Nggak kenapa-napa kok."balas Reza kesal.


"Udah sana mama keluar aja ya, aku mau belajar soalnya."ucap Reza lagi.


"Iya iya deh..nanti mama suruh bi Sumi bawain kamu teh hangat ya.''ucap Mama Nenti tersenyum.


"Iya mah makasih."ucap reza dengan


menampilkan seluruh deretan gigi nya.


Mama Nenti mencari keberadaan bi Sumi untuk segera membuat kan Reza teh hangat.


*****


Dikediaman nya Aldo nampak termenung di balkon kamarnya. Melihat suasana kota yang ramai dengan kelap-kelip lampu.


"Sendiri lagi?"ucap Aldo lesu.


Kesepian?? Tentu Aldo dirumah hanya ditinggal dengan asisten rumah tangga nya yaitu bi Jumi dan satpam.


"Den, ini bibi buatkan greentea kesukaan Aden."ucap bi Jumi ramah.


"Makasih ya bi, taruh aja dimeja.''ucao Aldo ramah.


Bu Jumi adalah asisten rumah tangga yang sudah Aldo anggap sebagai keluarga sekaligus teman nya bercerita.


"Bi Jumi istirahat aja gih dah malem."ucap Aldo lagi.


"Iya den, kalo gitu bibi permisi."ucap bi Jumi tersenyum.


Selepas kepergian Bu Jumi Aldo kembali mengingat saat dirinya membuntuti Reza.


"Siapa gadis cantik itu?"gumamnya dalam hati.


"Apa hubungannya dengan Reza?"tanya nya lagi.


Apa yang sebenarnya terjadi dan ia bahkan tak mengetahui apa pun.


Pikirannya saat ini benar-benar kacau, ia sangat membutuhkan seseorang untuk sharing agar beban hidup nya berkurang.


Akhirnya Aldo memutuskan untuk tidur lebih awal, daripada harus keluyuran tidak jelas.


Aldo memasuki kamar dan berbaring di kasur king size nya yang nyaman dan terlelap ke alam mimpi.

__ADS_1


__ADS_2