
Hujan mengguyur Kota Metropolitan, namun jalan-jalan raya tetap dipadati kendaraan bermotor. Hujan tidak mencegah seseorang untuk diam di rumah atau kantor mereka.
" Halo..Youra kamu dimana sih, ku udah di mall nih" tanya Natasya yang berbicara melalui phonecell nya. Natasya sekretaris sekaligus satu-satunya teman dekat Youra.
" Wait just a minute Nat, ku bentar lagi nyampe. Kamu tunggu di coffee addicted cafe ya." Ujarku seraya memasuki parkir area mall.
"Ok.."
Ku parkir kan mobil ku dengan cepat dan langsung menuju Cafe.
"Nat... Kamu duduk dimana?" Tanyaku lewat telepon.
" Di atas Non..dekat Jendela"
Natasya benar-benar mengerti aku, dia memilih tempat duduk yg baik.
"Tumben lama bgt loe Non..gue udh order coffee, buat loe juga dah gue order Caramel Coffee latte kan" sambutnya
"Gila loe Nat bukannya nyuruh gw duduk malah nyerocos kayak petasan, biar gw duduk dulu nape.." komplain ku.
"Hihihi.."
" Ketawa lg loe... Thnx udah orderin." Ujarku seraya menarik kursi di depan nya.
"Cape gw Nat, pusing.. Robert lagi gw utus ke Perancis ada masalah disana.."
Waiter mengantarkan pesanan kami.
"Thanks ya.." ujar ku kepada waiter tersebut.
"Pantes aja lw ajak gw ketemu. Pusing kenapa Ra"ujarnya seraya menyesap kopi nya
"Abang gw mo jalin kerjasama Nat, nah masalahnya Abang Gw kan kenal Robert. Gak ada yang tau klo dy CEO di Dreams.. mana dia lagi gak ada di sini. Biasanya klo dia gak ada ya gw lah yang nemuin, mana Pertemuannya Kamis besok."
"Jadi lw manggil gw utk gantiin Robert?"
"Nah pinter loe.. gw suka lw berdua.. cepat nangkep maksud gw tanpa gw jelasin panjang lebar"
"Ya ampyuun Non jelaslah gw paham, kan gw assisten Lw & Robert, hadeeehhh deh lw Yee pintar but kadang oon juga."
"Hehehe.. mau ya Nat." Rayu ku
" Hmm gw sih mau non bantu lw kan memang kerjaan gw tapi masalah di Korea gimana? Gw kan Kamis ada pertemuan soal masalah Resort Lw di Jeju island"
" Syet dah gw lupa..hmm apa lw dah pesan tiket? Tanya ku seraya menyesap Caramel Coffee Latte...
"Permisi Nona-nona apakah Nona2 ingin mengorder yang Lain?" Tanya seorang waiter, menyela pembicaraan kami.
"Gw laper Ra, mana menu nya gw Liat dong.." ujar Natasya
Waiter tersebut memberikan 2 buku menu kpd kami, kami melihat-lihat menu.
"Gw yg ini ya.. minumnya Ice Ocha ya" Natasya memilih makanannya.
"Lw pesan apa Ra.."
"Hmmm... Apa ya.. Club Sandwich ada gak?" Tanya ku kpd waiter tersebut.
"Ada Nona, mau yg Tuna spicy, Chicken atau Beef. ?"
"Tuna spicy boleh, Non-mayonaise ya. Minta slice lime ya. Bread nya bisa yang gandum?"
"Soal bread nanti saya tanyakan dulu ke kitchen apa bisa di ganti ya Non."
"Ok boleh tanya kan dulu.."
"Minumnya Nona apa?"
" Ice Lime Juice, Gulanya di pisah" waiter mencatat pesanan kami dengan cepat.
"Apa ada lagi yang mo dipesan?"
"Nat ada lagi gak? Gw cukup itu aja"
"Gak itu aja dulu"
"Baiklah, saya repeat sekali lagi ya orderan nya, 1 porsi Chicken Chicago Steak, 1 Club Sandwich Tuna Spicy, Non mayonaise, Breadnya yg Gandum, 1 Ice Ocha, Dan 1 Ice Lime Juice gula di pisah." Ujar si waiter
"Ok.. sip"
" Baiklah tunggu sebentar ya Nona saya tanyakan tentang breadnya" seraya mengambil buku menu dan pergi meninggalkan kami.
"Youra..apa kau baik-baik saja tidak ada hal yang lain yang mau kmu diskusikan."
"Tenanglah Nat ku baik2 saja.."
"Apa tidur mu nyenyak?"
Ku pandang Natasya dengan seksama, dy mengkuatirkan ku.
" Nat..aku baik-baik kok. Walaupun Robert gak ada, tpi dia selalu vicall.. dia mengawasiku 24 jam. Jadi ku bisa hidup dengan tenang walaupun dy di Perancis."
"Baguslah kalo begitu.."
"Thnx ya Nat telah mengkuatirkan ku.." ujarku seraya menggenggam tangan nya.
"Ra tiket pesawat ke Korea belum ku pesan, mau ku pesan?"
"Nat gak salah nih aku naik pesawat komersial..." Kataku seraya menatap Natasya.
"Jiaaaahhhh gw lupa, boss mah gak usah pesan tiket yaaa. Kan kamu ada pesawat sendiri."
Aku hanya tersenyum setelah Natasya menyadari kesalahannya. Tak lama makanan pesanan kami datang dan kami menikmati nya sambil ngobrol-ngobrol seputar kerjaan di Korea dan tentang beberapa undangan yang harus di hadiri oleh Kami.
Waktu sudah menunjukkan pukul 21:30 saat kami berpisah. Dan hujan sudah berhenti mengguyur kota itu.
Di apartemen, ku siapkan semua keperluan untuk berangkat ke Korea.
"Masih ada waktu.." Gumanku
"Robert apa kau mendengar kan ku"
"Iya Non, ada apa?" Ku lihat di Laptop ku wajah Robert.
"Bagaimana dengan kondisi disana? Apakah bisa kau handle?"
"Iya Nona, bisa, lusa sudah bisa Rampung semuanya."
"Baguslah kalo begitu, masalah pertemuan dengan Marco sudah ku atasi. Natasya yang akan mewakili kita."
" Loh bukannya Kamis dia harus ke Jeju island?"
"Aku yg ke sana, tolong siapkan berkas-berkasnya, dan email ke aku. nanti kamu susul saya ke sana ya, dan hubungi Pilotku."
"Oh begitu. Baiklah nanti ku urus semuanya bawa Rafael bersamamu. Nanti aku akan menghubungi dia"
"Ok..atur semuanya.ku mau berkemas."
Aku mengambil koper kecil ku dan mulai mengisinya.
Ku lihat dari laptop Robert sudah sibuk dengan teleponnya, dia sibuk menelepon beberapa orang serta mengutak-atik komputernya. Tak lama masuk beberapa file penting ke email ku. Ku tersenyum melihat ketangkasan Robert. Robert dan Natasya merupakan Aset ku yg paling berharga dan penting.
Lamunan ku dibubarkan oleh ketukan di pintu kamar ku.
Robert menoleh ke arah ku
"Itu pasti Rafael"ujarnya
Ku langkahkan kaki ku menuju pintu dan membukanya. Seorang Pria Tinggi dg potongan rambut ala tentara berdiri tegap dihadapan ku.
"Selamat malam Nona, saya Rafael Benitez."
"Ok.. tunggu di ruang tamu ya"
"Baik Nona.."
"Robert siapkan Jet ku sekarang ya. Lebih baik ku berangkat malam ini, agar besok aku bisa survey ke Jeju island tanpa sepengetahuan mereka ya." Jelas ku.
"Baik Nona."
******
Bandara Soekarno-Hatta
23:50wib aku tiba di bandara Soekarno-Hatta, di kawal oleh beberapa orang. Rafael Benitez sebagai pemimpin Bodyguard ku dan beberapa anak buah nya di belakang ku.
Megan Hartati, ku bawa sebagai sekretaris ku dan Lutfi Hasan yang membantu ku juga.
Diruang tunggu beberapa petugas bandara menghampiri ku.
"Selamat malam Nona Youra Wilson. Kami akan mengantarkan Anda dan Tim ke pesawat, Pesawat Anda sudah kami siapkan. Pilot anda hari ini Jonathan Kawilarang. Dengan Co-pilot Samuel Wahyu. Crew Cabin Co-ordinator Sarah Bayan. Ini profile mereka." Seraya menyerahkan file. Rafael Benitez mengambilnya dan membaca File tersebut. Dan menunjukkan nya padaku.
" Siapa Namamu?" Tanya ku.
"David Mores, Nona."
"Hmmm baiklah, tolong kirim profile mereka ke Robert. Rafael akan memberikan email nya"
"Baik Nona.. mari saya tunjukkan jalannya menuju pesawat."
Kami meninggalkan Jakarta tepat tengah malam. Diperkirakan jam 9 waktu Seoul, aku akan tiba di sana. Masih ada waktu untuk ku istirahat.
******
Grand Seoul Hotel, salah satu hotel bintang 5, adalah tempat ku menginap. Robert sudah mengatur reservasi hotelnya. Seharusnya kami tidak akan mengalami kelambatan cek in.
"Annyeong, Good Day, I would like to Check in." Ujar Rafael Benitez kepada Resepsionis hotel.
"Good day Sir. Under name who Sir?"
"Rafael Benitez & Megan Hartati."
"Please wait a minute sir, let me check ur reservation"
"May i have your id card sir?"
Rafael mengeluarkan pasportnya dan memberikan kepada Resepsionis tersebut, tiba-tiba saja manager Room Reservation menghampiri Rafael.
"Good Morning Mr Rafael. I'm Bong Dae Jung, Manager Room. I'm waiting for ur coming today Sir." Jelas nya kepada Rafael.
"naneun yeogieseo modeun geos-eul gajigo, dangsin-eun suhamul-eul dobgi wihae boi lum-e jeonhwa hal su issseubnida.(i take all from here, you can call boy rooms for help their baggage.)"ujarnya lagi kepada karyawan nya.
"Yes Sir"
Tak lama beberapa karyawan hotel datang dan membawa semua koper kami.
"Nona, This mr Bong Dae Jung, dia adalah manager Room." Bong Dae Jung membungkukan badan nya tanda hormat kepada ku.
"Ok. nae bang boyeojul su-iss-eo? (Dapatkah Anda menunjukkan kamar ku).?"
__ADS_1
"Yes Miss. Follow me please."Kami mengikutinya.
Dia menunjukkan kamar Presiden suite. Membuka kan pintu untukku.
Dengan sigap Rafael menahan ku masuk menyuruh beberapa anak buahnya untuk mengecek kondisi keamanan di dalam.
Mereka memberikan kode kepada Rafael bahwa kamar tersebut aman.
"Silahkan Nona, Megan tolong bantu Nona di kamar."
"Baik Pak. Nona Youra mari silahkan."
"Seperti nya Anda orang penting." Ujar Tiba-tiba Mr. Bong membuat semua yang ada menoleh kepadanya.
"Wah ternyata anda dapat berbicara dalam bahasa Indonesia." Ujarku seraya tersenyum pada nya.
"Saya kebetulan lama di Indonesia, Nona. Hmmm saya akan menempatkan beberapa pelayan kamar untuk anda sehingga semua keperluan anda disediakan dengan cepat.bagaimana menurut anda Nona?"
"Ok baiklah tempat kan 3 orang di ruangan ini. Apakah pesanan kamar kami hanya ini dan ruangan sebelah?" Tanya ku seraya menyelidiki pekerjaan Rafael Benitez.
"Well, Mr. Rafael telah memblok 1 lantai utk 2 Minggu Nona, Di Lantai ini hanya terdapat 4 Kamar Nona dan semuanya atas nama 2 orang, Yakni Mr. Rafael Benitez salah satunya." Jelas Mr. Bong.
"1 lagi atas nama Megan Hartati Nona." Sambung Rafael Benitez.
"Hmm bagus lah.. Megan siap kan air mandi ku." Kataku seraya meninggalkan Rafael & Bong Dae Jung.
"Ah iya Rafael sambungkan vicall dengan Robert. Aku mau di ruangan ini dan kamar tidur ku. Apa kau mengerti? Dan minta profile karyawan yang akan ditempatkan di kamar ini kepada Mr Bong." Perintah ku kepada Rafael Benitez. Seraya meninggalkan nya.
"Ya Nona." Jawabnya.
Mr. Bong bekerjasama dengan Rafael memberikan data dan memanggil 3 orang pelayan yang akan bertugas di kamar ku.
******
Megan Hartati, assisten yang harus di perhitungkan juga, dia tidak hanya cantik. Namun cekatan dan cermat.
Menurut pengamatanku, Rafael Benitez merupakan duplikat persis nya Robert, sedangkan Megan merupakan Duplikatnya Natasya. Tidak ada yang perlu di kuatir kan. Ku langkahkan kaki ku menuju kamar mandi.
Membuka semua pakaian ku. Tubuh ku terlihat mulus, namun ada guratan di sepanjang punggung, tepi sisi dalam dekat payudara ku sepanjang 10 centi.
Bekas guratan panjang juga terdapat di sisi dalam paha kanan ku. Oleh karena itu aku jarang menggunakan celana pendek. Celana atau Rok yg ku gunakan paling pendek ukurannya pas di dengkul ku.
Luka-luka tersebut ku dapat beberapa tahun lalu ketika aku Remaja.
Hal yang ingin ku lupakan. Sial...kenapa aku mengingatnya sekarang di mana Robert tdk ada. Ku nyalakan shower kamar mandi, ku basahi seluruh tubuh ku. Mencoba untuk melepaskan bayangan hari-hari yang menakutkan itu.
Butuh waktu 30 menit utk diri ku menjadi normal kembali.
Ku ambil Jubah mandiku. Ku lihat Rafael dan Megan sedang memasang laptop dan menyambungkan vicall kepada Robert.
"Maaf Nona kami belum selesai" ujar Megan setelah ia menyadari kehadiran ku di kamar.
"Iya..Gpp. mana file Pelayan hotel ini."
Megan mengambil Tab nya dan memberikan nya kepada ku.
"Ini nona.."
Aku membaca isi profile tersebut.
"Hmmm Mr Bong Dae Jung, memberikan orang yang bkualitas di bidang nya. Ini bagus."Gumanku.
"Sudah tersambung dengan Robert Nona." Ujar Rafael membuyarkan konsentrasi ku.
"Robert.." tesku
"Ya..ada apa?"
"Berapa persen saham kita di hotel ini?"
"Nona kami pamit dulu, kami akan ada di kamar kami."sela Rafael
"Baiklah, Jam 8 malam nanti kita meeting"
"Ya Nona" jawab Rafael & Megan serentak.
"Jadi brp persen?"
"45%.."
"Berikan kenaikan gaji kepada Mr. Bong Dae Jung. Dan GM nya."
"Ok...hmmm" Ku rasakan tatapan menyelidik milik Robert.
"Ada apa?" Tanyaku.
"Apa Kau baik-baik saja?" Tanyanya menyelidik.
"Ya ku baik."
"Benarkah?"
"Iya benar" sepertinya dia menyadari sesuatu. Ku raih apel yang tersedia diatas meja, memakan nya perlahan, ku hempaskan tubuh ku di atas sofa, ku nyalakan tv mencari channel yang ku suka. Ku tahu sepasang mata Robert tetap mengawasi ku.
"Rafael.."panggil Robert
"Ya Sir.."
"Berikan jadwal nona selama di sana." Tegasnya, ada nada kuatir dalam suara Robert, dia mengetahui kegelisahan ku. Dia merasakannya, batin ku.
Ku terlelap di sofa ditemani suara TV.
"Biarkan ku ngantuk, Cape" ujar ku.
"Pindahkan dia" Robert memberikan perintah
"Apakah aku harus menggendong nya Sir?" Ada keraguan di nada Rafael. Rafael Benitez amat sangat menghormati majikannya. Dia tidak mau dan tidak berani berbuat yang kurang sopan.
"Tak apa, ini perintah, aku gak bisa mengangkat nya sekarang, apa kau paham maksud ku?"
"Ya paham. Baiklah.."
"Maaf kan aku Nona" ujarnya seraya mengangkat tubuh ku" aku lelah sekali karena perjalanan hari ini. Ku biarkan Rafael memindahkan ku.
******
Jeju island sangat indah, aku memiliki sebuah resort di sini dan ada beberapa masalah yang dihadapi.
Kebetulan selama ini tidak ada yang tahu bahwa aku lah owner dari Dreams Company. Ltd. Jadi aku bisa menyelidiki Resort milik ku tanpa diketahui Karyawan dan pemegang saham yang lain nya.
Hari kedua di Korea, aku di kejutkan oleh kedatangan dari Robert.
Pagi itu baru saja ku selesai kan joging pagi ku yang di temani oleh Rafael dan Megan.
"Lutfi Hasan tolong ambil file yang tadi ku minta print." Perintah nya
"Robert.. kapan kau tiba di Seoul?" Tanyaku
" Tadi malam?"
"Haah..? Bagaimana bisa?"
"Hmmm... Hei you, please prepare warm water for Miss Youra." Ujarnya kepada salah satu pelayan hotel.
"Robert..jawab aku"
"Apa?"
"Kenapa Kau ada di sini"
"Keluar lah kalian semua tinggal kan kami" perintah nya lagi pada semua orang yang ada. Dia melangkahkan kakinya menuju lemari es dan mengambil Air mineral, membuka tutup nya dan memberikan nya kepada ku.
"Duduk dan minumlah terlebih dahulu. Kamu baru selesai lari kan jangan sampai dehidrasi." Kata nya seraya mengulurkan air mineral kepada ku.
Aku mengambilnya, Robert menjauhi ku masuk ke kamar ku. Aku mengikutinya. Melihat tingkah lakunya.
Kalo orang lain melihat ini mereka akan berpikir bahwa kami adalah pasangan kekasih.
"Mandilah terlebih dahulu, air mu sudah siap, nanti dingin. Aku akan memesan sarapan. Kamu mau makan apa?"
Ku pandang dirinya dari atas sampai bawah. Ku tatap matanya tanpa berkedip. Robert pun melakukan hal yang sama.
Aduh Nona lebih baik jangan melihat ku seperti ini, batin Robert, ntah sejak kapan sedikit perubahan dalam diri mu membuat ku gak tenang nona. Dengan cepat dia mengalihkan pandangan dari ku.
"Hi.. It's Room Servis?" Tanyanya melalui telepon.
Ku langkahkan kaki ke kamar mandi, ya lebih baik ku mandi.
"Robert... pesan kan aku Fish & chips ya... " Teriakku dari bathtub.
"Ya.." jawabnya.
Pikiran ku melayang padanya. Kenapa dia di sini? Apakah urusan di Perancis sudah selesai.
"Duh... Youra oon banget sih, jelaslah selesai. Buktinya dia di sini. Kayak gak kenal Robert aja." Umpatku.
ku santap sarapan ku dengan santai, di hadapan ku ada Robert yang dari tadi sibuk dengan laptop nya dan phonecell nya.
"Ini laporan yang tadi anda minta pak." suara Lutfi Hasan memecahkan keheningan di ruangan itu.
"ok... thanks, masih ada 1 lagi. ini MOU kerjasama di London, sudah ku email, tolong print, aku ingin cek ulang." perintah nya lagi. Lutfi Hasan pergi meninggalkan kami.
"Ada apa? kenapa makan mu sedikit Nona.." tegurannya menyentakkanku dari lamunan.
"Oh.. Gak apa ku ingin makan perlahan aja kok. Hmmm kau belum menjawab pertanyaan ku tadi pagi Rob."
"Kemarin aku melihat kegelisahan mu dan ketakutan mu"
"Haaah yang benar saja, kapan aku lakukan itu..kan semalam sudah ku bilang, aku tidak apa-apa, ku baik." kelak ku
"Youra, berapa lama kita saling kenal? berapa lama aku ikut denganmu? setiap inchi tubuh mu aku mengenalnya. setiap gerakmu aku mengetahuinya. apa yang terjadi padamu setiap hari aku mengetahuinya. Jadi jangan coba-coba untuk menyembunyikan dari ku.
satu lagi, maaf soal Rafael yang memindahkan mu, ku tahu kamu gak suka namun harus bertahan saat dia menyentuh mu."
"ya aku paham, karena kamu gak di sini."
Kami bukan sepasang kekasih namun hanya padanya aku berani menyerahkan hidup ku. Hanya Robert yang dapat menyentuh tubuhku tanpa aku merasa takut.
"Jadi...ada apa?" tanyanya lembut memecahkan lamunan ku.
"Guratan itu membuat ku sedih."
"Kapan kamu melihatnya?"
"kemarin waktu mandi"ujarku pelan, tiba-tiba
Robert berjalan menuju kamarku dan terus ke kamar mandi. Aku tetap memakan sarapan ku
"percuma aja kalo ku ikuti, pasti di usir." batinku.
__ADS_1
Robert memandang sekeliling kamar mandi. dia menemukan penyebab nya.
"Berapa lama kau di kamar mandi saat itu?" tanyanya.
"1 jam lebih." jawabku, dan dia mengangguk tanda mengerti kemudian dia mengangkat telepon.
"Lutfi Pelayan dari Hotel ada di mana, minta mereka ke sini."
"Tok..tok.."
"Come in"
"we heard that you calling US Sir. what we can do Sir." ujar salah satu pelayan.
" I need 1 curtain like that, and 1 shower curtain."
"Ok Sir." mereka pergi meninggalkan ruangan.
"Kau menemukannya." ujarku pelan
"Ya Nona.. Rafael ke kamar Nona sekarang."
ku lirik Robert, dari wajahnya terpancar kemarahan. tubuhnya pun gemetar menahan sesuatu.
"Dia tak bersalah, aku kan kesini dadakan tanpa persiapan.sudah jangan diperpanjang lagi." perintahku. Robert melihat ku dengan seksama.
" Keselamatan mu lebih penting Nona dan semua bodyguard mu harus belajar lebih teliti lagi. Harus sigap tak peduli waktu dan kondisi nya." ujar nya tegas. hanya butuh 1/2 detik bagi Rafael untuk tiba di depan Robert.
"Dasar Otoriter.. beeehhh untung banget aku bukan anak buah mu. bisa habis nyawaku melayang." gurauku
"hahaha...Aduh Nona lupa ya..siapa yang menjadikan ku seperti ini." Lunaknya suara Robert membuat Rafael angkat alis
"Eheem.." Rafael berdeham menandakan kehadirannya.
"Fael kaget tuh.."kataku. seraya pindah ke sofa, menyalakan TV. Merubah-ubah channel TV.
"Ikut.." perintahnya pada Rafael.
"Ingat jangan marahi dia, dia gak salah"teriakku. Robert tidak akan pernah mengabaikan perintahku. Dia terlalu patuh.
Ku dengar dia memberi penjelasan dan perintah kepada Rafael. Robert menyuruh 3 orang pelayan hotel itu menutupi Kaca besar di meja wastafel dan kaca panjang pemisah shower dan toilet. Dia lakukan itu untuk ku. karena ketika ku mandi semua bagian tubuh ku terlihat lewat kaca-kaca itu. Guratan luka ku dapat ku lihat dengan jelas.
Mataku lelah atau karena perasaan ku yang membuat ku lelah. ku tertidur di sofa. Remote yang ku pegang terjatuh di lantai.
Aku merasa tubuhku melayang. ada rasa hangat yang kurasakan dipipiku dan ku dengar degup jantung yang cepat milik seseorang.
"Rob..."ucapku lirih
"Ssstttt.. tidurlah Nona, kamu butuh itu" dia merebahkan diri ku di tempat tidur.
"Jangan pergi, aku takut"
"ya.." Robert merebahkan diri nya di samping ku. memeluk ku hingga napas ku normal.
Gila kalau seperti ini pertahanan ku bisa jebol Nona. gw kan cowok Normal. gumamnya seraya mengacak-acak rambutnya.
*******
Robert dan Megan ke Resort di Jeju island, karena Robert sudah di Seoul jadi aku gak perlu datang ke pertemuan, biarkan Dia dan Megan yang mengatasi masalah yang ada.
Aroma Coffee yang lembut menyentuh hidung ku ketika aku memasuki Cafe Au Laite. Cafe dengan nuansa classic. Tak banyak pengunjung yang datang.
"Annyeong" sapa ku kepada Barista
"ye, mueos-eul jumun hasigessseubnikka?" Jawabnya
"dangsin-eun gajigo issseubnikka Hazelnut Coffee Latte?"
"Ye"
" Ok Hana Hazelnut Coffee Latte, Dul Americano Coffee."
"Ok...Hana Hazelnut and Dul Americano. daleun geos?"
"No.. how much..?" Tanyaku seraya menyerahkan credits card ku.
Kupilih tempat duduk di taman dalam cafe. Ku raih ponsel ku dan mulai membaca beberapa email.
"Robert, aku di cafe Au Laite." Ku kirim kan WhatsApp ke Robert.
"Ok.. apakah Rafael bersamamu?" Balasnya.
"Ya.."
"Ok.."
Aku membaca email laporan dari Natasya. Natasya, dapat mengatasi pertemuan dengan Marco, dan berhasil menjalin kerjasama, dalam waktu dekat Marco akan mengirimkan proposal kerjasama. Apapun keputusannya tidak akan mempengaruhi keuangan ku. Dan tidak akan membuat kedua belah pihak di rugi kan.
Marco tidak mengenali Natasya. Dia sempat bertanya soal CEO Dreams Company. Tapi Natasya bisa memberikan jawaban yang tepat.
Tak lama pesanan ku datang, aku memberikan kode pada Rafael. Rafael datang mendekat dan mengambil coffee yang ku pesan untuk nya dan Lutfi.
Aku tenggelam dalam pekerjaan ku semua alat gadget yang ku miliki sudah terhampar di hadapan ku.
Tiba-tiba aku dikejutkan oleh teguran seseorang dalam bahasa Korea, suara yang asing yang membuatku melihat siapa yang berbicara.
"What i don't understand." Ujar ku. Rafael spontan mendekat, aku mengangkat tangan ku menahan dia untuk tidak mendekat.
"Can you help me?" Tanya pria yang memakai Topi dan berkacamata hitam. Dia bertanya sambil mengendap-endap seperti sedang menghindari sesuatu.
"Depent" jawab ku singkat.
"Please" rayu nya
"what is the benefit for me if I help you?" Bisik ku pada nya seraya melihat sekeliling ku.
"I Will pay u. Please i need get out from here." Ucapnya lagi. Ku tatap wajah nya yang tertutup. Ku lirik Rafael dan Lutfi, mereka berdiri gelisah. Ingin Dengan segera membuat pria itu pergi.
Untung saja yang menemani Ku mereka tak terbayangkan jika yang menemani adalah Robert. Dia pasti sudah mengusir pria itu tanpa menyelidiki terlebih dahulu.
"Ok..i Will help you." Jujur saja aku penasaran olehnya. Apakah pria ini dalam keadaan bahaya? Atau hanya jebakan untuk ku. Yang jelas saat dia mengganggu ku itu artinya dia sudah ada dalam masalah baru. Karena Robert tidak akan pernah diam. Dia pasti bertindak, tidak peduli apa motif mendekati ku, terlebih lagi pria ini adalah Pria asing yang belum sama sekali dikenal.
"Come on follow me."ujarku seraya berdiri.
"Ikuti dari jauh." Ku kirim pesan kepada Rafael.
"Ok non." Jawabnya
"I'm Youra, and you?"
" Park Hyun Jin." Dia mengikuti masih dengan sikap waspada.
"Kamu dengar dia tadi kan, kata kan pada yang lain di hotel bahwa aku akan segera datang, tetapi jangan ada yang menyapa ku." Ku perintah kan Rafael lewat WhatsApp
"Dan jangan beritahu Robert. Apa kau paham?" Sambung ku lagi.
"Ya Nona paham" balasnya.
Aku mengajak pria itu pergi meninggalkan cafe menuju Hotel.
Ketika hampir tiba di depan pintu hotel dia mulai mengumpat.
"Damn! Shit! Do you stay in this hotel?"tanya nya menyelidik.
"Yes, coz my boss stay in here so i must stay too, why it's there something wrong?" Tanyaku menyelidik. Siapa pria ini sebenarnya, mengapa dia tidak suka aku bawa ke tempat ini, bukan salahku juga kalo aku bawa ke sini. kan mau nya dia untuk ikut aku. Dasar Aneh.
"Sorry if i mad you, i should not do that."
Nah tuh nyadar loe.. Gumanku seraya menggelengkan kepala ku tanda bahwa tak apa-apa.
Ku langkahkan kaki ke dalam Hotel, ku lihat di lobby banyak orang. dan ada beberapa penjaga yang menjaga lift. otomatis ku ajak Pria tersebut untuk keluar kembali dan mencari jalan lain untuk masuk kembali.
"Tunjukkan jalannya" wa ku kepada Rafael.
Rafael langsung memimpin jalan kami. Dia membuka Jaketnya dan menutupi wajah ku dan dia memerintahkan hal yang sama pada Lutfi. Lutfi Hasan menjaga Pria itu.
"Jangan ke Kamar ku. ke Suite Kalian aja.." busukku pada Rafael.
"Mana bisa Nona, Kamar kami kan sekaligus kantor"
"oh...ya udah di Kamar Megan Aja."
"Baiklah"
Tak lama kami berada di Kamar Megan.
"Who Are You Exactly?"
"If i've told you, would you still help me without expecting other things.?" ujarnya
"Yes..coz how i can help you if i don't know who & why."
Perlahan dy membuka topi dan maskernya. wajah tampannya terlihat jelas. Seperti nya aku pernah melihat orang ini, tapi di mana ya..
"You are lie about your name before right."
"Yes i was lie"
"So can you tell me, if you still need my help."
"Lee Hyun Bin, I'm.."
"Healer... " potong ku cepat, Siapa sih yang gak kenal dengan aktor baru yang sedang naik daun. Seluruh Asia sedang gempar karena nya. duuh kalo Megan tau bisa teriak 10 oktaf dia.
Lee Hyun Bin tersenyum mendengar jawaban ku.
"Ok you can Stay but not here, follow Him and he Will be show you a way."
"it's thats your only respons?" tanyanya heran.
Beehh mau nya apa nih orang? jingkrak-jingkrak? hadeeehhh capek deh..
"yup..why? did i dispointed you?"
"Hehehe a bit"
"Lol... hahaha i'm not fans of yours, i'm fans of my Parents.. hihihi"
"hahahaha yea... thanks anyway"
"you welcome. thats Rafael he Will be help you, if you tell him detail and i must back to work." jelas ku.
"Bantu dy Raf..." ujarku
"Jangan lupa jelas kan pada Robert tentang dia dan kondisi ini. kata kan pada nya aku baik-baik saja." Setelah berkata demikian ku tinggalkan kamar Megan, Menuju Kamar ku sendiri. Mempersiapkan diri akan pertanyaan yang bakal Robert ajukan.
Lee Hyun Bin bukan orang jahat, tidak mempengaruhi keselamatan ku. Aku yakin tidak akan merugikan menolong nya.
Hari ini February 2019 awal pertemuan kami. Hal yang Tak ku duga sama sekali..
__ADS_1