
Akhirnya aku kembali ke Jakarta, Robert berjanji dia akan menetap kembali di Jakarta bersamaku.
"Tinggallah di rumah, urusan kantor Biar aku yang menangani. Rafael akan di sini menjagamu selama aku di kantor.."
"Kenapa bukan kau saja disini dan Rafael di Kantor.."
"Ada Rapat pemegang saham yang harus ku hadiri dan ini juga ada hubungannya dengan kantor cabang di Perancis. Rafael belum tahu detailnya. Laporan ini tanggung jawab ku."
"Ya..."jawabku dengan nada kesal
"Jangan kesal begitu, kalo kau sudah sehat kau bisa ke kantor bersama ku. Atau kita bisa makan siang bersama."
"Benarkah..."
"Ya... Tapi tidak hari ini. Besok. Hari ini kau istirahat. Paham."
"Ya..." Robert bisa kersa kepala kalo didesak, bisa-bisa dia kabur lagi ke Perancis kalo aku tidak menuruti perintahnya. Yang ku inginkan dia ada di sisiku.
Rasa bosan menghinggapi ku. Sejak tiba dari Korea kemarin hingga hari ini aku belum juga memberikan kabar pada Lee Hyun Bin.
Apa yang harus kulakukan, hubungan ku dengan Robert belum meningkatkan menjadi sepasang kekasih. Kami memang berciuman saat di RS. Namun hal itu tidak lagi di lakukannya kembali. Dia memang tidak mengutarakan isi hatinya juga. Jadi hubungan Kami hanya dekat kembali saja, tidak berubah.
Perasaan ku kepada Lee Hyun Bin juga tidak berubah tetap saja pacar rasa teman hehehe.
"Annyeong..busssy?"WhatsApp ku ke Lee Hyun Bin.
"Hi baby girl, a bit but i still can message you."
"What you do?"
"I'm at shoot location. In a break. How about you? What you do?"
"At home, just take a rest"
"Wooowww you not bussy?that was a great news. When i message you always bussy or me in bussy."
"Yeah..yeah...i know. Feel guilty about that..."
"When you have bussiness trip to here again?"
"I don't know when, i will tell when i know"
Sebenarnya tidak perlu tunggu persetujuan siapapun untuk aku ke Korea tapi Lee Hyun Bin tidak mengetahui hal itu, dari pertama kali kita bertemu dia hanya tahu kalau aku hanya asisten Robert.
"Can you request to your boss to move here."
"Why?"
"Baby girl, i hate this long distance relationship."
"Be patient.."
"Huaaahhh i hate this situation baby girl... please come to here again, you know i do in love with you."
"I Will thinking about..."
"Mmmuuuaaaccchh love you baby girl. Gonna back to bussy, keep in touch"
"Ok..bye for now."
Dilema itulah yang kualami saat ini. Aku sebenarnya mengetahui perasaan ku terhadap Lee Hyun Bin. Aku memang menyukainya tapi tidak mencintainya. Beda dengan apa yang ku rasakan terhadap Robert.
Lee Hyun Bin meminta ku untuk pindah ke Korea, yang artinya dia menginginkan peningkatan hubungan. Dia ingin lebih dan aku tahu bahwa aku tak mampu. Ingin aku memutuskan hubungan dengannya tapi bagaimana caranya agar dia tidak tersakiti.
Lantunan lagu Try milik Nelly Furtado bergaung di ruangan, dering handphone ku, ku baca nama yang tertera di atas layar, Robert.
"Ya.."
" Wa ku gak di baca kenapa?"
"Maaf tadi lagi di kamar mandi."Bohong ku
"Tadi kau online..."
Beeehhh ketauan juga.
"Hehehe tadi wa'an dengan Healer"
"Masih berhubungan? kapan kalian putus"
"Oh...harus kah?"
"Lupakan...kau sudah makan siang?"
"Belum..."
"Datanglah ke kantor minta Rafael antar"
"Katamu besok..."
"Kenapa mulai gak bisa patuh ya..."
"Hei bukankah boss nya itu aku ya..."
"Kau sedang sakit, jadiku ambil alih"
"Alasan.."
"Iisshh mo makan bareng tidak.."
"Iya aku jalan sekarang..."
"Good...aku akan telpon Rafael.."
"Ok..."
Tumben banget jalanan di ibukota ini tidak terlalu macet padahal sedang jam makan siang. Biasanya terkenal dengan macetnya apalagi di jam makan siang.
Akhirnya aku tiba di Dreams company yang terletak di kawasan segitiga emas perekonomian Jakarta. Ku naiki lift menuju ruangan ku yang terletak di lantai teratas.
"Dimana.."tanya Robert lewat WhatsApp messenger.
"Lift..otw"
"Cepatlah...i need your help"
Aku mengerutkan dahi ku membaca pesan terakhir itu. Ada apa? Tumben banget dia butuh bantuan.
"Hi Nat.." sapaku pada Natasya
"Eh kau disini? Kata Robert kau belum sehat Non.."
"Hmmm sedikit... Robert?"
"Ah...yaah lebih baik kamu masuk segera Non. Dia butuh diselamatkan, ada Ratu siluman di dalam." Jelas Natasya.
"Siapa...?"tanya ku heran.
"Masuk aja..eh lw mo minum apa?"
"Cafe Latte..." Jawabku seraya membuka pintu ruang kerja ku. Ku lihat seorang wanita, duduk di pinggir meja kerja, seraya memegang lengan Robert. Melihatku masuk membuat nya terkejut dan langsung menarik tangan nya dan berdiri di sebelah Robert.
"Siapa Kau.. berani-beraninya masuk ke ruangan Direktur tanpa ketuk terlebih dahulu." Bentaknya. Baik aku mau pun Robert tidak merespon jawabannya. Seperti nya perempuan ini tidak tahu siapa aku, dan dia juga sedang mengejar Robert.
"Penting kah..."jawabku seraya mendekati Robert
"Hei cewek apa orang tua mu tidak mengajarkan mu etika?"
__ADS_1
"Bagaimana dengan mu? Ketidak sopananku hanya lah tidak mengetuk pintu. Berbeda dengan mu.. apakah orang tua mu mengajarkan berbisnis dengan tubuh?" Ujarku seraya melotot ke arah Robert meminta penjelasan.
"Diam lah kalian berdua.." seru Robert tegas.
"Tok...tok..tok..." Suara ketukan di pintu membuyarkan suasana tegang di ruangan. Natasya masuk seraya membawa Secangkir kopi pesanan ku.
"Cafe Latte mu Non.. silahkan. Ahh iya ada telepon dari Pak Lutfi Hasan."
"Bilang aku akan menghubungi nya kembali"ujarku seraya menyesap kopi ku. Wanita itu melihat tindakan ku dan mengerutkan dahinya bertanya dalam hati tentang diriku. Robert berdiri dan melangkah menuju sofa. Ku bawa cafe Latte ku dan duduk di bangku kerja mengganti kan Robert.
"Robert apakah kau tetap tidak menindak lanjuti tingkah kurang ajar wanita itu?" Tanya wanita penggoda itu.
"Lucy kami akan mempelajari proposal kerjasama dengan perusahaanmu.. nanti aku akan memberikan kabar"
"Tidak perlu.."potong ku
"Maksud mu.."tanya Robert.
"Ibu Lucy lebih baik anda bawa kembali proposal kerjasama anda. Tanpa perusahaan mu kami masih bisa melakukan proyek ini." Kataku seraya melempar file proposal kerjasama.
"Kurang ajar... Berani-beraninya kau..! Robert apa-apaan ini." Teriak Lucy.
"Dengar ya bukan kau yang mengambil keputusan." Teriaknya lagi.
"Oh ya..." Ujarku dingin
"Ku beritahu ya... kapanpun aku mau aku bisa membekukan perusahaan mu."sambung ku lagi.
"Ciiihh..kamu bukan pimpinan Dreams company. Robert...." Rayu nya seraya menggelayut di lengan Robert. Robert sebenarnya sudah jengah dengan kondisi itu. Dia memang ingin bekerjasama dengan perusahaan Lucy karena faktor keuntungan yang diperoleh cukup besar, namun Youra Wilson sebagai atasannya sudah menolak jadi diapun akan melepaskan kerjasama itu.
"Braaakkk..." Ku gebrak meja kerja ku.
"Keluar dari ruangan ku sekarang... sudah ku bilang aku tidak tertarik kerjasama dengan perusahaanmu.. KELUAR..."teriakku.
"Berani-beraninya kau..."teriak Lucy.
"Kau bukan siapa-siapa di tempat ini. Robert adalah pimpinan Dreams company dan aku adalah calon tunangannya." Sambungnya lagi.
Robert melotot mendengar ocehan omong kosong Lucy.
"Lucy.."bentak nya. Ini sudah tidak bisa di tolerin lagi. Aku berdiri berjalan menuju Lucy. Ku raih rambutnya menyeret nya keluar ruangan ku dan ku hempaskan tubuh nya.
"KELUAAAAR DARI SINI..."teriakku
"Aaaahhh.." Lucy jatuh terjerembab di luar ruangan ku. Semua karyawan yang ada di sekitar itu melihat apa yang ku lakukan.
"Kau..kau..."jeritnya
"Apaaa...!! dengar ya Nona, sebelum kau melangkah masuk ke suatu perusahaan seharusnya kau mencari tahu siapa pimpinan perusahaan itu. Robert memang direktur di sini. Tapi aku Youra Wilson adalah pendiri dan CEO Dreams company ini. Paham kau..." Teriakku amarah ku benar-benar meledak.
Ku lihat Lucy gemetar mendengar penjelasan ku.
"Dan Robert bukan tunangan mu.." Kataku seraya kembali ke dalam ruangan ku.
"Braaakkk..." Aku membanting pintu dibelakang ku.
"Rafael... antar Miss Lucy keluar." Ujar Robert. Robert menyusulku.
"Kau janjikan bertunangan dengan nya?"tanyaku
"Tidak kami hanya makan malam bersama di awal pertemuan saat di Perancis." Dia meraih cangkir kopi ku dan menyesapnya.
"Kenapa kau minum?"
"Haus..."jawabnya acuh tak acuh.
"Lalu kenapa dia mengklaim bahwa kau adalah tunangannya..Apakah kalian pernah..."
"Ayo makan aku lapar.."potong Robert seraya menarik tangan ku. Kami melangkah menuju pintu. Tiba-tiba dia berhenti dan membalikkan badannya dan menatapku.
"Ada yang lupa ku lakukan."
"Gawat ini jadi bengkak.." bisiknya
"Lebih baik kita pergi sekarang.. sebelum aku melakukan hal yang lain terhadap mu..."katanya seraya menjauhkan tubuhnya namun tangan nya menggenggam jemariku. Aku menatapnya, bertanya apa maksud dari perkataannya.
"Kau candu yang mematikan.."ujarnya seraya tersenyum.
Kami meninggalkan ruangan sambil bergandengan tangan. Membuat karyawan ku tercengang melihatnya.
"Nat cancel semua meeting sore ini. Dan cancel kerjasama dengan perusahaan Lucy."perintah Robert dengan mengacuhkan tatapan mata menyelidik Natasya, dan Natasya pun melihat ke arah ku meminta penjelasan, aku hanya mengangkat bahu ku. Kami meninggalkan kantor dan menuju restoran untuk makan siang.
"Mau makan apa?"katanya seraya membuka buku menu.
"Diri mu boleh?" Godaku, Robert melotot mendengar perkataan ku.
"Youra... jangan menggodaku."
"Ciiihh mister kaku yang gak bisa becanda..." Ujar ku sambil cemberut.
"Jangan marah...nanti cantiknya ilang.."candanya
"Beeehhh kayaknya mo kiamat nih..."
"Sudah ah...mo makan apa?"
"Soto Betawi..."
"Ok..." Robert memanggil pelayan dan memesan makanan untuk mereka.
"Youra... soal kerjasama dengan perusahaan Lucy, serius untuk dihentikan?"
"Ya..."
"Alasan nya? Apa karena dia mengatakan bahwa kami bertunangan?"selidik Robert.
Seorang Pelayan datang membawa minuman pesanan kami.
"Bukan..."kataku seraya meminum orange Juice ku.
"Jadi karena apa? Proyek ini lumayan keuntungannya bagi perusahaan."
"Dia tidak mengenali ku.. bagaimana aku bisa menjalin kerjasama dengan orang seperti itu. Tidak punya persiapan, tidak perhatian, tidak teliti, bagiku sangat beresiko."
"Hmmmm..."mendengar jawaban Robert seperti itu aku kesal sekali.
"Kau seperti nya tidak setuju? Atau jangan-jangan dia benar-benar tunangan mu ya." Kataku kesal. Beehh malas banget deh. Mood makan siang ku meluap entah ke mana.
"Kau cemburu? Kenapa? Kau sendiri kan sedang bersama Lee Hyun Bin?."
"Robert mengapa kau menciumku dan itu tidak hanya 1 kali." Robert menatapku, ada keraguan menjawab pertanyaan ku.
"Makanlah cepat, kamu harus cepat pulang dan beristirahat." Dia mengalihkan pembicaraan kami.
"Robert..."bujukku
"Makanlah Youra, nanti akan ku jelaskan.."
Aku pun berhenti bertanya. Robert jelas memiliki perasaan terhadap ku Tetapi entah apa penyebab dia menahan dirinya untuk mengutarakan isi hatinya dan menjalin hubungan dengan ku.
Setelah makan Dia mengantar ku kembali ke apartemen.
"Masuk dan istirahatlah, aku harus kembali ke kantor. Rafael sudah di atas."
"Ya..."
"Jangan berpikir yang negatif."
__ADS_1
Ku langkahkan kaki ku menuju pintu lobby utama apartemen ku. Apa Robert hanya menggodaku, atau semua perlakuan nya hanya terapi saja agar aku tidak berlarut lagi di masa kelam itu?
Mungkinkah yang terbaik hanya ini, tetap menjalin hubungan dengan Lee Hyun Bin dan mengabaikan perasaan ku terhadap Robert, yang terpenting dia ada di sisiku, apa seperti itu.
Ku rebahkan tubuh ku di atas tempat tidur ku. Tak lama aku terlelap.
Youra Wilson, pertanyaan mu mematikanku. Aku ingin lebih namun kau pun masih bersama dengan Lee Hyun Bin, dan Marco pun melarang ku, tapi kalau aku menjauh, aku takut kejadian di Seoul terulang kembali. Kau masih rentan.
"Rafael bagaimana dia?"telepon nya
"Tidur di kamarnya."
"Pastikan untuk dia meminum obatnya. Aku datang malam."
"Ok..."
Waktu menunjukkan pukul 9.00 malam, rupanya aku melewatkan jam makan malam ku.
"Rafael...."panggil ku, ku pandangi sekeliling ruangan tamu, keluarga seperti nya tidak ada tanda-tanda Rafael.
"Aahhh paling di kamar nya"batinku.
Ku buka lemari es ku mencari sesuatu yang bisa di makan. Hanya ada buah-buahan dan telur serta susu. Aku membuat salad buah dan omlet sebuah kombinasi yang aneh.
"hihihi biarlah..kan cuma buat diri sendiri."Gumanku. Aku terlalu asyik untuk membuat makanan ku sehingga tidak menyadari kedatangan Robert. Sebuah pelukan mengagetkan ku.
"Aaahhh..."ku putar badan ku menghadap orang yang memelukku.
"Kau... bikin kaget aja. Kalo aku jantungan bagaimana?"ujar ku seraya mendorong badan nya menjauh dari ku
"Kau bikin apa?"
"Salad dan omlet."
"Memang cukup? Kau kan makannya banyak.."
"Sembarangan... Kamu tuh yang makan banyak."
"Biar tambah cakep..." Jawabnya cuek
"Iihh gak nyambung"
"Ku sudah pesan Chinese food, nanti terima aja. Mo mandi dulu."
"Ya..."
Robert dan aku tinggal bersama di apartemen ini sedang kan Rafael dan Tim keamanan di blok lain namun masih 1 lantai. Di lantai ini hanya terdapat 2 rumah. Keduanya milik ku.
Ada beberapa anggota tim keamanan di 1 lantai atas dan bawah. Robert dan kakakku Jack bekerja sama dengan tim keamanan apartemen dalam menjaga ku.
Rasanya seperti tawanan rumah.
Ku nikmati salad buah yang ku buat sambil menonton acara Oprah Winfrey.
Tak lama bell berbunyi. Pasti itu delivery order yang dimaksud Robert.
"Biar aku saja.."ujar Robert ketika melihat ku bangun dari sofa. Dia hanya menggunakan celana pendek, bertelanjang dada dan sebuah handuk melingkar di leher nya. Robert berjalan menuju pintu, aroma sabun mandi nya menggoda ku. Dia tampak maskulin. Ku akui dia memang tampan.
"Ada apa? Ya ya ya aku memang tampan.."
"Ciih narsis.."
"Hahahaha...nih makanan mu, aku pesan Nasi goreng Yun Chow, wings buffalo, udang saos Padang, Fuyunghai favorit mu dan Capcay goreng" dia menaruh Chinese food itu di meja dan pergi ke kamarnya.
Ku buka semua makanan itu.
"Ya ampyuun banyak aja..."
"Sudah makanlah banyak komplain... Ntar juga habis..makan mu kan banyak." Katanya seraya menjatuhkan dirinya untuk duduk di sebelah ku. Kami makan sambil nonton TV.
"Robert..."
"Hmmm...kenapa kurang?"
"Iiishhh enak aja... Nasi nya kebanyakan.."
"Sini..."ujar nya menyodorkan box nasi nya, aku memberikan separuh nasi ku.
"Laah kamu makan apa kalau semua di kasih ke aku."
"Itu..itu.. "tunjuk ku ke arah makanan yang lain.
"Hmmmm..ok makanlah"
"Wings buffalo nya gak gitu pedas.." kataku
"Udangnya yang pedas.."
"Eh kau mau bir? " Ujarku seraya berdiri.
"Apakah kita masih punya Soju?"
"Nanti ku lihat dulu.." ku buka lemari penyimpanan beverage,
Ku raih Soju dan ku ambil Bir dari lemari es serta 2 buah gelas.
"Nih..."
Robert mengambil Bir dan menuangkan nya di gelas dan dia pun mengoplosnya dengan Soju.
"Kau tak boleh...sana ambil air putih.."
"Eh apaan sih..."
"Lupa kalau kau harus minum obat?"
"Sekali aja lah..."kataku seraya mengoplos sendiri minum ku dan langsung ku tegak sebelum Robert merebutnya.
"Aahhh kenyang sekali..."kataku.
Ku lihat Robert menjulurkan kakinya dan menyesap minumnya.
Beeehhh dia benar-benar tampan. Seingat ku dia berasal dari Italia. Pria Italia memang terkenal kegantengan nya..
"Gak usah terpana seperti itu, sudah ku bilang aku itu ganteng"
"Ciiihh Healer lebih dari mu" jawabku asal. Tiba-tiba saja dia mendekat ke arah ku.
"Benarkah...ahh Lucy juga lebih cantik dari mu"bisiknya
"Ciiihh apaan sih.." ku dorong dadanya yang bidang lalu aku bangkit merapikan bekas makanan kami.
"Sana tunangan aja dengannya.."kataku kesal.
Aku memindahkan sisa makanan ke dalam tempat makan, dan menyimpannya dalam lemari es.
"Hahahaha...kau cemburu?"
"Jiaaaahhhh gak level cemburu sama ondel-ondel. Lagian kan kita..." Aku terdiam apa yang ingin ku jelaskan. Aku memang kesal tapi gak punya hak untuk cemburu. Karena hubungan ku dengan Robert hanya sebatas rekan kerja. Ku lampiaskan kekesalan ku dengan melemparkan sampah ke bak sampah di dapur.
"Maaf...."bisik Robert seraya memeluk ku dari belakang. Ku coba untuk melepaskan diri dari pelukannya.
"Diam sebentar saja biar kan seperti ini."Pintanya, diapun meletakkan dahinya dibahuku dan menarik tubuhku merapat kepadanya.
"Youra...aku harus bagaimana terhadap mu?"
Jujur aku juga tidak punya jawaban yang pasti. Walaupun aku jatuh cinta pada Robert namun aku masih memiliki hubungan dengan Lee Hyun Bin dan aku tak kuasa untuk memutuskan hubungan. Karena Lee Hyun Bin pria yang baik. Perlahan ku lepaskan diriku dan berjalan menuju kamar tidur ku, meninggalkan Robert yang terpaku dan diam dalam dilema.
__ADS_1
Ada rasa pilu muncul di hati Robert dibarengi rasa rindu yang tak tertahankan.
"Sial..."katanya seraya mengacak-acak rambutnya.