
Langkah Elvaro yang tadinya mengikuti langkah Eilani terhenti.
"Ei, apakah bibi mu ada di sana?" tanya Elvaro.
"Iya. Bibi yang membawa Aaron ke sini."
"Namanya anak itu Aaron?"
"Iya."
"Aku ke toilet sebentar ya?"
"Iya. Aku di UGD." Eilani bergegas berlari ke ruangan itu sedangkan Elvaro dengan terpaksa beralasan ingin pergi ke toilet. Ia tak boleh ketemu dengan bibinya Eilani di hadapan wanita itu secara langsung. Elvaro berencana untuk ketemu secara empat mata dengan bibinya Eilani sambil menanyakan alasan mereka membohongi Eilani tentang wajah suaminya.
Dan begitu Eilani tiba di UGD, ia langsung mendekati bibinya. "Bi, bagaimana Aaron?"
Nova tersenyum. "Syukurlah dia selamat. Dokter menjahit dahinya. Kalau besok dia sudah membaik maka sudah bisa pulang.
"Aunty ...!" Aaron mengulurkan tangannya dan meminta Eilani memeluknya. Eilani pun mendekati ranjang tempat Aaron di baringkan. Ia mengecup dahi Aaron yang diperban setelah itu memeluk Aaron.
"Aunty, jangan pergi!"
"Iya sayang. Aunty akan di sini." ujar Eilani sambil membelai wajah tampam Aaron.
"Bibi sudah memberitahukan Hanny?"
"Nggak. Nanti saja jika Hanny datang. Yang penting Aaron baik-baik saja."
Eilani pun mengangguk setuju.
"Ei, karena kamu sudah di sini, bibi pulang sebentar ke apartemen ya? Mau meneruskan pesanan kue yang akan diambil besok jam 6 pagi. Nanti setelah itu bibi balik lagi."
"Bibi pergi saja. Biar aku yang menjaga Aaron. Dia aman bersamaku."
Nova pun mencium pipi Aaron lalu ia bergegas pergi.
"Aaron kenapa bisa jatuh?" tanya Eilani sambil membelai wajah bocah tampan itu.
"Aaron kesal aunty nggak pulang-pulang. Makanya Aaron naik ke atas kursi dan mengintip di jendela apakah aunty sudah datang atau belum. Aunty kan janji mau mengajak Aaron makan bakso hari ini."
Eilani merasa bersalah. Karena tadi ia pergi dengan Elvaro, ia jadi melupakan janjinya pada Aaron.
__ADS_1
"Maafkan aunty ya? Aunty janji mulai malam ini, nggak akan melupakan janji aunty pada Aaron." Eilani memeluk Aaron dan memberikan ciuman secara berulang-ulang di wajah tampan pria kecil itu.
Seorang perawat datang dan mengatakan kalau Aaron akan dipindahkan ke kamar perawatan pasien. Tepat di saat itu Elvaro datang.
"Aaron nggak mau di naikan ke kursi roda!" kata Aaron sambil memeluk dadanya dan bibir yang mengerucut.
"Mau om gendong?" tanya Elvaro.
Aaron menetap Elvaro.
"Sayang, ini teman aunty." kata Eilani. Ia kemudian menatap Elvaro. "Hanny mengajarkan Aaron untuk tak percaya dengan orang asing apalagi orang yang baru dikenalnya."
"Jangan takut sama, om. Ayo!" ajak Elvaro sambil mengulurkan kedua tangannya. Walaupun nampaknya masih ragu, Aaron kemudian menerima ulurkan tangan Elvaro dan membiarkan El menggendongnya sampai di kamar yang sudah disiapkan untuknya.
"Kita mau tidur di sini, aunty?" tanya Aaron.
"Iya sayang. Karena besok dokter harus memeriksa luka Aaron lagi. Tadi kan habis dijahit."
Aaron mengangguk. Ia kemudian menatap Elvaro yang berdiri di samping Eilani. "Nama om siapa?"
"Elvaro. Aaron cukup memanggil om dengan sebutan om El." Elvaro mencoba mengakrabkan diri dengan Aaron. Anak ini terlihat asyik dan begitu lucu di mata Elvaro.
"Baiklah om, El. Aaron mau bobo dulu ya" Bocah berusia 5 tahun itu perlahan membaringkan tubuhnya. Eilani kemudian membelai kepala Aaron sambil menyayikan kan beberapa lagi sampai akhirnya Aaron tertidur.
"Ibu Aaron sudah meninggal 2 tahun yang lalu, El. Kebetulan kami tinggal di apartemen yang sama. Hanny menyewa jasa bibi ku untuk menjaga anaknya. Kebetulan bibi lagi butuh pekerjaan untuk menenangkan hatinya yang baru saja kehilangan paman Tio."
"Dan karena itu kalian akhirnya dekat?"
"Ya. Karena aku juga menyayangi Aaron."
"Lalu mengapa Hanny mengambil pekerjaan di maskapai luar?"
"Ada sedikit masalah dengan maskapai pertamanya. Walaupun berat hati, Hanny akhirnya pindah. Kebetulan maskapai di Singapura adalah milik saudaranya, makanya ia langsung diterima di sana."
Elvaro menatap Eilani. "Kamu mencintai Hanny?"
"Ya."
"Lalu bagaimana dengan aku? Kita bahkan sudah tiga kali tidur bersama. Bagaimana jika Hanny tahu?"
"Kalau kamu begitu mengkhawatirkan hubunganku dengan Hanny, maka ijinkan aku berhenti menjadi perawat pribadi mamimu. Nyonya Tiara sekarang terlihat lebih sehat. Berat badannya bahkan naik sampai 5 kg. Ia juga sudah menguasai seluruh bagian rumah. Aku juga rindu bekerja di rumah sakit, El."
__ADS_1
"Apakah kamu sudah bosan dengan mami?"
"Nggak. Hanya saja sudah hampir setahun aku bekerja di rumahmu. Semakin kita dekat, semakin kamu nggak bisa menjauh dariku."
Elvaro menangkup kedua wajah Eilani. "Memangnya kamu bisa menjauh dari ku juga?"
"Aku pasti bisa, El."
"Kalau begitu, biarkan aku menjadi selingkuhan mu. Biarkan aku menjadi simpanan mu. Aku tak peduli! Asalkan kamu ada di dekatku. Aku nggak mungkin bersama dengan perempuan lain, Ei. Kamu adalah nafasku, detak jantungku dan seluruh hari-hari yang ingin ku lewati."
Eilani terkejut mendengar pengakuan Elvaro. Ia pun melepaskan tangannya. "Aku capek!" katanya sambil membaringkan tubuhnya. Elvaro pun tak mau mengganggunya karena ia tahu kalau dialah yang menyebabkan perempuan itu kelelahan.
Elvaro pun mencoba membaringkan tubuhnya dan tidur di bagian sofa yang lain.
*********
Menjelang subuh, Elvaro terbangun. mendengar suara Aaron.
"Daddy ..... daddy......, please don't go!"
"Aaron...!" panggil Elvaro lalu mendekati tempat tidur Aaron.
Wajah Aaron terlihat sedikit berkeringat. Ia masih memejamkan matanya dan terus berbicara. Sepertinya Aaron bermimpi.
"Daddy please......!"
"Aaron....!" Elvaro menyentuh tangan Aaron dan tangannya langsung digenggam oleh Aaron. "Please jangan terbang terus Daddy." kata Aaron. Perlahan ia bangun dan langsung memeluk Elvaro. "Daddy...! Kamu sudah pulang dari penerbangan?"
"Aaron, ini ...."
"Miss you so much, Daddy!" lalu ia semakin mengeratkan pelukannya. Elvaro tersenyum. Ia membiarkan Aaron memeluknya. Ia tahu pasti Aaron sangat merindukan papanya yang memang jarang pulang ke rumah.
Setelah Aaron tertidur lagi sambil memeluk El. Perlahan El membaringkan tubuh Aaron kembali. Tiba-tiba saja ia ingat dengan anaknya yang sudah pergi. Apakah sudah sebesar ini jika memang dia masih hidup?
Elvaro perlahan membelai kepala Aaron tanpa ia sadari, di depan pintu kamar, sudah mengintip Nova, bibinya Eilani dengan wajah pucat.
Perempuan itu perlahan menutup pintu kamar perawatan Aaron sambil memegang dadanya. Bagaimana mungkin Elvaro ada di sini? Apa hubungannya dengan Eilani? Apakah Eilani tak mengingatnya lagi?
Di kamar perawatan Aaron, nampak Elvaro yang tertidur sambil menelungkup kan kepalanya di tepi ranjang Aaron.
***********
__ADS_1
Bagaimana rahasia ini akan terungkap?