CINTAI AKU LAGI, EILANI

CINTAI AKU LAGI, EILANI
Maaf, Tak ada lagi Kesempatan


__ADS_3

Hanny dengan sangat lembut membantu Eilani untuk duduk. "Masih pusing?"


Eilani menggeleng. "Hanya perutku saja yang masih sakit. Mungkin karena aku juga belum makan sejak pagi."


"Mau makan apa? Biar aku belikan."


"Ingin makan kue muffin." kata Eilani sambil menyebutkan nama kue khas Inggris itu.


"Kue Muffin. Ah, aku ingat, di daerah Jimbaran kayaknya ada toko kue yang menjual kue muffin. Kamu mau aku membelinya? Tapi mungkin pergi pulangnya sekitar 1 jam."


Eilani menatap Hanny. "Karena aku, mas Hanny sampai nggak terbang." Eilani memang sudah memanggil Hanny dengan sebutan mas semenjak mereka memutuskan untuk menikah.


Hanny tersenyum. Ia membelai kepala Eilani. "Kamu bukan 'hanya' tapi special. Makanya aku akan melakukan apa saja demi dirimu. Tunggu sebentar ya? Nanti aku memanggil seorang perawat untuk menjagamu."


"Nggak perlu, mas. Aku bisa sendiri. Hanya tolong ambilkan saja aku air mineral. Aku harus. Yang dingin ya?"


Hanny mengambil sebotol air mineral dari dalam kulkas kecil yang ada di kamar itu. Ia membukanya dan memberikannya pada Eilani. Perempuan itu meminumnya sampai hampir habis.


"Mau makan sesuatu sambil menunggu kue muffin?"


Eilani menggeleng. "Membayangkan makanan lain rasanya ingin muntah."


"Baiklah. Aku pergi naik ojek aja supaya cepat nyampenya." Hanny menunduk lalu mencium perut Eilani. "Tunggu Daddy kembali ya sayang...."


Eilani menatap kepergian Hanny dengan perasaan yang tak menentu. Sebenarnya ia sudah mulai mengingat kejadian menyakitkan antara dirinya dan Elvaro di masa yang lalu. Namun Eilani berusaha membuang semua perasaan itu. Eilani juga sudah mengingat tentang Tiara, maminya Elvaro yang dulu sangat membencinya.


Aku harus fokus pada pernikahan ku dengan Elvaro. Mungkin dengan ikut Hanny untuk tinggal di Singapura maka semuanya akan menjadi lebih baik. Hanny adalah lelaki yang baik. Aku tak boleh mengecewakannya. Aku juga tak mau berpisah dengan Aaron.


Eilani terus berbicara dengan hatinya sendiri sampai akhirnya pintu kamar perawatannya terbuka. Nampak Seren masuk.


"Dokter.....!"


Seren mendekat lalu duduk di tepi ranjang tempat Eilani duduk. "Bagaimana keadaanmu?"


"Sudah membaik, dok."


"Mana Hanny?"


"Sedang mencari kue muffin. Tiba-tiba saja ingat dengan kue itu dan ingin memakannya."


"Begitulah kalau ngidam. Entah kapan aku bisa merasakannya." Seren memegang perutnya sendiri.


"Sabar, dok. Kan baru setahun menikah. Jangan dulu putus asam Dokter juga masih muda. Mungkin perlu waktu berdua dengan suaminya. Bulan madu ke luar dulu."


"Aku sih kepingin. Namun Ardy terlalu sibuk."

__ADS_1


"Carilah waktu yang tepat."


Seren menatap Eilani. "Aku ke sini mau bertanya tentang keadaanmu, kok jadi aku yang curhat ya?"


"Nggak apa-apa, dok."


Seren menarik napas panjang sebelum akhirnya bertanya pada Eilani. "Ei, maaf kalau aku bertanya seperti ini. Namun, Elvaro tadi mengamuk dan terus mengatakan kalau anak yang kamu kandung adalah anaknya. Apa benar?"


"Ini anak mas Hanny, dok. Aku nggak mungkin salah."


"Tapi, kamu pernah....tidur dengan..."


"Aku memang pernah tidur bersama Elvaro. Aku juga sudah jujur ke Hanny namun setiap kali selesai tidur dengannya, aku selalu meminum obat."


"Ei, kamu tahu obat itu nggak selamanya akurat. Apalagi jika kamu meminumnya setelah lewat 8 jam setelah berhubungan."


"Aku selalu meminumnya tepat waktu, dok."


"Kamu yang hamil, jadi kamulah yang paling tahu anak siapa ini. Hanya saja, aku melihat tadi Elvaro terlihat begitu stres. Berkali-kali ia mengatakan kalau anak itu adalah anaknya. Dia sepertinya memang sangat mencintai kamu. Ardy memang sudah menceritakan apa yang terjadi diantara kalian di masa yang lalu. Kamu tahu aku sebenarnya tak terlalu suka dengan seorang pengkhianat. Namun, aku berpikir, jika mami nya Elvaro tak campur tangan, pasti kalian masih tetap bersama."


Eilani menggeleng. "Aku tak tahu dengan apa yang kurasakan, dok. Semuanya seperti baru kemarin saja terjadi dan rasanya begitu sakit di dadaku. Aku berpikir, mungkin sebaiknya aku tak mendapatkan lagi ingatanku yang hilang itu. Karena, semuanya begitu membuatku terluka."


"6 tahun sudah terlewati, Ei. Banyak yang sudah berubah. Termasuk juga dengan mamanya Elvaro. Kemarin aku ketemu dengannya saat memeriksakan kesehatannya. Ia banyak bercerita denganku. Dia sebenarnya ingin ketemu denganmu namun dia merasa sangat malu."


Eilani tersenyum sumbang. Mengingat bagaimana mami Elvaro dulu menghina dan merendahkannya.


"Bagaimana jika Elvaro yang ingin ketemu denganmu?"


"Aku tak akan mau bicara dengannya, dok. Aku ingin bahagia. Dan aku yakin kalau mas Hanny bisa membuatku bahagia."


Seren mengangguk. Ia tak mungkin akan memaksa Eilani lagi. "Aku pergi dulu ya, Ei. Selamat atas kehamilanmu. Jangan lupa jaga kesehatan ya?"


"Dokter, aku ingin resign."


"Kenapa?"


"Aku malu karena kedapatan hamil di luar nikah. Lagi pula aku akan segera pindah ke Singapura begitu menikah."


"Kamu sungguh-sungguh?"


"Aku sudah memikirkannya secara masak-masak. Dan mas Hanny juga menginginkan agar aku berhenti kerja sehingga bisa fokus pada keluarga."


"Ok."


"Aku sudah meletakan suratnya di atas meja kerja dokter."

__ADS_1


"Ok." Hanya itu yang bisa kembali Seren katakan sebelum akhirnya ia keluar.


**********


10 menit sebelum Seren keluar dari ruangan perawatan Eilani.


Ardy yang sedang menunggu di depan ruangan Eilani, terkejut melihat Laura yang sedang melangkah mendekati ruangan itu.


"Laura?" Ardy langsung menahan langkah gadis itu karena ia tak ingin Laura mengangguk percakapan Seren dengan Eilani.


"Ardy? Kenapa kamu ada di sini? Menjenguk Eilani juga?"


"Iya. Istriku ada di dalam dan sedang berbincang dengan Eilani."


"Aku diminta bibi untuk menjaga Eilani karena bibi sedang menjaga Aaron."


"Biarkan istriku berbicara dengan Eilani sebentar ya?"


"Kalian sudah tahu kalau Eilani hamil?" Laura bertanya tanpa menjawab permintaan Ardy.


"Ya. Dan El sangat yakin kalau itu adalah anaknya."


"Itu anaknya Hanny "


"Kok kamu yakin sih?"


"Eilani tak mungkin salah."


"Tapi Eilani juga tidur dengan Elvaro. Dan itu terjadi selama beberapa kali."


Laura tersenyum. "Tapi Eilani juga tidur dengan tunangannya. Kalau bersama El, Ei selalu minum obat."


"Masa sih?"


"Bilang sama Elvaro supaya jangan menganggu Eilani lagi. Dia sungguh-sungguh ingin menikah dengan Hanny."


"Kamu pikir El nggak sungguh-sungguh mencintai Ei?"


"Tapi cinta itu tak bisa dipaksa, Ardy. Jadi biarkan saja mereka berpisah."


Laura akan pergi namun Ardy menahan tangannya. "Lau, nasehati Eilani agar bisa memberikan kesempatan pada El. Temanku itu hancur karena penolakan Ei."


"Kesempatan itu sudah tak ada lagi." Laura menatap mata Ardy. "Seperti kisah kita yang harus berakhir disaat aku merasakan kalau hanya kamu lelaki terbaik yang pernah aku miliki. Setelah 6 tahun berpisah denganmu, dan akhirnya bertemu. Aku baru menyadari kalau cinta terbesarku hanyalah dirimu."


"Laura jangan bicara seperti itu!"

__ADS_1


Air mata Laura jatuh ke pipi mulusnya. Ia kemudian memeluk Ardy dengan sangat erat. "Maafkan aku yang tak bisa menahan perasaan ku ini.


Tepat disaat itu, Seren yang sudah selesai berbincang dengan Eilani, keluar dari ruangan perawatan itu. Ia menoleh ke arah kiri untuk melihat keberadaan suaminya. Matanya langsung terbelalak melihat suaminya sedang memeluk gadis bule dengan sangat erat. Gadis berdada besar yang sudah membuatnya cemburu


__ADS_2