
"Hanny Evans?" Tiara mengulangi lagi pertanyaannya.
"Ya. Mami kenal?"
Wajah Tiara seketika menjadi pucat. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Kepalanya menggeleng tak percaya.
"Mami....!" Elvaro mendekati Tiara dan langsung memeluknya saat dilihatnya sang mami mau pingsan. Elvaro membawanya untuk duduk di atas sofa.
"Mami.....!"
Tiara memegang dadanya. "Ambilkan air, El. Mami merasa sesak napas."
"Ned..., ambilkan air untuk mami." teriak El sambil mengusap punggung maminya. "Kita ke dokter saja, mami?"
"Tidak, El."
Ned datang dengan segelas air putih. Ia memberikannya pada Tiara.
"Nyonya baik-baik saja?" tanya Ned.
Tiara meneguk air putih itu sampai habis. Ia kemudian menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.
Elvaro memberikan isyarat dengan matanya agar Ned meninggalkannya berdua dengan mamanya.
"Mi, ada sesuatu tentang Hanny Evans?" tanya Elvaro tanpa menyembunyikan rasa penasarannya.
Tiara menatap putranya. "Kamu punya foto Hanny Evans?"
__ADS_1
Elvaro mengambil ponselnya dan menelepon Ardy.
"Tolong kirimkan foto Hanny Evans sekarang juga. Jangan lupa juga dengan profilnya." lalu ia mengahiri percakapan diantara dia dan asistennya.
"Ayo kita ke kamar, El." Tiara mengajak putranya untuk pergi ke kamarnya. Ia ingin apa yang akan diceritakannya ini jangan didengar oleh orang lain.
Begitu sampai di kamarnya, Tiara masuk ke kamar dulu untuk mencuci wajahnya. Setelah itu, ia keluar dan melihat putranya sudah duduk di sofa sambil melihat sesuatu di ponselnya.
"Ini foto Hanny Evans, mi."
Tangan Tiara bergetar saat melihat wajah pria di ponsel putranya. Lesung pipi pria itu mengingatkan Tiara pada suaminya.
"Menurut Ardy, profilnya menunjukan bahwa ayahnya tidak memiliki nama belakang Evans. Ibunya bernama Tania Andini dan ayahnya Joe Adams. Ibunya Indonesia dan ayahnya juga orang Inggris."
Tiara memejamkan matanya. Mengingat kisah kehidupan masa lalunya.
"Ya. Semua orang mengatakan itu. Papi orang baik yang sangat bucin dengan mami dan termasuk kumpulan suami-suami takut istri." jawab Elvaro sambil tersenyum mengingat bagaimana papinya selalu tunduk kepada maminya. Mungkin seumur hidup hanya sekali sang papi membohongi maminya yaitu saat mendukung pernikahan El dan Ei. Itulah sebabnya Tiara menjadi sangat dendam pada Eilani dan selalu berusaha memisahkan Elvaro dan Eilani.
"Papi mu memang sangat mencintai mami. Apapun akan ia lakukan untuk menyenangkan mami walaupun itu bertentangan dengan kata hatinya." Tiara menarik napas panjang.
"Tania Andini adalah adikku, El."
"Mami punya adik? Setahu mami juga anak tunggal."
Air mata Tiara jatuh. "Aku dan Tania hanya terpaut setahun usianya. Saat usiaku baru 4 bulan, mami ku hamil lagi. Banyak orang menyangka kalau kami kembar karena wajah kami mirip begitu juga dengan postur tubuh kami. Saat aku ketemu dengan papi mu di Bali, kami langsung jatuh cinta dan memutuskan menikah 2 bulan setelah pertemuan itu. Namun ternyata, Tania juga diam-diam mencintai papi mu. Setelah menikah, Tania memang ikut mami ke Inggris karena dia akan meneruskan kuliahnya. Aku tahu setelah tak sengaja membaca diary miliknya. Awalnya aku marah dan ingin mengusir dia dari rumahku namun muncul ide gila di pikiranku. Karena saat itu aku tak kunjung hamil juga, aku justru meminta Tania untuk tidur dengan papi mu dan seandainya dia hamil, maka aku juga akan pura-pura hamil dan anak itu akan menjadi milikku. Waktu itu, aku takut keluarga Evans akan membenciku karena tak juga hamil. Tanpa sepengetahuan papi mu, aku mengijinkan Tania masuk ke kamar kami dan berpura-pura seperti aku. Awalnya Supaya papi mu tak curiga karena Tania masih perawan, mami membuat papi mu mabuk." Tiara mengentikan cerita sebentar untuk membuang sedikit sesak di hatinya.
"Aunty Tania mau melakukan itu?"
__ADS_1
"Karena dia sangat mencintai papi mu, El." Tiara melanjutkan ceritanya. "Malam-malam selanjutnya, aku membiarkan Tania ada di kamarku. Bercinta dengan suamiku. Awalnya papi mu tak curiga. Namun suatu malam, Tania lupa bangun subuh dan tertidur sampai pagi di ranjang kami. Papi mu kaget saat melihat kalau perempuan yang ada di sampingnya adalah adikku. Papi mu marah saat mendengar alasan ku agar Tania bisa hamil. Kami hampir saja berpisah, El. Namun sekali lagi, karena papi sangat mencintai aku, dia pun memaafkan aku. Tania akhirnya tinggal di apartemen yang dibelikan papi mu. Dan Tania akhirnya hamil. Sikap papi mu yang awalnya cuek pada Tania kini berubah. Dia begitu perhatian bahkan sering berbohong pada ku untuk bisa menangani Tania di apartemen nya karena adikku itu mengalami masa ngidam yang amat sulit. Papi mu bersumpah kalau semua perhatian itu dia lakukan karena bayi yang sedang Tania kandung. Sampai akhirnya, saat usia kandungan Tania 5 bulan, aku justru hamil kakakmu, El. Keegoisan, kecemburuan dan rasa takut kehilangan papi mu membuat aku jadi gila dan meminta Tania mengugurkan kandungannya. Tania tentu saja tak mau. Begitu juga dengan papi mu. Aku mengancam akan pulang ke Bali dan tak akan pernah menemui papi mu lagi membuat dia merasa sedih. Ia meminta Tania mengugurkan kandungannya. Tania menyanggupi namun ternyata ia berbohong. Selama berbulan-bulan ia menghilang dan akhirnya kembali dengan seorang anak laki-laki saat aku baru saja melahirkan kakak perempuanmu. Kami bertengkar hebat dan akhirnya Tania pergi setelah mendapatkan uang yang lumayan banyak dari mertuaku. Dia mengatakan kalau nama anaknya adalah Hanny Evans. Setelah itu ia menghilang bahkan tak memakai nama belakangnya lagi. Papi mu kelihatan sedih namun ia berusaha tak menunjukan nya padaku. Aku tahu dia menginginkan anak lelaki itu. Makanya aku berusaha hamil lagi dan mendapatkan anak laki-laki. Lalu hamil lagi walaupun sebenarnya kakakmu masih berusia 1 tahun. Akhirnya, kamu lahir dalam keadaan sakit, El. Aku begitu terobsesi ingin memberikan anak yang banyak pada papi mu agar ia melupakan Hanny Evans selamanya. Keluarga di Bali juga sudah membuang Tania karena dianggap sebagai perempuan pengganggu rumah tanggaku pada hal akulah yang menyodorkan dia pada suamiku. Aku sungguh jahat, El."
"Apakah papi tak pernah mencari keberadaan Hanny?"
"Dia mencarinya secara diam-diam karena takut aku tahu. Sampai akhirnya aku menerima kabar kalau Tania sudah menikah dengan seorang lelaki bule. Papi mu juga enggan menganggu kehidupan Tania dengan suaminya walaupun aku sangat yakin kalau dia begitu ingin melihat anak pertamanya itu."
"Mami, aku tak menyangka kalau kisahnya seperti ini."
Tania menangis. "Mami jahat, El. Dulu mami begitu angkuh, sombong dan berkuasa karena cinta papi mu yang begitu besar pada mami."
"Hanny sekarang ada di sini. Dan akan mengambil wanita yang aku cintai."
"Mami akan menemuinya. Kalau perlu berbicara dengannya. Mami juga ingin ketemu dengan Tania dan meminta maaf atas semua yang terjadi. Kecelakaan yang mami alami dan menyebabkan papi mu meninggal membuat mami sadar akan banyak kesalahan yang telah mami perbuat." Tiara memegang tangan putranya. "Jangan tinggalkan. Mami, El. Jangan membenci mami setelah mendengar cerita ini."
Elvaro memeluk mami nya. Ia sebenarnya ingin bertanya banyak hal. Namun sekarang ia memilih diam dulu. Karena ia yakin bukan perkara yang mudah bagi Tiara untuk menceritakan ini semua.
**************
Elvaro menekan rasa sakit di dadanya saat melihat Eilani yang tertawa bersama dengan Aaron dan Hanny. Mereka sedang duduk di taman dekat apartemen Eilani.
Laura juga ada di sana. Sepertinya mereka sedang minum kopi di sore hari. Nova nampak membawa beberapa kue untuk mereka nikmati bersama.
Mami dan bibinya Tania mencintai pria yang sama. Kini, ia dan kakaknya mencintai wanita yang sama juga. Apakah ini karma?
***********
Menurut kalian gimana?
__ADS_1