
Tiara terkejut melihat ada seseorang yang berdiri di makam suaminya. Seorang lelaki yang wajahnya tak jelas karena sedang membelakanginya.
Lelaki itu kemudian membungkuk dan mengusap nisan itu. Ia bahkan mengambil air dari botol yang dibawahnya dan mencuci nisan itu.
Kaki Tiara terasa berat melangkah ke arah makam suaminya. Namun karena ia begitu penasaran, ia pun mempercepat langkahnya ke sana.
Lelaki itu nampak terkejut saat melihat Tiara yang sudah berdiri di depannya. Ia dengan cepat menghapus air matanya dan hendak pergi namun Taira akhirnya memanggil namanya.
"Hanny?"
Langkah Hanny terhenti. Ia kemudian membalikan badannya. Menatap Tiara dengan dingin. "Ya."
Air mata Tiara langsung jatuh. "Di mana Tania ibumu?"
"Memangnya kamu siapa sampai menanyakan ibuku?"
"Hanny, aku adalah bibimu. Kakak dari ibumu."
Hanny tersenyum mengejek. "Ibu ku anak tunggal. Ia tak punya kakak dan orang tua karena mereka sudah membuangnya. Siapa kamu yang beraninya mengaku saudara ibuku?"
Tiara mendekat. "Hanny, aku menyesali semua yang terjadi diantara aku dan ibumu. Makanya aku ingin bertemu dengannya."
"Tak ada yang perlu disesali."
Tiara menahan lengan Hanny. "Bagaimana kamu tahu kalau papamu sudah meninggal?"
"Karena hubunganku dengan papa tak pernah renggang. Kami selalu bertemu. Ia bertanggungjawab dalam hidupku sejak aku kecil sampai aku dewasa. Dia bahkan menghadiri pernikahanku dan aku ada di hari pemakamannya. Sayangnya tak ada seorang pun yang menyadari siapa aku karena semua nya terlalu kaget dengan apa yang terjadi. Kamu adalah perempuan kejam yang berusaha memisahkan aku dengan papaku. Namun papa adalah lelaki baik hati yang tidak pernah melupakan kalau aku adalah anak tertuanya." Hanny menepis tangan Tiara yang masih memegang lengannya. Ia kemudian pergi. Tapi baru beberapa langkah, ia berbalik dan menatap Tiara dengan tajam.
"Tolong katakan pada anak kesayanganmu itu untuk menjauh dari tunanganku. Karena apapun yang Elvaro lakukan, tak akan mengubah keinginan Eilani untuk menikah denganku." Ia kemudian membalikan badannya dan segera pergi dengan langkah yang cukup cepat.
Perempuan yang masih terlihat cantik diusia nya yang telah memasuki itu begitu kaget mendengar semua yang Hanny katakan. Suaminya ternyata tak pernah berhenti menemui Hanny. Bertahun-tahun lamanya Tiara tak pernah tahu ada rahasia besar yang selama ini disimpan oleh suaminya mengenai anak tertuanya itu.
"Sayang, apakah kamu merasa kalau aku begitu kejam sampai tak mengatakan apapun tentang hubunganmu dengan Hanny yang begitu dekat?" tanya Tiara sambil tersungkur di samping makam suaminya. "Kamu begitu baik dan selalu menuruti semua keinginanku. Ternyata, kamu juga masih menemui adikku. Apakah kamu juga jatuh cinta padanya?" Taira meremas tanah di makam suaminya. Ia sungguh menyesal semua baru terkuak saat suaminya telah meninggal.
***********
__ADS_1
Tangan Eilani bergetar saat membersihkan luka di badan wanita yang diketahui bernama Stella itu.
"Sakit ....! Sakit sekali....!" Stella terus mengeluh dengan suara yang nyaris tak terdengar. Ia yang menutup matanya, terus menggerakkan kepala, tangan dan kakinya.
"Be patient, Miss. Your wound will be cleaned first. (sabarlah, nona. Lukamu akan di bersihkan dulu.)" kata Eilani sambil mengenakan sarung tangan sebelum akhirnya mengambil cairan pembersih luka dan mulai mengerjakan apa yang harus dikerjakannya.
Sesekali ia mengusap kepala Stella untuk sekedar menenangkan Perempuan itu karena ia tahu memang luka yang dialami oleh Stella akan membuatnya menderita kesakitan.
Selama hampir satu jam Eilani dan dokter Wisnu menolong Stella. Setelah dipasangkan infus dan disuntikan obat pereda rasa sakit, Stella akhirnya tertidur.
"Mereka mengalami kecelakaan tunggal. Nampaknya sopir yang mengantar mereka mengantuk sampai akhirnya mobil mereka masuk ke jurang. Untungnya tidak ada yang meninggal." kata dokter Wisnu saat Eilani bertanya penyebab kecelakaan mereka. Memang ada dua orang yang masih sadar dan tak mengalami luka yang serius sehingga langsung memberikan keterangan pada pihak rumah sakit dan pihak polisi yang datang.
"Kasihan Stella. Ia mengalami luka yang cukup parah." kata salah satu temannya yang tak mengalami luka yang serius.
"Mending luka itu. Dari pada luka bekas pukulan suaminya."
"Benar juga ya....."
Eilani mendengar percakapan dua orang yang luka ringan itu. Sebuah kenangan seakan bermain-main di kepalanya. Mengingatkan dia kembali pada sosok perempuan di masa lalunya.
"Stella? Korban wanita yang mengalami kdrt oleh suaminya sendiri?" Eilani bergumam sendiri.
Secara perlahan, Eilani pun mendorong brangkar Stella agar perempuan itu tak bangun.
Setelah Stella akhirnya bisa dibaringkan di atas kasur.
Eilani memeriksa infus dan memperbaiki selimut yang menutup tubuh perempuan itu.
Pintu ruang perawatan diketuk dari luar. Seorang perawat masuk.
"Ei, ini barang-barang milik nona Stella. Tolong disimpan."
"Baik."
Saat teman perawatnya itu pergi Eilani langsung memeriksa tas Stella.
__ADS_1
Eilani membuka dompet Stella dan melihat foto perempuan sedang memeluk seorang anak perempuan yang sangat sama cantiknya.
Tiba-tiba kepala Eilani merasa sakit. Ia merasa menemukan sesuatu tentang cerita masa lalu yang hilang. Sebuah kenangan tentang kamar sebuah hotel. Eilani melihat Elvaro dan Stella ada di ranjang yang sama.
"Ei, kamu baik-baik saja?" tanya dokter Wisnu yang melihat kalau Eilani pucat.
"Iya, dok. Aku baik-baik saja." Eilani tersenyum. "Aku hanya butuh udara segar."
"Pulanglah. Bukankah jam kerjamu sudah selesai?"
"Aku memutuskan, lembur di malam ini."
Dokter Wisnu mengangkat kedua jari jempolnya. Lalu kembali ke ruangannya.
Di taman rumah sakit....
Eilani merasakan kalau dadanya sesak. Ia ingat kejadian pagi itu. Sekalipun Eilani belum mengingat Elvaro namun ia tahu kalau Stella adalah wanita yang menyebabkan rasa sakit dalam hidupnya.
Perempuan itu berulang kali mengusap dadanya dan menarik napas panjang.
"Tuhan, mengapa rasanya sesakit ini?"
Eilani membeli air mineral dari kantin rumah sakit untuk menyejukkan tenggorokannya yang kering. Sampai akhirnya ia melihat Elvaro yang baru saja turun dari mobilnya.
"Apakah El mencari ku?" tanya Eilani. Ia diam-diam mengikuti langkah Elvaro yang kini sedang berdiri di depan meja informasi. Sepertinya Elvaro sedang bertanya tentang ruangan pasien.
Setelah mendapatkan jawaban, Elvaro kemudiaan sedikit berlari menuju ke sebuah ruangan.
Langkah Eilani terhenti saat ia melihat Elvaro yang masuk ke kamar perawatan Stella. Kepala perempuan itu bagaikan mengingat sebuah penggalan-penggalan memori yang kini mulai menjadi satu.
Stella adalah mantan pacar Elvaro yang membuat Elvaro hampir mati karena overdosis setelah Stella meninggalkannya. Stella adalah cinta pertama Elvaro yang datang kembali dalam kehidupan mereka Elvaro dan Eilani menikah.
Eilani terduduk loyo di atas bangku tunggu yang ada di lorong rumah sakit itu. Satu persatu kenangan yang menyakitkan itu kembali dan membuat kepala Eilani menjadi berat dan pusing. Perempuan itu pun langsung pingsan.
********
__ADS_1
Apa lagi yang Elvaro lakukan?
Bagaimana ketika Eilani akhirnya sudah menemukan jawaban masa lalunya?