CINTAI AKU LAGI, EILANI

CINTAI AKU LAGI, EILANI
Troubled Heart


__ADS_3

Ardy menggeleng. "Maaf, Laura. Aku nggak bisa. Soalnya aku berpikir sebaiknya memang mereka dibiarkan berdua. Siapa tahu ingatan Eilani akan kembali."


Laura tersenyum kecil. "Sejak dulu kamu sangat taat pada semua yang Elvaro perintahkan. Itulah salah satu hal yang menyebabkan aku putus denganmu."


"El bukan hanya temanku. Melainkan ia sudah seperti saudaraku."


"Tapi El nggak boleh mengurung Ei seperti itu. Itu sama saja dengan pemaksaan."


"Iya. Kamu tahu sifat El seperti apa."


"Kali ini biarkan Ei yang memutuskan. Mungkin jauh di lubuk hatinya ia masih menyimpan cinta untuk El. Namun kemarahan dan semua kebencian yang ia rasakan pada El tidak boleh juga kita sembunyikan."


Ardy akan bicara namun Aaron sudah keluar dari kamar. Ia sudah mandi dan menggunakan piyama.


"Wah, sudah tampan aja anak ini." Ardy mengusap kepala Aaron.


"Om Ardy, Aaron mau bobo dulu ya? Sudah capek. Aunty Ei besok pulang kan? Bilang sama om El cepat sembuh ya supaya aunty bisa pulang cepat." Aaron mengecup pipi Ardy. Kemudian anak kecil itu memeluk Laura. "Aunty Laura akan tidur di sini kan?"


"Iya sayang. Aunty akan tidur di sini." Laura mengecup pipi Aaron.


"Good night." Aaron pun kembali masuk ke kamar bersama Nova


"Kamu membohongi Aaron dengan mengatakan padanya kalau Elvaro sakit?" tanya Laura ketika mereka tinggal berdua saja di ruang tamu.


"Mau bagaimana lagi? Anak itu terus merengek minta ketemu dengan Ei. Mau Videocall pun tak bisa karena El membanting ponsel mereka berdua."


"Dasar Elvaro. Dia Memang sakit."


"Makanya alasan yang aku katakan pada Aaron kan benar. El lagi sakit. Obatnya hanya Ei, nggak ada yang lain."


Laura menyandarkan punggungnya di sandaran sofa sambil memeluk dadanya. "Aku ke sini karena Eilani yang memintaku datang. Ia terdengar sedikit frustasi saat meneleponku. Ia juga marah saat tahu kalau aku menyembunyikan kebenaran tentang mantan suaminya."


"Kenapa tunanganmu nggak ikut?"


Laura tertunduk. Ia meletakan kedua tangannya di atas pahanya. Saat itulah Ardy menyadari tak ada cincin pertunangan di sana.


"Kalian punya masalah ya? Aku tak melihat cincinmu ada di sana."


Laura mengangguk. "Aku datang ke apartemennya, ingin memberikan kejutan padanya karena aku sudah kembali dari Liverpool. Namun aku ternyata dikejutkan dengan sesuatu yang tak pernah aku duga sebelumnya. Ia bersama seorang wanita di atas ranjang tanpa busana. Dan wanita itu adalah istri dari pemilik rumah sakit tempat kami bekerja. Ia mengatakan kalau hubungan mereka hanya sekedar kebutuhan fisik saja karena selama ini aku tak mau tidur dengannya. Wanita itu bahkan menangis sambil memeluk kakiku dan bermohon agar aku tak menceritakan pada suaminya. Aku tak menyangka tunanganku bisa bersama dengan wanita yang usianya 15 tahun lebih tua darinya."


"Kamu tak memaafkan mereka?"


Laura mengangkat bahunya. "Aku tak tahu harus bagaimana. Aku takut mengecewakan kedua orang tuaku yang begitu senang karena aku akan menikah dengan seorang pria dari keluarga terpandang. Tunanganku menangis dan membujuk aku untuk tak memutuskan hubungan dengannya. Aku katakan kalau aku butuh sendiri. Itulah sebabnya saat Ei menelepon, aku segera mengurus kedatangan ku ke sini. Untungnya, visanya cepat keluar."

__ADS_1


"Kamu butuh bahu untuk menangis?"


Laura yang sejak tadi terlihat tegar, tangisnya langsung pecah saat mendengar pertanyaan Ardy. Ia bukan hanya menangis di bahu Ardy. Tapi juga menangis di pelukan pria itu.


Dan di rumahnya, Seren menunggu kedatangan suaminya dengan kesal. Ia juga gengsi untuk menelepon dan menanyakan di mana Ardy sehingga belum pulang. Seren sebenarnya ingin agar Ardy merayu dan membujuknya. Namun suaminya itu terlihat betah tidur di kamar tamu tanpa tahu kalau di kamar utama, Seren begitu rindu dengannya.


*************


Elvaro bangun dengan tubuh yang tak begitu fit karena memang ia hanya tidur beberapa jam saja. Saat ia bangun, matanya langsung terbelalak saat melihat pintu balkon kamar terbuka.


Apakah Ei lari lewat balkon? Pertanyaan itu langsung membuat Elvaro melompat dari tempat tidur dan berlari ke arah balkon.


"Kamu kenapa?" tanya Eilani saat melihat Elvaro datang menemuinya dengan wajah yang pucat.


"Aku pikir kalau kamu sudah minggat dengan menuruni balkon." Elvaro langsung memeluk Eilani dengan perasaan lega.


"Lepaskan!" Eilani mendorong Elvaro dengan kesal. "Kamu pikir aku gila mau melompat dari lantai sepuluh apartemen ini? Namun jika kamu masih mengurung aku di sini, aku mungkin akan menjadi gila dan memilih lompat dari sini." kata Eilani kesal lalu segera masuk kembali ke dalam kamar.


"Ei, mengapa sih kamu nggak mau membuka hatimu untuk aku?" tanya Elvaro lalu menyusul Eilani ke kamar.


"Ya karena aku nggak mau. Kenapa sih harus dipaksa? Kita bukan lagi ABG yang pacaran dengan gaya bucin. Kita mungkin nggak jodoh, El. Jadi biarkan aku menikah dengan Hanny. Biarkan aku bahagia dengan Hanny."


"Kamu nggak akan bahagia dengan pria yang tidak kamu cintai."


"Aku tak akan mengijinkannya."


"Apa hak kamu?"


"Aku masih suamimu."


"Mantan suami."


"Siapa bilang?"


"Kita ada di Indonesia, El. Dan aku sangat yakin kalau pernikahan kita tak tercatat di sini. Dan tak ada kekuatan hukum bagimu untuk menggagalkan pernikahan aku dengan Hanny."


Elvaro mendekat dan menatap Eilani dengan sangat tajam. "Coba saja kalau kamu berani menikah, Ei."


"Aku tak takut dengan kamu!" Eilani dengan berani menatap Elvaro dengan tatapan yang sama tajamnya. Jarak mereka begitu dekat dan wajah mereka pun hampir bersentuhan.


Elvaro dengan cepat meletakan kedua tangannya di leher Eilani.


"Kamu mau mencekik aku?" tanya Eilani tanpa ada ketakutan sedikitpun. "Cekik saja. Mungkin hanya dengan cara ini bisa menghentikan pernikahan ku dengan Hanny."

__ADS_1


Tangan Elvaro mengelus leher Eilani dengan lembut dan tanpa terduga, ia justru mencium bibir perempuan itu.


Eilani kaget dengan serangan yang yang begitu tiba-tiba itu. Ia berusaha melepaskan diri dari ciuman Elvaro namun pria itu begitu kuat menguasai dirinya. Elvaro sangat tahu bagaimana menaklukan tubuh Eilani dengan semua titik sensitif yang ada.


Kini, keduanya sudah berada di atas ranjang, dengan ciuman yang tak mau dilepaskan lagi. Elvaro sangat yakin kalau ia akan bisa menaklukan Eilani dengan sentuhan. Ia juga sudah sangat rindu bercinta dengan perempuan ini. Namun bel pintu yang tak mau berhenti membuat Eilani mendorong Elvaro dengan begitu keras.


"Buka pintunya!" kata Eilani lalu memperbaiki kemejanya yang kancing nya sudah terbuka semua.


Elvaro mengeram kesal dan langsung keluar dari kamar setelah ia mengenakan kembali kaosnya dan menyisir rambutnya dengan asal menggunakan jari-jarinya. Ia sangat yakin kalau Ardy yang datang mengganggunya dan ia ingin sekali menonjol wajah asistennya itu.


Segala sumpah serapah sudah Elvaro siap kan saat akan membuka pintu. Namun kalimat itu tertahan di ujung lidahnya saat melihat senyum manis tanpa dosa seorang bocah kecil yang ada dalam gendongan Ardy.


"Om El, apakah sudah sembuh?" tanya Aaron lalu tangannya secara spontan merabah dahi Elvaro. "Sudah nggak demam lagi kan?"


Elvaro masih diam. Ardy dan Aaron pun masuk. Elvaro semakin tercengang melihat siapa yang berdiri di belakang Ardy. "Laura?"


Laura tersenyum. "Let my friend go home." katanya dengan tatapan tajam walaupun bibirnya tersenyum.


30 menit kemudian.....


Eilani asyik melepaskan rindu dengan Laura dan Ardy memilih membuat kopi dan membiarkan Elvaro bersama dengan Aaron sambil bocah kecil itu terus bertanya tentang kesehatan Elvaro.


Saat melihat interaksi Elvaro dan Aaron, Ardy menemukan ada kesamaan antara kedua pria berbeda usia itu. Rambut mereka yang sama-sama berwarna coklat tua, hidung mancung dan mata hezel mereka. Cara tertawa Aaron bahkan sama dengan Elvaro.


"Ada apa?" tanya Eilani saat ia ke dapur dan hendak minum air namun menemukan Ardy yang sedang menatap Elvaro dan Aaron tanpa berkedip. Laura yang juga bersama Eilani menatap Ardy dengan pertanyaan yang sama.


"Kok aku merasa wajah Elvaro dan Aaron sama ya?" ujar Ardy.


"Apakah kamu tak melihat kalau wajah Hanny dan juga Elvaro agak mirip? Mungkin itulah sebabnya sampai Eilani menerima lamaran Hanny." ujar Laura sambil tertawa. Ia segera ke meja pantry dan menuangkan kopi yang tadi dibuat Ardy dari mesin pembuat kopi.


Eilani mengangguk. "Aku juga baru menyadari kalau El dan Hanny punya kemiripan."


Ardy menjadi bingung.


Sementara Elvaro yang sedang bermain bersama Aaron nampak tertawa bahagia.


"Aaron, siapa nama lengkap mu?" tanya Elvaro.


"Aaron Benecdik Evans."


"Kok nama belakang kita sama ya? Terus nama Aaron Benecdik sepertinya pernah aku dengar. Tapi di mana ya?" Elvaro mencoba mengingat sesuatu.


*************

__ADS_1


Nah, apakah yang Elvaro ingat?


__ADS_2