CINTAI AKU LAGI, EILANI

CINTAI AKU LAGI, EILANI
Cemburu Itu Menyakitkan


__ADS_3

Perlahan Elvaro menggeser tombol hijau itu. Namun ia tak mau bersuara lebih dulu karena ingin mendengar suara yang ada di seberang.


"Hallo.....!"


Jantung Elvaro berdetak sangat cepat saat mendengar kalau itu adalah suara seorang laki-laki.


"Hallo, Ei....!"


"Eh, handphone suster Eilani tertinggal. Ia baru saja pergi."


"Oh ya, makasi ya...."


Elvaro ingin bertanya lagi namun panggilan itu sudah diakhiri. Tak mungkin dia akan menghubungi balik karena itu tak sopan.


Pintu kamar diketuk dari luar dan dibuka juga sendiri dari luar. Ternyata Eilani yang kembali.


"HP ku ketinggalan." ujar Eilani.


"Oh....ini. Tadi ada yang menelepon. Maaf sudah terlanjur mengangkatnya. Dari my honey."


Wajah Eilani langsung bersemu merah. "Dia sudah menelepon ya?" Ia mengambil hp nya dari tangan Elvaro. "Aku pergi dulu ya, El." pamit Eilani.


Elvaro hanya mengangguk dengan rasa sesak yang kini memenuhi rongga dadanya. Ia kemudian mengikuti langkah Eilani. Ada dorongan dalam dirinya untuk mengikuti gadis itu.


Elvaro naik mobilnya yang lain. Ia melihat Eilani yang dijemput oleh sebuah gojek. Elvaro mengikuti motor itu dari jarak yang aman.


Gojek itu berhenti di depan sebuah pusat perbelanjaan. Dan Elvaro melihat kalau ada seorang cowok yang sedang menunggu Eilani. Cowok itu langsung memeluk Eilani dengan erat. Sepertinya mereka sudah lama tak bertemu. Lalu kemudian, Eilani menggandeng lengan cowok itu dan keduanya melangkah masuk ke dalam pusat perbelanjaan itu. Elvaro memarkir mobilnya lalu ikut masuk ke dalam. Agak lama ia mencari di mana keberadaan Eilani dan akhirnya ia melihat mereka berdua ada di sebuah cafe. Nampaknya sedang makan.


Apakah cowok ini yang merupakan teman satu apartemennya yang ulang tahun? Tapi mengapa mereka hanya berdua? Mengapa tak ada orang lain? Apakah mereka memiliki hubungan?


Pertanyaan-pertanyaan itu membuat dada Elvaro semakin sesak. Perasaan seperti ini juga pernah ia rasakan saat pernikahannya dengan Eilani memasuki bulan keempat dan Eilani masih dingin padanya.


************


Waktu itu, Elvaro pulang kerja dalam keadaan demam. Ia berpikir kalau Eilani sudah di rumah juga karena memang ia masuk pagi selama seminggu ini. Namun ternyata, Eilani belum datang dan membuat Elvaro sedikit jengkel karena ia merasa sangat membutuhkan istrinya itu.


Ia kemudian menelepon Eilani namun 3 kali panggilan dilakukan, Eilani tak menerima panggilannya. Elvaro menjadi bertambah kesal. Ia sudah merasakan kalau panas tubuhnya bertambah sehingga ia mencoba mencari obat Paracetamol di dalam lemari obat. Ia menemukan obat itu dan langsung meminumnya.


Elvaro akhirnya tertidur. Ketika ia bangun, jam sudah menunjukan pukul 7 malam dan Eilani belum juga ada.


Kembali Elvaro menghubungi Eilani dan kali ini panggilannya dijawab. Namun bukan Eilani yang menjawabnya melainkan seorang laki-laki dan Elvaro sangat yakin kalau itu suara dokter Peter.


"Hallo, di mana istriku?"


"Suster Eilani baru saja mandi."


"Memangnya ini di mana?"


"Ini di apartemenku."


"Apa?" Elvaro langsung naik pitam.


"Nanti aku kabari jika ia sudah selesai mandi."


Elvaro kesal karena panggilannya diakhiri. Dengan cepat ia mengambil mantelnya dan kunci mobilnya. Ia kemudian segera pergi. Elvaro tahu di mana alamat apartemen dokter Peter karena kakak iparnya memiliki unit di sana dan bersebelahan dengan unit milik Peter.

__ADS_1


Saat tiba di sana, hujan sudah turun dengan deras dan Elvaro tahu kalau ia tak bisa masuk begitu saja karena apartemen itu memiliki sistem keamanan yang cukup ketet. Makanya setelah memarkir mobilnya, Elvaro langsung menghubungi ponsel istrinya dan kali ini Eilani yang mengangkatnya.


"Hallo.....!"


"Aku ada di bawa. Segera turun!" kata Elvaro lalu memutuskan sambungan telepon. Elvaro segera memarkir mobilnya di depan lobby supaya Eilani tak akan basah jika ia keluar.


Tak sampai 5 menit, Eilani sudah keluar dari sana. Elvaro dapat melihat kalau rambut istrinya itu basah dan ia menggunakan Jeans dan kemeja yang bukan miliknya. Perasaan Elvaro semakin cemburu.


Melihat mobil suaminya, Eilani langsung mendekat dan membuka pintu mobilnya. Lampu dalam mobil yang menyala ketika pintu dibuka membuat Eilani dapat melihat wajah Elvaro yang merah. "El, kamu sakit?" Secara spontan tangan Eilani terukur untuk memegang dahi Elvaro namun dengan cepat Elvaro menjauhkan wajahnya.


"Tutup pintunya dan kita pergi dari sini!" perintah Elvaro.


Eilani menggeleng. "Aku nggak mau pergi denganmu jika kamu menyetir dalam keadaan sakit. Kamu kenapa sih? Mengapa datang menyusul aku ke sini?"


"Kenapa memang jika aku menyusul kamu di sini? Aku kan suamimu. Kamu belum pulang pada hal jam kerjamu hanya sampai jam 2 siang. Dan saat aku menelepon, justru yang mengangkat adalah seorang laki-laki dan mengatakan kalau kamu sedang mandi di apartemennya. Suami mana yang akan tenang mendengar semua itu? Kamu selingkuh dengan dokter Peter?"


Plak!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Elvaro. Mata Eilani bahkan sudah berkaca-kaca.


"Kamu pikir aku perempuan murahan?" tanya Eilani sedikit berteriak. Pintu mobil belum juga ditutupnya.


"Lalu mengapa kamu ada di apartemen pria yang secara jelas-jelas masih menyukai kamu? Mengapa sejak tadi aku telepon kamu dan sama sekali kamu tak mengangkatnya? Baju siapa yang kamu kenakan ini?" Elvaro bertanya sambil berteriak. Ia bahkan memukul stir mobil untuk menumpahkan kekesalannya.


Eilani turun dari mobil. "Aku pulang naik taxi saja."


"Eilani....!" Elvaro ikut turun dan segera menahan tangan istrinya. Eilani dapat merasakan betapa panasnya tangan Elvaro.


"Masuk kataku!" Teriak Elvaro. Ia sudah dibutakan oleh rasa cemburunya.


"El.....!" Eilani kaget luar biasa. Ia tak akan menduga kalau dorongannya dapat membuat Elvaro jatuh. Ia segera mendekati suaminya itu dan membantunya berdiri.


"Masuklah ke mobil. Biar aku yang menyetir."


"Pergilah! Naik saja taxi seperti keinginanmu. Biar aku pulang sendiri. Jika aku manti pun, memangnya kamu peduli?"


Eilani tak mendengarkan ungkapan kekesalan Elvaro. Ia terus mendorong pria itu untuk masuk ke dalam mobil dan Eilani segera duduk di balik kemudi kemudian menjalankan mobilnya.


Tujuan Eilani adalah rumah sakit tempatnya bekerja. Ia dapat merasakan suhu badan Elvaro yang sangat panas.


Sesampai di rumah sakit dokter jaga langsung memeriksanya. Panas Elvaro mencapai 40 derajat dan itu membuat Eilani kaget.


Tadi pagi memang Elvaro berangkat kerja tanpa sarapan. Semalam pun ia pulang langsung mandi dan tidur.


"Sepertinya suamimu terkena virus san gangguan lambung." kata dokter Leo yang menjadi dokter jaga.


Elvaro langsung di bawa ke ruang perawatannya dan Eilani menjaganya di sana. Tak lupa Eilani mengirim pesan pada ayah mertuanya dan mengabarkan kalau Elvaro masuk rumah sakit. Kedua mertuanya itu sedang berada di London.


Sepanjang malam Eilani terjaga karena panas tubuh Elvaro belum juga berkurang. Sesekali Elvaro mengigau sambil menyebutkan nama Eilani.


Menjelang subuh, Elvaro membuka matanya. "Haus.....!"


Eilani bergegas mengambil botol minuman yang memang sudah ia siapkan. Ada sedotan di sana untuk mempermudah Elvaro minum.


"Minumlah."

__ADS_1


Elvaro meneguk air putih itu sampai setengah botol.


"Aku di mana?" tanya Elvaro.


"Ada di rumah sakit."


"Aku mau pulang. Aku nggak suka rumah sakit."


Eilani menahan tubuh Elvaro ketika cowok itu akan bangun. "Demammu baru saja redah. Tapi bisa saja naik lagi karena virusnya masih ada. Lagi pula lambungmu sedikit bermasalah. Kamu nggak makan ya?"


"Pasti kamu suka aku sakit kan? Biar saja aku mati. Supaya kamu bisa bebas bersama dokter Peter." kata Elvaro sambil tidur membelakangi Eilani.


"El, aku ke apartemen dokter Peter secara tak sengaja. Saat aku mau pulang, tiba-tiba dapat telepon Dar dokter Peter, meminta agar ada perawat yang ke apartemennya karena mamanya jatuh. Kebetulan masuk pasien yang baru saja mengalami kecelakaan mobil. Ada 4 orang. Jadi aku memutuskan, biar aku saja ke apartemen dokter Peter karena jaraknya dekat dari rumah sakit. Ternyata mamanya mengalami luka sobekan di kaki. Namun beliau nggak mau ke rumah sakit. Jadi aku membantu dokter Peter untuk menjahit kaki mamanya. Proses menjahitnya memakan waktu agak lama karena mamanya awalnya nggak mau di jahit. Baju seragam perawat ku kotor karena kecipratan darah akibat mamanya yang memberontak. Makanya tadi aku nggak mengangkat telepon darimu karena memang tas ku diletakan di ruang tamu sementara kami ada di kamar mamanya. Dokter Peter lalu menelepon adiknya untuk meminjamkan bajunya karena tak mungkin aku pulang dengan baju yang sudah penuh noda darah."


"Lalu kenapa saat aku menelepon tadi harus dia yang mengangkat panggilanku?"


"Karena ponselku kehabisan daya sehingga di charger di kamarnya."


Elvaro terdiam sesaat. Ia kemudian membalikan badannya dan menatap Eilani. "Memangnya nggak ada perawat lain? Mengapa sih harus kamu yang pergi?"


"Kan aku sudah bilang, semua perawat sibuk?"


"Laura?"


"Tanya pada temanmu Arby. Mereka ada kencan hari ini karena Arby ulang tahun makanya Laura pulang satu jam lebih cepat."


Elvaro nampak masih kesal. Eilani mengambil tasnya dan mengeluarkan seragam perawatnya. "Lihat seragam ku, El. Pakaianku kotor. Makanya aku harus mandi dan ganti pakaian."


"Maaf kalau aku sudah menuduh mu yang bukan-bukan. Aku hanya cemburu karena merasa kalau kamu tak memperhatikan aku. Aku tahu kalau aku sudah melukaimu karena memaksamu berhubungan intim dengan cara yang licik. Tapi, tak dapatkah aku dimaafkan? Aku ingin hubungan kita seperti pasangan yang normal. Aku nggak tahu harus dengan cara apa lagi sehingga kamu bisa menerimaku sebagai suamimu." Air mata Elvaro mengalir. Ia terlihat begitu putus asa. Eilani langsung membuang pandangannya ke tempat lain.


"Istirahatlah, El. Aku sudah sangat mengantuk." Kata Eilani lalu segera membaringkan tubuhnya ke atas sofa yang ada di ruangan itu.


Keesokan paginya, orang tua Elvaro datang. Tiara langsung memarahi Eilani habis-habisan karena sudah dianggap tak becus mengurus Eilani.


"Perawat apa kamu kalau ternyata suamimu sakit gangguan lambung. Atau jangan-jangan kamu tak mengurus El dengan baik? Cerai saja kalau tak mampu mengurus anakku." Tiara langsung bercuap-cuap.


"Mami, jangan salahkan istriku. Aku saja yang tak becus mengurus diriku sendiri karena terlalu lelah bekerja." Elvaro tak ingin mamanya memarahi Eilani lagi.


"Tapi mami perhatikan kalau berat badanmu semakin berkurang, El. Kayaknya kamu nggak bahagia menikah dengan Eilani." sindir Tiara sambil melirik ke arah Eilani dengan sinis.


Elvaro memang tak dapat memungkiri kalau berat badannya jauh berkurang akibat masalah pernikahannya dengan Eilani.


"Perasaan mami saja. Aku hanya sedang diet karena ingin hidup sehat saja." Elvaro berdusta. Ia berusaha menyangkal semua tuduhan maminya karena tak ingin Eilani merasa tersudutkan.


Setelah 3 hari dirawat, Elvaro akhirnya pulang. Eilani mengambil cuti di hari itu karena ingin menemani Elvaro ke apartemen.


Saat tiba di apartemen, Eilani terkejut saat Elvaro mengeluarkan pakaiannya dari dalam lemarinya.


"El, kamu sedang apa?"


Elvaro menatap Eilani. "Aku akan pindah ke kamar tamu. Berada di dekatmu tanpa pernah dianggap membuat aku sangat tersiksa." Kata Elvaro lalu segera meninggalkan kamar.


***********


Inilah awal dari semua rasa sakit yang Eilani akan jalani guys

__ADS_1


__ADS_2