
"Daddy, ayo main bola!" ajak Aaron sambil menarik tangan Hanny.
"Sayang, Daddy kan masih capek. Baru saja tiba 2 jam yang lalu." kata Eilani.
"Nggak masalah, Ei. Aku juga sudah kangen bermain dengannya." Hanny pun berdiri lalu segera mengambil bola dan melemparkannya ke arah anaknya.
"Ei, kamu mencintai Hanny?" tanya Laura setelah Aaron dan Hanny bermain bersama.
"Siapa yang tak akan jatuh cinta padanya? Tampan, punya pekerjaan yang baik dan juga pribadinya baik."
Laura nampak kurang puas dengan jawaban Eilani. "Tapi kamu suka nggak sih?"
"Suka. Aku bahagia dengan Hanny."
"Dan El?"
Eilani menggeleng. "Aku tak tahu kenapa aku sama sekali tak mengingatnya. Setiap kali aku mencoba, rasanya kepalaku pusing sekali."
"Kamu sudah tahu versi yang sebenarnya tentang apa yang kamu lihat di kamar hotel itu?"
"El mencoba menjelaskannya. Namun mau bagaimana lagi? Aku sama sekali tak mengingatnya. Jadi aku tak mau mendengarkan versi lengkapnya."
"Tapi kamu tidur dengannya kan?"
Eilani mengangguk. "Aku pikir, kalau aku sudah gila karena tak bisa menolak sentuhannya. Entah kenapa, tubuhku seakan haus akan sentuhannya. Makanya aku selalu takut jika berdua saja dengan El di ruangan yang sepi."
"Karena dia lelaki pertamamu."
"Apakah dulu aku sangat mencintainya?"
"Ya. Dan Elvaro sebenarnya juga sangat mencintaimu. Mungkin waktu Stella datang, dia sedikit bingung sehingga ia tak mampu menolak keinginan Stella yang berpura-pura teraniaya. Elvaro kan memang orangnya memang selalu suka menolong orang lain."
Eilani menunduk. Kedua tangannya saling bertaut. Lalu ia mengangkat kepalanya. Menatap Hanny yang nampak sedang asyik bermain dengan Aaron. Hanny memang ayah yang baik. Makanya Aaron begitu menyayanginya sekalipun mereka jarang ketemu.
Namun sudut mata Eilani menangkap bayangan Elvaro yang berdiri tak jauh dari mereka. Elvaro menatapnya dengan tatapan yang terluka. Dan Eilani merasakan kalau hatinya ikut menjadi sedih.
"Ada apa, Ei?" tanya Laura.
"Ada Elvaro." jawab Eilani. Laura pun mengikuti arah pandang Eilani. Ia melihat sosok Elvaro yang sesekali menengok ke arah mereka, tetapi juga melihat kebersamaan antara Aaron dan papanya.
Eilani berdiri. Ia sebenarnya akan melangkah ke arah Elvaro namun bola yang ditendang oleh Aaron justru mengarah kepadanya.
"Aunty.....awas....!" teriak Aaron.
Hanny langsung berlari melihat Eilani yang terkena bola di kakinya.
__ADS_1
"Sayang, kamu nggak apa-apa kan?" tanya Hanny lalu berjongkok dan memegang betis Eilani.
"Nggak."
"Wah, kaki aunty merah. Maaf ya." Aaron nampak menyesal.
"Aunty baik-baik saja, sayang."
"Daddy, gendong aunty dong!" pinta Aaron.
"Sayang, aunty....ah....!" Eilani berteriak kaget saat tubuhnya sudah melayang karena diangkat oleh Hanny. "Hanny, turun kan!"
"Kamu ringan kok, sayang. Kita kembali ke apartemen saja ya?" Hanny tetap menggendong Eilani.
Eilani pun sempat menengok ke arah Elvaro. Namun lelaki itu sudah melangkah meninggalkan tempat itu untuk menuju ke mobilnya. Dan entah kenapa Eilani merasa tak enak dengan Elvaro.
***********
"Kamu mau minum lagi? Nanti kamu mabuk, El. Bagaimana mungkin kamu akan pulang menyetir sendiri dalam keadaan mabuk?" tanya Ardy. Sejak sore Elvaro sudah datang ke rumahnya dan lelaki itu terlihat sangat stres.
"Aku nggak akan mabuk, Ardy." Elvaro menuangkan lagi minuman di gelasnya. "Seandainya pun aku mabuk, aku akan tidur di sini. Boleh kan?"
"Tapi, kamar tamunya sedang aku pakai."
"Ya, kamu gunakan kesempatan itu untuk tidur di kamar kalian."
"Aku melihat dia dan lelaki itu di taman. Mereka bahagia, tertawa bersama. Saat melihat Hanny bermain bola dengan Aaron, aku sempat membayangkan, seandainya Eilani tak mengalami keguguran, aku pasti kini sedang bermain juga dengan anakku. Apakah dia laki-laki atau perempuan, yang pasti aku akan bahagia."
"El, kamu nggak boleh seperti ini."
"Aku mencintainya. Masih sangat mencintainya. Mungkin seumur hidupku aku tak akan mencintai perempuan lain selain Eilani Ningrum."
"Kamu sudah menyerah dengannya?"
"Nggak. Aku justru akan menculik Eilani dan membawanya jauh dari si pilot itu ."
"Jangan lupa kalau dia adalah kakakmu, El. Dan seandainya kamu menculik Eilani, memangnya dia akan kembali suka padamu?"
"Aku berencana akan membawanya ke Inggris. Kamu masih ingatkan dengan kampung terpencil yang menjadi tempat aku dan Eilani bulan madu dulu? Ke sanalah aku akan membawanya. Kamu tolong bantu aku ya?"
"Kamu gila ya?" Ardy menepuk jidat Elvaro. "Istriku akan bertambah membenci aku, El. Ini saja kalau dia tahu kamu ada di sini, bisa ditambah nanti hukuman ku."
"Katamu Seren dinas sore. pulangnya nanti jam 12 malam. Ini kan baru juga jam 9. Sedikit lagi deh baru aku pulang."
Elvaro membaringkan tubuhnya di sofa ruang tamu itu. Kepalanya menjadi pusing.
__ADS_1
Pintu utama rumah itu di buka dari luar. Seren yang pulang lebih awal karena ada pergantian piket dengan salah satu dokter, mengajak Eilani ke rumahnya karena akan mengambil kue ulang tahun yang sudah di pesan oleh Seren. Besok ulang tahun kepala rumah sakit dan rencananya mereka akan membuat pesta kejutan sebelum apel jam 7 pagi. Kebetulan Eilani piket malam sampai pagi sehingga kue itu akan segera dibawahnya karena Seren takut nantinya ia akan terlambat.
Ardy menjadi tegang melihat siapa yang datang dan siapa yang berdiri di belakang istrinya.
"Eilani?" Ardy tanpa sadar menyebut nama perempuan itu dan membuat Elvaro yang sudah berbaring di sofa membuka namanya saat mendengar nama Eilani.
"Eilani? Mana Eilani?" Elvaro berdiri walaupun dengan gaya yang sempoyongan.
"El?" Eilani terkejut melihat ada Elvaro di sana demikian juga dengan Seren.
"Eh dokter Seren, jangan marah pada Ardy ya. Aku ke sini karena memang hanya Ardy teman sejati ku. Aku butuh teman curhat. Awas ya kalau kamu tambah hukuman padanya." Elvaro berkata sambil tersenyum. "Eh...Eilani, kamu tahu aku begini karena kamu kan? Kamu mau bahagia dengan Hanny? Boolshit! Kamu itu hanya akan bahagia dengan aku...."
"Elvaro!" Ardy menahan tangan Elvaro karena pria itu melangkah mendekati Eilani namun dia hampir jatuh.
"Aku baik-baik saja, Ardy!"
"Kamu tidak baik-baik saja, El. Kamu teler!" kata Seren. "Bawa dia ke kamar tamu !"
"Wah Seren, kamu sengaja kan mau menidurkan aku di kamar tamu karena kamu ingin berduaan dengan Ardy di kamar kalian?" kata Elvaro sambil mengeratkan jaro telunjuknya di depan Seren. "Bilang saja kalau kamu sudah merindukan pelukan Ardy."
"Diam.....! Ayo kita ke kamar, El!" ajak Ardy.
"Nggak. Aku nggak mau ke kamar. Aku mau di sini karena ada istriku. Sayang, Eilani, cintaku, tetaplah di sampingku ya....."
Eilani tak bicara. Ia hanya menatap Elvaro dengan tatapan kasihan.
"Aku bisa mati tanpa kamu, Ei. Aku mencintai kamu....! Tolong jangan menikah dengan pilot itu." Elvaro langsung memegang tangan Eilani. Ia kini berlutut di depan perempuan itu. "Aku memang jahat di masa lalu karena lebih mementingkan Stella. Namun aku benar-benar mencintai kamu. Stella hanyalah masa laluku." Elvaro memegang kedua kaki Eilani. Air matanya sudah membasahi pipinya.
"Aku cinta kamu, sayang. Please jangan tinggalkan aku! Cintai aku lagi, Eilani! Aku mohon!"
"Kamu mabuk, El." Eilani membantu Elvaro berdiri. "Baringkan dia saja di kamar, Ardy. Aku akan membuatkan Kopi untuknya." kata Eilani lalu segera ke dapur.
Seren hanya bisa menggeleng lalu menyusul Eilani ke dapur.
Ardy pun membawa Elvaro ke kamar tamu. Ia membaringkan tubuh sahabatnya itu lalu membuka sepatu dan kaos kakinya. Tak lama kemudian Eilani masuk bersama Seren. Ia meminta Ardy untuk membantu Elvaro duduk dan meminumkan kopi sedikit padanya.
"Ei, kamu ingat kalau Elvaro harus minum kopi saat mabuk?" tanya Ardy setelah Elvaro tidur.
"Nggak tahu. Aku spontan saja membuatnya." kata Eilani sambil mengangkat bahunya.
"Ingatan kamu mulai pulih. Walaupun kamu belum mengingat namun alam bawa sadar mu sudah mulai membuatmu melakukan apa yang biasa kalian buat bersama."
Benarkah?
"Jangan pergi, Ei. Jangan tinggalkan aku. Aku bisa mati tanpa dirimu." Eilani yang akan berdiri, tiba-tiba saja tangannya ditahan oleh Elvaro walaupun mata cowok itu masih terpejam.
__ADS_1
"Tinggallah sebentar, Ei. Nanti aku panggilkan taxi untukmu nanti." kata Seren lalu segera meninggalkan kamar tamu itu.
Ardy pun membantu Eilani menyelimuti tubuh Elvaro. Setelah itu ia keluar kamar. Ardy duduk selama 15 menit di ruang tamu itu sambil merenung. Ia pun memutuskan ke kamar utama. Ardy bermaksud akan mengambil selimut dan bantal di kamar utama lalu ia akan tidur di sofa ruang tamu saja. Namun saat ia membuka pintu, ia langsung terbelalak melihat Seren yang sedang duduk di kursi meja riasnya, sedang kan tubuhny nampak polos. Seren sedang menunduk sambil menggosok lation di kulit kakinya. Punggung putihnya terlihat. Ardy bingung, apa maksudnya ini?