
"Apa?"
Jantung Elvaro bagaikan berhenti berdetak. Rasa sakit kepala yang mendera kepalanya akibat mabuk semalam seakan langsung hilang.
"Tuan?"
"Eilani akan menikah hari ini? Apa benar?" tanya Elvaro sambil mencengkram kemeja Ned.
"Memangnya aku bilang hari ini?" Ned pura-pura bego.
"Lalu tadi kamu bilang apa?"
"Maaf tuan, aku bercanda. Aku tahu kalau tuan mencintai suster cantik itu. Sebenarnya hari ini kami diundang oleh Sumarni ke pernikahannya. "Ned tersenyum tanpa dosa.
"Sumarni?"
"Salah satu art kita."
Elvaro ingin sekali memukul kepala Ned. Namun ia sadar kalau Ned usianya hampir sama dengan maminya. Ia kemudian membaringkan tubuhnya kembali ke atas ranjang.
"Tuan, jangan tidur lagi. Di tunggu nyonya di meja makan."
"Ned, jangan bercanda lagi mengenai Eilani ya? Aku bisa gila."
"Tuan begitu mencintainya?"
"Dia itu masih istriku, Ned."
"Istri?"
Elvaro lalu menceritakan kisah masa lalunya pada Ned.
"Duh Gusti! Sungguh kisah yang tragis. Tuan dilupakan karena melukai hati Eilani begitu dalam. Sebaiknya tuan jujur saja sebelum suster Ani menikah dengan si pilot."
"Rencananya aku akan ke apartemennya hari ini. Aku tak akan menunda lagi dan akhirnya aku kehilangan dia selamanya."
Ned mengangkat kedua tangannya. "Semangat tuan! Saya pergi dulu ya? Sudah ditunggu oleh art yang lain." Ned pun pamit. Elvaro kemudian bangun dan mandi lalu segera menemui maminya.
"Mami....!"
Tiara menatap putranya. "Makanlah, nak. Mami membuat sup kesukaan mu."
"Mami masak?"
"Ya. Karena mami sudah nggak tahan pura-pura buta lagi. Lagi pula Eilani sudah tak bekerja di sini. Kamu mau makan?"
"Boleh. Kangen juga masakan mami."
Tiara pun dengan senang hati menyiapkan makanan untuk putranya.
"El, kenapa semalam sampai mabuk begitu?" tanya Tiara saat Elvaro sudah selesai makan.
"Aku merasa sangat frustasi tak bisa memiliki Eilani lagi pada hal kami sudah begitu dekat. Tunangannya datang dan mengatakan kalau mereka akan segera menikah. Mi, Eilani itu masih istriku."
"Ardy bilang apa memangnya?"
"Dia berhasil membujuk Laura untuk tak mengurus perceraian aku dan Eilani. Awalnya Laura menolak namun akhirnya ia setuju."
"Dan kamu akan mengakui kalau siapa dirimu?"
"Ya."
"Walaupun dengan resiko kalau Eilani akan membencimu?"
__ADS_1
"Apapun itu, mi. Aku akan mendapatkan istriku kembali."
"Maafkan mami ya, nak? Semuanya terjadi karena mami."
"Semua sudah terjadi, mi. Mau marah dan kecewa bagaimana pun aku pada mami, tak akan bisa membalikan lagi masa yang telah berlalu. Doakan saja agar Eilani bisa memaafkan aku, mi."
Tiara mengangguk. Sekarang ia ingin melakukan apa saja demi kebahagiaan putranya.
**********
Laura mendorong tubuh Ardy sehingga ciuman diantara mereka berakhir. Entah apa yang terjadi diantara mereka berdua sehingga malam ini, saat Ardy mengajak Laura makan malam sebelum kepulangannya besok, keduanya justru larut dalam suasana romantis.
Mereka berdua kini ada di sebuah restoran pinggiran kota. Sebenarnya restoran ini adalah tempat favorit mereka dulu waktu pacaran dulu.
Saat jalan-jalan di taman yang ada, saat Laura tak sengaja tersandung dan saat Ardy membantunya berdiri, ciuman itu pun terjadi.
"Maaf....!" kata Ardy sambil mundur selangkah.
Laura tersenyum. "Kita akan gila jika berdekatan seperti ini."
Ardy terkekeh sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
"Apakah kita masih memiliki rasa di hati?" tanya Ardy lalu menatap Laura yang kini duduk di bangku beton.
Laura menatap pria yang adalah pacar pertamanya itu. "Entahlah, Ardy. Seandainya pun rasa itu masih ada, mungkin hanya karena kita pernah memiliki kenangan yang manis bersama."
"Mungkin juga ya?" Ardy menarik napas panjang. "Saat aku mencium mu tadi, sisi hatiku yang satu merasa bahagia, namun sisi hatiku yang lain justru memikirkan istriku. Istriku memang bukan tipe pencemburu namun dia adalah orang yang sangat memegang prinsip kesetiaan. Aku bahkan harus berbuat nekat saat meyakinkan dia untuk menikah denganku."
Laura mengangguk sambil tertawa. "Aku tahu itu. Eilani menceritakan tentang hal gila yang kau lakukan untuk melamar dokter cantik itu. Dia menceritakan tentang kamu tanpa menyadari tentang hubungan antara kamu, dirinya dan Elvaro di masa lalunya yang hilang."
Ardy menatap Laura. "Apakah tunanganmu orangnya baik?"
"Baik. Dia juga dokter di rumah sakit tempatku bekerja."
Laura kembali tertawa. "Ternyata kita sama-sama berjodoh dengan dokter ya?"
"Jika kamu sudah menikah nanti, datanglah bulan madu ke Bali dan aku akan memperkenalkan mu pada istriku."
"Kami memang berencana mau bulan madu ke Bali sekalian akan menemui Eilani."
"Wah, kebetulan yang sangat menyenangkan. Pokoknya beri tahu aku ya? Nanti aku berikan hotel gratis selama di Bali selama bulan madu kalian."
"Tentu saja aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini."
Ardy meraih tangan Laura dan mengecup punggung tangan gadis itu dengan sangat lembut. "Boleh aku memelukmu?"
"Tentu saja. Pelukan antara sahabat lama."
Keduanya pun saling berpelukan. Agak lama. Namun saat pelukan itu terurai, mereka sama-sama tertawa. Ardy kemudian mengantarkan Laura pulang, sebelum ia sendiri kembali ke hotelnya.
Kisah tentang Ardy dan Laura mengajarkan kita bahwa selingkuh itu tak akan terjadi jika dua orang yang memiliki peluang selingkuh itu tak pernah mau mengambil kesempatan dalam kesempitan dan menyadari bahwa cinta yang kini bersamanya lebih berharga dari kisah masa lalunya.
*************
Sudah seminggu Eilani kembali lagi di rumah sakit. Ia sangat senang walaupun sebenarnya sisi hatinya yang lain merindukan suasana hangat di rumah Elvaro.
"Eilani!" panggil dokter Seren, istri dari Ardy.
"Eh, dok. Baru datang ya? Tumben dokter terlambat. Biasanya juga on time."
"Kemarin aku jemput mas Ardy. Katanya pesawat nya akan turun jam 11 malam, karena cuaca hujan deras di Singapura, mereka terlambat berangkat saat transit di Singapura. Nyampenya sudah jam 2 subuh."
"Jadi tidurnya sudah pagi nih? Cie-cie...yang baru saja melepas rasa rindu." goda Eilani. Ia memang dikenal sebagai perawat yang paling dekat dengan dokter Seren.
__ADS_1
"Kamu ini....!" Seren mencubit tangan Eilani karena ia merasa malu.
Keduanya menuju ke tempat praktek dokter Seren yang adalah dokter kandungan. Para pasien sudah berkumpul di sana. Seren meminta maaf atas keterlambatannya lalu segera masuk ke ruangannya untuk memulai pemeriksaan.
Hari Selasa dan Kamis, Seren memang praktek di rumah sakit ini dan Eilani jadi asistennya.
"Dok, rambutnya jangan disanggul." ujar Eilani.
"Kenapa?"
"Ada tanda merah di leher."
Wajah Seren langsung menjadi merah. "Astaga....., dasar Ardy." Seren kembali membiarkan rambutnya tergerai. Ia gemas karena sudah berpesan pada suaminya agar tak membuat tanda namun masih saja dilakukannya.
Pukul 1 siang, semua pasien sudah selesai diperiksa. Seren memang adalah dokter ahli kandungan.
"Dok, gimana? sudah ada isi belum?" tanya Eilani sambil dengan dagunya menunjuk perut Seren. Keduanya berjalan keluar dari ruangan praktek Seren
"Belum. Pada hal kami sudah setahun lebih menikah."
"Dokter sudah periksa kan?"
"Ya. Mas Ardy juga. Nggak ada masalah sih. Mungkin hanya belum waktunya Tuhan saja."
Eilani mengangguk setuju. Langkah nya terhenti saat melihat Elvaro yang sudah menunggunya di depan pintu masuk.
"El, kamu ngapain di sini?" sapa dokter Seren dan menyapanya dengan pelukan hangat dan cipika-cipiki.
"Aku ingin menemui Eilani."
"Mami mu sakit lagi? Kata mas Ardy sudah bisa melihat kan?"
"Bukan masalah mami. Tapi masalahnya ada pada diriku."
Seren menatap Elvaro. "Maksudnya apa?"
"Aku jatuh cinta pada suster mu ini " Elvaro memegang tangan Eilani. "Aku pinjam dia sebentar ya?" Tanpa menunggu persetujuan Eilani, Elvaro sudah menarik Eilani menjauh.
"Kamu mau apa, El? Sebentar lagi aku dijemput Hanny." Eilani berusaha melepaskan diri dari cengkraman Elvaro namun pria itu semakin kuat memegang tangannya dan membawa Eilani ke tempat parkir.
"El, lepaskan!"
Elvaro mendorong tubuh Eilani sampai akhirnya perempuan itu masuk ke dalam mobilnya.
"Kamu ngapain sih? Kayak orang gila saja. Mas Hanny mau menjemput" Eilani memakai sabuk pengaman saat Elvaro mulai menjalankan mobilnya.
"Ya. Aku memang gila karena kamu dekat dengan Hanny."
"Mengapa kamu jadi gini, El?"
"Karena aku masih suamimu."
"Apa? sejak kapan kita menikah?"
Elvaro menginjak rem Secara mendadak membuat Eilani terkejut. Tangannya kemudian membuka laci mobilnya lalu mengambil beberapa lembar foto dan menyerahkannya pada Eilani.
Mata Eilani langsung melotot saat melihat foto pernikahan dirinya dengan El.
******
Semoga suka dengan part ini ya...
....
__ADS_1