CINTAI AKU LAGI, EILANI

CINTAI AKU LAGI, EILANI
Mencari Kebenaran


__ADS_3

Wajah Eilani menjadi pucat saat melihat foto itu. Ia bahkan membolak-balik foto itu dengan tangan yang bergetar. "Ini bukan editan kan? Bukan karena kamu ingin menjadikan aku milikmu kan?"


"Ini bukan editan. Aku bahkan masih menyimpan foto-foto saat kita masih pacaran di Inggris." Elvaro membuka galery yang ada di ponselnya dan menunjukan semua fotonya pada Eilani. Bahkan ada beberapa video pendek mereka saat liburan ke beberapa tempat.


"Ini.....!" Eilani menatap Elvaro. Ia kemudian membuka sabuk pengaman yang dipakainya. "Kamu...! Kamu.....! Kamu adalah lelaki jahat itu?"


"Ei...dengar dulu." Elvaro memegang tangan Eilani namun Perempuan itu menepiskannya dengan wajah marah. "Aku akan menanyakan kebenaran ini pada bibiku." Eilani turun dari mobil Elvaro namun ia masih membawa foto itu. Elvaro berusaha mencegahnya untuk pergi namun Eilani sudah lebih dulu menghentikan sebuah taxi yang lewat.


Lelaki itu memutuskan untuk mengikuti taxi itu karena ia memang tak ingin meninggalkan Eilani sendiri. Elvaro tak ingin bibi Nova akan membohongi Eilani lagi.


Saat tiba di apartemen, Eilani sedikit berlari saat memasuki lobby. untungnya Elvaro masih sempat mengejarnya.


"Bibi....!" teriak Eilani saat membuka pintu. Ia tak menyadari kalau Elvaro ada di belakangnya. Pintu unit apartemennya bahkan tak sempat di tutupnya.


"Ada apa, Ei?" Nova yang sedang membuat kue terkejut melihat kedatangan Eilani dengan wajah yang sudah basah dengan air mata.


"Apa ini?" Eilani meletakan foto itu di atas meja makan.


Nova terkejut melihat foto-foto pernikahan Eilani dan Elvaro itu. Ia menatap tajam ke arah Elvaro yang berdiri tak jauh di belakang Eilani.


"Apa benar aku dan Elvaro dulunya pernah menikah?" tanya Eilani sambil berharap kalau bibinya akan mengatakan tidak.


"Sayang, bibi.....!"


"Lalu mengapa bibi menunjukan foto yang lain dan mengatakan kalau itu adalah suamiku? Mengapa bibi mengatakan kalau suami jahat ku itu sudah meninggal?" tanya Eilani dengan nada suara yang sedikit tinggi.


"Ei..., bibi dan paman saat itu menunjukan foto orang lain karena kami tak ingin kamu mengingat lagi lelaki jahat yang telah menyakiti kamu sedemikian dalam. Kamu bahkan hampir bunuh diri karena semua yang Elvaro lakukan padamu." kata Nova dengan suara parau karena ia juga menangis. Ia tentu tak akan melupakan bagaimana takutnya ia saat menemukan Eilani yang hampir saja meneguk racun di kamarnya.


"Aku memang jahat. Aku akui itu. Namun kalian tidak pernah mau mendengarkan penjelasan ku mengenai apa yang terjadi di kamar itu. Aku memang salah karena membohongi kamu dan mendatangani Stella di hotel itu. Tapi...."


Plak!


Tangan Eilani dengan cepat melayang dan menampar pipi kanan Elvaro. Menghentikan kalimat perempuan itu yang akan menjelaskan segalanya.


"Kalau memang kamu pernah pacaran dan menikah denganku, kamu tentunya tahu dengan prinsip hidupku. Aku tak suka laki-laki pembohong dan tak ada maaf untuk seorang pengkhianat." kata Eilani dengan bibir yang bergetar menahan tangis. Ia tak menyangka kalau ia bisa menampar Elvaro.


"Tak dapatkah aku diberikan kesempatan kedua, Ei? Salahkah aku jika aku ingin bersama lagi denganmu? Kita belum bercerai. Aku tak mau berpisah denganmu karena sebenarnya aku tak pernah berhenti mencintai mu. Pertemuan kita kembali di Bali ini membuat hatiku semakin yakin tentang perasaan yang kumiliki untukmu."


"Akan tak ingin bersama dengan kamu lagi. Walaupun saat ini aku belum bisa mengingat siapa kamu, namun hatiku kini merasa sakit. Kalau kesalahan mu di masa lalu tak begitu berat, tak mungkin aku akan meninggalkanmu."


"Eilani....!"


Eilani menunjuk pintu apartemennya yang masih terbuka. "Keluar....!"

__ADS_1


"Eilani, aku mohon. Dengarkan aku dulu!"


"Keluar kataku!" Eilani mendorong tubuh Elvaro dengan sekuat tenaga sampai akhirnya cowok itu keluar. Lalu dengan cepat ia menutup pintu dengan membantingnya dengan sangat keras. Setelah itu perempuan itu menangis sangat keras. Ia memegang kepalanya dengan kedua tangannya karena memang kepala terasa sakit.


Inilah yang selalu terjadi saat Eilani mencoba mengingat kepingan kenangannya yang hilang.


"Aunty.....!" Aaron yang terbangun karena mendengar suara teriakan Eilani, segera mendekati Perempuan itu. Eilani buru-buru menghapus air matanya. Ia tak ingin membuat Aaron takut.


"Sayang.....!" Eilani memasang senyum terbaiknya saat melihat Aaron.


"Aunty kenapa?"


"Kaki aunty sakit karena jepit di pintu."


Aaron menghapus air mata Eilani. "Pasti rasanya sakit ya sampai aunty membanting pintu."


"Tapi sekarang sudah sehat"


Aaron tersenyum. Ia memeluk Eilani. "Aaron nggak takut ya? Sekarang Aaron mandi dulu. Nanti aunty siapkan susunya. "


"Ok" Aaron pun mengajak Nova untuk ke kamar mandi.


Eilani pun kembali duduk di atas sofa. Pikirannya pusing mengenai apa yang akan terjadi. Ia kemudian mengambil ponselnya. Ia menelepon Laura namun Laura tak menerima panggilannya. Eilani maklum karena saat ini di Inggris pasti sudah tengah malam.


***********


Wajah Ardy menjadi tegang saat melihat kedatangan Eilani ke rumah mereka dengan foto yang ada di tangannya.


Seren menatap suaminya dengan tajam dan meminta penjelasan.


"Itu...., itu memang benar, Ei. Kamu adalah istri Elvaro." kata Ardy setelah mengumpulkan keberaniannya untuk bicara.


"Sayang, kenapa kamu nggak bilang padaku saat Eilani pertama kali bekerja di sana? Kenapa kamu nggak jujur? Bukankah kita sudah berjanji untuk saling jujur?" Seren langsung meradang mendengar penjelasan suaminya.


"El meminta aku untuk tidak mengatakan apa-apa karena Eilani juga tak mengingatnya. Apalagi dari semua perawat yang bekerja di sana, hanya Eilani yang bisa menaklukan mami Tiara." Ardy mengungkapkan alasannya.


"Oh, jadi kamu lebih mendengar apa yang sahabatmu itu inginkan dari pada jujur pada istrimu sendiri? Mengapa kamu tak menikah saja dengan bos mu itu?" Seren berkacak pinggang. Ardy menelan salivanya yang terasa pahit. Sudah dipastikan malam ini ia akan tidur di kamar tamu.


"Terima kasih." Hanya itu yang Eilani katakan. Ia kemudian berdiri, mengambil foto-foto itu dan memasukannya ke dalam tasnya. "Aku permisi dulu, dok. Pak Ardy. Selamat malam."


"Ei.....!" Seren menahan tangannya. "Maaf kalau suamiku tak jujur mengenai statusmu dengan bos nya yang ternyata pecundang itu. Jangan bersedih ya? Lupakan saja dia."


"Baik. Terima kasih, dok." pamit Eilani dan segera pergi meninggalkan rumah itu.

__ADS_1


Seren menatap suaminya. "Kamu tahu kalau aku paling nggak suka sebuah kebohongan kan? Karena itu, selama sebulan ini kamu tidur di kamar tamu."


"Tapi sayang....."


"Aku tambah dua bulan."


"Sayang....."


"Tiga bulan!"


Ardy mengeram kesal. Ia segera meninggalkan istrinya dan pergi ke dapur. Untuk situasi seperti ini, Ardy butuh kopi.


**********


Sepanjang malam, Eilani tak bisa tidur. Ia mencoba mengumpulkan kepingan-kepingan ingatan masa lalunya yang hilang.


Sampai akhirnya, ia samar-samar mengingat saat pertemuannya dengan Elvaro di sebuah halaman parkir sebuah klub malam.


Ya Tuhan, benarkah aku dan dia dulunya adalah sepasang kekasih yang menikah?


Eilani mengingat bagaimana ia dengan mudahnya jatuh ke dalam pelukan Elvaro saat bekerja di rumah itu. Pantas saja ia merasakan kalau setiap sentuhan Elvaro bukan sesuatu yang baru baginya.


Perempuan itu pun bangun dan bersiap untuk bekerja. Namun saat ia keluar dari lobby apartemen, ia terkejut melihat Elvaro yang sudah menunggunya di samping mobilnya.


"Apa mau mu?" tanya Eilani dingin.


"Ayo kita bicara, Ei."


"Bicara apa? Aku sama sekali tak mengingat kamu. Anggap saja tak ada cerita diantara kita di masa lalu. Jangan ganggu aku karena aku akan segera menikah."


"Aku tak akan pernah mengijinkan kamu menikah dengan siapapun. Kamu masih istriku." kata Elvaro lalu mencengkram tangan Eilani dengan kuat.


"Kamu mau apa?"


"Ikut aku. Akan ku buat kamu mengingat semua tentang kita." Elvaro membuka pintu mobil dan dengan sangat keras ia mendorong Eilani untuk masuk ke dalamnya.


"Kamu sudah gila....! Lepaskan aku....Lepaskan !" teriak Eilani sambil memukul tubuh Elvaro secara membabi-buta.


"Pukul aku terus, El. Dan biarkan kita mati dalam kecelakaan ini." kata Elvaro tanpa sedikit pun menangkis pukulan Eilani pada tubuhnya.


*************


Kemanakah Elvaro akan membawa Eilani?

__ADS_1


__ADS_2