
Ada senyum di wajah Eilani saat melihat Elvaro yang tidur di kursi dekat tempat tidur Aaron.
"El, ngapain di sini?" tanya Eilani sambil berbisik. Ia menepuk pipi lelaki itu. Elvaro membuka matanya. Ia tersenyum. Bahagia rasanya saat bangun pagi dan melihat wajah cantik ini di hadapannya.
"Semalam Aaron mengingat memanggil nama papanya. Saat aku mendekatinya, ia langsung memeluk aku karena berpikir kalau aku adalah papanya."
"Aaron memang sangat dekat dengan Hanny. Apalagi setelah kematian mamanya yang mendadak."
"Mama Aaron sakit apa?"
"Kecelakaan. Ada kasus kecelakaan beruntun di sebuah perempatan lampu merah. Mamanya Aaron waktu itu mengendarai mobil. Ada Aaron di dalam. Polisi menemukan tubuhnya ada di atas Aaron. Sepertinya ia melindungi Aaron sebelum mobil yang lain terbalik di atas mobilnya." Tanpa sadar air mata Eilani mengalir. "Maaf, aku selalu sensitif setiap kali mengingat hal itu. Pengorbanan seorang ibu yang luar biasa. Aku juga pernah mengalami kecelakaan. Andai saja waktu itu aku bisa melindungi....." Eilani tak melanjutkan kalimatnya. Ia berusaha tegar mengingat kejadian waktu itu.
Hati Elvaro terasa sakit juga. Ia sudah tahu apa yang terjadi waktu itu. Tangannya hanya bisa terkepal saat menyadari bahwa semua yang terjadi pada Eilani adalah karena kesalahannya. Terlalu melindungi orang lain dan tak memikirkan perasaan Eilani.
"Good morning!" sapa Aaron yang baru saja bangun, membuat Eilani dan Elvaro yang sedang tenggelam dalam pikirannya masing-masing mengalihkan pandangan mereka para balita tampan itu.
"Good morning, Aaron." Eilani buru-buru menghapus air matanya. Ia mengecup pipi cabi Aaron dengan gemas membuat anak itu tertawa.
"Aunty, Aaron lapar."
"Aaron mau makan? Mau makan apa sayang?" tanya Eilani dengan penuh perhatian.
"Makan nasi dengan ayam goreng." kata Aaron dengan mata berbinar. Sepertinya ia sudah membayangkan makanan itu ada di hadapannya.
"Nasi dan ayam gorengnya datang." Pintu ruang perawatan Aaron terbuka dan nampak Nova masuk sambil membawa rantang makanan.
"Nenek.....!" Aaron bersorak senang sambil mengangkat kedua tangannya. Sedangkan Elvaro nampak tegang melihat kedatangan Nova.
"Aaron sangat lapar ya? Semalam kan Aaron belum makan karena menunggu aunty. Jadi nenek pikir pasti Aaron akan mencari ayam goreng pagi. Makannya nenek buatkan." Nova nampak cuek dengan Elvaro. Pada hal lelaki itu sudah ketakutan setengah mati.
"Aunty suapin Aaron ya?" ujar Aaron.
"Ok, sayang.....!" Eilani pun langsung menyiapkan piring dan sendok.
"Eh, ada tamu? Siapa?" tanya Nova pura-pura.
"Oh, ini Elvaro, bi. Maminya, yang Eilani rawat selama ini."
"Oh, gitu ya? Maminya tuan Elvaro Evans ini yang kamu rawat? Maminya buta kan?" Nova sengaja menekan kata buta karena kini ia mengerti kenapa Tiara yang sombong dan arogan itu tak mengenali Eilani yang dulu sangat dibencinya.
"Iya. Kasihan nyonya Tiara." kata Eilani. Ia mulai menyuapi Aaron.
"Aku permisi dulu." pamit Elvaro. Ia merasa tak nyaman ada Nova di sini.
"Ya. Terima kasih sudah menemani aku." kata Eilani.
"Sama-sama." Elvaro kemudian mendekati Aaron. "Om pulang dulu ya anak manis. Nanti kalau ada waktu, kita pasti ketemu lagi. Permisi bibi." Elvaro buru-buru keluar.
"Ah, bibi juga harus pergi. Mau mengantarkan pesanan kue. Nanti balik lagi ke sini ya?" Nova pun meraih tas nya dan langsung pergi. Ia harus menyusul Elvaro.
"Elvaro Evans!" teriak Nova saat berhasil menyusul Elvaro di halaman parkir rumah sakit.
Elvaro membalikan badannya. Ia tahu kalau Nova pasti akan menyusulnya.
"Jadi kamu adalah lelaki yang mengejar keponakan saya? Ingat baik-baik ya, jangan dekati Eilani saat ia kehilangan ingatannya. Aku bersumpah akan memberitahukan Eilani yang sebenarnya tentang dirimu."
"Dia masih istriku."
"Sekalipun demikian, jika saat ini Eilani mengajukan perceraian maka pengadilan akan menyetujuinya tanpa ada lagi persidangan karena kalian sudah lima tahun lebih tak bersama."
"Aku tak akan pernah menceraikan Eilani. Aku mencintainya."
__ADS_1
"Boolshit dengan semua kata cintamu itu. Ponakan ku sudah cukup menderita atas apa yang sudah kamu dan mamamu perbuat. Biarkan Eilani bahagia."
"Eilani juga masih mencintaiku. Aku dapat merasakan itu disaat kami bersama."
"Apa maksudmu dengan bersama?"
"Aku sudah tidur dengan Eilani."
Plak!
Satu tamparan keras Nova berikan pada Elvaro. "Kalau begitu, Eilani harus tahu yang sebenarnya."
"Bibi kan menunjukan foto orang lain pada Eilani sebagai suaminya."
"Itu kami lakukan agar Eilani tidak akan pernah mengingat lagi kenangan buruknya bersama kalian. Kata dokter, kemungkinan Eilani menemukan ingatannya itu sangat kecil karena kebenciannya terhadap kenangan itu."
"Bi, bukankah pertemuan kami di Bali ini adalah suatu bukti kalau kami masih berjodoh? Ijinkan aku menebus semua kesalahan ku di masa lalu. Aku sungguh-sungguh mencintai Eilani." Elvaro memegang tangan Nova.
"Lepaskan! Aku tak akan mungkin mengembalikan Eilani padamu. Lagi pula, Eilani sudah akan menikah."
"Dengan pilot itu? Ayahnya si Aaron?"
"Ya. Mereka bisa saja segera menikah karena pernikahan kalian tak tercatat di Indonesia. Namun aku tak mau seperti itu. Dan asal kamu tahu saja, Laura sekarang sementara mengurus pembatalan pernikahan kalian di Inggris sehingga Eilani bisa menikah dengan Hanny."
"Jangan lakukan itu, bi."
Nova menatap Elvaro dengan penuh kebencian. "Kamu tak akan pernah melihat Eilani lagi karena setelah menikah, Eilani akan ikut dengan suaminya."
"Aku mohon, bi."
Nova membuang ludahnya si hadapan Elvaro lalu segera pergi. Ia masih jelas mengingat bagaimana Eilani yang menangis karena pengkhianatan yang sudah Elvaro lakukan. Eilani bahkan hampir bunuh diri saat itu. Tentu saja Nova tak ingin keponakan satu-satunya itu akan bersama lelaki yang pernah menghancurkan kehidupannya.
***********
"Cegah Laura untuk mengurus perceraian aku dan Eilani."
"Ketemu dengan Laura? Kamu mau buat aku berselingkuh dari istriku? Kamu tahu bagaimana perasaan ku pada Laura kan? Sampai sekarang pun aku masih sering memimpikan dia."
"Kamu kan bilang mencintai istrimu."
"Iya. Aku memang mencintai istriku. Namun jika ketemu Laura, aku mungkin bisa selingkuh dengannya."
"Tolong aku, Ardy. Aku tak bisa meninggalkan Eilani sendiri di sini. Bisa-bisa bibi Nova akan segera menikahkan dia dengan Hanny."
"Kapan aku pergi?"
"Hari ini."
"Apa?" Ardy kaget. Ia memang memiliki kemudahan untuk pergi ke Inggris karena Omanya adalah keluarga bangsawan di sana. Ia bisa saja sewaktu-waktu pergi ke sana.
"Aku sudah memesan tiket first class. Jam 7 malam ini pesawatnya berangkat."
"Aku harus bilang apa pada istriku?"
"Proyek mendadak dan aku tak bisa meninggalkan ibuku dalam keadaan buta. Jadi kamu yang pergi."
"Di mana aku harus menemukan Laura?"
"Dia sebenarnya bekerja di rumah sakit Manchster. Namun sekarang ia ada di Liverpool untuk mengurus pembatalan pernikahan aku dan Eilani dari pihak gereja dan perceraian aku dan Ei di pengadilan."
"Ok." Ardy mengalah. Ia akan pergi dan berjuang kembali bersama sahabat baiknya ini untuk mendapatkan cinta Eilani lagi.
__ADS_1
*********
"Nyonya, aku ingin berhenti bekerja." kata Eilani saat selesai mengurus Tiara sore ini.
"Kenapa? Apakah aku berbuat sesuatu yang salah?" tanya Tiara. Wajahnya terlihat sedih.
"Tidak, nyonya. Hanya saja, aku merasa bahwa nyonya tak terlalu membutuhkan aku sebagai seorang perawat. Di sini banyak art yang siap membantu nyonya. Lagi pula, aku rindu bekerja di suasana rumah sakit yang ramai dengan berbagai model orang sakit yang ada. Nanti sesekali, aku akan datang ke sini untuk mengunjungi nyonya."
Air mata Tiara jatuh. Ia tahu tak ada alasan baginya untuk menahan Eilani di sini. "Aku sedih, suster Ani. Kehadiranmu memberi warna dalam hidupku. Dan aku merasa masih sangat membutuhkanmu. Aku suka bercerita denganmu."
Eilani memeluk Tiara dengan penuh kasih. "Nyonya, aku kan sudah bilang, kalau aku akan sering ke sini untuk mengunjungi nyonya."
"Walaupun aku ingin menahan mu, aku tahu itu tak mungkin." Tiara menghapus air matanya. Ia menggenggam tangan Eilani. "Maafkan semua kesalahan aku ya? Baik di masa lalu, maupun sekarang. Andai saja aku bisa membalikan waktu, aku pasti tak akan melakukan semua itu."
"Maksud Nyonya apa?" Eilani jadi bingung.
Tangis Tiara semakin dalam. Ia mencium punggung tangan Eilani lalu kembali memeluk Perempuan itu dengan hati yang hancur. Ia sudah bisa membayangkan Elvaro juga akan sedih jika Eilani berhenti.
**********
Setelah pamitan penuh drama kepada semua penghuni rumah itu, Eilani pun bergegas untuk pulang. Ia tak mau ketemu dengan Elvaro karena Eilani tak ingin hatinya terpaut pada lelaki itu. Apalagi mereka sudah tiga kali bercinta tanpa ada pengaman. Dan Eilani takut kalau ia hamil.
Namun, saat ia keluar dari gerbang rumah megah itu, mobil Elvaro seakan sudah menunggunya. Pria itu turun dari dalam mobil dan menatap Eilani dengan mata yang terluka.
"Jadi kamu memilih berhenti?" tanya Elvaro. Sepertinya Tiara sudah menelepon anaknya.
"Ya. Aku ingin kembali bekerja di rumah sakit."
"Atau karena kamu ingin menikah dengan Hanny?"
"Salah satunya adalah itu."
"Aku tak akan mengijinkan kamu menikah dengan Hanny."
"Apa hak kamu melarang aku?"
"Karena kamu milikku. Kamu adalah istriku!" teriak Elvaro lantang.
"Hanya karena kita pernah tidur bersama lalu kamu mengatakan kalau aku adalah milikmu? Adalah istrimu? Apakah kamu sudah gila?"
Elvaro akan bicara lagi namun sebuah mobil yang Akon berhenti di dekat mereka. Pengemudi mobil itu turun dan Elvaro langsung terbakar cemburu melihat pria berseragam pilot itu.
"Sayang....!" panggil Hanny.
"Kamu sudah datang? Bukankah jadwal kepulangan mu nanti Minggu depan?" Eilani heran.
"Aku sudah tak sabar menjadikanmu istriku." kata Hanny lalu memeluk Eilani dan mengecup dahi perempuan itu.
"Lepaskan dia!" teriak Elvaro yang sudah terbakar cemburu.
"Jangan dengarkan dia. Ayo pergi!" Eilani langsung menarik tangan Hanny sebelum semuanya menjadi kacau.
Hanny sebenarnya ingin bertanya namun ia menurut saja saat Eilani menyeret langkahnya.
"Aku tak akan menyerah dengan kamu, Ei." teriak Elvaro saat ia tak bisa menyusul mobil itu. Wajahnya terlihat sangat kesal, marah. Ia bahkan berteriak sangat kencang membuat satpam membuka pintu gerbang dengan wajah bingung.
"Tuan, ada apa?"
"Pergi.....!" teriak Elvaro lalu segera masuk ke dalam halaman. Tak peduli dengan mobilnya yang dibiarkan terparkir di depan dalam keadaan menyala.
**********
__ADS_1
Wah...., apakah yang akan terjadi selanjutnya? Bagaimana pertemuan Ardy dengan mantan terindahnya?