
Elvaro mempersilahkan Laura untuk duduk di sofa agar mereka lebih santai untuk berbicara.
"Ada apa Eilani mengutus mu ke sini?" tanya Elvaro tak sabaran.
"Ya. Karena Eilani tak mau lagi bertemu dengan mu. Ia sudah berjanji pada Hanny. El, jangan ganggu Eilani. 2 minggu lagi dia akan menikah."
"Nggak. Aku akan tetap mengganggunya karena dia adalah milikku."
"El, aku tahu bagaimana kisah kalian . Aku tahu bagaimana terlukanya Eilani saat itu. Walaupun pada kenyataannya kamu tidak pernah tidur dengan Stella, namun apa yang kamu lakukan dengan mendatangani Stella di hotel dan membohongi Eilani, itu tidak dapat dibenarkan. Karena kamu tahu sendiri bagaimana prinsip hidup Eilani."
Elvaro tertunduk. "Aku tahu. Dan aku sangat menyesali itu. Selama 5 tahun aku mencarinya ke mana-mana sampah akhirnya aku memutuskan pulang ke Indonesia. Aku hanya dekat dengan satu gadis. Itu pun atas desakan mami. Namun hatiku, hanya untuk Eilani. Apalagi saat pertama kali melihatnya, aku seperti mendapatkan kembali hidupku yang hilang. Eilani memang tak mengingat aku. Namun aku sudah jujur padanya atas semua yang terjadi. Salahkah aku jika ingin bersamanya? Tubuhnya bahkan bereaksi pada sentuhanku."
"Eilani tak bisa membatalkan semua yang telah dijanjikannya pada Hanny. Apalagi dia terlanjur menyayangi Aaron. Dia mungkin mulai merasakan ada sesuatu dengan dirimu. Namun dia menginginkan Hanny dan Aaron dalam hidupnya. Aku sudah berulang kali membujuknya untuk memberikan kesempatan kedua padamu. Namun semalam ia sudah memutuskan untuk mempercepat pernikahan kalian. Mungkin Minggu ini, pernikahan kalian akan resmi berakhir. Karena Eilani sudah meminta seorang pengacara di sana mengurusnya. Aku tak bisa mencegahnya."
Elvaro memejamkan matanya. Rasanya begitu sakit saat mendengar semua usaha yang Eilani lakukan untuk lepas darinya.
"Aku akan tetap mengejarnya sekalipun nanti dia telah menikah dengan Hanny. Terserah orang akan menganggap aku gila, pebinor, atau apapun julukan mereka, aku tetap akan mengejar Eilani."
Laura melihat kesungguhan di wajah Elvaro saat ia mengucapkan hal itu.
Ada rasa sesak di hati gadis itu saat menyadari sulitnya cinta yang tak menyatu.
"Kalau begitu, aku pulang dulu ya, El?"
"Kapan kamu akan pulang ke Inggris?"
"Mungkin setelah Eilani menikah dengan Hanny. Kebetulan aku mendapatkan ijin tinggal selama 30 hari. Jadi aku akan memanfaatkan waktuku di sini dengan sebaik mungkin."
"Kalau butuh sesuatu, bilang saja padaku. Mungkin kamu ingin kendaraan? Aku bisa meminta salah satu sopir ku untuk mengantar mu ke mana saja."
"Makasih."
"Atau mau tinggal di hotel?"
"Aku cukup nyaman tinggal di apartemen Eilani. Lagi pula Eilani sekarang lebih banyak tidur di apartemennya Hanny. Jadi aku menggunakan kamarnya Eilani sendiri saja."
"Eilani tidur di apartemen Hanny?"
"Iya. Unit mereka ada di lantai yang sama dan hanya bersebelahan."
Hati Elvaro semakin hancur mendengarnya. Membayangkan Eilani ada di tempat tidur yang sama dengan Hanny sambil berpelukan membuat hatinya hancur lebur. Sungguh, Elvaro tak rela.
"Begitu ya?"
__ADS_1
"Aku pulang dulu ya?" Laura berdiri dan segera meninggalkan ruangan Elvaro. Ia pun segera menuju ke arah lift dan menekan tombol turun. Tak lama kemudian pintu lift terbuka dan nampak lah Ardy yang baru saja keluar.
"Laura? Kamu mau pulang?" tanya Ardy. Dia baru saja mengantarkan Seren ke bawa.
"Iya." jawab Laura lalu melangkah masuk ke dalam lift.
Ardy menatap Laura. Namun sebelum pintu lift tertutup seluruhnya, lelaki itu menahan pintu lift dengan tangannya dan ia pun melangkah masuk.
"Ada apa?" tanya Laura.
"Apa yang kamu bicarakan dengan Elvaro?" tanya Ardy sambil menekan tombol ke lantai paling atas yaitu rooftop.
"Kenapa kita ke atas?" tanya Laura.
"Aku hanya ingin tahu apa yang kalian bicarakan. Supaya aku tahu bagaimana harus menenangkan Elvaro kalau dia mengamuk."
"Mana istrimu?"
"Sudah kembali ke rumah sakit."
"Apa dia nggak marah jika tahu kita ke rooftop hanya berdua saja?"
"Memangnya kita mau ngapain sehingga dia harus marah?"
"Aku tadi bisa merasakan kalau dia menatapku dengan tatapan tak suka. Sepertinya ia tahu siapa aku."
Mereka akhirnya tiba di rooftop. Di sana ternyata ada sebuah bangunan seperti cafe.
Ardy mengajak Laura duduk di salah satu meja yang ada di sana.
Laura pun menceritakan semua yang ia katakan pada Elvaro tadi.
"Kasihan. Aku yakin kalau El akan hancur. Namun mau bagaimana lagi? Entah Eilani mengingatnya atau tidak, perempuan itu sudah tak menginginkan El lagi."
"Tolong kamu nasehati Elvaro agar tak mengejar Ei lagi ya? Aku takut justru dia dan Hanny akan berkelahi."
Ardy mengangguk walaupun ia sendiri tak tahu apakah ia mampu melakukannya karena sesungguhnya ia mengerti kenekatan dan kegilaan sahabatnya itu.
"Kalau tak ada yang akan dibicarakan lagi, bolehkah aku pulang?" tanya Laura. Sesungguhnya ia merasa tak tenang duduk berdua dengan Ardy di tempat yang sepi ini.
"Ok." Ardy ikut berdiri. Namun baru beberapa langkah, ia menahan lengan Laura. "Bagaimana dengan kamu? Apa yang akan kamu lakukan saat kembali ke Inggris?"
"Kembali bekerja sebagai perawat. Namun di rumah sakit yang lain. Karena sebelum datang ke sini, aku sudah resign."
__ADS_1
"Kamu tak ingin memberikan kesempatan pada tunanganmu itu?"
Laura menggeleng. "Aku tak mau. Karena selingkuh itu ibarat penyakit kanker. Sekali menyebar, sulit untuk disembuhkan. Bisa saja dia saat ini setia. Namun siapa yang berani menjamin kalau dia tak akan melakukan lagi ketika kami sudah menikah? Aku bersyukur karena Tuhan justru menunjukan padaku semua kebohongannya sebelum kami menikah. Karena, jika itu terjadi disaat kami sudah menikah, aku mungkin akan memilih bertahan karena prinsip ku pernikahan itu hanya sekali seumur hidup."
Ardy mengangguk. Sesungguhnya ia sedih melihat Laura yang belum mendapatkan kebahagiaannya.
"Laura, kamu harus bahagia ya?"
Laura mengangguk. Dan entah bagaimana, tiba-tiba saja ia sudah memeluk Ardy dengan sangat erat.
"Terima kasih karena sudah peduli padaku. Aku akan bahagia, Ardy. Sama seperti kamu yang telah menemukan kebahagiaanmu." Laura melepaskan pelukannya. Keduanya saling bertatapan. Kisah masa lalu yang harus pisah walaupun bukan karena kesalahan mereka berdua.
Ardy memegang pipi Laura. "Aku akan mendoakan kebahagiaanmu. Jika kamu sudah menemukan pria yang cocok, jangan lupa undang aku ke pernikahan mu, ya?"
Air mata Laura mengalir. Jujur, jauh di lubuk hatinya, ia masih menyimpan cinta pada pria yang pernah hampir 5 tahun mengisi kehidupannya. "Kamu pasti akan menjadi tamu pertama di daftar para tamu yang ada." Laura memeluk Ardy kembali. Ia ingat bagaimana dulu Ardy menangis saat Laura memutuskannya. Karena keegoisan nya, karena ia membela sahabatnya Eilani, Laura tak mempertimbangkan perasaannya sendiri. Ia menangis sangat dalam mengingat kebodohannya di masa lalu. Andai saja saat itu ia tak mengikuti emosinya, ia pasti sudah menikah dengan Ardy saat ini.
Saat pelukan mereka kembali terlepas, Laura dengan berani mengecup bibir Ardy. Awalnya Ardy terkejut. Ia tak membalas ciuman Laura namun karena bibir Laura menggoda dengan sentuhannya, Ardy secara sadar membalas ciuman itu. (Oh....Ardy, siap-siaplah kau di bully para emak di siniπ€£π€£).
Saat ciuman itu akhirnya berakhir. Laura tersenyum. Ibu jarinya menghapus lipstiknya yang kini menempel di bibir Ardy.
"Maafkan aku Ardy. Aku tak bermaksud menganggu kehidupan mu. Aku nggak mau membuat istrimu sakit hati." Laura melepaskan kedua tanahnya yang masih memeluk pinggang Ardy. Ia melangkah namun baru beberapa langkah, ia membalikan badannya.
"Ardy, sebelum aku pergi, sebelum aku menghilang dari kehidupanmu, aku ingin menyerahkan kesucianku kepadamu. Jika memang kamu mau menerimanya, katakan saja padaku." Laura lalu membalikan badannya kembali dan segera masuk ke dalam lift.
Ardy masih berdiri di tempatnya. Perkataan Laura mengingatkan Ardy pada kisah masa lalu mereka. Dulu, Ardy begitu ingin tidur dengan Laura. Namun Laura selalu berhasil menolaknya. Ardy bahkan pernah menjebak Laura dengan memberikan dia obat perang*ang namun Laura masih berhasil lari dari padanya. Kini, Perempuan itu secara sukarela ingin memberikan apa yang sejak dulu Ardy inginkan. Apakah Ardy harus menolaknya?
(cerita Ardy ini bukan kisah nyata yang ada di kehidupan El dan Ei ya? Ini hanya bumbu agar mempermanis novel ini π π ππ).
*********
"Ei, tolong bantu di ruangan gawat darurat. Ada beberapa pasien korban kecelakaan mobil." teriak Niken, kepala perawat yang ada di UGD.
Eilani yang sebenarnya akan pulang segera berlari ke ruangan IGD. Ia menyimpan tasnya di meja perawat dan segera melihat beberapa pasien yang nampaknya terluka cukup parah.
"Tolong tangani wanita bule itu, Ei. Dia sepertinya agak parah." ujar dokter Wisnu.
Eilani mendekati brangkar tempat seorang wanita bule itu terbaring. Perempuan itu terlihat masih sadar dan mengeluh kesakitan.
Saat Eilani memperhatikan wajah wanita bule itu, ia seperti mengingat seseorang.
"Namanya Stella. Wisatawan asal Inggris." kata Niken yang sudah berdiri di samping Eilani.
Stella? Hati Eilani merasa sakit mendengar nama itu.
__ADS_1
*********
Nah....lho.....Stella muncul lagi?