
Mobil yang dibawa Elvaro melaju terus sampai keluar kota.
"Elvaro, kita mau kemana?"
Elvaro tak menjawab. Ia terus saja melakukan mobilnya bahkan kecepatannya sudah semakin bertambah karena mereka akhirnya bebas dari macet.
Mobil akhirnya berhenti di sebuah apartemen yang ada di pinggiran kota. Elvaro kembali menarik tangan Eilani untuk turun. Perempuan itu memberontak dan berusaha menarik perhatian dari semua yang ada di sana. Namun nampaknya lobby sepi. Penjaga pintu masuk pun hanya menundukkan kepalanya tanpa berani menatap Elvaro.
Mereka naik lift dan berhenti di lantai paling atas. Elvaro menekan jaro jempolnya ke layar digital yang ada di pintu lalu pintu itu terbuka.
"Masuk......!" Elvaro mendorong tubuh Eilani lalu kemudian ia masuk sambil membanting pintu.
"Apa yang kamu lakukan? Cepat buka.....!" Eilani menarik gagang pintu namun tak bisa membuka pintu.
"Elvaro...., buka.....!" ia berkacak pinggang sambil melotot ke arah Elvaro. Namun lelaki itu dengan santainya duduk di atas sofa dan memeluk dadanya sambil menatap Eilani dengan pandangan penuh cinta.
"Aku tak akan membukanya. Aku akan terus mengurung kamu di sini sampai akhirnya kamu sadar bahwa hati kita masih sama-sama terikat satu dengan yang lain."
"Cih!" Eilani berdecak kesal. "Jangan mimpi kamu! Memangnya kamu siapa sehingga harus mengurung aku di sini?" Eilani menendang pintu itu dan mengerjakan gagangnya. "Tolong.....! Tolong.....!"
"Berteriak lah sepuas kamu, Ei. Nggak akan ada yang mendengar mu. Sekalipun mendengar, nggak akan ada yang menolong mu. soalnya apartemen ini penghuninya masih sedikit. Dan kita berada di lantai paling atas yang hanya dihuni oleh aku sendiri."
"Elvaro....! Kamu itu gila!" teriak Eilani dengan dada yang turun naik karena menahan emosi.
"Kamu mungkin sudah lupa bagaimana gila dan nekatnya aku saat ingin menjadikan kamu pacarku. Ya, aku memang gila jika itu sudah menyangkut tentang dirimu!" Elvaro masih berkata tenang namun Eilani sudah semakin menjadi-jadi. Ia mendekati Elvaro.
"Aku harus bekerja, El. Aku tugas pagi ini." Eilani mencoba membujuk.
Elvaro mengeluarkan ponselnya dan menekan nomor Seren.
"Hallo Seren. Maafkan istriku yang tak bisa masuk hari ini dan besok karena kami harus menyelesaikan persoalan diantara kami." ujar Elvaro lalu segera memutuskan sambungan telepon. Eilani melotot. Ia memukul pundak Elvaro dengan kesal. "Aku benci kamu....!"
"Bencilah aku sesukamu. Karena semakin kamu membenciku, semakin aku mencintaimu."
Eilani menghentikan pukulannya ke tubuh Elvaro. Ia pun ikut duduk dan bersandar di sofa sambil menangis.
"Aku nggak bisa mengingat kamu, El."
"Kalau begitu tetaplah di sisi aku."
"Aku nggak mau."
"Karena ada Hanny?"
"Dan juga Aaron."
"Kamu bisa tetap dekat dengan Aaron saat bersama ku. Aku juga menyukai anak itu."
__ADS_1
"Hanny pasti akan menjauhkan Aaron dariku jika aku bersama kamu. Lagi pula, aku sudah bersedia menikah dengan Hanny."
Elvaro memegang tangan Eilani. "El, kamu itu masih istriku. Bagaimana mungkin kamu akan menikah dengan orang lain?"
"Laura sedang mengurus perceraian kami."
"Laura tak jadi mengurus nya."
"Apa?"
"Ardy meyakinkan Laura untuk memberikan kita kesempatan kedua."
Eilani menarik tangannya. "Tak ada kesempatan kedua, El. Aku yakin jika aku kembali mengingatmu, aku pun tak akan pernah memberikan kamu kesempatan kedua. Karena aku pasti akan menikah dengan Hanny."
"Kalau begitu, biar saja kita berdua terkurung di sini." ujar Elvaro lalu segera meninggalkan Eilani dan naik ke lantai dua.
Eilani mencoba mencari jalan keluar. Tetap saja ia tak bisa menemukannya karena apartemen ini berada di lantai paling atas dan semua jendelanya menggunakan pengaman. Pintu menuju ke balkon pun sudah ditutup oleh Elvaro.
Eilani menatap sekeliling. Interior apartemen ini belum seluruhnya terisi.
Mata Eilani fokus pada sebuah foto di dinding. Foto berukuran jumbo. Foto pernikahannya dengan Elvaro.
Mereka berdua nampak bahagia di foto itu. Eilani bisa melihat bagaimana mata mereka memancarkan cinta.
Perempuan itu menepuk jidatnya. Mencoba mengingat semua itu namun ia tak bisa. Akhirnya, setelah puas melihat seisi apartemen yang luas itu, Eilani pun mencoba menelepon bibinya. Namun saat ia mencari ponsel nya, ia sama sekali tak menemukan ponselnya. Pada hal ia tahu kalau ponselnya itu tadi ada di atas meja makan, dekat dengan tasnya.
Lantai dua ternyata berisi 2 kamar tidur dan ruang angan gym.
Eilani menemukan Elvaro sedang berada di atas ranjang sambil duduk bersandar pada kepala ranjang.
"El, mana ponselku?"
"Aku tak mengijinkan kamu menelepon siapapun. Kita akan di sini sampai semuanya jelas." kata Elvaro tegas dan sepertinya tak ingin dibantah.
"Itu bukan hakmu! Kembalikan !" Eilani naik ke atas ranjang dan berusaha mencari di saku celana Elvaro.
Elvaro mengeluarkan ponsel Eilani lalu melemparnya dengan sangat keras di dinding kamar itu sehingga ponselnya langsung rusak parah.
"Elvaro.....! Kenapa kamu hancurkan ponselku?" Eilani turun dari ranjang dan segera mengambil ponselnya yang sudah terpisah menjadi beberapa bagian itu.
Elvaro mengambil ponselnya yang ada di atas nakas dan melemparkannya juga ke dinding sehingga ponsel itu bernasib sama dengan ponsel milik Eilani.
"El.....!" Eilani terkejut saat melihat ponsel mahal itu hancur seperti juga miliknya.
"Tak ada yang akan menghubungi kita berdua atau yang akan menghubungi kita berdua. Maka selamanya kita berdua akan tetap ada di sini ." kata Elvaro lalu menutup matanya. Ia memang merasa sangat lelah. Kenekatannya hari ini karena ia sudah tak tahan jika harus menerima kenyataan kalau harus kehilangan Eilani lagi dalam hidupnya.
"Kamu ....!" Eilani dengan kesal memukul tangan Elvaro. "Dasar orang kaya sombong. Seenaknya saja membuang suatu barang yang sangat mahal."
__ADS_1
Elvaro tak membuka matanya. Eilani semakin kesal. Ia menarik tangan Elvaro. "Keluarkan aku dari sini!"
"Please....! Aku sangat mengantuk karena sudah beberapa hari ini tak bisa tidur nyenyak. Biarkan aku istirahat sebentar." pinta Elvaro tanpa membuka matanya.
Eilani jadi kasihan mendengarnya. Ia pun turun dari ranjang dan segera meninggalkan Elvaro yang nampaknya memang butuh istirahat.
*********
3 jam kemudian.....
Eilani yang masih menggunakan pakaian seragam perawatnya, mulai merasakan perutnya keroncongan.
Semalam juga ia tak makan apapun karena sedang tertekan dengan masalah yang baru saja diketahuinya tentang status hubungan pernikahannya dengan Elvaro.
Tangan Eilani memegang perutnya. Ia kemudian berjalan ke dapur dan meneguk air putih yang memang tersedia di sana. Saat membuka kulkas, dalam kulkas jumbo itu tak ada isinya sama sekali kecuali es batu.
Tak lama kemudian terdengar bunyi bel pintu. Eilani mencoba membuka pintu namun ia tetap tak bisa. Dan bertepatan dengan itu, Elvaro ternyata sudah bangun dan sedang menuruni tangga. Ia segera membuka pintu tanpa memberikan kesempatan bagi Eilani untuk mengintip. Entah siapa yang datang namun tak sampai semenit Elvaro sudah menutup pintu itu kembali. Dan saat ia berbalik, di tangannya sudah ada dua buah kantong plastik yang berisi buah dan makanan.
Eilani menelan salivanya saat mencium bau makanan itu. Elvaro pun berjalan ke arah ruang makan dan membuka semua makanan yang ada di sana.
"Ayo kita makan, Ei." kata Elvaro sambil menunjukan kursi yang kosong yang ada di depannya.
Awalnya Eilani gengsi. Namun karena perutnya juga sudah keroncongan, ia pun duduk di depan Elvaro.
Matanya menatap masakan berupa ayam goreng mentega, nasi dan ketimun dan sambal terasi yang sangat menggoda.
Tanpa menunggu lama, Eilani langsung memakan makanan itu. Dan pada saat makanan itu hampir habis, otak Eilani sepertinya mengingatkan dia bahwa mereka pernah makan dalam situasi seperti ini.
"Ada apa?" tanya Elvaro.
"Ini makanan kesukaanmu, kan?"
Elvaro mengangguk.
"Kamu juga menyukai pisang Ambon dan apel hijau kan?" tanya Eilani lagi sambil melihat pisang Ambon dan apel hijau yang sudah dikeluarkan oleh Elvaro dari kantong plastik.
"Ya."
"Ardy itu adalah sahabat baik kamu yang pernah pacaran dengan Laura sahabat baikku kan?"
"Ei....?"
Setelah mengatakan itu semua, Eilani tiba-tiba saja pingsan.
***********
Apa yang terjadi pada Eilani?
__ADS_1