
Dua orang lelaki yang memiliki wajah yang hampir mirip, duduk saling berhadapan. Elvaro di kursi kebesarannya, dibalik meja kerjanya dan Hanny di kursi yang ada di depan meja kerja Elvaro.
Keduanya saling berpandangan tanpa berjabatan tangan.
"Aku Hanny."
"Dan aku Elvaro."
"Aku adalah tunangan Eilani Ningrum."
Elvaro tersenyum tipis. "Aku masih suaminya."
"Mantan suami!" Kata Hanny sambil menekankan kata mantan.
"Aku belum mantan."
"Di negara ini, pernikahan kalian tak tercatat. Lagi pula, jika Eilani mau mengajukan perceraian, sangat mudah. Karena kalian sudah 6 tahun tak bersama. Dan menurut undang-undang yang ada di sana, hanya ada sekali persidangan dan semuanya beres."
Elvaro mulai tersulut emosi. "Eilani mencintaiku."
"Tidak. Dia hanya bingung karena ingatan masa lalunya dengan kamu yang belum beres. Namun bibi Nova sudah menceritakan semuanya padaku. Jadi alangkah lebih baiknya kalau kamu jangan menganggu dia lagi."
"Aku dan Eilani sudah tidur bersama selama beberapa kali."
"Aku tahu. Eilani sudah jujur padaku. Dan aku memaafkan dia. Lagi pula aku juga seorang duda jadi aku tak mau sok suci."
"Lepaskan, Eilani!" Ujar Elvaro.
"Aku tak mau. Dan Eilani juga tak mau mengahiri ikatan pertunangan kami."
"Mana mungkin. Kamu pasti memaksa dia karena dia sangat menyayangi Aaron kan? Kamu menggunakan anakmu untuk mempertahankan wanita yang sebenarnya tak mencintaimu."
"Dia akan mencintaiku. Dan itu pasti. Karena selesai menikah, kami memutuskan untuk pindah ke Singapura. Simpanlah semua mimpimu untuk kembali bersamanya, El. Karena itu sesuatu yang mustahil." Hanny berdiri. "Kamu pernah menyakitinya sangat dalam di masa lalunya. Kenangan itu sangat menyakitkan sehingga membuat Eilani tak ingin mengingatnya lagi."
Elvaro ikutan berdiri. "Aku akui, di masa lalu, aku memang begitu bodoh sehingga membuatnya terluka. Namun aku tak pernah sedikitpun pernah mengkhianati pernikahan kami."
"Kesempatannya bersamamu sudah selesai." kata Hanny tegas.
"Kamu!" Elvaro tersulut emosi. Tanpa sadar ia mengebrak meja yang ada di hadapannya sambil berdiri.
Hanny nampak tersenyum tipis. "Memangnya aku kenapa? Perlu aku panggil Eilani ke sini untuk meminta pendapatnya?" Hanny mengeluarkan ponselnya.
"Jangan sok kamu!" Elvaro benar-benar sudah tersulut emosinya. Kedua tangannya sudah mengepal dan siap untuk memukul Hanny. Namun pilot itu terlihat begitu tenang.
"Aku permisi!" Hanny memasukan ponselnya kembali ke dalam saku celananya. Ia akan pergi namun saat tangannya sudah memegang gagang pintu dan membuka pintu itu, Elvaro dengan cepat mendorong pintu itu sampai akhirnya tertutup kembali.
"Aku tegaskan padamu, Hanny, apapun yang terjadi, aku tak akan pernah melepaskan Eilani. Aku mencintainya."
Hanny tersenyum."Kamu pikir kalau aku tak mencintainya? Aku sangat mencintainya. Makanya aku mau menikah dengannya walaupun aku tahu kalau kalian pernah tidur bersama. Kamu tenang saja, aku pasti tak akan pernah menyakitinya seperti yang pernah kamu lakukan padanya di masa lalu. Karena mantan istriku sudah meninggal dan aku tidak punya mantan yang lain." Hanny menarik kembali gagang pintu dan membukanya. Kebetulan Ardy baru saja akan masuk ke ruangan Elvaro. Ketiga pria itu saling menatap dan akhirnya Hanny yang melangkah meninggalkan mereka berdua.
"Itu Hanny kan?" tanya Ardy sambil menunjuk ke arah lift di mana Hanny baru saja masuk ke dalam.
"Ya." Elvaro yang masih menyimpan amarah yang besar melampiaskan emosinya dengan meninju daun pintu.
"El, tangan kamu luka!" Ardy terkejut melihat tangan Elvaro yang langsung memar namun lelaki itu terlihat tak kesakitan.
"Aku rasanya ingin membunuh lelaki itu."
Ardy menutup pintu agar percakapan mereka tak didengar pegawai lain.
"Ingat, dia itu kakakmu."
__ADS_1
"Aku tak peduli! Dia meminta agar aku jangan menganggu Eilani. Mana mungkin? Aku justru ingin membawa Eilani kabur dari sini! Ah....!" Kali ini, Elvaro melampiaskan emosinya dengan menghamburkan semua yang ada di atas meja kerjanya.
Ardy tak bicara. Ia membiarkan saja Elvaro meluapkan emosinya sambil diam-diam ia mengirimkan pesan pada istrinya.
*************
1 jam kemudian.....
Seren membalut tangan Elvaro yang terluka dengan kain kasa setelah sebelumnya ia mengompres tangan lelaki itu.
Elvaro diam saja tanpa bicara.
"El, jangan dulu mengangkat barang yang berat. Supaya tanganmu lekas sembuh." Kata Seren sambil memasukan semua peralatan dokternya ke dalam tas yang ada. Ia juga mengeluarkan obat dari dalam tas nya karena sebelumnya Ardy sudah mengatakan apa yang dialami oleh Elvaro.
"Obatnya di minum ya?" pesan Seren. Ia kemudian menatap suaminya. "Sayang, aku mau kembali ke rumah sakit lagi ya? Ada rapat dengan staf rumah sakit."
"Iya. Kamu hati-hati menyetir ya?" Ardy berdiri lalu mengecup bibir istrinya. Tepat di saat itu pintu ruangan Elvaro di buka dari luar. Ternyata sekretaris Elvaro yang datang.
"Tuan, ada nona Laura yang mencari tuan." kata Johan.
Elvaro hanya mengangguk.
Seren yang sebenarnya akan pergi menghentikan langkahnya saat mendengar nama Laura. Ia tahu kalau Laura adalah seseorang dari masa lalu suaminya. Apakah itu orang yang sama.
Seorang perempuan cantik, tinggi dan berambut pirang masuk. Ia sangat cantik dengan celana hitam yang membungkus tubuhnya dan kaos putih ketat yang menunjukan bentuk tubuhnya yang seksi dan begitu menarik. Tentu saja Seren menjadi minder saat menyadari bahwa tubuh mungilnya dengan dada yang tak begitu besar sangat jauh berbeda di bandingkan dengan perempuan itu.
"Apakah aku menganggu kalian?" tanya Laura dalam bahasa Inggris. Untungnya, Seren juga menguasai bahasa itu.
"Tidak." Ardy yang menjawab. Ia melirik sebentar ke arah istrinya yang nampak masih terpana dengan kedatangan Laura.
"Aku mau berbicara dengan Elvaro. Boleh kan?" tanya Laura.
Elvaro hanya mengangguk.
"Ardy, Aaron menanyakan kamu. Ia rindu mau jalan-jalan dengan kamu lagi." kata Seren.
"Katakan pada Aaron, jika aku tak banyak kerja, aku pasti akan menemuinya." Ardy berusaha untuk tak memperpanjang percakapan diantara mereka karena ia dapat melihat dengan jelas tatapan tajam dari sang istri.
"Ok."
Ardy menatap Seren. "Ayo, sayang!" ia memegang tangan Seren dan menariknya perlahan agar sang istri segera mengikuti langkahnya.
Laura menatap kepergian pasangan itu sampai menghilang di balik pintu. Ia menatap Elvaro.
"Itu istrinya Ardy?" tanya Laura.
"Iya."
"Astaga, aku nggak tahu. Aku hanya sekali melihatnya di foto pernikahan yang dikirimkan Eilani padaku."
Dengan tangannya Elvaro mempersilahkan Laura untuk duduk.
"Ada apa kamu ke sini?" tanya Elvaro.
"Eilani yang mengutus ku."
"Apa?" Elvaro terkejut.
*************
Sementara itu, di luar ruangan, Seren sedang menginterogasi suaminya. Ia sengaja belum pergi dan mengikuti Ardy ke ruangannya.
__ADS_1
"Perempuan itu, dia Laura mantan kekasih di Inggris kan?"
"Ya."
"Kamu sebelumnya pasti sudah ketemu dengan dia. Siapa Aaron?" Seren tak lagi menyapa Ardy dengan sebutan "mas".
Ardy menarik napas panjang. Ia tahu kalau Seren memang sangat gampang cemburu.
"Aaron adakah anaknya Hanny, tunangannya Eilani."
"Kenapa kamu nggak menceritakan kalau kamu mengajak anak itu jalan-jalan dan ketemu dengan Laura. Kalian mau CLBK ya?" Seren berkacak pinggang.
"Sayang, aku tak menceritakannya padamu karena waktu itu kita masih marahan."
Napas Sereh nampak memburu. "Pantas saja kamu nggak masalah tidur di kamar tamu berlama-lama karena si Laura ada di sini. Kalian bahkan sudah ketemu."
"Sayang, Laura itu punya tunangan."
"Oh, kamu bahkan tahu kalau dia punya tunangan. Berarti kalian bicara sudah dari hati ke hati ya?" Seren terkekeh. Hatinya sakit karena merasa dibodohi oleh suaminya.
"Kami hanya bicara biasa karena aku tak sengaja bertemu dengannya di apartemen Eilani."
"Ketemu di apartemen lagi. Ngapain kamu ke apartemen Eilani?"
"Waktu itu Eilani sedang di culik oleh Elvaro dan ..."
"Asyik dong kalian berdua saja di apartemen Eilani." sindir Seren masih dengan wajah juteknya.
Ardy mendekat. Ia meraih kedua tangan Seren dan mengecupnya. "Laura hanya masa laluku."
"Namun dia sangat cantik dan dadanya besar."
Ardy ingin tertawa mendengar omongan istrinya. "Kenapa memangnya dengan kecantikan Laura?"
Seren rasanya ingin menangis. "Mana mungkin kamu tak bergetar melihat dia? Kalian pacarannya lama kan? Pasti nostalgia itu akan membuat hati kalian bergetar."
Ardy mengecup dahi istrinya lalu membawa Seren ke dalam pelukannya. "Laura hanya masa lalu ku. Kami bahkan tak pernah tidur bersama."
Seren melepaskan pelukannya dan menatap suaminya. "Maksudmu?"
"Laura memang dibesarkan di budaya Barat. Namun keluarganya adalah keluarga yang taat beribadah. Laura tak mau punya hubungan intim sebelum menikah." Ardy membelai wajah Seren. "Aku ini masih perjaka saat melakukan malam pertama dengan kamu, sayang."
"Benarkah?"
Ardy tersenyum. "Memangnya kamu lupa dengan apa yang aku katakan saat selesai melakukan malam pertama denganmu?"
"Aku ingat. Kamu bilang, bangga menjadi yang pertama untukku. Aku pikir karena aku masih perawan."
Ardy kembali memeluk istrinya. "Jangan minder karena kamu merasa Laura lebih cantik atau terlihat lebih seksi darimu. Aku mencintai kamu, Sayang. Itu yang terpenting. Dan di hatiku, di mataku, kamu melebih semua bidadari manapun yang ada di dunia ini."
(Dih, lebay banget nih kata-kata Sih Ardy. Yang nulis kata-kata ini adalah suami emak guys...🤣🤣😅😅)
Seren memeluk Ardy dengan perasaan bahagia.
*********
Mengapa Laura datang?
Dan benarkah Ardy tak memiliki perasaan apapun lagi pada Laura atau hanya rayuan saja agar Seren tak marah padanya?
Maaf ya kalau emak baru up...
__ADS_1
Emak masih sakit guys