CINTAI AKU LAGI, EILANI

CINTAI AKU LAGI, EILANI
Cinta Lama Belum Selesai?


__ADS_3

Hati Tiara menjadi sakit melihat anaknya yang tertidur di lantai sambil tertelungkup. Di dekatnya ada botol minuman beralkohol yang berserakan.


Satu persatu Tiara mengambil botol minuman itu lalu kemudian menaruhnya di atas meja.


"Nak, ayo bangun! Jangan tidur di sini!" Tiara menggoyangkan pundak putra bungsunya.


"Berisik....!" Elvaro menepiskan tangan mamanya tanpa membuka matanya.


"El, jangan seperti ini. Nanti kamu sakit."


"Aku mencintai mu, Eilani." ucap Elvaro. Tak lama kemudian ia menangis. Tangannya memukul-mukul lantai yang dialasi oleh karpet berwarna abu-abu itu.


"El, ayo tidur di ranjang." Tiara dengan susah payah menaikan tubuh putranya ke atas ranjang. Ia membuka sepatu dan kaos kaki putranya lalu membuka jas yang masih digunakannya. Dan paling akhir ia menutupi tubuh El dengan selimut.


"Jangan meninggalkan aku, Ei. Jangan menikah dengan Hanny. Aku bisa mati jika kehilangan kamu lagi."


Tangis Tiara semakin dalam saat mendengar anaknya yang berteriak-teriak karena pengaruh mabuk.


Ya Tuhan, andai saja dulu aku tak egois dan membiarkan anakku bahagia dengan pilihannya, pasti Elvaro tak akan seperti ini.


Tiara mengusap kepala putranya dengan lembut. Berharap agar Elvaro akan tertidur sekalipun ia yakin, besok pagi rasa sakit itu akan datang kembali.


**************


Ardy berdiri di depan pintu sebuah apartemen. Ia sudah mendapatkan alamat Laura yang baru. Jantungnya bahkan berdetak sangat cepat.


Setelah menarik napas beberapa kali, Ardy pun mengetuk pintu apartemen itu.


Pintu terbuka. Dua orang yang pernah saling mencintai 6 tahun yang lalu, kini saling berhadapan. Seolah tak percaya kalau mereka akan bertemu kembali. Perpisahan yang terjadi karena Laura membenci Ardy yang begitu membela Elvaro dan menyembunyikan kebenaran saat Elvaro menginap di hotel bersama Stella.


"Ardy? Ini kamu?" tanya Laura.


Ardy tersenyum sambil mengangguk. Ia tahu kalau Laura pasti melihat kalau badannya tak sekurus dulu lagi. Apalagi semenjak menikah setahun yang lalu, berat badan Ardy semakin bertambah karena makanan yang selalu disiapkan istrinya membuat selera maka Ardy selalu bertambah.


"Mengapa bisa ada di sini? Maksud ku kenapa bisa tahu aku ada di sini?"


"Boleh aku masuk dulu?"


"Kamu mau masuk?"


"Apakah suami mu ada di dalam?"


"Suami?"


"Lalu kalau bukan suami, mengapa kamu takut mengijinkan aku masuk?"


Laura melebarkan daun pintu. "Silahkan masuk!"

__ADS_1


Ardy pun masuk. Saat ia melewati tubuh Laura, lelaki itu memejamkan matanya sesaat. Parfum yang dipakai Laura ternyata tak pernah berubah. Harum yang membuat Ard beta memeluk perempuan itu semalaman.


Laura menutup pintu kembali lalu mengajak Ardy duduk di sofa. Keduanya duduk berhadapan.


Tak ada yang berubah pada diri Laura. Rambut coklat sebahu yang selalu menggunakan bando. Alis cantik yang tertata rapi, mata berwarna hijau dan bulu mata lentik tanpa menggunakan maskara. Dan tentu saja, bibir penuh yang dulu sangat Ardy sukai sehingga menjadi candu baginya.


Dulu, hubungannya dengan Laura sangat dekat dan terjalin hampir 4 tahun. Ardy sudah menyentuh semua bagian tubuh ramping itu kecuali mahkota Laura yang tak pernah didapatkannya. Karena berulang kali Ardy membujuknya, Laura selalu menolak karena punya prinsip hidup no s*x before married.


"Kamu tinggal sendiri?" tanya Ardy saat kembali dari rasa kagumnya pada perempuan di depannya ini.


"Ini apartemen kakakku. Namun sekarang ia dan suaminya tak ada karena sedang pulang ke kampung suaminya selama beberapa minggu. Aku juga tak lama ada di sini setelah itu akan kembali ke Manchester."


"Kamu mau mengurus perceraian El dan Ei kan?"


"Kok kamu tahu?"


Ardy menarik napas panjang. Ia berusaha memilih kalimat yang baik dan benar karena tak ingin Laura salah mengerti.


"Apakah kamu masih sering berhubungan dengan Eilani?"


"Ya. Setiap minggu kami saling Videocall."


"Kami ada di satu kota, Ra. Aku, Elvaro dan Eilani. Kami ada di Bali."


"Apa?"


"Ha?"


Ardy menceritakan segalanya. Awal mula Ei dan El ketemu dan bagaimana hubungan diantara mereka terjalin.


"Kalian menipu Eilani! Kalian gabua kalau sebagian memorinya hilang." Laura jadi emosi mendengar penjelasan Ardy.


"Dengar dulu, Ra. Sejak semula, yang terjadi diantara El dan Stella tak seperti yang kita bayangkan selama ini." Lalu Ardy menceritakan tentang trik yang dilakukan oleh nyonya Tiara dan Stella serta dokter Peter.


"Kamu nggak bohong kan?" tanya Laura seakan tak percaya dengan apa yang Ardy ceritakan.


"Tidak. Memangnya selama ini aku pernah bohong padamu? Aku saja baru tahu El bersama Stella nanti setelah kejadian Ei memergoki mereka di hotel itu."


Laura diam sejenak. Ia dulu begitu marah pada Ardy sehingga tak mendengar penjelasan Ardy.


"Tapi bibi Nova ingin aku mengurus perceraian mereka di pengadilan dan pembatalan pernikahan di gereja."


"Tolonglah, Laura. Ijinkan Elvaro membuktikan kesungguhannya pada Ei. Sebenarnya mereka berdua masih saling mencintai namun terpisahkan karena Eilani berpikir kalau Elvaro mengkhianatinya."


"Namun mereka bersama di dalam kamar itu nyaris tanpa pakaian. Apapun alasannya El di sana, tetap itu salah karena El berbohong pada Eilani."


"Aku tahu. Namun tak dapatkah El mendapatkan kesempatan kedua?"

__ADS_1


"Kamu kan tahu prinsip Eilani. Tak ada maaf untuk seorang pengkhianat."


"Tapi Elvaro tak tidur dengan Stella."


Laura menggeleng. "Aku tak tahu harus bagaimana, Ardy."


Ardy yang tadinya duduk di singel sofa kini berpindah tempat duduk di sebelah Laura.


"Laura, El benar-benar mencintai Eilani. Dia ingin memperbaiki segalanya."


"Percuma saja. Eilani bahkan tak mengingatnya sama sekali."


Ardy tanpa sadar meraih tangan Laura dan menggenggamnya erat. "Aku mohon padamu, Ra. Biarkan mereka bersama. Tolong kamu ulur waktu dan mengatakan kalau proses perceraiannya rumit. Elvaro akan merebut hati Eilani kembali."


Laura menatap Ardy. Ia kemudian menunduk dan menatap jari mereka yang saling bertautan.


"Bagaimana dengan dirimu? Apakah kamu tak ingin merebut hatiku kembali?"


"Ha?" Ardy terkejut. "Aku.......!"


Laura tiba-tiba tertawa. "Ardy, kok kamu jadi tegang seperti itu sih?" Laura menarik tangannya dari genggaman Ardy. "Aku sudah nggak ada hati padamu. Aku sudah move on. Aku sudah punya tunangan." kata Laura sambil mengangkat tangan kirinya dan menunjukan sebuah cincin yang sangat cantik.


"Aku sudah menikah setahun yang lalu."


"Aku tahu."


"Tahu dari mana?"


"Dari Eilani. Diakan bekerja di rumah sakit yang sama dengan istrimu? Walaupun Eilani tak mengingat dirimu namun dia memposting foto pernikahan kalian."


"Oh....." Ardy mengangguk. Setidaknya ia tak perlu menyembunyikan identitas dirinya.


***********"


"Selamat siang, tuan!" sapa Ned lalu mulai membuka tirai jendela di kamar Elvaro.


Perlahan Elvaro membuka matanya. "Ned, ini jam berapa?"


"Jam setengah sebelas siang, tuan. Hari ini kami semua senang karena nyonya Tiara sudah bisa melihat."


"Oh ya?" Elvaro tak terkejut karena memang ia sudah tahu. Perlahan ia bangun sambil memijat kepalanya. Ned langsung membawa air putih dan obat sakit kepala. "Minum ini tuan dan sarapanlah. Nyonya sudah menunggu tuan."


Elvaro meminum obat itu. "Ned, kamu off hari ini?" tanya Eilani.


"tidak tuan. Tapi kami semua diberi ijin oleh nyonya untuk menghadiri pernikahan Ei dan pacar pilotnya."


"Apa?"

__ADS_1


****


__ADS_2