CINTAI AKU LAGI, EILANI

CINTAI AKU LAGI, EILANI
Mengingat Sedikit


__ADS_3

"Kamu sudah ingat, Ei?" tanya Elvaro dengan wajah yang bahagia.


Eilani diam sesaat. Kemudian, matanya perlahan melihat wajah Elvaro. Menatap mata cowok itu dengan sangat tajam.


"Itu terlintas saja di pikiranku, El. Makanan kesukaan dan sahabat mu, Ardy. Namun yang lain, rasanya sangat gelap di kepalaku. Aku....." Eilani memegang kepalanya yang kembali merasa sakit setiap kali ia mencoba mengingat kepingan masa lalunya yang hilang.


"Jangan dipaksa." Elvaro mendekat. Ia memegang tangan Eilani namun Perempuan itu menepiskannya.


"Jangan sentuh, El. Jangan menyentuh aku lagi."


"Kenapa?"


"Karena sebenarnya setiap kali kamu menyentuh aku, ada sesuatu yang sakit di dalam hatiku. Waktu itu, aku belum mengerti kenapa hatiku sakit sehingga aku mengikuti keinginan tubuhku yang begitu tergoda dengan sentuhanmu. Kini, aku mengerti mengapa hatiku sakit. Karena kamu adalah penyebab hilangnya ingatan itu." Eilani berdiri. Ia meneguk minumannya sampai habis lalu melangkah menaiki tangga. "Aku butuh mandi, Ei. Untuk membuat pikiranku kembali waras untuk berpikir."


1 jam kemudian.....


"Ei...., apa yang kamu lakukan di dalam. Nanti kamu sakit." Elvaro mengetuk pintu kamar mandi saat ia merasakan kalau Eilani sudah terlalu lama di sana.


Sedangkan Eilani masih duduk dalam posisi berjongkok di bawah shower. Ia seakan tak peduli dengan tubuh polosnya yang mulai menggigil karena ia menyetel airnya hanya dengan air dingin saja.


Ia sama sekali tak mendengar panggilan Elvaro.


"Ei.....kamu dengar aku?" Lebih keras Elvaro mengetuk pintu kamar mandi itu. Karena tak ada jawaban, Elvaro mencoba menggeser pintu kaca itu yang ternyata tidak dikunci. Matanya langsung terbelalak melihat Eilani yang berjongkok di bawa shower.


"Apa sih yang kamu lakukan?" teriak Elvaro panik. Ia langsung mematikan shower, menarik tangan Eilani agar perempuan itu berdiri dan memakaikan jubah handuk kepadanya. Elvaro mengambil sebuah handuk dan membungkus kepada Eilani karena ia tahu rambut tebal Eilani pasti akan lama dikeringkan.


Ia langsung mengangkat tubuh Eilani ala bridal Style dan membawanya keluar dari kamar mandi. Elvaro meletakan tubuh Eilani di atas ranjang dan langsung menarik selimut tebal untuk me menutupi tubuh Eilani yang mulai mengigil.


Tangan Elvaro meraih remote kontrol yang ada dan mematikan AC di kamar itu untuk membuat tubuh Eilani menjadi lebih hangat.


"Apa yang kamu lakukan sih, Ei?" tanya Elvaro sambil tangannya mengeringkan rambut Eilani dengan handuk.


Eilani hanya diam saja. Ia bahkan memejamkan matanya. Ia tak mengerti dengan apa yang dirasakannya kini.


Setelah Elvaro merasakan kalau rambut Eilani agak mengering, ia pun membawa handuk itu dan segera memasukannya di dalam keranjang baru kotor. Elvaro kemudian menekan telepon yang menghubungkan nya dengan penjagaan pintu lobby. Elvaro meminta sang penjaga pintu untuk naik ke atas.


Tak sampai 3 menit, penjaga pintu itu sudah datang. Elvaro meminjam ponselnya dan penjaga pintu itu sedikit kaget saat sang bos meminjam ponselnya. Ia pun memberikannya dan Elvaro segera menghubungi Ardy, meminta dia untuk membelikan 2 ponsel baru dan baju untuk dirinya dan Eilani serta beberapa belanjaan lainnya.


Ia mengembalikan ponsel penjaga pintu itu dengan 2 lembar uang seratus ribu sebagai pengganti pulsanya.


Setelah itu Elvaro kembali ke kamar. Di lihatnya kalau Eilani nampak tertidur. Elvaro kemudian memperbaiki letak selimut Eilani. Ia duduk di singel sofa yang ada di dekat tempat tidur. Ia terus memperhatikan Eilani yang tidur sampai akhirnya ia mendengar bel pintu berbunyi.


"Apa yang kamu lakukan, El? Kamu gila ya mengurung Eilani di sini?" Ardy langsung menyerang sahabat sekaligus bos nya itu begitu Elvaro membukakan pintu.


"Eilani justru sudah mengingat beberapa hal. Makanan kesukaanku dan kamu yang adalah sahabat ku serta mantan pacar Laura."


"Dan yang lain?"

__ADS_1


"Dia belum juga mengingatnya."


Ardy meletakan sebuah barang dan makanan yang di pesan Elvaro padanya.


"Kenapa memangnya dengan ponselmu?" tanya Ardy saat menyerahkan 2 buah ponsel dengan merk apel digigit itu.


"Aku membanting ponsel Eilani dan juga milikku."


Ardy hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Aku pulang dulu, ya? Seren sedang merajuk saat ini karena aku tak menceritakan kalau kamu adalah suaminya Eilani. Aku harus tidur di kamar tamu selama 3 bulan."


"Apa?" Elvaro hampir tertawa mendengarnya.


"Jangan tertawa. Ini semua terjadi karena aku mendengarkan permohonan mu untuk tak mengatakan yang sebenarnya."


"Biar nanti aku yang bicara dengan Seren."


"Jangan. Selesaikan saja persoalan mu dengan Eilani. Aku pulang ya?"


"Ardy tolong sampaikan pada Bibi Nova kalau Eilani bersama ku supaya dia tak khawatir."


"Baik."


Elvaro menutup pintu kembali saat Ardy pergi. Setelah itu ia kembali ke kamar sambil membawa paper bag yang berisi pakaian mereka.


Tengah malam Elvaro terbangun dan tak menemukan istrinya. Ia turun dengan cepat dari ranjang dan mencari di kamar mandi. Eilani tak ada. Ia pun turun ke bawa dan menemukan Eilani yang sedang makan pop mie yang dibawakan Ardy tadi.


"Kamu menakutkan aku aja, Ei. Aku pikir kamu sudah pergi."


Eilani yang masih menggunakan jubah mandi itu hanya terkekeh. "Kamu bodoh atau pura-pura lupa? Pintu itu hanya bisa dibuka dengan sidik jarimu atau password yang tak pernah aku tahu."


Elvaro ikut juga tersenyum. "Aku suka kamu bersikap jutek seperti dulu jika sedang kesal, Ei."


Eilani mengangkat alisnya. "Oh ya?"


"Ya."


"Kamu mau makan mie?" tanya Eilani. Namun belum sempat Elvaro menjawab, Eilani bicara kembali. "Kamu nggak suka mie instant kan? Kamu selalu bilang kalau itu adalah junk food yang membuat perutmu akan menjadi gendut." Eilani kemudian terdiam saat ia selesai mengucapkan kalimat itu. Kata-kata itu keluar begitu saja seolah ia memang sudah mengetahui sebelumnya.


"Kamu mengingat lagi satu tentang diriku, Ei."


Eilani menyudahi makannya. Ia membuang wadah pop mie itu ke tempat sampah. "Aku mau pulang, El. Bibi pasti khawatir karena aku jam segini belum ada. Aku seharusnya selesai dinas jam 3 tadi sore."


"Ardy sudah menyampaikan pada bibi mu kalau Kamu bersamaku."


Eilani mengepalkan tangannya. Ia kesal karena Elvaro sangat memaksakan kehendaknya.

__ADS_1


"Sampai kapan kita akan di sini, El? Memangnya kamu tak khawatir dengan mami mu?"


"Mami sudah bisa melihat. Jadi aku tak perlu khawatir."


"Benarkah?" Eilani terkejut. Ia nampak senang mendengarnya. "Seharusnya aku mengunjungi Nyonya Tiara."


"Kau juga tak ingat sama sekali dengan mamiku?" tanya Elvaro.


Eilani menggeleng. "Aku pusing jika harus terus berpikir tentang kenangan ku yang hilang itu, El. Aku hanya ingin pulang. Aaron pasti mencari aku. Apalagi Hanny tak ada."


Mendengar nama Hanny, Elvaro langsung dilanda oleh rasa cemburu. "Di atas nakas ada paper bag yang berisi baju untukmu. Pakailah. Nanti kamu kedinginan."


"Berapa hari aku harus di sini, El?"


"Sampai kamu mau memberikan aku kesempatan kedua."


"Kamu memang gila!" Eilani segera meninggalkan Elvaro dan menaiki tangga dengan sangat kesal.


**********


"Laura?" Nova terkejut saat membuka pintu apartemen dan Laura berdiri di depan pintu.


"Bibi." Laura langsung memeluk Nova dengan rasa rindu.


"Ayo masuk, nak. Kenapa tak bilang kalau kamu akan datang?"


"Aku sengaja ingin membuat kejutan, bi." Laura masuk sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. "Apakah Eilani sedang bekerja?"


"Tidak. Sejak kemarin Elvaro membawa Eilani. Dan aku tidak tahu bagaimana kabar Eilani sekarang. Aaron sampai menangis karena mencari Eilani."


"Mana Aaron?"


"Sedang di ajak jalan-jalan oleh Ardy. Tadi Ardy datang dan menyampaikan kalau El dan Ei bersama."


Nova membuatkan teh manis untuk Laura. Tak lama kemudian pintu apartemen di ketuk. Laura yang membukanya.


"Aunty Laura....!" Aaron langsung memeluk Laura saat melihat perempuan itu.


"Laura?" Ardy terkejut saat melihat Laura.


"Hallo Ardy!"


Ardy mengusap wajahnya dengan tangannya. Ia justru merasa kedatangan Laura disaat yang tidak tepat.


"Tolong, antar aku ke tempat Ei dan El berada. Aku yakin kalau kamu pasti tahu." kata Laura setelah Aaron pergi ke kamarnya.


*********

__ADS_1


Akankah Ardy mengatakannya?


__ADS_2