
Rapat yang melelahkan itu akhirnya selesai. Elvaro keluar dari ruang rapat sambil menggerakkan badannya. Ia meraih ponselnya dan menghidupkan kembali benda pipih itu setelah 2 jam lebih sengaja dimatikannya.
Ada beberapa panggilan tak terjawab dari sebuah nomor yang tak dikenalnya. Juga nomor yang sama itu mengirimkan pesan yang sama.
Elvaro, ini aku Jeinden. Kami ada di Bali dan mengalami kecelakaan. Kami ada di rumah sakit Xxx.
Jeiden adalah salah satu rekan kerja Elvaro saat ia masih aktif kerja di Inggris. Elvaro memang tak menyimpan lagi nomornya karena ponsel lama nya sudah rusak dan ia malas menyalin semua nomor telepon yang tersimpan di akunnya.
"Ardy, aku mau ke rumah sakit. Jeiden mengalami kecelakaan."
Ardy yang sedang mengatur file di atas meja kerjanya terkejut mendengar nama itu. "Jeiden dari Inggris? Kok dia bisa ada di sini?"
"Mungkin liburan. Ayo kita ke rumah sakit."
"Nggak bisa, El. Aku ada janji makan malam dengan Seren. Kamu kan tahu kalau kami baru saja baikan."
"Baiklah. Aku pergi sendiri saja."
"Pakai sopir saja, El. Kamu terlihat sangat lelah."
"Ok." Elvaro memang merasakan kalau sekujur tubuhnya merasa sangat lelah. Lelah lahir dan batin atas semua persoalan yang terjadi diantara dirinya dan Eilani.
Begitu ia tiba di rumah sakit, Elvaro langsung bertanya di bagian informasi.
"Pasien yang bernama Jeiden tidak dirawat nginap karena lukanya tak begitu parah. Namun beberapa masih ada di sini. Mungkin tuan boleh bertanya pada teman mereka yang masih dirawat di sini. Salah satunya ada di ruangan 304." kata perawat itu sambil menunjukan dengan tangannya lorong tempat kamar itu berada.
Elvaro pun bergegas menuju ke sana. Saat ia membuka pintu kamar itu secara perlahan, ia dibuat terkejut melihat siapa pasien yang terbaring di sana.
"Stella?"
Stella nampak masih tertidur karena efek obat yang diberikan kepadanya. Elvaro menatap Stella dengan hati yang sedih karena ada banyak luka di tubuh wanita itu.
Elvaro kemudian keluar kamar secara perlahan lalu menghubungi Jeiden. Rupanya Jeiden sedang ada di kantor polisi untuk memberikan kesaksian tentang kecelakaan itu.
"El, tolong jagain Stella ya? Dia yang lukanya paling parah diantara yang lain. Lagi pula Stella sedang bersedih karena kakaknya yang ada di Australia baru saja meninggal karena kecelakaan. Ayah Stella juga sudah meninggal setahun yang lalu. Stella ikut kami ke Bali karena ingin menenangkan hatinya."
"Ok." Hanya itu yang bisa Elvaro katakan. Ia turun prihatin mendengar apa yang Stella alami. Namun kali ini, Elvaro tak ingin melakukan sendiri. Ia segera menghubungi Ardy dan meminta asistennya itu untuk menyiapkan perawat yang khusus akan menjaga Stella. Kali ini Elvaro bertindak hanya sebatas sahabat. Tak ada lagi perasaan khusus yang tersimpan pada mantan kekasihnya itu.
Satu jam kemudian, Ardy datang. Istrinya sudah menghubungi seorang perawat yang memang bekerja di rumah sakit itu.
__ADS_1
"El....?" Stella yang mulai sadar sangat senang melihat Elvaro ada di kamar perawatannya. Ia juga melihat ada seorang perawat perempuan dan Ardy.
"Teman-teman mu yang lain baik-baik saja. Mereka ada di ruangan perawatan yang lain dan beberapa sudah pulang. Jeiden sedikit lagi akan tiba. Ada seorang perawat yang akan menemanimu selama kamu di rawat di sini. Kamu jangan khawatir soal biaya pengobatannya. Aku sudah menanggung semuanya termasuk sewa untuk perawat ini." Elvaro kemudian menatap Ardy. "Kita pergi sekarang?"
Ardy mengangguk.
"Semoga cepat sembuh ya, Stella." kata Ardy sebelum akhirnya pergi dengan Elvaro.
Wajah Stella begitu sedih. Dia yang tadinya begitu bersemangat saat melihat Elvaro ada di kamar ini langsung berubah menjadi sedih. Cara Elvaro berbicara dan menatapnya terasa begitu dingin dan tak lagi bersahabat. Seolah mereka tak pernah memiliki ikatan di masa lalu. Stella memang berharap saat datang ke Bali bisa merajut kasih dengan Elvaro lagi. Namun rasanya semua sudah tak bisa lagi.
************
Elvaro dan Ardy berjalan beriringan keluar dari ruangan Stella. Pada saat itulah Ardy melihat istrinya yang keluar dari ruangan UGD.
"Sayang, katanya jam kerjamu sudah selesai? Mengapa ada di sini?" tanya Ardy.
"Eilani pingsan." kata Keren sambil melirik ke arah Elvaro.
"Eilani pingsan? Terus dia bagaimana?" tanya Elvaro dengan rasa khawatir.
"Dia sudah baik-baik saja, El. Mungkin hanya kelelahan karena memang beberapa hari ini Eilani lembur." Seren berusaha meyakinkan Elvaro bahwa semua baik-baik saja.
"Ei.....!" Elvaro memegang tangan Eilani. Ada rasa khawatir saat melihat wajah pucat wanita yang dicintainya itu.
Eilani mengerakkan kepalanya namun tak bisa membuka matanya.
"Aku merasa mual. Ingin muntah." ujar Eilani sambil mengusap perutnya.
"Sebentar aku panggilkan perawat." Elvaro bergegas memanggil seorang perawat dan mengatakan bahwa Eilani ingin muntah.
Seorang perawat datang sambil membawakan tempat bagi Eilani untuk muntah. Ia membantu Eilani bangun dan perempuan itu pun mengeluarkan semua isi perutnya.
"Suster, memangnya Eilani sakit apa?" tanya Elvaro terlihat sangat khawatir.
"Oh, suster Eilani sedang hamil. Jadi wajarlah kalau dia seperti ini. Anda siapa ya?"
"Saya saudaranya."
"Sebentar lagi suster Eilani kan akan menikah. Tunangannya seorang pilot." ujar perawat itu lalu segera pergi untuk membuang apa yang baru saja Eilani keluarkan.
__ADS_1
Elvaro terkejut mendengar Eilani hamil. Entah mengapa hatinya merasa senang dan jantungnya langsung berdetak sangat kencang.
"Ei, kamu hamil?" Elvaro langsung mengecup dahi perempuan itu.
Belum sempat Eilani berbicara, tirai pembatas tempat tidur itu tersingkap. Nampak Hanny masuk. Ia menatap Elvaro dengan tatapan kurang bersahabat. Di belakangnya ada Ardy dan Seren. Lelaki itu langsung memeluk Eilani dan mengecup pipinya berulang kali.
"Sayang, kamu beneran hamil? Aduh, aku sampai membatalkan keberangkatan ku saat bibi Nova meneleponku. Untung saja ada teman pilotku yang bersedia menggantikan aku."
"Sayang .....!" Eilani membuka matanya perlahan. Ia tersenyum saat menemukan Hanny ada di sisinya. "Aku masih pusing. Nggak apa-apa aku tutup mata lagi kan?"
"Iya sayang. Nggak masalah. Tidurlah lagi. Aku akan meminta mereka untuk memindahkan kamu ke kamar yang lain agar kamu nyaman dan tak diganggu oleh orang lain." kata Hanny sambil melirik ke arah Elvaro.
Mendapatkan tatapan seperti itu dari Hanny, Elvaro langsung bereaksi hendak bicara namun Ardy menarik tangannya. Seren juga mengikuti mereka.
"Kamu gila ya? Jangan ganggu mereka." kata Ardy.
"Eilani hamil, Ar. Itu pasti anakku."
Ardy tersenyum sedikit mengejek. "Memangnya kamu yakin hanya kamu yang tidur dengan Eilani? Kamu kan nggak tahu bagaimana hubungan Eilani dan Hanny? Jika Hanny pulang, Eilani akan tidur di apartemen pria itu. Unit mereka kan ada di lantai yang sama. Hanny seorang duda, Eilani janda, kamu pikir bisa menahan hasrat seperti itu jika berduaan saja?"
"Aku sangat yakin, saat pertama aku menyentuh Eilani, dia sudah lama tak berhubungan dengan seorang laki-laki. Ia bahkan meringis sedikit kesakitan saat penyatuan kami yang pertama."
"Waktu itu Eilani belum menerima lamaran Hanny kan? Setelah ia menerima lamaran Hanny, mereka bisa saja sudah sering bersama."
"Aku ingin tes DNA."
"Boleh. Tapi tunggu janinnya berusia 4 bulan. Walaupun sebenarnya sangat beresiko untuk itu." ujar Seren.
Elvaro mengepalkan tangannya. "Aku sangat yakin kalau itu adalah anakku."
"Sebegitu yakin kamu kalau itu anakmu? Apakah Eilani tak pernah bercerita, kalau setiap kalian selesai berhubungan, Eilani selalu meminum obat yang berfungsi untuk mematikan sel spe*ma yang baru saja masuk? Jadi, nggak mungkin itu adalah anakmu!" Hanny tiba-tiba sudah ada diantara mereka.
"Kamu ....!" emosi bercampur cemburu membuat Elvaro ingin menyerang Hanny. Namun Ardy kembali menahan tubuh sahabatnya itu. Dengan terpaksa ia menyeret langkah Elvaro keluar dari rumah sakit itu sebelum terjadi perkelahian yang akan memalukan mereka semua.
Elvaro menendang apa saja yang ada di hadapannya saat mereka sudah berada di luar. "Ah......!" teriaknya mengeluarkan rasa sesak dalam hatinya.
*********
Maaf emak lama baru up
__ADS_1
Emak sementara liburan guys