
Ardy menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Melihat penampilan istrinya yang sangat menggoda itu membuat sesuatu yang selama ini tak pernah disentuh lagi perlahan mulai bangun.
"Ehem....!" Ardy pura-pura berdehem.
Seren mengangkat kepalanya dan menatap sang suami. "Ada apa?" tanya Seren sambil terus memberikan lation di bagian tangannya.
"Eh, aku mau mengambil bantal dan selimut."
"Silahkan!"
Ardy melangkah menyeberangi ruangan. Ia melewati sang istri dan mencium betapa harumnya parfum sang istri. Harum yang selalu membuat Ardy betah memeluk istrinya itu.
Ia membuka pintu walk in closet dan mencari selimut dan bantal yang akan ia gunakan untuk tidur di sofa.
Saat ia masih mencari selimut, Seren ikut masuk ke dalam walk in closet. Masih dalam keadaan tanpa busana, Seren nampaknya mau mengambil pakaiannya.
Ardy merasakan seluruh tubuhnya bergetar. Sesuatu yang sejak tadi sudah sejak di bawa kini bertambah sesak.
"Ketemu selimutnya?" tanya Seren.
"Belum."
Seren mendekat. Ia membuka salah satu laci dan menunjukan di mana letak selimut itu.
Ardy sudah tak sanggup lagi menahan hasratnya saat melihat Seren yang berdiri di sampingnya. Ia segera menghadapkan tubuhnya ke arah istrinya sehingga keduanya kini saling berhadapan.
"Ada apa?" tanya Seren dengan tatapan menantang. Ia jelas melihat ada kabut gairah di mata suaminya.
Ardy menelan salivanya. Pikirannya sekarang sudah dipenuhi dengan hasrat yang tak tertahankan lagi. Ia langsung memegang tengkuk istrinya dan menciumnya secara cepat.
Awalnya Seren tak membalas ciuman itu. Namun saat tangan Ardy sudah bergerilya ke semua bagian tubuhnya, Seren pun tersenyum senang. Taktiknya berhasil. Ia membalas ciuman Ardy.
Pasangan suami istri itu tak membutuhkan ranjang untuk sama-sama menuntaskan kerinduan diantara mereka. Dalam keadaan berdiri, mereka melakukan penyatuan.
"Sayang....., aku sangat merindukan mu." kata Ardy saat mereka telah mendaki puncak bersama.
"Ronde kedua?" tanya Seren dengan gaya menggoda.
"Ketiga dan keempat pun tak masalah." Ardy langsung mengangkat tubuh istrinya dan menuju ke ranjang panas mereka.
*********
Eilani memperbaiki letak selimut Elvaro yang tersingkap karena lelaki itu banyak bergerak. Setelah itu ia bermaksud akan kembali ke rumah sakit karena memang dia bertugas malam ini.
Secara perlahan Eilani meninggalkan kamar itu. Ia akan mencari Seren untuk mengambil kue itu dan memesan taxi untuk segera kembali ke rumah sakit.
Di ruang tamu dan di dapur, Eilani tak menemukan Seren. Akhirnya ia naik ke lantai dua, menuju ke kamar Seren.
Di lihatnya pintu kamar itu terbuka sedikit.
"Bu dokter...!" panggil Eilani perlahan sambil mendorong pintu kamar itu. Hampir saja Eilani masuk namun langkahnya dihentikan oleh suara-suara khas yang membuat bulu kuduknya berdiri.
__ADS_1
Eilani langsung membalikan badannya. Wajahnya terasa panas. Ia bisa pastikan kalau besok pagi dokter Seren akan terlambat datang ke rumah sakit. Perempuan itu jadi senyum-senyum sendiri.
Ia kembali ke dapur dan kemudian membuka kulkas. Ternyata kue tart itu ada dalam kulkas. Eilani kemudian menelepon taxi online. Sambil menunggu taxi, ia kembali melirik ke arah kamar tamu. Eilani yakin kalau Elvaro saat ini sudah tertidur nyenyak. Ia pun segera pergi begitu mendengar suara klakson mobil.
***********
Elvaro perlahan bangun. Ia duduk dan natas tempat tidur sambil mengumpulkan nyawanya kembali. Ia memperhatikan seisi kamar ini dan sadar bahwa ia masih berada di rumah Ardy.
Tangan Elvaro mencari ponselnya di saku celananya namun tak ada. Ternyata ponselnya ada di atas nakas. Elvaro melihat ada puluhan panggilan tak terjawab dari maminya. Ia pun segera menelepon sang mami.
"El, kamu di mana sih? Mami sampai khawatir." Tiara langsung menunjukan rasa khawatirnya saat anaknya menelepon dia.
"Aku di rumah Ardy, mi. Semalam kamu minum bersama dan akhirnya mabuk."
"Kok Ardy nggak kasih tahu, ya? Semalam juga mami telepon dia tapi nggak diangkat."
"Mungkin Ardy juga sama mabuknya dengan aku, mi. Sebentar lagi aku pulang, kok. Bye...." Saat Elvaro turun dari ranjang, matanya langsung menatap gelas bekas kopi di atas meja. Pantas saja pagi ini ia tak merasa pusing walaupun semalam mabuk berat. Rupanya ia minum kopi. Tapi, apakah Ardy yang membuatnya?
Elvaro pun mencuci wajahnya kemudian keluar dari kamar.
Di lihatnya Ardy juga baru menuruni tangga dengan rambut basah. Sepertinya Ardy baru selesai mandi.
"Kamu baru bangun juga?" tanya Elvaro.
"Iya."
"Wajahmu terlihat sumringah. Eh....y ada apa di leher mu itu?" Elvaro menggoda temannya.
Elvaro jadi tertawa. "Aku hanya menjebak mu saja. Ternyata kalian semalam habis melepas rindu ya? Berapa ronde?"
Wajah Ardy sedikit memerah. "Biasalah. Kayak pengantin baru saja. 3 ronde."
"Duh, yang lagi happy."
"Memangnya kamu semalam nggak happy?"
"Happy apaan? Aku mabuk kan?"
"Kamu nggak sadar kalau Eilani menemani kamu? Kamu bahkan menangis dan berlutut di hadapannya meminta agar Eilani jangan meninggalkan mu."
Elvaro terkejut. "Masa sih? Jadi, gelas kopi di kamar itu, Eilani yang membuatnya?"
"Iya. Dia sendiri yang bilang, kamu kalau mabuk, penangkalnya harus minum kopi."
Elvaro duduk di atas sofa sambil memijat kepalanya. "Kok aku bisa nggak ingat ya?"
"Mungkin kamu pikir, semalam itu kamu hanya bermimpi saja."
"Apakah Eilani terlihat memperhatikan aku?"
Ardy tersenyum. "Dia bersikap biasa saja. Namun dari pandangan matanya, aku yakin kalau dia khawatir melihat keadaanmu."
__ADS_1
"Aku mau pulang untuk mandi dan langsung ke kantor. Mana Seren?"
"Sudah pergi satu jam yang lalu."
Elvaro melihat jam tangannya. "Sekarang sudah hampir jam 11 siang. Berarti istrimu juga terlambat ya?"
"Ya, begitulah."
"Semoga kedepannya kalian akan mesra lagi ya? Supaya cepat memiliki momongan."
"Amin.....!"
Elvaro pun pamit pulang. Ia tahu ada pekerjaan di kantor yang menunggunya.
***********
Bagaimana keadaanmu?
Elvaro langsung tersenyum saat mendapatkan pesan dari Eilani.
Aku baik-baik saja, Ei.
jari-jari Elvaro dengan cepat membalas pesan itu. Namun tak ada lagi balasan dari Eilani. Elvaro mencoba menghubunginya lagi.
Kamu di mana?
Eilani terlihat sudah membaca pesan Elvaro namun tak ada tanda-tanda kalau ia akan membalasnya.
Di tunggu sampai 5 menit namun sama sekali tak ada balasan, Elvaro pun mengirimkan pesan lagi.
Bolehkah aku ketemu denganmu malam ini?
Balasan Eilani pun terlihat .
Maaf, El. Aku ada janji makan malam dengan Hanny.
Elvaro melepaskan ponselnya di atas meja dengan kesal. "Kalau memang kamu mau bersama tunanganmu itu, lalu kenapa harus chat aku duluan? Kamu tahu nggak sih, aku tuh hampir melompat senang karena baru kali ini kamu chat aku duluan. Nggak tahunya." Elvaro ngedumel sendiri.
Pintu ruangannya diketuk. Sekretaris terbarunya yang bernama Johan masuk. "Selamat sore, tuan. Ada tamu yang mencari tuan."
"Siapa?"
"Katanya ia bernama Hanny Evans."
Elvaro terbelalak.
"Apakah dia boleh masuk, tuan?"
"Ya." Elvaro merasakan kalau jantungnya berdetak sangat kencang. Ia akan berhadapan dengan kakaknya setelah puluhan tahun lamanya ia tak mengenalnya.
*******
__ADS_1
Apa yang akan Hanny lakukan di kantornya Elvaro?