Cita Cinta Gadis Desa

Cita Cinta Gadis Desa
Merantau


__ADS_3

Suasana pagi yang terlalu sejuk di perbatasan Desa saat itu tidak mengurangi semangat seorang gadis manis yang sudah siap dengan tas ranselnya, menunggu kedatangan mobil angkutan yang akan membawanya menyeberang pulau. Gadis yang sering di sapa I'im itu akan melanjutkan sekolah menengah atas di pulau jawa. Fatimah Az Zahra nama lengkapnya, ia ingin mengikuti jejak kedua kakak perempuannya, Tari dan Jannah yang sudah terlebih dahulu merantau untuk menimba ilmu dipulau jawa.


" sudah semuanya nduk? gak ada yang tertinggal kan?" tanya bu Lasmi, ibu dari I'im. Ibu yang selama ini selalu membersamainya. karena ini adalah kali pertama ia akan jauh dari ibu kandungya itu.


"udah smua kok mak, I'im pamit ya mak, itu mobilnya sudah datang". "Doain ya mak, semoga aku kerasan disana". Sambil sesekali mengusap ujung matanya yang basah oleh air mata. Ia tak tahu mengapa terasa sesesak ini ketika akan pergi jauh dari orang tua, keluaraga juga desa yang dicintainya. Tapi semangat menggapai cita juga terpengaruh cerita dari sang kakak lah yang menjadi motivasi ia berniat merantau jauh dari kampung halamannya.

__ADS_1


"selalu nduk, emak pasti selalu berdoa yang terbaik untukmu, jangan lupa sholatnya, jangan aneh - aneh disana jauh dari emak dan bapak". Bu lasmi memberikan wejangan meski ia tahu bagaimana sifat dan karakter anak gadisnya itu tak mungkin akan neko - neko diluar sana. Namun sebagai orang tua pasti ada rasa khawatir bila jauh dari anak - anaknya.


Setelah pamit dan bersalaman dengan ibu dan beberapa keluarga yang ikut mengantarkan kepergiannya, I'im masuk ke mobil bersama pak Sumitro, ayah kandungnya yang kali ini akan mengantarkan ia untuk menyeberang pulau menuntut ilmu disana.


Kata merantau dengan tujuan menuntut ilmu masih hal yang aneh di desa pak Sumitro, bagi mereka merantau itu ya pergi jauh untuk mencari uang, mencari kerja. Jadi karena hal itu, banyak cemooh bahkan kata menyepelekan yang diterima pak sumitro. " nyekolahin anak kok jauh - jauh, buat apa kalo ujung - ujungnya ke kebun juga". Bahkan terkadang dari saudara - saudaranya sendiri pun banyak yang tidak mendukung. Bagi mereka sekolah jauh itu menghabiskan biaya, apalagi sudah sekolah plus hidup dipesantren, double biayanya. Mereka tidak berfikir bahwa ilmu yang didapat juga double, bahkan dengan hidup dipesantren orang tua bisa merasa lebih tenang dirumah sambil mencari rezeki untuk membiayai.

__ADS_1


Tak banyak kata pak Sumitro menerima banyak komentar dari warga disana. Beliau sudah punya motivasi tersendiri. Pak sumitro hanya tersenyum menanggapi semua itu, sambil mengenangkan wejangan dari kyai di desa tersebut yang masih termasuk keluaraga. " Kalau sudah ada niat jangan ragu pak sumitro, kalau Allah sudah memberikan niat keinginan, maka Allah juga yang akan mencukupi. Jangan khawatir! pasrahkan saja sama yang diatas! "


Kata - kata dari pak Kyai itu selalu dipegang oleh pak Sumitro, hingga kini beliau kembali menyusuri jalan lintas Sumatera yang berkelok untuk yang kesekian kalinya. Sambil tersenyum tipis beliau mengusap kepala anak bungsunya yang tertidur di mobil itu.


# maaf kalau masih amburadul, bukan hanya sekedar novel perdana, namun ini adalah karya tulis pertama ku.

__ADS_1


__ADS_2