
Setelah pamit kepada putrinya, pak Sumitro segera meninggalkan pondok pesantren. Beliau berusaha tak terlihat sedih didepan Tari dan I'im, meskipun hatinya terenyuh. Memang moment seperti ini bukanlah yang pertama bagi pak Sumitro, namun melepas kepergian putri bungsunya ini terasa berbeda. Si kecilnya yang dulu sering minta gendong ketika pulang ngaji dari mushola padahal sudah hampir lulus SD, kini sudah mau masuk SMA, tak terasa usia putri - putrinya telah beranjak dewasa. Berarti ia pun sudah semakin tua. Beban ekonominya juga semakin bertambah, karena ketiga putrinya membutuhkan biaya untuk sekolah. Semoga sang Maha kuasa selalu memberi jalan kemudahan bagi keluarganya. Itulah angan - angan yang selalu terpikirkan di benak pak Sumitro.
Sedangkan I'im, selepas kepergian ayahnya yang kembali ke rumah pakdenya. Ia bersama kakaknya kembali ke asrama putri untuk menunaikan sholat ashar berjamaah.
Usai Sholat I'im bertanya kepada pengurus terkait jadwal keseharian dipondok tersebut.
" Mbak, maaf, e itu mau tanya tentang jadwal pondok?" tanyanya.
" Owh bentar ya mbak, saya ambilkan dulu jadwalnya, nanti bisa mbak bawa dan tempel di lemari, ini mbak, silahkan". jawab mbak pengurus.
" terimakasih mbak" ucap I'im sambil berlalu meninggalkan tempat piket pengurus pondok putri tersebut. Ia membaca sekilas kertas ditangannya yang berisi jadwal keseharian santri yang harus diikuti.
"Owh habis ini makan sore" gumamnya. Ia ingat tadi bude membawakan bekal untuknya. Bude bilang bekalnya nanti dimakan bareng - bareng sama mbak - mbak santri, tradisi dipondok itu ya makannya rame - rame.
"Sudah ambil jadwalnya im?" tanya Tari ketika melihat adiknya sudah masuk kamar kembali.
__ADS_1
" Sudah mbak, ini kertasnya mau aku tempel di lemari biar gak lupa" I'im menjawab mbaknya.
"teeeeet....teeeet..." terdengar bunyi bell ke seluruh ruang kamar asrama yang berjejer itu. I'im menempati kamar no 2 yang berada dikanan pintu masuk asrama. Berhadapan dengan ruang tamu asrama putri.
" itu suara bell apa mbak?" tanya im.
" ayoo.. itu berarti bel tanda waktu makan, jadi semua harus makan bersamaan" jawab Tari sambil menggandeng adiknya itu menuju ruangan yang biasa untuk makan atau minum para santri.
Disana sudah berjejer para santri putri untuk bersiap makan sore, ada yang masak sendiri dengan berkelompok, ada yang bayar katering kepada pengasuh pondok. Namun yang pasti jadwal makannya harus sama ketika makan sore. Yaitu pukul 17.00 kecuali bulan Rhamadhan.
Melihat banyaknya orang yang mengambil posisi makan dengan berkelompok dan hanya dengan satu nampan untuk tempat nasi dan sayur beserta lauk diatasnya, I'im tersenyum kecut, Ia merasa ragu untuk ikut bersama - sama makan dengan cara itu. Ya meskipun ia bukan dari keluarga kaya yang harus pakek aturan ketika di meja makan, namun ia juga belum pernah makan dengan beberapa orang dalam satu nampan.
I'im tak menjawab, ia hanya memamerkan gigi putihnya dengan nyengir kuda. Padahal ia tahu bahwa makanan itu pasti lezat sebab itu adalah bekal yang tadi dibawakan oleh budenya.
" Ayoo mbak ikut gabung sini !" kata santri yang bernama Umi, ia salah satu teman sekamar I'im yang tadi sudah berkenalan.
__ADS_1
" iyaa, gak usah sok ini lah, lagian kalau sudah habis ashar di pondok sini gak boleh keluar, jadi gak bisa beli makan diluar" sahut santri senior yang bernama Nita, entah mengapa ia agak sensi dengan I'im, atau memang seperti itulah wataknya karena ia adalah pengurus keamanan di asrama ini.
Mendengar itu I'im langsung ikut bergabung makan, ia hanya sedikit mencicipi makanan yang seolah diperebutkan banyak tangan itu. ia hanya merasa perlu menghormati karena ia baru atau mungkin sedikit takut dengan sahutan si santri senior tadi.
Drama makan bersama telah usai, waktu juga tanpa terasa sudah semakin malam. Di ruang tengah tempat biasa Mbah Nyai mengaji kitab, kini sudah duduk I'im dan kakaknya Tari bersama Mbah Nyai. Beliau memberi arahan kepada I'im sebagai santri baru.
Pukul 11.00 semua santri dihimbau untuk masuk ke kamar masing - masing, karena itu adalah waktu untuk mulai beristirahat. Dikamar no 2 terlihat tikar yang sudah dihampar dan ada kasur - kasur tipis diatasnya, yang ketika pagi tiba sudah harus kembali digulung dan ditata dipojok ruang kamar.
" Mbak, tidurnya kayak gini ya? gak boleh bawa selimut?" I'im bertanya sambil menatap beberapa santri yang sudah ambil posisi untuk tidur berjejer dikamar itu.
" Ya iya lah im, tidur ya tidur, bawa selimut emang yakin kamu gak bakal kepanasan? pakek selimut sarung aja" jawab tari
I'im terdiam, ia tak kembali bertanya, ia tak mau dianggap terlalu manja atau apa sama mbaknya itu. Karena ia tahu kakak pertamanya itu orang yang super luar biasa, dibikin mudah aja jangan dibuat susah, kalau niat ya harus usaha. Itulah yang membuat sosok si sulung selalu bisa menjadi motivator bagi adik - adiknya.
I'im tahu kalau niat ke Jawa, pokoke harus ke Jawa itu adalah keinginannya sendiri, jadi ia akan berusaha, ini belum sehari. Tapi ia sudah merasa ragu apa ia bisa melewati semuanya.
__ADS_1
(Ternyata seperti ini rasanya tinggal dipondok jauh dari orang tua, belum lagi besok aku sudah harus mengikuti jadwal ngaji, daftar masuk ke sekolah di luar Pondok, kalau pagi sekolah, siang ngaji malam belajar, membayangkannya saja aku sudah merasa lelah) batin I'im sambil memikirkan kehidupannya kedepan.
Namun ia teringat kata - kata kakak sulungnya yang saat ini sudah tertidur disampingnya " kalau mbak bisa masak kamu nggak" ucapan kakaknya itu meski terdengar sombong namun itu sebenarnya adalah motivasi untuknya. Benar memang kalau orang lain bisa kenapa kita tidak. Dengan semangat yang kembali pada dirinya, I'im pun mulai memejamkan mata agar esok tidak bangun kesiangan untuk mendaftar sekolah yang dia inginkan.