
Tak terasa sudah seminggu I'im menjadi siswa baru di salah satu madrasah negeri di kota ini. Diawali dengan mengikuti kegiatan MOS yang di isi dengan perkemahan selama 2 hari satu malam dan pengenalan madrasah, kemarin I'im dinyatakan secara resmi menjadi bagian dari madrasah tersebut.
Hari ini ia libur, selain memang hari minggu juga libur untuk menyambut bulan suci Ramadhan. ini adalah pertama kali untuknya berpuasa jauh dari rumah, karena itu tadi ia meminta izin kepada pengurus untuk menghubungi kakaknya agar besok bisa datang ke pondok. Tari memang sudah kembali ke Malang ketika I'im mengikuti kegiatan MOS, meski ia tak lagi ada mata kuliah yang harus ditempuh, namun ia harus segera merampungkan penelitian untuk skripsinya kalau ingin lulus dan wisuda tahun ini.
karena tak ada kegiatan yang berarti, I'im bersantai dengan membaca - baca buku yang ada diperpustakaan mini pondok putri tersebut. Memang santri disana dilarang membawa handphone kecuali pengurus inti, pesan mbah nyai dipondok itu tirakat, kalau mau yang enak dan penak ya dirumah saja.
"tiing toong...tiing tooong, Assalamualaikum"
terdengar bunyi bell dan ucapan salam yang menandakan ada tamu didepan. Sebagai santri baru I'im tak berani melihat siapa yang datang didepan, karena memang setiap tamu harus menunggu tak bisa langsung masuk kedalam, apalagi dari suaranya itu terdengar salam dari seorang laki - laki.
"Waalakumsalam" jawab I'im dengan suara lirih
"Mbak im, coba lihat dulu siapa didepan, ini aku masih pakek jilbab" suruh mbak Nita yang saat itu ada dikamar samping perpustakaan.
" iya mbak" jawab I'im sambil bergegas ke depan.
"ada apa ya kang?" akhirnya I'im bertanya setelah melihat ada dua kang santri disana, di Pondok ini memang kalau santri putri harus dipanggil mbak, meskipun masih usia SD, begitu juga dengan santri putra, semua harus dipanggil dengan sebutan kang santri.
__ADS_1
" e..owh ini mbak, mau ngantar jadwal kegiatan ramadhan, nitip kasihkan sama mbak - mbak pengurusnya" jawab kang santri yang memakai sarung hitam dan peci hitam dengan kemeja biru.
Ia dikenal dengan nama kang Rahman selaku pengurus inti pondok pesantren.
Sedangkan kang yang satunya lagi hanya diam meskipun sesekali ia melirik ke tempat I'im berada, ia seolah menilai kalau yang menemui mereka kali ini adalah santri baru, karena selama ini belum pernah melihatnya ikut ngaji di madrasah diniyah yang memang sudah sejak awal bulan ini telah libur akhir semester.
"owh iya, nanti aku sampaikan ke mbak pengurus, atau mungkin kangnya mau nunggu mbak Nita dulu?" I'im berucap tanpa berani memandang langsung yang ia ajak bicara, terserah mau dianggap tidak sopan atau apa yang pasti ia merasa malu dan takut, karena ini yang pertama ia berhadapan langsung dengan kang pondok apalagi pengurus inti.
"tidak perlu, ya sudah kami permisi mbak, Assalamualaikum" jawab kang santri yang tadi hanya diam, seolah ia tahu kalau mbak santri didepannya itu merasa malu dan takut. Ia memang terkenal tak banyak kata dan agak dingin dikalangan santri putra maupun putri, ia juga terkenal sebagai ketua keamanan pondok yang galak. Siapa yang tak kenal dengan kang Ali di pondok ini, mungkin hanya I'im seorang.
"iya, Waalaikumsalam" jawab I'im lirih sambil kembali masuk ke asrama.
" sudah mbak, itu kang santri ngasih jadwal ramadhan" jawab I'im sambil menyerahkan kertas berisi jadwal kegiatan kepada Nita.
" owh iya, tadi kang Rahman memang sudah kasih kabar mau bagiin jadwal" ucap Nita tanpa tersenyum atau bilang terimakasih.
" kalau begitu aku permisi mbak, mau ke dapur sebentar" izin I'im kepada pengurusnya yang agak galak itu, ya I'im merasa mbak Nita selalu ketus kalau bicara dengannya.
__ADS_1
" iya, jangan lama - lama sebentar lagi masuk waktu sholat dzuhur, awaas jangan sampai tidak jama'ah"
jawab Nita sambil berlalu ke arah papan pengumuman dan menempelkan jadwal kegiatan tadi disana.
Sedangkan I'im pergi sambil bergumam kecil " kenapa harus dengan muka jutek sich ngomongnya, mbok ya senyum gitu, apa semua pengurus harus galak sama santrinya?" untung saja Nita dan pengurus lain tidak mendengar gumamannya itu.
Di tempat lain, di serambi Masjid sambil menunggu Adzan waktu Dzuhur, Rahman bertanya kepada Kang Ali.
"Li, mbak tadi santri baru kayaknya ya, gak pernah lihat, cantik"
" Mungkin, kamu itu kalau ada santri putri baru ya kamu bilang cantik" bukannya meng iyakan Ali malah menjawab sambil menjewer telinga si Rahman.
" Aduh duh duh, kamu ini penyiksaan namanya Li, kalau santri putri ada yang lihat turunlah wibawa ku sebagai pengurus yang paling berpengaruh" dengan PD nya Rahman berujar.
" sudah sana, pukul bedugnya sudah waktunya sholat, kali ini aku yang Adzan" ucap Ali lalu beranjak menuju tempat microphone masjid untuk mengumandangkan adzan.
(kesambet apa dia mau adzan dzuhur, biasanya juga ogah - ogahan meski dipaksa) batin Rahman dengan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
__ADS_1
Ternyata ada yang mau pamer suara ketika tahu ada mbak santri baru yang kata kang Rahman wajahnya cantik tadi.