Cita Cinta Gadis Desa

Cita Cinta Gadis Desa
Daftar Sekolah


__ADS_3

Setelah melakukan rutinitas pagi yang padat dipondok pesantren, kini I'im siap berangkat menuju Sekolah negeri yang paling terkenal di kota itu. Ia sudah mempersiapkan segala persyaratan yang dibutuhkan untuk mendaftar menjadi siswa baru di sekolah tersebut.


Dengan mengendarai sepeda motor yang dipinjam dari mbak Yaya salah satu pengurus pondok, I'im melaju dengan memboncengkan Tari. Meski perlu berdebat sebelumnya karena I'im yang merasa belum mengenal jalan yang akan dilalui meminta kakaknya itu untuk menyetir. Tapi dengan PDnya kakaknya bilang bahwa ia tak bisa mengendarai sepeda motor.


" Terus selama ini mbak kalau mau pergi - pergi gimana?" ujar I'im dengan muka sewot.


" ya kalau mau pergi yang deket - deket jalan kaki, kalau perginya agak jauh ya naik angkot, kalau lebih jauh lagi biasanya aku minta anterin sahabat aku" jawab Tari dengan wajah tanpa dosa.


" mbak itu berarti kapan - kapan harus belajar naik motor, wong ngontel sepeda aja bisa kok". ujar I'im memberi masukan kepada kakaknya.


" itu gampang, yang penting sekarang ayo buruan berangkat, bentar lagi udah mau jam 7" sambil naik ke boncengan Tari berucap.


Akhirnya melaju lah I'im dengan perlahan karena ia belum mengenal jalan yang dilalui, meskipun dibelakang kakaknya selalu memberi arahan jalan mana yang harus dilewati.

__ADS_1


Setelah berkendara kurang lebih 20 menit tepat pukul 07.05 I'im dan kakaknya sampai didepan gerbang Madrasah. Disana sudah banyak berkumpul calon - calon siswa baru yang akan mendaftar.


"Permisi Dek, mau minta formulir pendaftaran" pinta Tari kepada beberapa panitia yang mungkin berisi anggota OSIS di Sekolah tersebut. Sedangkan I'im hanya mengekor dibelakangnya sambil melihat - lihat pemandangan sekolah yang ada didepannya, meskipun bukan seperti di film - film, tapi baginya sekolah dengan gedung bertingkat itu sudah megah, apalagi kalau dibandingkan dengan sekolah SMPnya dulu di desa.


Madrasah Aliyah Negeri Kertosono itulah nama sekolah yang saat ini ia datangi, namun bukan perkara mudah untuk masuk menjadi bagian dari sekolah itu. Selain karena memang sekolah tersebut termasuk favorit dikota ini, ia juga harus mengikuti serangkaian pendaftaran dan Tes yang akan dilaksanakan sesuai jadwal.


Lusa adalah jadwal Tes tertulis, setelah ia mengisi formulir yang telah diberikan oleh panitia,ia mendapat nomor untuk mengikuti tes resebut, ia mendapat urutan ke 222. Melihat itu awalnya semangat yang menggebu kini menurun hingga beberapa persen. Ia merasa minder, dari yang ia dengar tadi ketika kakaknya bertanya - tanya dengan panitia, sampai hari ini sudah kurang lebih 300 orang yang mendaftar, sedangkan pendaftaran masih akan ditutup besok dan jumlah siswa yang akan diterima hanya berkisar 200 siswa.


" mbak, kira - kira aku keterima gak ya sekolah disana? aku kok gak yakin ya" ucap I'im menyampaikan apa yang ada dipikirannya saat ini.


" kenapa? kamu minder?"bukannya menjawab Tari malah balik bertanya.


" Ya lah mbak, yang daftar banyak, belum lagi kalo lusa tes aku bisa jawab apa gak, yang diterima juga gak semua yang daftar" jawab I'im.

__ADS_1


" Gak usah minder, yakin aja kalo lusa bisa jawab tes nya, dan akhirnya keterima, semoga dewan guru yang jadi panitianya lihat alamatmu yang jauh jadi kasihan, trus jadi keterima dech". Tari malah memberi jawaban aneh.


Mendengar jawaban aneh kakaknya itu I'im pun kembali bertanya


" kok bisa lho lihat alamat jadi keterima, gak ada pengaruhnya lah mbak".


" lho jangan salah, siapa tahu panitianya lihat niatmu yang jauh - jauh dari sumatera mau sekolah disana pastinya punya kesungguhan dan keinginan yang kuat, bisa jadi itu jadi poin penilaian tersendiri" jawab Tari.


Mendengar jawaban kakaknya itu I'im tak lagi bersuara, ia memang merasa meskipun kakaknya itu kadang aneh - aneh bicaranya tapi ada benarnya juga. Entah darimana pemikiran semacam itu kakaknya dapatkan, mungkin dengan aktif dikegiatan yang ia ikuti selama ini di kampus.


Tak mau ambil pusing, I'im meng iyakan dalam hati pemikiran kakaknya itu.


( semoga benar mbak, aku pasti diterima disana, Amiin) I'im berdoa dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2