
Hari ini I'im akan pergi ke madrasah kembali setelah lusa kemarin ia mengikuti tes yang diadakan disana, Ia sudah tak lagi merasa ragu ataupun minder, karena sudah ada rencana B jika ia tak lulus tes masuk. Ia sudah bermusyawarah tadi malam dengan ayah dan kakaknya. Semalam memang I'im dan kakaknya menginap dirumah pakde, mereka izin dengan pengurus pesantren untuk menginap disana, sebab nanti siang setelah tahu keputusan I'im lulus tes dan tidaknya pak Sumitro akan pulang kembali ke Sumatera.
Tak terasa sudah seminggu pak Sumitro ada di jawa, beliau tak bisa lama - lama disini, karena pekerjaan dan kebunnya di Sumatera akan terbengkalai jika beliau tak pulang - pulang.
Pagi ini I'im kembali bersama Tari ke sekolah karena Ia berencana akan mampir ke toko untuk membeli oleh - oleh yang akan dibawa ayahnya pulang.
" untuk para calon siswa, silahkan melihat pengumuman kelulusan di papan pengumuman, disana sudah ada nama - nama yang dinyatakan lulus tes masuk di Madrasah ini" terdengar pemberitahuan dari panitia PSB melalui pengeras suara.
I'im dan Tari segera beranjak mendekat ke arah papan pengumuman yang berada di samping kanan gerbang masuk. Namun mereka harus mengantri untuk melihatnya, sebab begitu banyak calon siswa bahkan ada juga para wali calon siswa disana yang berdesak - desakan.
"Ayo mbak, cepet, aku lolos gak?"
I'im meminta mbaknya untuk segera ikut berdesakan.
Melihat antusias adiknya itu untuk segera mencari namanya didaftar pengumuman, Tari pun ikut berdesakan dengan yang lain.
__ADS_1
" permisi, Amit pak bu nggeh, maaf mbak - mbak, saya mau ikut lihat juga" tari berucap kepada para wali dan siswa yang ada disana. Ia melihat sendiri, sedang I'im dia suruh untuk menunggu saja didekat gerbang.
Kalau Tari sedang berdesak - desakan untuk melihat pengumuman, kini I'im hanya duduk melamun sambil melihat wajah - wajah dengan raut berbeda - beda yang berlalu lalang lewat didepannya. Ada yang dengan wajah gembira mungkin karena sudah melihat namanya ada didaftar lulus tes, ada yang dengan wajah sendu mungkin harus memikirkan untuk daftar di tempat lain, ada yang hanya biasa - biasa saja, mungkin dari awal sudah yakin pasti lulus jadi bukan hal yang luar biasa kalau namanya ada didaftar.
" Sudah im, ayo ke bagian panitia, minta apa saja keperluan yang perlu dipersiapkan untuk ikut MOS" seketika Tari mengagetkan I'im yang sedang melamun.
" gimana mbak? lulus?" tanya I'im setelah di sadar dari lamunannya.
"Lulus, tapi kamu gak masuk 100 besar ha..ha.ha no urut 125" canda Tari.
Entah mengapa dia agak kepikiran kalau harus sekolah ditempat dulu mbaknya itu sekolah, ia merasa takut selalu dibayangi kakaknya itu, takut dibandingkan yang pasti.
"Udah ayo cepet, nanti keburu siang, masih harus mampir ke toko juga" Tari mengajak cepat I'im yang malah menggumam entah apa.
Setelah selesai urusan di sekolah, I'im dan Tari segera ke pusat toko oleh - oleh khas Kota Angin dan bergegas pulang ke rumah pakdenya, waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 ketika mereka sampai, Tari dan I'im langsung menata barang bawaan yang akan dibawa pak Sumitro pulang. Tidak banyak, hanya satu tas ransel berisi pakaian pak Sumitro dan juga satu kardus berisi oleh - oleh.
__ADS_1
Pukul 14.00 pak Sumitro sudah sampai di halte bus yang akan membawanya pulang, ia naik becak kesana, sedangkan I'im dan Tari membawa sepeda motor milik pakde untuk mengantarkan ayahnya sampai di halte bus.
" Bapak pulang nduk, seng ati - ati ditempat orang ya, semoga belajarnya lancar" pamit pak Sumitro kepada kedua putrinya itu.
" Iya pak, bapak hati - hati di jalan"
jawab I'im sambil memeluk ayahnya. Mungkin butuh waktu lama lagi untuk bisa memeluk ayahnya itu.
" Iya pak, nanti kalau sudah sampai Sumatera kabari Tari ya pak, Salam untuk mamak dan juga keluarga disana, doain Tari akhir tahun ini bisa wisuda" jawab Tari sambil menyalami ayahnya itu.
" Iya nduk, semoga kalian anak - anak bapak bisa sukses dan membanggakan keluarga" ucap pak Sumitro, suasana pun terasa haru mengiringi perpisahan anak dan ayah tersebut.
Hingga suara bus yang datang pun mengurai pelukan hangat keluarga itu, kini tiba waktunya untuk pak Sumitro naik bus dan pulang kembali ke Sumatera, dengan membawa semangat lebih untuk bekerja mencari rezeki di ladang dan kebun kopi miliknya, agar biaya pendidikan anak - anaknya bisa terpenuhi.
# Semangat pak ya, semoga anak - anakmu kelak jadi orang sukses
__ADS_1