
Pagi menjelang diawali dengan kumandang Adzan Subuh dari masjid yang tak jauh dari rumah bude. I'im merasa enggan untuk bangun dari tidurnya yang terasa nyenyak. Ya itu akibat tidur diperjalanan tak enak rasanya. Namun perlahan ia mebuka matanya, karena suara Adzan itu terdengar tak seperti biasanya. Setelah membuka mata ia baru tersadar bahwa kini ia tak lagi ada di desa, tapi berada jauh di kota orang.
Bergegaslah ia untuk mengambil air Wudhu dan menunaikan sholat subuh, Pak Sumitro dan Pakde baru saja berangkat ke masjid untuk berjamaah.
"Pagi ini Mbak mu dateng im dari malang, tadi malem sudah ngubungi bude, katanya mau nganter kamu daftar ke pondok". Info dari bude sambil menyiapkan sarapan pagi ini.
" iya bude, kemaren sebelum berangkat sudah sms ke mamak, aku gak boleh bawa hp soalnya, biar terbiasa nanti kalau sudah dipondok".
" ndak kepengen sekolah deket sini ae ta im, terus tinggal dirumah bude, jadi berangkat dari sini, jalan kaki ae deket sekolahe" biar bude juga ada temene". Bude sedikit merayu I'im untuk tetap tinggal dan sekolah didekat rumahnya.
"I'im kepengen sekolah sama mondok bude, ya jadi gak bisa kalau mau tinggal disini, tapi nanti aku pasti sering main kok kesini, kan gak jauh pesantrennya".
__ADS_1
" oalah ya sudah, nanti kalau sudah dipondok bude juga akan sering tengok kesana". ucap bude.
drrrt....drrrt... Hp bude yang ada diatas meja berdering, ternyata ada telepon dari Tari kakak pertamanya I'im.
" Haloo.. Assalamualaikum, Waalaikumsalam". terdengar bude memberi lalu menjawab salam, mungkin mbak Tari juga mengucapkan salam berbarengan dengan bude.
" kamu udah naik kereta, lha kira2 sampai jam berapa?" bude bertanya dalam teleponnya.
"owh ya wes nek gitu nanti dijemput di stasiun".
" Mbak mu nanti dateng jam 10, minta dijemput distasiun Kertosono, jadi nanti habis dzuhur sudah bisa antar kamu daftar ke pondok pesantren". Bude memberi tahu I'im yang sedang menatap dengan tatapan bertanya.
__ADS_1
Pukul 10.30 suara motor pakde berhenti didepan rumah memboncengkan seorang perempuan tak lain adalah Tari, kakak pertama I'im yang kuliah semester akhir di kota Malang.
"Assalamualaikum" Tari mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam" jawab bude dari dalam.
begitu mendengar salam I'im dan bapakny yang sedang ada didepan tv langsung keluar. Mereka saling bersalaman dan berpelukan melepas kangen. ya mbaknya I'im ini terakhir bertemu dengan keluarga di Sumatera adalah awal tahun, ia tidak setiap tahun pulang kampung mudik, apalagi saat ini mendekati akhir perkuliahannya. Kalau lancar mungkin tahun ini dia akan lulus dan Wisuda.
" Pripon kabare pak? Lancar nggeh perjalanane?" tanya Tari pada bapaknya.
" Alhamdulillah, sehat, selamet, lancar sampai tujuan, adikmu itu yang ngeluh kok jauh katanya, mungkin di kira setelah nyebrang kapalnya terus nyampek". pak Sumitro menjawab sambil tertawa, beliau memang lebih banyak bicara kalau ngadepi si Sulung Tari, karena memang Tari orangya banyak bicara, agak sedikit cerewet malah.
__ADS_1
Sambil memeluk adiknya, Tari berucap " kalau sudah dilewati berarti ndak jauh im, tuh lihat pakde nyatanya anteng disini meski jauh dari kampung, ini mbak juga malah lebih jauh lagi di Malang".
I'im hanya tersenyum mendengar obrolan bapak sama mbaknya. Rasanya ia ingin meneteskan air mata, entah merasa bahagia karena harapannya ingin sekolah jauh terpenuhi, atau malah sedih karena akan jauh dari orang tua dan kampung halamannya.