Cita Cinta Gadis Desa

Cita Cinta Gadis Desa
Lebaran dirantau Orang


__ADS_3

Tak terasa waktu berputar, Ramadhan akan segera berlalu. I'im yang sudah dua hari ini ada dirumah budenya ikut membantu persiapan menyambut lebaran, kali ini ia akan berlebaran di tempat bude. Tak banyak yang perlu disiapkan hanya membuat beberapa kue kering juga membersihkan halaman rumah. Tidak seperti didesa yang bahkan setengah bulan sebelum lebaran sudah sibuk persiapan untuk memyambut hari raya tiba.


Banyak hal berbeda yang ditemui I'im selama ramadhan di Nganjuk, mulai dari tarawih yang tinggal pilih mau yang cepat, sedang atau lama sholatnya. Sahur yang selalu diakhir waktu, dan banyak lagi hal berbeda dari puasa didesa.


Setelah bebersih usai menjelang siang hari sambil istirahat Bude mengobrol dengan I'im dan duduk - duduk diberanda merasakan semilir angin kota Nganjuk.


" gimana im, kerasan di pondok?" tanya bude


" alhamdulillah, kerasan bude"


jawab I'im singkat.


" namanya dipondok ya gitu im, harus banyak sabar, nrimo, awal - awal ya susah tapi lama - lama juga biasa" bude memberi nasehat.


" iya bude, semoga im bisa, pelan - pelan" I'im membenarkan apa yang disampaikkan budenya itu.


" bude yakin kamu bisa nduk, coba lihat itu mbak mu, dari awal ia kesini sampai hari ini tak ada kata tak kerasan dan pengen pulang, bude lihat ia selalu happy tak pernah ngeluh ini itu, meski tidak harus seperti mbak mu itu setidaknya belajarlah dari dia, bude yakin kalian bisa sukses" jelas bude menceritakan Tari.


" iya bude, im paham" jawab I'im.


" bude, bikin nasi ambengnya nanti malem apa besok pagi?" tanya tari dari dalam rumah.

__ADS_1


" kayak biasanya ri, besok pagi sekalian dibawa ke masjid waktu sholat ied" jawab bude.


" lho disini bawa nasinya ke masjis malah pagi bude?, gak nanti malem habis isya waktu takbiran?" tanya I'im agak kaget.


" kalau disini ya besok pagi im, malem kan banyak yang takbir keliling, terus pada ngurusi pembagian zakat, jadi ya makan - makan nasi ambengnya habis sholat ied di masjid" terang bude menjelaskan.


" walaah, kalau didesa bikinnya kan malem bude, kalau pagi habis sholat ya langsung siap - siap keliling rumah - rumah" kata I'im.


" bude juga pernah lebaran disana, banyak bedanya sama disini, pokoknya kamu jangan kaget terus merengek minta pulang ya" ledek bude pada I'im.


" gak usah diceritain bude, biar jadi kejutan buatnya" minta Tari pada budenya, Tari memang sudah beberapa kali lebaran disini, bahkan pernah lebaran dipondok bersama bu nyai, jadi ia tak lagi merasa kaget akan perbedaan antara hari raya dikota Nganjuk dan hari raya di desanya.


Atas permintaan mbak nya itu, I'im semakin penasaran bagaimana hari raya disini esok pagi.


"Allahu Akbar...Allahu Akbar...Allahu Akbar......" I'im yang masih menyetrika beberapa baju dikamar mendengar takbir berkumandang tak terasa air matanya menetes, suasana malam lebaran yang terasa asing baginya mengingatkan akan kenangan saat berlebaran di desa.


" gak usah nangis, lebaran kan harusnya seneng" hibur Tari. Ia tahu adiknya itu pasti teringat akan orang tua dan keluarga didesa, ia juga pernah mengalami hal itu.


"teringat rumah mbak, sma mamak, bapak juga suasana disana, ini pertama buat ku" jawab I'im ke kakaknya itu.


" ya mbak tau, tapi nangisnya jangan lama- lama ya, nanti kita telepon mamak sama bapak" pinta Tari.

__ADS_1


Setelah kokok ayam menandakan hari mulai pagi, terlihat para anggota rumah sudah terbangun satu persatu, mempersiapkan segala sesuatu juga persiapan untuk sholat ied.


Pukul 8 pagi sholat sudah selesai, masing - masing jamaahnya sudah kembali kerumah.


" ayoo, siap - siap sarapan terus kita mau keliling silaturohim ke tetangga sama saudara, kalian ikut kan? tanya bude juga mengajak Tari dan I'im.


" ikut bude, tapi bentar ya, mau nelpon mamak sama bapak dulu didesa" jawab Tari.


" Oalah, bude juga mau nelpon mbah disana, ya sudah nanti kalau sudah siap ngmong sama bude ya" jawab bude sambil mencari Hp nya.


Setelah beberapa menit, drama telepon di hari raya itu pun usai, bagaimana tak menjadi drama, kalau belum terucap kata selain halo saja air mata sudah tak terbendung, apalagi bergantian mendengar suara orang tua, bahkan nenek dan keluarga yang pas juga sedang berkumpul disana, ditambah bude juga ikut bergabung dalam telepon menelpon itu, terdengar mamak meminta maaf sama bude sudah merepotkan dengan kehadiran anak - anaknya dan banyak hal yang mereka bicarakan.


" ayo im, siap - siap, kita perlu tenaga ekstra kalau berlebaran hari pertama disini" ajak Tari kepada adiknya.


" emangnya kenapa sich kak? kok butuh tenaga ekstra?" tanya I'im penasaran.


" udah nanti kamu pasti tau" jawab Tari tak mau menjelaskan


Keliling tetangga dan keluarga dengan bude sudah di mulai, dan masuk waktu dzuhur mereka baru kembali pulang ke rumah.


(Ternyata seperti ini to lebaran disini, pantes kata mbak tadi butuh tenaga ekstra, meski banyak kue lebaran tapi aku laper) batin I'im sambil duduk diruang tamu rumah budenya dan makan beberapa kue.

__ADS_1


Silaturohim ke semua tetangga dengan salam, masuk rumah, bersalaman lalu pergi lagi, tak pakai duduk apalagi makan kue, kadang kalau berpapasan dengan keluarga lain jadi bersamaan beberapa rombongan sampai tak mengenali mana tuan rumah mana yang tamu, katanya kalau mau makan kue lebaran di masing - masing rumah ya nanti atau besok datang lagi aja, rumah terbuka selama satu bulan penuh, sedangkan hari pertama disini berburu maaf yang didahulukan.


Begini rasanya lebaran di rantau orang. Semangat im !.


__ADS_2