Cita Cinta Gadis Desa

Cita Cinta Gadis Desa
Tiba di Kota Angin


__ADS_3

Sudah selama dua hari satu malam Bus yang dinaiki I'im melaju, mungkin tepat pukul 20.00 WIB nanti Bus tersebut akan tiba di Kota Angin Nganjuk. Itulah Kota tujuan I'im.


"Masih lama ya pak, Aku capek, kaki ku kerasa kaku" keluh I'im kepada ayahnya. Ya duduk dalam perjalanan yang memakan waktu berpuluh puluh jam, siapapun yang tak terbiasa pasti akan terasa demikian.


"Sebentar lagi im, mungkin setengah jam lagi kita sampai, yang sabar. Perjalanan mu ini baru dimulai".


Mendengar jawaban ayahnya I'im terdiam. Ia membenarkan apa yang disampaikan ayahnya itu bahwa perjalanannya memang baru mau dimulai, tak seharusnya ia mengeluh.


Bus telah berhenti, para penumpang jurusan kota Nganjuk beranjak turun. I'im dan ayahnya pun turun dengan membawa barang bawaan. Hawa hangat atau malah bisa dikatakan panas dikota Nganjuk sangat terasa bagi gadis 16 tahun itu, ditambah tubuh yang sudah lengket karena 2 hari ini ia tak sempat mandi selama perjalanan.

__ADS_1


Seolah mengerti kegelisahan putrinya, pak Sumitro segera menghampiri tukang becak yang berjejer disisi jalan. " becaknya ya pak, turun di termas". Beliau menyebutkan alamat rumah saudara sepupu bu lasmi dari Sumatera yang tinggal di kota tersebut.


Ya, mereka memang datang dari pelosok desa diujung pulau Sumatera, tepatnya di ujung Selatan Sumatera Selatan yang berbatasan langsung dengan provinsi Lampung.


Tiba dirumah sederhana milik pakdenya. I'im bergegas ke kamar mandi untuk mengguyur badannya supaya segera merasa segar. Kalau didesa ia terbiasa mandi dengan air hangat, disini seoalah ia tak mau beranjak dari kamar mandi, karena memang cuaca dikota Nganjuk sedikit panas, meski angin selalu berhembus dari pepohonan disekitar rumah.


"Jangan lama - lama dikamar mandi, nanti masuk angin im". Bude meneriaki I'im dari luar kamar mandi yang memang hanya bersebelahan dengan dapur.


" Bude disini emang hawanya "Semromong" kayak gini ya tiap hari?" tanya I'im.

__ADS_1


" yo ndak no nduk, ini kayaknya mau hujan, biasanya tiap hari angin semribit, makanya kota ini dijuluki kota Angin".


" kenapa? sumuk ya?, biasa kalau orang sumatera datang kesini ya pasti komentarnya gitu, panas, keringat gak mau berhenti meskipun habis mandi". Jawab bude malah jadi cerita.


" Bener bude, rasanya pengen ngadem aja dikamar mandi, semoga saja besok gak sepanas ini".


Bude meninggalkan I'im sambil tersenyum tanpa menjawab doanya. Beliau berjalan ke ruang tengah untuk menyiapkan makan malam, kasihan tamu dari jauh pasti lapar. Bude memanggil suaminya dan tamunya untuk segera makan malam bersama dengan lauk seadanya.


Waktu pun terus beranjak malam, mungkin karena efek capek karena bepergian jauh, I'im segera pamit untuk istirahat, begitu pula pak Sumitro. Diiringi hujan yang ternyata memang mengguyur kota Angin setelah makan malam usai tadi, seolah mengucapkan selamat datang kepada I'im di malam pertamanya di kota itu.

__ADS_1


"Semoga esok cuaca disini bisa bersahabat dengan pendatang baru seperti ku" gumam I'im sebelum terbuai mimpi setelah berbaring dikasurnya. Ia masih merasa seperti didalam bus, belum hilang efeknya. Untung saja dia tidak terkena mabuk darat, kalau meniru kedua kakaknya mungkin setelah seminggu baru hilang efeknya.


__ADS_2