Cita Cinta Gadis Desa

Cita Cinta Gadis Desa
The Power Of Tari


__ADS_3

Siang ini setelah I'im tiba dipondok usai sekolah, kakaknya memberi tahu kalau berangkat ke Malangnya di ajukan menjadi besok pagi, sebab malamnya Tari ada kegiatan buka bersama dengan teman - teman organisasinya.


" im, kita berangkat ke Malang besok, jadi sore ini siapin lah barang - barang mu, gak usah banyak - banyak kita disana cuma tiga malem aja" perintah Tari kepada adiknya.


" katae nunggu aku libur pondok mbak, kan masih lusa, emang boleh izin sama bu nyai?" bukan melaksanakan perintah I'im malah balik tanya ke kakaknya itu.


" seharusnya iya, tapi tadi mbak dapat info dari temen mbak di kampus, kalau besok malem mbak ada kegiatan di organisasi, jadi mbak harus balik ke Malang besok, untuk izinmu, mbak udah pamit sama bu nyai beliau mengizinkan, cuma kalau udah pulang kesini harus ke Pondok dulu gak bolej langsung kerumah Bude" jawab Tari menjelaskan.


Tanpa banyak tanya lagi I'im langsung menata barang yang mau dibawa ke Malang, hanya beberapa baju dan peralatan mandi juga tak lupa alat tempur wajahnya, ia tahu kalau kakak pertamanya itu tak punya alat - alat berbau make up, mungkin sampai kuliahnya mau berakhir kakaknya itu belum pernah memakai maskara dan teman - temannya katanya nunggu wisuda aja atau sekalian nanti pas make up kalau mau jadi manten. Memang kakaknya itu lumayan beda dengan gadis seusianya.


" lho mbak im kok siap - siap masukin baju ke tas mau kemana?" tanya mbak Umi temen sekamar I'im yang sekarang mulai akrab, meski Umi lebih dulu mondok disini namun mereka se usia hanya saja mbak Umi tidak lanjut sekolah, ia fokus untuk menghafal Alqur'an.

__ADS_1


" mau ikut ke Malang mbak Um, besok berangkatnya" jawab I'im tanpa berhenti menata baju - bajunya itu.


" lho bukannya besok belum libur ya mbak, kan baru lusa liburnya, besok itu harus ikut Ro'an atau kerja bakti gitu" mbak Umi agak kaget karena setahunya memang I'im berencana pergi hari Sabtu sedangkan besok masih hari Jum'at.


" ganti jadwal mbak Um, kenapa kok kayak kaget gitu responnya?" tanya I'im.


" gak kaget sich sebenernya, kan emang udah tau kalau kamu mau ikut ke Malang, tapi kok bisa gitu lho jadwalnya maju, padahal biasanya disini kalau izin mau keluar atau pulang gitu kan agak susah, ribet lah" kata Umi sambil ikut membantu merapikan baju yang akan dimasukkan kedalam tas oleh I'im.


"kok bisa mbak?" tanya Umi tambah penasaran.


"ini cerita dari mbak Tari sendiri lho, katanya setiap kali mau pamit ada kegiatan sekolah dulu, atau bahkan libur sekolah mau main kerumah teman mbak Tari selalu dapat izin, kalau memang tidak bertabrakan dengan kegiatan pondok, itu karena mbak Tari orangnya gak neko - neko, cuek sama makhluk yang namanya laki - laki, juga selalu jelas tujuannya mau A,B,C gitu mbak"

__ADS_1


" owh gituu" Umi menanggapi dengan mengangguk - anggukan kepalanya.


" terus kata temen - temen mbak Tari, mbah nyai aja kalau mau ke pasar atau cek kesehatan di klinik suka minta diantar sama mbak, padahal cuma naik sepeda ontel, bahkan ceritanya pernah jatuhin mbah nyai juga pas naik sepeda, kan mbak ku emang belum bisa naik motor" cerita I'im sambil meletakkab tasnya yang sudah siap dipinggir kamar.


" kalian ngbrolin apa kok kayaknya seru?" tanya Tari yang baru masuk kamar, dia baru saja menemui mbah nyai yang ada di ruang tengah.


" ada dech mbak, ya memang seru kok ceritanya" jawab Umi tanpa menjelaskan apa yang ia dan I'im bicarakan.


" ya udah, ayo siap - siap masak, udah mau sore, mbak juga di minta mbah nyai buat beliin sayuran di warung" kata Tari sambil mengajak adik dan temannya itu untuk beranjak.


I'im dan Umi hanya saling tatap dan mengangguk seolah membenarkan cerita mereka tadi.

__ADS_1


__ADS_2