
"I'im pamit bude, doain ya biar kerasan dipondoknya". pamit I'im kepada bude nya sambil minta doa, entah dia agak merasa takut kalau - kalau ia tak betah tinggal di pesantren. Ia takut tak bisa seperti kakak - kakaknya yang sudah luar dalam hafal kehidupan pesantren. Hal itu terkadang menjadi motivasi baginya untuk bisa seperti kedua kakaknya namun juga terkadang itu menjadi beban ketakutannya bagaimana kalau ia tak bisa mengikuti jejak kakaknya.
" yo kudu kerasan to im, kasihan itu bapakmu jauh - jauh nganter sampek sini, kalau ndak yo coba itu tanya sama mbak mu, dia ahlinya kerasan hidup dimana - mana". bude menjawab sambil tertawa meski nadanya meledek Tari yang sedang menata barang - barang yang perlu dibawa ke pondok pesantren.
Sesampainya di pesantren, keadaan agak sepi, karena memang bertepatan dengan pelaksanaan sholat dzuhur diruang sholat tengah dipondok putri tersebut, Al Falah itulah nama PonPes yang dituju I'im dan keluarganya. disana juga Tempat dulu Tari menimba ilmu sebelum melanjutkan kuliah. bukan pondok pesantren besar dengan ribuan santri seperti tempat Jannah kakak kedua I'im menuntut ilmu, namun demikian disini malah lebih terjaga, sebab dengan santri yang tidak banyak para pengurusnya bisa lebih mudah mengurusnya.
"Assalamualaikum" Tari mengucap salam.
" Waalaikumsalam" Mbah nyai pun menjawab salam. Beliau Ibu dari Kyai yang mengasuh pondok pesantren tersebut, dengan bimbingan beliau banyak santri putri yang sudah menjadi orang - orang besar setelah lulus dari sana.
__ADS_1
Selaku orang tua, pak Sumitro dan Pakde sebagai wali memasrahkan I'im kepada Mbah Nyai, karena pada saat itu pak Kyai sedang bepergian jadi tidak ada dipondok.
" ya kalau sudah ada niat mondok disini semoga Allah memberi kemudahan, keberkahan. Tanggung jawab kami disini selaku pengasuh pondok, semoga nak...sinten tadi namanya? owh ya nak Fatimah Az Zahra bisa kerasan, bisa mengikuti aturan pondok, dan semoga mendapat ilmu yang manfaat".
" Amiiin...!!
Setelah sowan, Tari mengajak I'im untuk mendaftar kepada pengurus dan meletakkan barang - barang ke kamar yang sudah ditentukan oleh pengurus tadi.
Setelah dirasa selesai berkemas dan juga keliling untuk melihat - lihat suasana pondok. I'im dan Tari menemui ayahnya di samping masjid, pak Sumitro memang tidak diperbolehkan untuk ikut masuk ke kamar asrama putrinya. karena sudah peraturan dari pondok.
__ADS_1
Jadi beliau menunggu sambil istirahat di Masjid pondok yang berdekatan dengan asrama putra.
" Malam ini kamu sudah harus tidur di sini nduk, bapak pulang ke tempat bude, seng ati - ati, seng tenanan ngaji dan belajare !" pesan pak Sumitro kepada putrinya. Mendengar itu I'im merasa penuh di dada, bukan hal yang muluk yang diminta bapaknya, tetapi hal itu terasa berat baginya.
"nggeh pak, doain I'im ya". sambil memeluk bapaknya I'im menjawab dengan air mata yang berurai.
begitupun Tari yang melihat itu tak kuasa membendung tangisnya, ia merasa beban orang tuanya untuk membiayai sekolah mereka pasti akan bertambah, jadi dia akan membantu sebisanya dengan hidup sederhana, tanpa mengikuti euforia kehidupan mahasiswa. dia juga berniat untuk membantu adiknya agar kuat dan bisa hidup dipesantren dengan nyaman.
# kira - kira bisa gak I'im nyaman hidup dipesantren???
__ADS_1