
Pagi ini I'im telah bersiap untuk kembali ke pondok, kali ini Jannah juga ikut mengantarnya untuk melihat tempat tinggalnya. Usai sudah liburannya, kegiatan ngaji di pondok sudah menunggu, pelajaran sekolah pun sudah menanti.
Mengingat kembali pesan dari kakaknya, I'im bertekat untuk belajar dengan giat agar bisa membanggakan orang tuanya, ditambah setelah subuh tadi emak dan bapak menelepon, menanyakan kabar kedatangan Jannah juga menanyakan kapan ia akan kembali ke pondok, tak lupa doa terbaik selalu mereka berikan.
sesampainya di pondok, I'im dan kedua kakaknya menghadap bu nyai terlebih dahulu, banyak hal yang disampaikan oleh bu nyai sebagai wejangan untuk mereka, yang intinya belajar itu pelan - pelan yang penting istiqomah dan banyak yang lainnya.
setelah bertemu dengan bu nyai I'im kembali ke kamar asramanya untuk bertemu teman - teman kamarnya yang sudah kembali ke pondok terlebih dahulu.
" wah mbak im baru dateng?" tanya salah seorang santri putri.
" iya mbak, kemaren nunggu mbak datang dulu yang dari sumatera" jawab I'im
" kalau mau jadi santri yang baik itu harusnya datang tepat sesuai jadwal, untung aja peraturan belum ditetapkan, kalau udah bisa - bisa kena denda kamu" mbak nita yang entah kenapa selalu sensi kepada I'im itu berkomentar.
" iya mbak maaf, lain kali tidak lagi" I'im menjawab tanpa banyak kata, dia merasa mbak nita selalu mencari - cari kesalahannya, seperti orang yang sedang iri saja.
" mbak iiiiiiim" suara lengking dari seorang Umi meleburkan ketegangan yang ada saat itu.
" udah dateng dari tadi ya?" kok udah rame - rame? mana mbak e sampean yang baru dateng dari sumatera?" pertanyaan datang bertubi - tubi dari Umi yang antusias akan kedatangan I'im.
" baru nyampek kok mbak um, itu mbak jannah masih sama mbak Tari diruang bu nyai". jawab I'im.
__ADS_1
tak lama Tari dan Jannah muncul didepan kamar tersebut.
" wah ini berdua mbak e mbak im ya, kalian bertiga kok gak pada mirip ya? mbak im paling beda sendiri" masih Umi yang paling heboh akan kedatangan ketiga saudara tersebut.
"semua orang juga bilang begitu" jawab Tari singkat yang malah membuat semua yang ada disana tertawa.
" udah, sekarang disiapin barang - barangmu, besok juga masuk sekolah kan? biar bisa tahu apa - apa aja yang kurang, mbak mau ngajak Jannah dulu keliling - keliling" Tari menyuruh I'im untuk menata barang - barangnya, ia tak mau berlama - lama karena besok ia sudah harus mengantarkan Jannah ke Jombang untuk mengurus segala keperluan persiapan kuliah adiknya itu.
" mbak im, ada yang mau aku tanyakan lho" Umi yang membantu I'im menata barang -barang pun mengajak mengobrol.
" kamu ini lho mbak kok aneh, kan nanya tinggal nanya aja" jawab I'im.
" sms yang mana? mungkin mbak q yang pegang, tapi biasanya aku dikasih tau kalau ada sms dari temen ku, emang pesan sms nya apa?" jawab I'im juga menanyakan isi sms itu.
" mbak im itu dapat salam dari kang santri" jawab Umi.
"salaaam?" tanya I'im terkejut,
" dari kang siapa?" lanjutnya.
" gak boleh dikasih tau, sebelum ada respon dari mbak im" jawab Umi.
__ADS_1
( owh berarti soal sms ini yang mbak Tari tanyakan malam kemarin) batin I'im.
" udah mbak Umi, aku bukannya sok ini dan itu, tapi aku gak mau nanggepi hal semacam itu lah, aku bisa dimakan nanti sama mbak Tari kalau berani macem - macem" Tari menjelaskan, ia juga tak ingin tahu dari siapa salam itu.
" iya dech mbak, aku juga tau nanti aku sampaikan dech respon sampean ini ke orangnya, bener mbak im gak kepengen tahu dari siapa?" Umi bertanya.
" lha tadi katanya gak boleh tahu, ya wes, gak kepengen tahu juga" jawab I'im
Pagi harinya, Tari menemani I'im menunggu angkot didepan pondok untuk berangkat sekolah.
" habis ini mbak langsung nganter mbak Jannah mu ini ke Jombang dan langsung pulang ke Malang, doain mbak ujian skripsinya lancar jadi bulan oktober nanti bisa wisuda" pamit Tari pada I'im
" terus mbak kesini lagi kapan?" tanya I'im.
" mungkin bulan depan, mbak tadi udah ngobrol - ngobrol sama bu nyai mau pesen baju wisuda dipondok aja kan banyak mbak santri yang bisa jahit baju" jawab Tari.
" sebenernya enak kalau aku bisa pegang hp mbak, bisa ngubungi mbak juga mbak Jannah kalau ada yang aku perlukan" I'im merayu mbaknya itu.
" nanti belum waktunya, kamu gak bawa hp aja ada yang udah niat titip - titip salam gitu, apalagi kalau bawa hp sendiri, ingat! gak usah aneh -aneh belajar dulu yang bener, dalam dunia belajar itu jangan main - main kasihan emak sama bapak" panjang lebar Tari menasehati adiknya itu.
dan tanpa ada yang menyadari bahwa ada telinga yang mendengarkan percakapan mereka sejak tadi, orang yang ada dikamar gus Imam putra pak kyai yang berada diujung dekat jalan dengan jendela terbuka, orang tersebut hanya diam lalu tersenyum setelah angkot datang dan membawa I'im pergi sekolah
__ADS_1