CRAZIEY

CRAZIEY
PROLOG


__ADS_3

Larissa menatap makanannya dengan tidak nafsu, ia meletakkan kembali sendok dan garpu ke atas meja makan. Ia lebih memilih untuk kelaparan daripada memakan makanan yang menjijikkan itu. Kepiting mentah makanan khas yang berasal dari Thailand yang katanya enak dan disukai banyak orang, tapi tidak dengan dirinya, ia bahkan tidak bisa memakannya, membayangkan bahawa dia akan makan makanan mentah tersebut sudah cukup untuk membuatnya sakit perut.


Sementara itu, pria yang berada dihadapannya makan makanan yang terlihat lebih lezat dari makanan yang dimiliki oleh gadis itu.Beef steak dengan saus mentega, melihat pria itu makan dengan lahapnya saja sudah membuat perut Larissa keroncongan. Kenapa ia begitu bodoh memesan makanan Thailand, ini semua salahnya karena ia menunjuk menu dengan asal.


"Kenapa tidak makan?" Tanya pria itu.


Larissa tersenyum kecut.


"Aku tidak lapar". Ia tidak bisa mengatakan perkara yang sebenarnya, karena ia merasakan malu yang luar biasa.


Pria itu menghentikan suapannya lalu memanggil seorang pelayan. "Bersihkan makanan ini dan bawakan menu yang sama seperti punyaku." Ia kembali memesan.


"Baik Tuan"


Kepiting merah itu disingkirkan dari atas meja makan. Larissa berseru dalam hati, ternyata protagonis utama novel ini adalah orang yang cukup peka.


Sembari menunggu pesanannya, Larissa menatap pria dihadapannya dengan seksama. Ia memiliki mata yang tajam, bibir merah yang tipis, kulit putih mulus, alis tebal, dan yang paling mencolok diantara semuanya ialah 3 tahi lalat dekat sudut matanya, itu terlihat seperti rasi bintang.


"Kamu sangat tampan" Larissa tidak bisa menahan diri untuk tidak memujianya.


"Aku tahu dan terima kasih." Kepercayaan diri dari mana itu.


Beberapa saat kemudian, hidangan datang dan tanpa melanjutkan kata-katanya Larissa mulai menyantap makanannya karena ia merasa sangat lapar.


"Lalu kenapa kau memilih aku daripada Kaitlyn?" Akhirnya pertanyaan itu keluar dari bibirnya.


Pria itu berhenti mengunyah, matanya yang tajam melirik Larissa sekilas dengan angkuh, Larissa yang menerima tatapan itu tanpa sadar menelan makanannya sebelum dikunyah.


Semengerikan itulah tatapan mata tajam milik protagonis pria.


Larissa meminum airnya hingga habis segelas, dan itu membuat lehernya sakit sekali.


"Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya pria itu.


Gadis itu menarik nafas dalam-dalam kemudian membuangnya dengan perlahan.


"Aku ingin kita putus." Diam-diam Larissa melirik ekspresi pria itu dari ujung matanya.


Pisau daging di tusuk dengan ganasnya sehingga membuat Larissa menelan salivanya.

__ADS_1


Apa ia akan jadi seperti daging itu?!


"Yakin?" Pria itu membawa potongan daging tersebut di hadapan Larissa, menyodorkan tepat di depan mulut gadis itu.


"Jika kita putus kamu tidak akan bisa makan makanan lezat seperti ini lagi." Pria itu menari-narikan daging itu tepat di depan bibir Larissa.


Gadis itu hampir saja tergoda, ia dengan laju menggelengkan kepalanya untuk membuang segala pemikirannya sebentar tadi.


"Tapi aku capek"


Alis pria itu terangkat sebelah, ia menghentakkan pisau di atas piring sehingga menimbulkan suara yang cukup keras untuk menarik perhatian orang sekitar.


"Kamu hanya perlu duduk dan makan malam denganku, lalu akan ku bayar dengan harga yang sudah dijanjikan, apa itu melelahkan? atau kamu tidak kenyang?"


Larissa menggelengkan kepalanya, merasa gemas dengan tingkah pria ini.


"Tapi aku dibenci oleh banyak orang, mereka terus bilang bahawa aku ini pelakor."


Pria itu tertawa sinis , "benar kah?"


Dia kembali menyodorkan Larissa sepotong daging, dan kali ini gadis itu membuka mulutnya dan pria itu menyuapinya. "Bukankah memang seperti itu?"


Larissa mengangguk, benar dia memang seorang pelakor.


Pipi Larissa merona merah. "I-itu hm satu sekolah?" Ia memang benar di benci oleh semua orang.


"Apakah benar begitu?" Nada suaranya khas sekali ketika mengatakan kalimat itu.


"Mau eskrim?" Tawarnya.


Larissa mengangguk eh tidak ia menggelengkan kepalanya, ia harus tegas supaya dapat segera putus dengan pria ini sekarang juga.


"Cake?"


Larissa kembali menggelengkan kepalanya.


"Cokelat?"


Tetap sama.

__ADS_1


"Crepes?"


Sama juga.


"Putus?"


Sama ehh tunggu!


Larissa menatap pria itu dengan melotot.


"Kamu menjebakku?!" Serunya kesal.


Pria itu menyeringai, "Kamu yang tidak mau, padahal aku sudah bertanya"


Dasar bajingan!


Pria itu sangat pintar dalam memanipulasi seseorang.


Arghhhhh!!!


...****************...


TERIMA KASIH KARENA SUDAH MEMBACA.


MAAF YA UNTUK SEMUA KESALAHAN EJAAN DAN BAHASA.


MAAF JUGA KARENA AUTHOR MASIH SEORANG PEMULA YANG BELUM BISA UNTUK MELAKUKAN ALUR CERITA SEPERTI YANG KALIAN INGIN KAN.


BAGI YANG TIDAK NYAMAN DENGAN CERITA INI, MOHON PERGI.


...----------------...


...KEPADA SEMUA PEMBACA BARU, AUTHOR UCAPKAN SELAMAT DATANG...


...DAN...


...TERIMA KASIH KARENA SUDAH MENEMUKAN CERITA INI...


...SELAMAT MEMBACA HINGGA KE PART YANG TERAKHIR YA....

__ADS_1


...LOVE FROM AUTHOR ❤...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2