CRAZIEY

CRAZIEY
Bab 09


__ADS_3

Rumah sakit adalah tempat yang paling ia suka dan benci dalam satu waktu. Rumah sakit adalah tempat mereka bertemu untuk pertama kalinya dan rumah sakit juga menjadi tempat mereka berpisah untuk selamanya. Penyakit yang menggerogoti pria itu membuat ia kehilangan nafas kehidupan dan membuat tekad nya untuk bertahan hancur sia-sia.


Ketika ia pergi semua perasaan yang tidak pernah ia miliki menghancurkan tubuhnya, la seperti cangkang kosong dan tidak memiliki apapun untuk dilanjutkan.


Kekasihnya pembawa sisi baiknya dan menyisakan sisi buruk yang busuk.


"Aku tidak tahu bagaimana harus hidup kalau kamu pergi." Dia menyatakan hal ini saat itu, beberapa menit sebelum pria itu pergi.


Pria itu hanya tersenyum manis, wajahnya yang pucat sedikit berwana. "Kalau begitu mari ikut dengan ku."


Gadis itu mematung sesaat. "Aku boleh ikut dengan mu?" la dengan senang hati akan melakukannya.


Pria itu mengangguk lemah. "Tentu saja"


"Kemanapun?"


Pria itu tertawa geli, la menghapus air mata gadis itu. "Kemanapun."


"Janji?" Gadis itu mengeluarkan jadi kelingking nya.


Pria itu mengapitnya. "Aku janji, kemanapun itu aku akan mencari mu."


Gadis itu menggelengkan kepalanya, ia menempelkan telapak tangan pria itu di pipinya yang basah. "Aku yang akan mencari mu, kamu hanya perlu menikmati hidup dan aku akan menemukan mu." Dia mengecup telapak tangannya.


Pria itu tersenyum manis, merasa sangat puas dengan kehidupan yang singkat ini. "Terima Kasih." Ia hampir melupakan nama itu.


Satu-satunya pacarnya.


Satu satunya orang yang ia cintai.


Satu-satunya orang yang mencintal nya.


Pacarnya di kehidupan sebelumnya.


Dengan sisa-sisa kewarasannya Larissa kembali mendekati Eric, ia menarik kemeja pria itu. "Cowok yang berdiri di samping Adrian itu siapa?" tanyanya.


Eric menatap Larissa dengan bingung,


gadis itu tiba-tiba berubah sendu. "Lo kenapa?"


Larissa menggelengkan kepalanya. "Dia siapa?"


Mata hitam itu menatap Eric dengan sorot penuh kesedihan.


"Ada apa?"


Eric melihat pria yang berdiri di samping Adrian , ia mengenalinya. "Itu Kevin, teman Adrian dari SMA Negeri 1."


Eric tertawa geli. "Jangan bilang dia mau dijadikan mangsa lo yang selanjutnya, dia engga sekaya Adrian, Gue, Jackson atau mantan-mantan lo yang lain." Nada suaranya sombong sekali. "Dia itu antek-antek Adrian ."


Larissa mengigit bibirnya. "Gue mau sendiri dulu." Dia melepaskan kemeja Eric dan berlari pergi menjauhi dari kerumuman itu.


Sesampainya di tempat yang cukup jauh akhirnya air mata Larissa jatuh membasahi pipinya.


"Kamu hidup disini," gumam gadis itu.


Meksipun namanya berbeda, wujud dan wajahnya benar-benar sama.


Mirip, bahkan sangat mirip.

__ADS_1


Semuanya.


Mata, rambut, dagu, pipi, kulit, dia seperti terlahir kembali di dunia yang berbeda. Mata sayu itu tidak ada lagi, tubuh kurus kering juga tidak ada, kulit yang terlalu putih karena jarang terkena sinar matahari juga tidak ada, dia sehat, tertawa, dan bisa berdiri dengan baik tanpa bantuan kursi roda


Larissa tertawa bahagia dengan air mata yang masih mengalir dengan deras.


"Sekarang aku tahu untuk apa aku ada di dunia novel ini. Dia menatap buan yang bersinar terang langit mengabulkan semua keinginan dan doa ku. Bintang-bintang bahkan muncul tanpa malu-malunya sama seperti perasaan lama yang kembali hadir.


Semua itu sangat indah, seindah hatinya saat ini.


Namanya Kevin


la harus memanggilnya Kevin, ya Kevin.


Larissa tersenyum sumringah.


"Kevin..." lirih nya.


Dia adalah gadis yang egois dan gila.


...***...


Sekarang ia memiliki tujuan.


Pertama-tama ia harus melakukan apa yang seharusnya ia lakukan.


Sepulang sekolah Larissa berdiri dengan manis di depan gerbang sekolah SMA Negeri 1 di Kota ini. Rambut nya ia gerai dengan bandana berwana merah yang setia menghiasinya, ia menggunakan make-up tipis untuk menarik perhatian seseorang yang sudah ia tunggu sejak 1 jam yang lalu.


Gadis itu benar-benar tidak putus asa meskipun seseorang yang ia cari tidak diketahui sudah pulang atau belum.


"Lo ngapain disini?"


"Siapa?" ketus Larissa.


"Mantan lo sendiri bisa lupa yah?" Pria itu mendekati, wajah mereka terpaut beberapa centi.


"Beneran engga ingat gue?" Suaranya berubah dingin.


Larissa jatuh terduduk, seluruh tubuhnya merinding dan tatapan mata gadis itu dipenuhi dengan rasa takut.


"Akhirnya ingat." pria itu tersenyum seperti Iblis, la berjongkok di hadapan Larissa dan mengelus-elus rambut gadis itu.


"Engga mungkin lupa sama gue kan? Larissa sayang."


Dia tidak takut sungguh, la sama sekali tidak takut namun respon tubuh itu benar-benar di luar logikanya, Larissa tidak mengerti apa yang terjadi dan ia bertanya-tanya apa hubungan Larissa yang asli dengan pria berwajah polos di hadapannya ini.


"Woi?" kata-kata pria itu terhenti ketika seseorang menarik tasnya dengan kasar.


Mata Larissa berkaca-kaca dan tanpa menunggu lama gadis itu langsung menangis.


Kedua pria itu langsung panik di tempat.


"Anjing Larissa! Gue cuma bercanda, jangan nangis dong!"


"Wah wahh lo" Pemuda yang menarik tas pria itu bertepuk tangan.


"Anak orang lo buat nangis."


"Diam lo Vin! Dasar kompor!"

__ADS_1


Kevin terkekeh geli. "Awas lo di amuk Adrian entar."


"Ih jangan lo aduin anjritt! Woy siapapun yang ambil video gue putusin kepala lo!"


Berkat peringatan itu beberapa siswa-siswi yang sempat memvideokan kejadian tersebut langsung menghapusnya dari ponsel mereka, siapa yang tidak takut padanya.


Tristan adalah anggota anak-anak nakal di Kota yang diketahui oleh Adrian.


Larissa menghapus air mata yang terus mengalir deras, ia berusaha untuk menenangkan hati dan pikirannya. Ia datang ke sini bukan untuk menangis atau menjadi gadis yang cengeng seperti dulu, ia ada disini untuk menemukan kekasihnya seperti janji yang ia buat di kehidupan sebelumnya.


Matanya merah, hidungnya merah dan tekadnya juga merah.


Bulat maksudnya.


"Gue Larissa." Ia mengulurkan tangannya pada pemuda di sebelah Tristan.


Kevin menaikkan sebelah alisnya, dengan ragu-ragu ia menyambut uluran tangan gadis itu. "Kevin."


Larissa mengangguk. "Salam kenal."


"Gue engga cocok jadi mangsa lo selanjutnya, gue miskin." Kevin berterus terang.


Tristan mengangguk setuju. "Dia aja belum makan siang karena engga ada duit."


Larissa tersenyum lebar mendengarnya. "Kalau gitu ayo makan siang bersama, aku traktir." Dia menggenggam tangan Kevin dengan erat.


Kevin merasa sangat tidak nyaman, perlahan-lahan pemuda itu menarik tangan nya. "Engga bisa, gue harus kerja. Byel" Dia pamit begitu saja.


Larissa mengikutinya.


"Jangan dong!" Tristan menahan gadis itu. "Ngapain ngikutin dia? Mending ikut gue."


Larissa berdecak kesal, sekarang rasa takut yang tubuh ini rasakan tadi berubah menjadi amarah dalam dirinya. "Sialan, muka lo terlalu enek kalau dilihat."


Dia menarik tangannya dan berlari dengan kencang untuk menyusul Kevin yang sudah menaiki angkutan umum.


Tristan terdiam, ia menatap tangannya tidak percaya.


"Dia nolak gue?" Tristan tercengang


Ini pertama kali ada gadis yang berani menolaknya.


Menarik


Tristan tertawa geli. "Yahhhh karena dia sekarang juga masih sendiri." Dia menjilat bibirnya lalu sambung berkata "Siapapun bisa mendekatinya bukan?"


Adrian bodoh! Dia sudah membuang domba kecil yang diinginkan oleh semua para serigala.


...****************...


...HALLO SEMUAAA SALKEN YA DARI AUTHOR...


...MAAF KALAU CERITANYA AGAK CLINGY....


...MAAF JUGA ATAS SEMUA KESALAHAN YANG KALIAN TEMUI....


...BTW MAKASIHH YAA UDAH MAU NGEBACA KARYA AKU....


...SARANGBEYOOOO SEMUAAA ❤️...

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2