
"Pegangan di pinggang gue!" Larissa menjerit keras, mereka sedang berada di atas motor, takut tidak akan terdengar jika ia bisik-bisik atau pura-pura lembut seperti ketika pertama kali mereka bertemu.
Kevin sedikit tersentak, ia menggelengkan kepalanya. "Engga, gue pegangan belakang aja." Tidak mungkin ia memeluk gadis ini, Adrian pasti akan marah padanya.
"Ck, nanti jatuh loh!"
"Engga."
Larissa menggeram kesal, akibatnya ia melampiaskan hal itu pada polisi yang sedang tidur di jalanan.
Refleks Kevin terdorong ke depan dan kedua tangannya memegangi pinggang gadis itu.
Itu refleks anjing! Bukan sengaja!
"Lo hati-hati dong! Sini biar gue yang bawa motornya!" Dia kesal sekarang.
Larissa mengehentikan motornya dengan laju, ia turun dan membiarkan Kevin mengambil alih. Sekarang Kevin duduk di depan dan Larissa numpang di belakang sembari memeluk pinggangnya dengan erat.
Telinga laki-laki itu memerah. "Jauh dikit, gue gerah!" serunya.
"Ah? Apa? Engga dengar?!" Larissa membalasnya, ketara sekali kalau gadis itu sedang berpura-pura.
Kevin tidak melanjutkan perkelahian ini "Lo mau kemana?"
"Dojo kakek lo, bawa gue kesana."
"Yakin mau Join? Latihannya keras dan lo itu cewek" Dia menyindir tentang gender.
Larissa menggosok pipinya ke punggung Kevin, berharap rasa nyaman dan aroma tubuh pria itu bisa bertahan lama di indra penciuman nya.
"Yakın." Gadis itu memiringkan kepalanya, menatap kosong ke depan lalu memejamkan matanya.
Rasa rindu itu kembali hadir, air mata Larissa jatuh dan terbang di bawa angin.
Ringan sekali air matanya tidak seberat rindunya.
Kevin melirik kecil dua tangan mungil yang melilit pinggangnya. Ntah itu perasaannya saja atau bukan karena kedua tangan itu semakin erat memeluk dirinya, hampir seperti tidak mau melepaskan. Untuk sekarang ia akan membiarkannya, mungkin gadis ini memiliki masalah besar dan membutuhkan tempat untu bersandar.
"Sudah sampai." Waktu berjalan terlalu cepat.
Larissa turun dari atas Motor, jemarinya menarik Kaos milik Kevin.
"Gue mau parkir motor." Itu menggemaskan kalian tahu.
Dia melepaskan kaos pria itu namun masih setia mengikutinya di belakang seperti anak ayam.
"Kamu sudah pulang."
Larissa dan Kevin menaran sumber suara disana ada seorang pria paruh baya yang berbadan kekar dengan janggut panjang berwarna purih miliknya. Dia menggunakan Kinagashi berwarna putih, sepertinya itu kakek Kevin yang merupakan keturunan jepang asli.
"Kakek." Kevin memberikan salam khas taekwondo kepada Kakeknya.
"Hm." Mata tajam kakek beralih pada Larissa "Dimana Adrian? Kenapa tidak ikut? Adrian juga merupakan anggota di Dojo ini"
Kevin melirik Larissa yang mengalihkan pandangannya.
"Dia tidak bisa datang apartemennya kosong" Ia terpaksa harus berbohong.
"Hubungi dia, jika memang dia berniat untuk ikut lomba harusnya ia tidak bisa melewatkan latihan."
"Baik kakek."
"Lalu siapa kamu?" Kali ini Kakek Kevin bertanya pada Larissa.
Larissa membungkuk, ia memberikan salam yang mirip dengan yang Kevin lakukan. "Saya Larissa Kakek, mulai hari ini saya ingin berguru pada anda."
Kevin sedikit terkejut, ia kira Larissa hanyalah seorang amatiran ternyata gadis itu bisa melakukan dasar dasar Taekwondo dengan baik, bahkan posisi kaki dan kuda kuda bagus, seperti seseorang yang sudah lama berlatih.
"Ho oh, gestur badan yang bagus." Kakek memberikan pujian.
__ADS_1
"Kevin siapkan teh dan kamu ikut dengan ku."
Kakek Kevin bertanya padanya alasan bergabung dan Larissa menjawab kejadian di angkutan umum hari ini membuatnya trauma dan ingin belajar Taekwondo untuk melindungi diri, sebenarnya alasan utamanya agar ia bisa melihat Kevin mereka tidak bisa bersama di Sekolah
Kakek pergi untuk mengurus hal penting Larissa diterima dengan senang hati dan latihan 3 kali dalam seminggu bebas ingin datang di hari kapan aja. Sekarang hanya ada mereka berdua disini, duduk bersebelahan di pisahkan dua cangkir teh.
"Adrian latihan hari apa aja?" tanya Larissa.
"Senin, Rabu, Jumat."
"Oh." Ia tidak akan datang di tiga hari itu.
"Lo sama Adrian kenapa?" Hm sepertinya Kevin Kepo
"Kami udah putus dan Adrian ngajak balikan bahkan sampai bilang mau mutusin Kaitlyn buat gue. Larissa menatap Kevin, pipi gadis itu merona karena ternyata Kevin juga sedang menatapnya.
"Gue boleh minta nomor lo?"
"Nomor Dojo, itu nomor gue." Kevin menunjuk papan iklan Dojo mereka, ada nomor ponselnya disana.
"Oh" Buru-buru Larissa mengetik nya.
Kevin merogoh sakunya, ponselnya bergetar
Larissa nyengir. "Itu nomor gue"
"Oh, oke"
"Simpan," tegas Larissa.
"Iya." Kevin mengetik sesuatu di layar ponselnya.
Larissa mengintip. "Nama gue siapa disana?"
"Larissa." jawab Kevin.
"Iya," saut Larissa.
"Eh engga usah deh, malu." la menyembunyikan ponselnya.
"Dih" Kevin terkekeh gell.
"Kevin udah punya pacar?" tanya Larissa.
Teh yang sedang Kevin minum langsung menyembur keluar, ia cukup terkejut dengan pertanyaan yang berani itu.
"Hm, punya." Tentu saja dia punya.
Wajah Larissa langsung berubah gelap.
"Pu-punya?" Wajah gadis itu terlihat putus asa.
Kevin mengangguk. "Dia bentar lagi kesini."
"Kevin!" Tepat setelah perkataan Kevin suara lembut seorang gadis terdengar memanggil namanya.
Larissa melotot ngeri, wajahnya diliputi awan gelap.
Kevin ternyata punya pacar.
"Maaf aku telat, tadi macet hehehe." Gadis itu cantik, ceria, dan dia menggunakan gaun sederhana bermotif bunga.
"Gak apa apa, Kakek pergi bentar tadi." Kevin tersenyum ramah.
"Haus gak? Ini minum dulu." Kevin memberikan teh miliknya pada gadis itu.
Wajah Larissa semakin datar, ia tidak bisa berekspresi
Benar, tidak mungkin pria seperti Kevin tidak memiliki pacar.
__ADS_1
Dunia ini bukanlah dunianya yang dulu.
Tidak seperti dirinya yang mengingat semuanya.
Meksipun wajah mereka mirip Kevin dan kekasihnya adalah orang yang berbeda. "Hai Larissa!" Ternyata gadis itu juga mengenali dirinya. "Datang sama Adrian?"
"Engga sama aku. Tadi dia di kejar kejar Adrian, seram banget." Cerita Kevin.
Gadis in tertawa kecil. "Benarkah? Kamu sama Adrian ada masalah apa?"
"Kita udah putus." Larissa menegaskan.
"Kalau gitu gue pergi ya bye!" Dia tidak tersenyum.
Wajahnya juga datar dan matanya berkaca-kaca.
"Eh mau diantar Kevin gak?"
"Engga usah." Larissa melambaikan tangannya, dia memunggungi kedua orang itu. "Gue udah gede, bisa pulang sendiri."
"Oke hati-hati!" kata Kevin.
Larissa mengacuhkan jempolnya.
Dia tidak akan datang ke Dojo ini lagi.
Larissa memukul tembok di depan Dojo kakek Kevin, kedua tangannya terkepal erat rasanya sakit namun tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya. Tangannya berdenyur dan harinya membusuk
Larissa memeluk kedua lututnya dan menangis dalam diam.
Bahu gadis itu bergetar.
Kenapa dipertemukan kembali kalau memang tidak bisa saling memiliki?
Adrian berdiri di hadapan Larissa.
Menatap gadis itu dengan sorot kemarahan namun melihat bahu mungil itu bergetar, sorot matanya berubah lembut dan amarahnya hilang begitu saja.
Dia membuka jaketnya dan menutupi bahu gadis itu.
"Aya pulang," ajak Adrian.
Larissa tersentak, ia memeluk kedua lututnya semakin erat.
"Gue engga akan nyakitin lo." Nada suaranya terdengar meyakinkan.
Gadis itu mendongak dan untuk pertama kalinya Adrian melihat air mata menghiasi wajahnya.
Adrian mengulurkan tangannya.
Ragu-ragu Larissa menyambut.
Dalam sekali sentakan pemuda itu menarik tubuhnya dan Larissa digendong seperti bayi
"Sekarang diam," bisik Adrian.
Mungkin dia memang berbahaya karena dia adalah tokoh utama nya tpi, jika dipikir-pikir bersama Adrian adalah pilihan yang aman.
...****************...
...HAYYOOOO CERITANYAA MENYIMPANG BANGET NI DARI NOVEL YANG SEBENAR....
...LARISSA BAHKAN BENAR-BENAR MENGUBAH SETIAP ALURNYA....
...KAYAKNYAA ADRIAN ADA SAINGAN BERAT NICHHHH....
...TUNGGU YA SAMPAI PENAMATNYAA....
...BTW TERIMA KASIH YA UDAH MAU BACA....
__ADS_1
...SARANGBEYOOOO SEMUAAA ❤️...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...