
Kevin berkeringat dingin dalam duduknya, bahu pemuda itu terasa berat karena adanya kepala seseorang yang bersandar disana. Situasi seperti ini sangat canggung karena sebelumnya mereka tidak pernah sedekat ini, jika bukan karena angkutan umum yang begitu ramai hingga mereka terpaksa duduk berhimpitan, Kevin pasti tidak akan memberi keizinan kepada gadis ini untuk mendekatinya.
Larissa adalah pacar daripada seseorang yang ia kagumi dan tentu saja gadis cantik dengan pakaian glamor itu membenci dirinya hanya karena ia tidak sekaya Adrian atau lebih kejamnya, la miskin. Padahal keluarga Kevin tidak se-miskin itu, ia memiliki Ibu yang membuka kedai kelontong dan ayahnya pula seorang PNS, yah kehidupan mereka sederhana dan biasa-biasa saja.
"Hm, kepala lo bisa minggir gak?" tanya Kevin.
Larissa menggelengkan kepalanya, gerakan itu tentunya membuat Kevin tersentak
"Orangnya ramai banget, dan orang yang di sebelah gue ketek nya bau banget." Sebenarnya ia hanya modus saja.
Kevin melihat seorang bapak-bapak yang duduk di samping Larissa, pria itu tersenyum miring dari balik punggung Larissa, tangannya bergerak dengan cepat dan mencengkeram keras tangan bapak-bapak yang bersembunyi di balik pinggang gadis itu
"Wah ada semut." Senyumannya saja yang manis namun tenaga yang ia keluarkan cukup besar hingga mampu membuat bapak-bapak itu ketakutan sendiri
"Ber-berhenti!" Bapak-bapak tadi keluar dari angkutan umum tanpa melihat ke belakang.
Larissa bertepuk tangan "Hebat!" Padahal dulu ia tidak seluat itu.
"Kamu berlatih sesuatu? Lengan kamu juga sangat kuat dan berotot." Dia menekan-nekan lengan Kevin.
Kevin menggeser menjauh, sejauh mungkin agar gadis itu tidak terus mendekat dengannya "Iya, kakek gue punya Dojo Taekwando."
"Benarkah? Aku ikut boleh?" Larissa tersenyum ramah. "Aku juga ingin berlatih agar aku bisa melindungi diri sendiri daripada orang mesum!"
"Boleh aja sih, tinggal daftar" Kevin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Nomor Dojo nya berapa?"
Kevin menyebutkan beberapa angka dan Larissa mencatatnya, setelah itu mereka turun dan Larissa masih setia mengikuti Kevin dari belakang, awalnya Kevin bersikap biasa saja, mungkin gadis in memiliki urusan di kota tapi, semakin lama semuanya semakin ketara Larissa setia mengikutinya sampai ke Cafe tempat ia bekerja bahkan gadis itu duduk disana hingga malam hari.
Memesan Cappucino berulang-ulang.
"Kevin, tuh cewek lo yah?" tanya rekan kerjanya, dia seorang mahasiswa.
"Bukan," jawab Kevin, sebentar lag shift-nya akan selesal
"Terus kenapa dia pelototi lo sejak siang sampai sekarang, kalau bukan karena bayangan di jendela gue pasti pikir yang dia itu setan."
Kevin setuju.
"Lo ada utang sama dia?"
"Engga anjir." Dia bukanlah tipe seseorang yang suka berutang.
Bel Cafe berbunyi suara beberapa orang pria menarik perhatian Kevin, pria itu melambaikan tangan pada Adrian yang baru datang bersama teman-temannya. Kevin mencuci tangannya dan berjalan mendekati mereka, seperti biasa pria itu selalu bersinar di manapun ia berada.
"Shift lo-kapan selesai?" tanya Adrian.
"15 menit lagi." Kevin memberikan kopi hitam kepada Adrian.
Adrian mengangguk. "Oke, kita tunggu."
"Anjing!."
Tristan menatap Devano yang tiba-tiba mengumpat. "Kenapa lo?"
Devano menunjuk seorang gadis yang sedang menatap mereka dari sela-sela rambutnya. "Itu Manusia kan?"
__ADS_1
"Jelas lah, lo pikir apa?" ketus Tristan namun semakin diperhatikan ia seperti kenal siapa itu. "Dih itu yayang gue!"
Yayang? Batin Adrian, pemuda itu akhirnya mengikuti arah pandang kedua pria itu.
Dan ternyata itu adalah Larissa.
Ketika tatapan mereka bertemu Larissa langsung menutup wajahnya dengan buku pelajaran yang ada di tangannya, gadis itu sangat amat malas berurusan dengan Adrian.
"Mau kemana lo?" tanya Adrian pada Tristan yang beranjak pergl
"Hah? Yah kesana lah?"
Tristan mengeringai "Jangan bilang lo cemburu, dia dan lo uda tamat. Sesuai janji kita siapapun boleh dekatin dia setelah lo buang dia." Tristan tertawa geli.
Adrian mengepalkan kedua tangannya. "Slapa bilang kami berdua selesai?"
"Come on Adrian you say it and everybody know about that" Tristan benar-benar tidak mengenal takut, dia bahkan sentiasa mengompori Adrian.
Adrian langsung menarik kerah baju Tristan.
Kevin menatap keduanya tidak enak.
"Tolong kalau mau berantam jangan di tempat gue kerja." Dia tidak mau dirmarah sama bos nya lagi.
"Ikut gue," tegas Adrian.
Tristan tertawa. "Kalau gue bilang engga?"
Kevin langsung merinding di tempatnya, pria itu menatap Adrian yang kehilangan kesabarannya, aura yang dikeluarkan pemuda itu sangat mengerikan.
Tristan mengangkat tangan, telapak tangannya bergetar. "Yah gue engga akan pernah menang dari seorang Adrian." Sialan, itu sangat menakutkan.
"Ah pelan-pelan sayang~~~" Tristan benar-benar gila, bukannya takut ia malah kesenangan.
Kevin menggelengkan kepalanya tidak habis mikir. "Lo mau pesan apa?" tanyanya pada Devano, pria itu bersembunyi di bawah meja, kemarahan Adrian benar benar mengerikan untuk dihadapi.
"Hm gue engga selera makan." Devano angkat tangan.
"HAHAHA" Kevin tertawa tanpa ekspresi.
Yah jangan pernah mengganggu Adrian jika tidak ingin masuk rumah sakit
Keesokan harinya Kevin mendapatkan kabar kalau Tristan sedang dirawat di ICU.
RIP TRISTAN
...***...
"Itu hasil taruhan kemarin." Eric memberikan sebuah amplop cokelat pada Larissa.
"Mereka ngasih dalam bentuk Cek."
Larissa menerimanya, ia mengintip nominal yang ada disana. "Banyak juga. Noah udah dibagi kan?" Yah seperti yang Larissa duga. Pria itu bakalan menang.
Eric mengangguk. "Hasil lo juga udah gue transfer, lo mau terus main atau berhenti?"
"Terusin dong." Larissa tersenyum kecil. "Lo bisa ambil bayaran sesuai dengan harga jasa lo."
__ADS_1
Eric terdiam sejenak. "Oke." Tidak ada salahnya, ini memang pekerjanya.
"Oke, gue mau pergi dulu, Larissa pamit undur diri.
"Mau kemana? Keberadaan lo di sekolah langka banget, bahkan terancam punah"
"Lebay banget, gue cuma pulang lebih cepat, belajar, mau jadi juara 1 umum mengantikan Eric." Larissa tertawa kecil.
"Heh?" Eric tertawa mengejek. "Benar-benar berani lo yah?"
Larissa mengangkat bahunya tak acuh. "Kalau gue menang, gue mau minta sesuatu."
Eric mengangguk "Apa?"
Larissa menatap Eric dengan serius. "Tolong lepasin gue"
Hah?
Hening untuk beberapa saat sebelum tawa Eric terdengar keras.
"HAHAHAHA." Dia tertawa hingga memegangi perutnya. "Lo gila yah?"
Dia menatap Larissa tajam. "Lo pikir bisa menang lawan gue?"
Larissa tersenyum mengejek. "Tentu saja."
"Baiklah, sepertinya seru." Eric menyentil dahi gadis itu. "Kalau lo menang gue akan ikuti keinginan lo."
Selanjutnya ia tersenyum licik. "Kalau lo kalah sampai kapanpun lo akan menjadi bawahan gue." Dia menarik rambut Larissa dan melilitnya diantara Jemari. "Bagaimana?"
Larissa mengangguk "Gue terima"
Eric mundur beberapa langkah, ia tertawa geli. "Jangan pernah pikir untuk kabur, gue bukan pengecut, tidak seperti mantan-mantan lo yang takut pada Adrian." Dia tertawa manis.
"Gue dan Adrian itu setara sayang, jangan pikir untuk kabur setelahnya, lo udah berani buat gue tertarik, jika dulu lo seperti sekarang mungkin gue engga akan pernah lepasin lo." Dia mengacak-acak rambut Larissa
"Bye!"
Larissa mengangguk kecil. "Bye."
Untuk bersama dengan kekasihnya Larissa harus menyingkirkan mereka dan yang paling utama adalah dia.
Seorang pemuda yang sejak tadi memperhatikannya dari belakang. Adrian mengepalkan kedua tangannya, ia tersenyum mengerikan.
"Main-main itu menyenangkan bukan?" Adrian berbisik lirih di samping telinganya.
Ia harus kabur dari mereka semua.
...****************...
...TERIMA KASIH YA UDAH MAU MAMPIR DI SINI...
...BTW BAGAIMANA BISA TEBAK GAK SIAPA YANG BAKALAN DAPAT JUARA 1 UMUM NANTI?...
...HAHAHAA FUN-FUN AJA DULU LAH YAHHHH...
...SEMANGAT SEMUAAA JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA...
__ADS_1
...SARANGBEYOOOO SEMUAAA ❤️...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...