
Adrian memberikan sebuah kartu ATM padanya.
"Bayaran lo."
Larissa menerimanya, ia menatap tidak percaya pada pria itu.
"Lo ternyata baik juga ya?" Matanya berkaca-kaca, ia kira sebelum barang-barang bermerek miliknya terjual ia hanya bisa makan satu kali selama sehari itupun dari sekolah, untunglah masih ada hal baik yang terjadi.
"Makasih Adrian!" Larissa tersenyum manis.
Adrian tertegun.
Tanpa memperdulikan pria itu Larissa segera memesan sesuatu untuk di makan.
"Bu, pesan nasi goreng satu dengan teh hangat satu." Ia benar-benar kelaparan, nasi ayam geprek kemarin porsinya terlalu sedikit sampai ia harus minum air untuk mengenyangkan diri.
"Samain Bu."
Larissa melirik ke arah Adrian yang masih berdiri di sampingnya. "Lo belum makan?"
Adrian mengangguk kecil.
Setelah pesanan mereka siap, Larissa membawa nampannya tanpa banyak bicara, ia bahkan tidak mengajak Adrian untuk duduk bersamanya karena yahh ngapain juga jadi orang kurang kerjaan sampai mau-maunya ngajak mantan makan bersama, lagian dia juga tidak genit dan nakal seperti Larissa yang dulu.
Sayangnya Adrian lebih memilih duduk di depannya daripada duduk di meja yang lain.
"Kaitlyn mana?" Tanya Larissa.
Adrian mengangkat bahu tidak tahu.
"By the way makasih ya udah mau traktir gue makan." Makanannya kali ini juga dibayar oleh Adrian.
Adrian mengangguk kecil, pipinya jadi mengembung lucu ketika makan.
Jika seperti ini dia tidak terlihat seperti orang yang menyeramkan.
"Lo ada hubungan apa sama Devano?" Tanya Adrian tiba-tiba.
Larissa berhenti mengunyah, ia menatap pria dihadapannya dengan mata bulatnya yang besar.
"Enggak ada apa-apa"
Sepertinya Adrian tidak berpuas hati dengan jawaban yang diberikan, ia masih menatapnya dengan tajam bahkan Larissa sampai mengurungkan niat untuk melanjutkan aktiviti makannya.
"Kemarin gue jumpa dia di angkot, dia enggak punya uang kecil jadi gue bantu untuk bayarin" Perjelas Larissa.
Adrian akhirnya berhenti menatapnya.
Larissa menghela nafas lega dan kembali menghabiskan makanannya.
"Sini uangnya."
Sendok yang ingin masuk ke dalam mulut Larissa terhenti seketika, masih belum puas juga ini orang? Lagian kok kepo banget sih kan udah putus juga.
Larissa merogoh sakunya dan memberikan uang goceng itu kepada Adrian.
"Goceng aja lo palak." Ketusnya
"Gaji lo lebih dari ini." Adrian memasukkan uang itu ke dalam sakunya.
__ADS_1
"Emang berapa?" Tantang Larissa, lebih tinggi gak tuh dari uang kuliahnya yang dulu.
"50"
"Ribu?"
"Juta."
Nasi goreng di mulut Larissa langsung tersembur keluar.
Adrian menatap gadis itu jijik.
"Jorok Anjing!" Untung makanannya tidak terkena hujan lokal itu.
"Li-li-ma puluh juta?" Bukankah itu terlalu banyak, padahal kerjanya hanya merepotkan Adrian setiap saat bahkan ketika mereka jalan berdua juga semuanya dibayari oleh Adrian.
"Hm" Bukankah itu sesuai dengan nominal yang gadis itu minta.
Ternyata harga diri Larissa yang asli semahal ini? Bahkan ini lebih mahal dibandingkan dengan uang kuliahnya yang ia dapatkan dulu. Pantas saja dia bisa membeli semua barang-barang bernerek yang lagi ia jual pada saat ini. Gadis itu sering bermain-main dengan semua pria tampan yang memiliki uang, benar kata orang, cantik itu adalah segalanya dan yang lebih gila lagi anak SMA mana yang mau membuang-buang 50 juta untuk seorang gadis yang sama seklai tidak ada hubungan apa-apa dengannya.
"By the way kita kan udah putus jadi ngapain lo deketin gue lagi?" Tanya Larissa.
Adrian mengangkat bahu menandakan ia tidak tahu "Entah."
Larissa mendelik kesal, pria dihadapannya ini benar-benar aneh dan tidak memiliki pendirian.
"Lo butuh tempat untuk tinggal kan?"
Sekarang Adrian terlihat sangat mencurigakan, entah bagaimana bisa ia tahu tentang itu.
Larissa selesai dengan makanannya, gadis itu bangkit dan menatap Adrian penuh penegasan.
Setelahnya ia pun berlalu pergi meninggalkan Adrian yang masih setia menatap punggung gadis itu yang kian menjauh sehingga hilang dari pandangan.
...***...
Semua barang-barang bermerek yang ia jual di aplikasi online laku dalam sekelip mata, Larissa menjadi kaya raya secara tiba-tiba. Saking penasarannya dengan jumlah uang yang ia dapati, ia dengan segera mendatangi ATM yang berada dekat sekolah dan melihat nominal hasil kerja kerasnya, seketika itu juga mulut dan matanya terbuka dengan sangat luas,
"Gila Anjrittt, sebelum ini gue cuma pernah pegang uang segedek 4 juta aja, itupun buat bayarin uang semester." Jumlah angka nol yang sangat banyak membuatkan ia bingung sendiri.
Akhirnya ia bisa mencari kos-kosan yang layak untuk ditinggali dan sebelum semua uang ini habis, ia harus mengolahnya, membuat uang ini menjadi lebih banyak sehingga ia tidak perlu bekerja keras dan hanya perlu duduk diam melihat semua uang mengalir kepadanya.
Ia akan bermain dengan saham.
"HEHEHE." Larissa menyeringai.
"Gila lo?"
"Anjrittt!" Larissa menjerit keras, ia melirik seorang pria disampingnya yang tiba-tiba masuk ke tempat ATM tersebut.
Larissa mundur sedikit dan memberikan ruang kepada pria tersebut untuk menyelesaikan keperluannya terhadap benda dewa yang disebut ATM itu. Pria itu sangat tampan dengan wajahnya yang lembut, kulit putih yang bersih, bulu mata yang lentik, daripada tampan ia lebih cocok di katakan cantik.
"Lo putus sama Adrian?" Tanya pria itu.
Larissa mengangguk "Iya."
"Siapa yang mutusin.?"
"Dia."
__ADS_1
Pria itu mengangguk kembali, "Kehidupan lo gimana?"
"Baik-baik aja." Sepertinya Larissa asli dan pria ini memiliki hubungan tapi apa?
Ia tidak tahu dan sama sekali tidak mengenali pria ini.
"Mau makan siang bareng?" Ajaknya tiba-tiba.
Larissa menatap pria itu penuh selidik, berdasarkan name tag nya ia bernama Eric. Akhirnya ia tahu siapa pria ini setelah memerah otak untuk berpikir dengan cukup cepat, dia adalah mangsa Larissa sebelumnya yang sampai sekarang masih mengeluarkan uang untuk membiayai sekolah gadis itu.
"Boleh." Larissa menerimanya dengan senang hati, ia juga ingin membicarakan sesuatu dengan pria tersebut.
Mereka berjalan menuju kantin sekolah dan mengantri untuk mendapatkan makan siang. Barisannya tidak terlalu ramai ketika mereka tiba. Jam istirahat sekolah ini cukup panjang yaitu sekitar satu jam namun kekurangannya ialah sekolah ini hanya mengadakan sekali sahaja jam istirahat, sisanya belajar atau praktek ruangan.
"Bu saya minta dagingnya yang banyak ya." Pesan Larissa, ia tidak mau kelaparan lagi selepas ini.
"Iya." Balas ibu-ibu Daging itu.
"Kamu gimana?" Kemudian bertanya kepada Eric.
"Porsi biasa." Eric tidak terlalu suka untuk makan makanan yang banyak, pantesan ia kurus.
Mereka duduk di meja makan dekat dengan jendela kantin sehingga bisa membolehkan Larissa melihat taman sekolah yang cantik. Sekilas tadi ia juga melihat Adrian yang sedang duduk makan bersama dengan Kaitlyn dan teman-temannya yang lain, pria itu masih sangat setia menatap dirinya dari awal masuk kantin sehingga dia duduk.
"Di muka gue ada sesuatu ya?" Tanya Larissa kepada Eric.
Eric menggelengkan kepalanya. "Biarin aja dia emang lagi dalam rada gila."
Eric sepertinya tahu maksud daripada pertanyaan gadis itu.
Larissa mengangguk mengerti, lalu memakan makanannya.
"By the way Eric, lo broker kan?"
Eric menatap gadis itu dengan dahi yang berkerut, tumben-tumbenan Larissa ingin mengajaknya berbicara tentang topik rumit seperti ini, gadis itu kan bodoh, ia selalu membenci Eric ketika ia sedang membicarakan tentang pekerjaan sampingannya.
"Iya, kenapa? Lo mau main saham?" Eric bertanya asal.
"Iya." Tegas Larissa.
Eric menatap gadis itu dengan serius.
Tidak ada raut wajah bercanda di sana.
"Kenapa? Lo kekurangan uang? Engga cari mangsa baru aja setelah Adrian? Uang sekolah lo kan masih gue tanggung." Pertanyaan dan pernyataan yang cukup kejam namun dari sana lah semua sumber keuangan Larissa berasal.
"Dimata lo gue sebego itu ya?" Larissa menunduk sedih.
Sekarang Eric menatap gadis itu seperti sedang menatap orang gila yang berada dekat dengan rumahnya.
Apa gadis itu tidak sadar diri?
...****************...
...**TERIMA KASIH YA KARENA SUDI MEMBACA...
...SEE U GUYSS DI NEXT PART....
...SARANGGBEYOOO SEMUAA...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ**...