
Eric yang sejak tadi hanya menonton perkelahian itu tertawa terbahak-bahak, entah kenapa lucu sekali melihat perkelahian kaum hawa, rasanya seperti melihat dua ekor hamster yang sedang memperebutkan setumpuk kuaci, tidak berguna sebenarnya berkelahi karena sebenarnya biang masalah semua ini adalah Adrian.
Sebelum mengenal Larissa, semua orang tahu Adrian adalah pacar Kaitlyn.
Pacar yang dingin serta acuh tak acuh.
Dia memang baik pada Kaitlyn. Mengantar menjemput Kaitlyn, memberikan hadiah, memberikan perhatian, tidak posesif, membebaskan gadis itu untuk melakukan apapun yang ia sukai dan tidak pernah marah pada Kaitlyn sebanyak apapun kesalahan yang ia lakukan.
Sebaik itu lah Adrian.
Tapi, ada satu hal yang paling Adrian benci sebaik apapun dia.
Selingkuh
Kaitlyn melakukannya dengan Noah, dia melihat mereka tidur bersama padahal Adrian tidak pernah melakukan tindakan sekurang ajar itu pada Kaitlyn, meksipun tidak ada yang terjadi tetap saja Adrian membencinya. Adrian menerima pendidikan yang bagus di keluarganya untuk selalu menjaga dan menghormati seorang wanita kecuali Larissa tentunya.
Adrian dan Kaitlyn bertengkar untuk pertama kalinya.
Disaat itulah Larissa datang dan menjadi iblis tukang kompor di keadaan yang memanas.
Gadis itu benar-benar licik
Dia mengendalikan semua orang di atas telapak tangannya.
"Lo nampar gue?" Jerit Larissa dengan keras
"Lo barusan nampar gue?!" Ia tidak percaya ini, bahkan kedua orang tuanya yang sudah di surga tidak pernah menampar nya.
"Iya! Kenapa? Engga suka lo?!" balas Kaitlyn, dia berkacak pinggang.
Larissa menggeram kesal, wajahnya memerah karena amarah "Sialan! Gue engga ada salah apa-apa disini ya, cowok lo itu yang gila! Kita udah putus! Udah jelas banget! Gue juga udah jauhi dia! Tapi dia!" Dia menunjuk sembarang arah.
"Sentiasa coba dekati gue lagi! Dan entah kenapa gue engga tahu, gue selalu takut sama dia! Mukanya seram mirip setan! Coba lo, siapa yang engga ketakutan di pelototi sama malaikat maut?!" Beberapa orang mengangguk setuju. Adrian benar-benar menyeramkan.
Kaitlyn ingin berbicara namun Larissa langsung memotong kata-katanya.
"Lo engga malu apa? Jadi bahan gosip? Jadi bahan candaan semua orang?! Cowok ini banyak Kaitlyn, lo juga cantike, gue yang biasa-biasa aja punya hanyak mantan dan lo yang luar biasa ini hanya memiliki satu pacar brengsek yangmia sendiri tidak tahu apa yang sedang ia perjuangkan." Larissa berujar dingin.
"Daripada lo ngemis sama dia, lebih baik lo pilih Noah aja, lo tau? kita pasti akan lebih bahagia bersama seseorang yang mencintai kita daripada yang kita cintai." Dia sudah membuktikan itu di kehidupan sebelumnya.
"Jangan coba-coba menghakimi perasaan gue!" Kaitlyn emosi dan menjambak rambut Altheya
"Sialan! Gue diam dari tadi ya! Nih rasain nih" Larissa membalas gadis itu.
"Argh! Sakit sialan!" Jambakan Larissa perihnya bukan main, Kulit kepalanya terasa terangkat.
Terjadilah aksi cakar-cakaran dan Jambak-jambakan di tengah-tengah suasana yang membahagiakan.
"Azheeekkkkkk! Ada berantam!"
"Pacar resmi vs Pelakor? Siapa yang akan menang? Ayo nonton Live ini sampai selesai!"
Kaitlyn seram banget. Elvina ketakutan dan memilih untuk bersembunyi di belakang Nadra, ini pertama kalinya la melihat Kaitlyn menggila seperti ini.
"Kaitlyn Berhenti!" Seru Haura.
Dan seperti yang kalian semua tahu pada akhirnya kedua hamster kecil itu berakhir di ruang BK, mereka tidak mendapatkan kuaci apapun hanya masalah yang timbul.
"HAHAHAHAHAH!" Eric tertawa terbahak-bahak untungnya ia sempat memvideokan kejadian tersebut.
...***...
Larissa keluar dari BK dan wajah babak belur, rambutnya acak-acakan, disekitar dahi dan leher terdapat luka cakaran, perih sekali. Tidak ada lagi yang tinggal di sekolah, semua orang sudah pulang dan menghabiskan waktu bersama keluarga mereka. Tidak memiliki tujuan yang pasti langkah kakinya membawa Larissa ke sebuah Cafe tempat seseorang yang ia sayangi bekerja.
__ADS_1
"Hai!" sapa Larissa ketika Kevin menghampiri mejanya.
"Hai, wah tuh wajah habis dicakar kucing atau apa?" Kevin meringis pelan.
Larissa tertawa kecil. "Biasa habis berantam sama Kaitlyn."
"Kalau lo kondisinya begini, gue jadi penasaran gimana rupa Kaitlyn."
"Lebih parah dari gue," tegas Larissa.
"Oh" Kevin tidak akan bertanya lebih lanjut. "Lo mau pesan apa?"
"Engga tahu." Dia sedang tidak ingin makan apapun. "Rekomendasi dong."
"Oke, gue pesanin menu terbaik hari ini."
Setelah Kevin pergi Larissa melamun melihat mobil yang berlalu-lalang dari jendela cafe. Dia sendirian disini sedangkan semua orang datang bersama keluarga dan pasangannya, mereka menghabiskan waktu bersama, bercerita, memberikan selamat atas prestasi, dan saling mengungkapkan perasaan bahagia dengan tawa yang lepas.
Berisik.
Gadis itu tidak suka mendengarnya.
Seakan-akan dunia mentertawakan dan berbisik, tidak ada siapapun di Dunia ini yang peduli padamu.
"Aku tahu" Larissa bergumam.
Dia memang selalu sendirian.
"Yayang, sendirian aja nih?"
Lamunan gadis itu terhenti, wajahnya berubah jijik
Tristan datang dengan senyuman menyebalkan, tangannya di Gips. Sepertinya Adrian terlalu berlebihan dalam menghajarnya. "Wajah lo manis banget sih, gue suka."
Larissa menghela nafas. "Ngapain lo disini?"
"Sok imut dan engga lucu."
"Udah baik lo?" Kevin kembali dan membawa pesanan Larissa.
"Udah, gue engga suka di RS lama-lama. Gue pesan apa yang dia pesan."
Kevin mengangguk. "Jangan cari masalah." Dia mendelik tajam pada Tristan.
"Iya Iya Lo lama-lama mirip si Adrian!" Tristan berdecak kesal "Yang itu wajah kamu kenapa?"
Larissa menyantap spaghetti nya sebelum bercerita. "Di cakar Kaitlyn."
Tristan tersenyum miring. "Tumben, biasanya lo engga suka cari ribut." Dia merogoh sakunya dan memberikan sebuah salep pada Larissa. "Oles pakai ini, entah kenapa gue engga suka liatnya."
Larissa menatapnya curiga.
"Gue engga suka luka yang dibuat orang lain" Tristan menyeringai.
"Makasih" Larissa menerima salep itu.
"Sama sama." Tristan tersenyum manis.
"Nih makan." Kevin meletakkan pesanan Tristan yang sama dengan pesanan Larissa
"Lo makan pakai apa? Setahu gue lo engga kidal."
"Oh gampang." Tristan menunjuk Larissa. "Di suapin dia."
__ADS_1
"Kapan gue bilang?" Larissa berujar ketus.
"Balasan niat baik gue, suapin dong tangan gue sakit juga hiks."
Larissa melempar kembali salep itu. "Nah ambil, gue engga butuh." Dia melanjutkan makannya.
Wajah Tristan memerah, pria itu memegangi jantungnya yang berdegup kencang. "Lo manis banget sumpah." Jangan lupa dia adalah pria Masokis.
Larissa menerannya dengan jijik. "Sialan! Hama! Anjing! Binarang! Burik! La jangan sok kegantengan anjir, lebih bagus rupa Kambing daripada muka lo!"
Tristan suka. "Yang, ayo balikan gue janji akan buat Lo bahagia!"
"Mati lo sana!" seru Larissa.
Kevin menggelengkan kepalanya, ia baru menyadari ternyata ia memiliki teman-teman yang cukup unik.
Jangan tinggalkan aku
Hah?
Tiba-tiba saja ada sebuah suara yang memasuki telinga Kevin.
Suara seorang gadis yang ceria dan penuh semangat.
Kevin menatap sekelilingnya untuk mencari sumber suara itu.
Namun tidak ada apa-apa, tidak siapapun yang memiliki nada suara yang sama dengan suara di kepalanya.
Apa dia sedang berhalusinasi?
Vincent Kamu sedang apa?
Suara siapa itu?!
Khayla ada disini.
Siapa Khayla? Siapa Vincent? Kevin tidak tahu.
Tidak apa apa! Kamu pasti bisa sembuh!
Tolong keluarkan suara-suara ini dari kepalanya!
"Kevin, lo kenapa?!"
Pemuda itu mengerjapkan matanya ia menatap Larissa dengan linglung, rasanya seluruh indra di tubuhnya lumpuh untuk sejenak.
"Lo tadi ada ngomong sesuatu gak?"
Alis Larissa terangkat sebelah. "Ngomong apa? Gue manggil nama lo dari tadi." Pria itu terlihat aneh, ia seperti terperangkap di dalam kepalanya sendiri.
"Gue dengar sesuatu." Cerita Kevin.
Rasanya seperti sebuah kenyataan.
...****************...
...SIAPA VINCENT? DAN SIAPA KHAYLA? ...
...AYYOOOKKKK KARAKTER BARUU KAHH?...
...SEMANGAT YA NEBAKNYA....
...TERIMA KASIH UDAH MAU BACA CERITA AKU....
__ADS_1
...SARANGBEYOOOO SEMUAAA ❤️...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...