CRAZIEY

CRAZIEY
Bab 02


__ADS_3

Setelah selesai merenungi nasib, Larissa pun pulang dengan menaiki pengangkutan umum. Untung saja latar tempat di dalam novel ini masih di Indonesia jika sudah di luar negeri Larissa juga tidak tahu bagaimana ia harus hidup sekarang. Dengan keadaannya yang tidak mempunyai orang tua, bibi, paman bahkan pacar dan teman juga untuk dijadikan tempat bergantung tidak ada. Larissa benar-benar tidak mempunyai apa-apa selain harga dirinya yang rendah bahkan lebih rendah daripada tumpukan sampah, jika bukan mangsa sebelumnya mungkin ia tidak akan mampu bersekolah di tempat yang bergengsi, untung saja mangsanya itu masih tetap mau membayarkan uang sekolahnya.


Jika ia memang harus hidup di dunia ini, Larissa harus belajar dengan baik untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak berbanding sekarang.


"Uangnya enggak laku Bang, bayarnya pakai rupiah dong." Tegas supir pada seorang pria yang baru turun.


Larissa menatap keributan itu, sepertinya karena dia terlalu asyik melamun sehingga tidak memerhatikan keributan yang terjadi. Ia melihat uang yang diberikan pria itu kepada supir angkot tersebut, matanya melotot setelah melihat itu.


Ehh tunggu, itu uang Dollar kan?!


"Ck, lo bego ya ini lebih dari rupiah, kalau tukar di bank lo udah dapat 150 ribu lebih!" Pria itu tidak kalah ketus daripada supir angkotnya.


"Yahh mana saya tahu Bang, ongkosnya cuma goceng, penampilan bagus tapi duit gojeng aja engga punya." Sindir supir angkot.


"Anjing lo ya!" Pria itu menarik kerah baju supir angkot tersebut.


"Jangan!" Larissa mengeluarkan uang sepuluh ribuan.


"Pak, dia saya aja yang bayar, nih sekalian sama ongkos saya."


Dia tidak mau melihat adanya pertumpahan darah, Larissa sama sekali tidak bisa melihat darah karena ia akan pingsan jika melihatnya.


Gadis itu sangat phobia sama darah.


"Ck!" Pria itu melepaskan cengkramannya, dia menatap Larissa tajam.


"Benci banget gue dibantuin lo." Setelah berkata seperti itu, ia berlalu pergi.


Sepertinya dia terlalu terburu-buru.


"Makasih Neng, udah nolongin saya, sebenarnya saya juga takut banget tadi."


Larissa tertawa kecil.


"Iya Pak, Gak apa-apa."


"Anak muda jaman sekarang ngeri ya Neng, ditolong bukannya ucap makasih malah marah-marah. Neng kenal sama dia?"


Larissa menggelengkan kepalanya.


"Enggak Pak, saya juga baru pertama kali ketemu, saya cuma engga mau lihat adanya pertumpahan darah, saya Fobia sama yang namanya darah."


"Owalahh Neng, bapak juga gitu atuhhh. Neng mau kemana nihh? Bapak harus pulang sebenarnya tapi karena Neng udah nolongin jadi biar Bapak hantarkan sampai ke tempat tujuan."


Larissa tersenyum senang, ia menunjukkan alamat kosannya yang ternyata hanya 5 menit dari tempat terakhir pria itu turun. Malam ini tanpa mengandalkan siapa pun Larissa sampai ke rumah dengan aman, ia sempat membeli Nasi Ayam Geprek untuk di makan di tempat kosnya nanti.


Setelah itu, Larissa memilih untuk rebahan di atas kasurnya sebentar sebelum melakukan kegiatan yang seterusnya.


"Erghh, kasurnya tipis banget, punggung gue bahkan bisa nyentuh lantai."


Larissa bodoh, ia memiliki banyak barang yang mahal dan bermerek namun tidak mampu untuk membeli kasur atau bahkan dia engga kepikiran untuk berpindah ke tempat yang lebih baik.


Larissa merinding ketika bertatapan mata dengan tikus yang sedang bermain-main di atap kosan, sepertinya tikus itu mencium aroma enak daripada makanannya.

__ADS_1


Dengan buru-buru ia menghabiskan Nasi Ayam Geprek yang dibelinya sebentar tadi sebelum direbut oleh tikus itu.


"Kayaknya gue harus pindah." Gumam Larissa sembari makan.


Larissa yang asli sebelumnya lebih sering menginap di apartment mangsa-mangsanya sehingga dia tidak pernah merasakan tiduran di kasur tipis seperti dirinya.


"Pantas dia mati, lagi demam tiduran di lantai."


Ia akan menjual semua barang-barang bermerek milik Larissa yang sebelumnya lewat via online dengan harga yang tidak jauh dari yang aslinya. Lalu ia akan mencari kos-kosan yang lebih layak dengan uang itu, tidak masalah jika penampilannya menurun secara drastis, dari Larissa yang banyak barang bermerek jadi Larissa yang biasa-biasa aja.


Lagian dia cantik kok, orang cantik pakai apa aja juga pasti tetap cantik.


...***...


"Pelakor turun kasta ya? Keliatan pengemisnya"


"HAHAHAHA aura rendahannya bahkan terlihat lebih rendah berbanding tong sampah."


"Karma tuhh, emang enak diputusin."


"Ehh tapi kan dia emang dari awal dianggap pelakor, emangnya dianggap gak sih?"


Mereka tertawa terbahak-bahak.


Larissa tersenyum manis. "Iya nih gue kan Bidadari yang berasal dari tong sampah, enggak kayak kalian."


Mereka berhenti tertawa.


Larissa semakin berani. Lo pada iri ya sama gue? Enggak kayak lo pada yang hanya bisa natap Adrian dari jauh, tapi gue? Gue bisa nyentuh dada dia, cium parfum dia, makan malam sama dia,dan yang pasti semua kebutuhan gue bakalan dipenuhi."


"Kalian cuma bisa menghalu." Dia menyeringai.


"Gila lo yah?!"


Larissa terlonjak kaget, dengan gerakan yang slow motion gadis itu berpaling untuk melihat kebelakang dan ketika itu juga dia bertemu pandang dengan wajah amarah seorang Kaitlyn.


Mampus! Batin Larissa


Dan bukan hanya Kaitlyn disini tapi ada Adrian dan juga keempat temannya.


Larissa kembali melihat ke depan, mengacuhkan keenam orang itu.


"HAHAHAHA gue harus ngerjain tugas jadi bye!" Ia berlari dengan kencang, menuju tempat yang tak terbatas dan melampauinya.


Azekkkk keren banget gue! Larissa tertawa dalam hati.


"Lo mau kemana?"


Larissa berhenti berlari, gadis itu melihat kakinya dan sepertinya ia hanya berlari di tempat tadi.


"L-epasin gue!" Seru Larissa. Ia melotot garang pada salah satu teman Adrian yang menarik tasnya.


Ternyata ohh ternyata dia ialah pria galak yang ia temui di angkot kemarin. Devano si cowok gila dengan harga diri yang tinggi.

__ADS_1


Devano membalas tatapan Larissa membuat gadis itu langsung kicep di tempat.


"Hmm, ada perlu apa yah?" Larissa bertanya dengan nada suara yang dibuat semanis mungkin.


Devano mengeluarkan uang goceng dari sakunya dan memasukkannya ke kantong seragam Larissa.


Gadis itu melotot ngeri. "Arghhh Mesum!" serunya refleks.


Devano melepaskan tas Larissa dan mendorong bahu gadis itu dengan cukup keras.


"Pergi lo bangsat!"


Larissa menatap tak percaya pada pria itu, harga dirinya tersinggung eh memang ia masih punya harga diri? Lahh jelas punya dong! Dia kan bukan Larissa yang asli! Tapi, ia tidak bisa melawan begitu saja.


Larissa menghela nafas, lalu pergi begitu saja dengan langkah yang gontai.


"Lapar gue." Gumamnya.


Ia belum makan apa-apa sedari tadi, yahh itu karena uangnya habis, ehh tunggu barusan kan ia baru dapat goceng dari Devano. Secepat kilat dia berlari menuju ke arah kantin yang untungnya bisa di cari dengan mudah tanpa bertanya kepada orang lain.


Sesampainya di kantin ia mencari roti yang harganya goceng, tapii astagaaaa tidak di dunia asli saja bahkan setelah masuk ke dunia novel kenapa kemiskinan selalu memeluk dirinya.


Hiksss.


Sayang sekali wahai pemirsahhh tidak ada roti yang harganya goceng.


Larissa meratapi nasibnya yang tidak berapa baik di hadapan kantin.


Sepertinya ia harus menunggu jam makan siang dan mendapatkan makanan gratis dari sekolah, sistem di SMA swasta ini sangat mirip dengan sekolah-sekolah di Korea itu loh, makan siang siswa siswi sudah disediakan dan mereka bebas makan sebanyak apapun itu.


Larissa berbalik arah dan berniat untuk pergi tapi dahinya malah menubruk sesuatu yang empuk dan sedikit keras.


Adrian menatap Larissa dengan pandangan merendahkan gadis itu.


Gadis itu mengerjapkan matanya lucu.


"Apa?"


Bukankah mereka sudah putus jadi untuk apa menemuinya lagi.


...****************...


...LOHHHH BERSAMBUNG NIHHH...


...JADI GIMANA CERITANYA?...


...AKU UDAH UPDATE LOHH...


...MAAF YA KALAU TELAT UPDATE NYAAA...


...MAKASIHHH SEMUAA ATAS KUNJUNGANNYAA...


...SAYANGGG BANGETTT MUACHHHHH...

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2