
Dua Minggu telah berlalu setelah acara kenaikan kelas. Semuanya kembali seperti semula, kedatangan siswa-siswi baru, teman baru, kelas baru, dan perubahan lingkungan yang baru, SMA adalah masa yang paling menyenangkan dan indah bagi beberapa orang. Tapi, beberapa orang itu tidak termasuk Larissa.
Berjalan dari kosan ke sekolah hanya memakan waktu 3 menit, sembari berjalan Larissa mengigit roti isi telur ceplok dan saos tomat serta cabe, sarapannya pagi ini. Larissa itu sangat menyukai pedas, ia lebih suka makanan pedas daripada manis, makanan manis bisa eneg untuk dimakan sedangkan makanan pedas tidak akan pernah.
Kehidupan SMA di kehidupan sebelumnya sebenarnya biasa saja namun, berubah buruk sejak kedua orang tuanya meninggal. sejak saat itu ia sama sekali tidak bisa mengingat kenangan indahnya ketika SMA. Bertemu dengan kekasihnya di rumah sakit adalah berkah dan kebahagiaan untuk Larissa maka dari itu ketika dia pergi Larissa menjalani hidup dengan suram.
"Pagi Larissa!" Elvina tiba-tiba muncul dari arah samping Larissa, gadis itu terlihat manis dengan bandana kelinci nya.
"Pagi." jawab Larissa suram.
Elvina tertawa geli. "Kamu suram banget padahal masih pagi."
"Yah gue malah berharap untuk tidak bertemu dengan pagi." Pandangan matanya seperti orang mati.
Elvina menepuk pundak Larissa dengan cukup keras. "Jangan gitu! Kita masih muda! Banyak hal yang bisa dilakukan!"
"Seperti merampok bank?" saut Larissa, ia tertawa miris.
"Bukan gitu juga ih" Elvina mendumel kesal. "Btw aku mau bilang makasih sama kamu karena waktu itu udah bantu Devano."
Larissa mengangguk lemah. "Ya, sama-sama." Lagian ia tidak melakukannya dengan gratis.
Elvina menggembungkan pipinya, ia terlihat imut. "Kamu ih! Inilah alasan kenapa kamu engga punya teman! Aura nya negatif!"
"Iya gue engga tahu cara ngubahnya ke positif."
"Devano!" Elvina tiba tiba menjerit memanggil seseorang.
Dimana ada Devano disitu tentunya pasti ada Adrian.
Larissa mematung di tempat, la membiarkan Elvina mendekati Devano dengan melompat-lompat kecil seperti kelinci.
Adrian berjalan mendekati nya.
Gadis itu berbalik arah, berniat untuk pergi. "Mau kemana?" Gerakannya kurang cepat.
Adrian menarik tas-nya.
"Lepas, gue engga mau di amuk Kaitlyn."
"Gue sama Kaitlyn udah putus."
Larissa melotot ngeri. "Ha-hahhhh! WaaDaPak! Lo berdua putus?"
Kedua tokoh utama ini putus? Kenapa? Ada apa? Bagaimana? Bukannya adegan ini tidak pernah ada di dalam novel, seingatnya seperti itu.
"Ini baru awalnya." Larissa ingat semester baru di kelas 12 adalah awal mula novel terjadi.
"Sudah berakhir."
Mulut Larissa menganga lebar. "Kok bisa? Karena gue yah?" tebak nya, asal ceplos aja.
"Iya." Ups, ternyata dia tidak kepedean.
__ADS_1
Larissa terdiam "Jangan, lo pasti nyesal buang dia" Ada sebuah cerita diantara mereka berdua yang nanti akan terungkap.
Adrian ingin berbicara namun kehadiran seseorang membuatnya diam.
Larissa meliriknya. "Ngapain hubungi gue? Kan yang penting uangnya masuk terus."
"Gue engga mau jadi broker lo lagi."
Larissa mengangguk mengerti. "Oke, nanti gue cari orang baru." Dia tidak perlu bantuan dari seseorang yang tidak punya hati.
"Biar gue aja yang cari." Adrian memberi saran.
"Oh engga usah." Larissa menggelengkan kepalanya. "Kalian berdua tidak perlu ada hubungannya dengan apapun yang gue lakuin, gue bisa sendiri." Dia tersenyum manis "Oke? Bye! Gue mau ke kelas!"
...***...
Dia tidak ingin bergantung pada mereka.
Dia bisa melakukannya sendiri.
Seorang ratu tidak membutuhkan raja, la bisa berdiri sendiri.
Pulang sekolah Larissa kembali mendatang cafe tempat Kevin berkerja sebenarnya makanan disini sangat lezat, makanya Larissa sering mampir ke sini yah meskipun niat keduanya adalah untuk melihat kekasih lamanya, Kevin.
"Lo datang lagi?" Kevin memberi kata sambutan.
"Ya, gue suka makanan disini. Bawa rekomendasi menu hari ini."
Kevin mengangguk mengerti.
Larissa meliriknya aneh. "Hai."
Apa gadis ini cemburu lagi? Padahal ia tidak melakukan apapun.
"Kamu lebih sering mampir akhir-akhir ini." Kevin menatap Mikayla lembut.
"Iya. aku takut kamu di ambil orang." Dia melirik Larissa terang-terangan. "Kamu juga kelihatan lelah, aku khawatir."
Kevin tertawa renyah, bawah matanya memang terlihat hitam "Iya, akhir-akhir ini aku mimpi aneh." Dia melamun sebentar. "Nanti aku cerita."
Mikayla mengangguk, ia tersenyum kemenangan pada Larissa.
Idihhh! Taik Anjing! Barin Larissa.
"Aku mau menu yang sama kayak dia ya." Mikayla berujar manis
Kevin mengusap lembut atas kepala gadis itu.
"Iya, tunggu ya." Laki-laki itu berlalu pergi.
"Lo bilang kemarin, kalian berdua temanan dari kecil yah?" tanya Larissa.
Mikayla mengangguk. "Ayah gue berguru sama Kakek Kevin."
__ADS_1
"Oh," Larissa mengedipkan matanya. "Dia sehat kan?"
"Sehat lah."
Larissa manggut-manggut, ia menatap Mikayla. "Engga ada penyakit apapun?"
Merasa tersinggung Mikayla menatap Larissa penuh amarah. "Lo mau apa sih sebenernya?" Dia tidak pernah suka dengan gadis ini.
Semua itu karena Larissa dulu sangat membenci Kevin bahkan merendahkannya dan sekarang ia mendekati Kevin dengan senyuman manis itu, senyuman menjijikkan yang anehnya dapat memikat hati banyak orang.
"Gue engga mau apa-apa kok." Larissa tersenyum kecut. "Lagian gue engga akan bisa menang dari lo." Untuk apa juga, hubungan mereka terjadi di kehidupan sebelumnya, bukan kehidupan ini.
"Jangan dekatin Kevin." Mikayla menegaskan. "Gue engga akan pernah lupa dengan semua kata-kata kejam lo tentang dia."
Larissa mendengarkan.
"Karena kata-kata lo dia pernah berantam sama Adrian, karena lo dia pernah dihajar Tristan, karena lo dia pernah kecelakaan motor dan karena lo dia dibenci gadis-gadis di sekolah kami." Matanya memicing tajam, terlihat sekali kebencian disana. "Lo itu pembawa sial, semua orang menderita karena lo bahkan Kaitlyn putus sama Adrian karena lo."
Larissa tertawa lepas, ia menutup mulutnya. "Ehhhhhh itu salah gue?" Nada suaranya terdengar remeh. "Dengar baik baik Mikayla, cowok berselingkuh itu bukan salah siapa-siapa, itu salah dirinya sendiri karena dia tidak pernah puas dengan apa yang dia miliki." Larissa tersenyum manis.
"Bayangkan seperti ini." Dia melipar kedua tangannya di atas meja. "Ibaratkan gadis-gadis itu adalah perhiasan. Perhiasan itu ada banyak jenis, ntah itu dari segi bentuk, warna, dan keindahan. Tentunya yang paling cantik lah yang diinginkan oleh banyak orang, namun ada sebuah kategori yang bisa mengalahkan kecantikan."
Mikayla mengepalkan kedua tangannya.
"Unik." Larissa tersenyum miring.
"Kecantikan akan kalah dengan sesuatu yang langkah, unik, dan beda." Dia mengelus pipi gadis itu. "Ya semoga lo ngerti kata-kata yang gue sampaikan."
Mikayla menepis kasar tangan Larissa dari pipinya. "Jangan sentuh gue."
Larissa mengangkat tangannya. "Sorry Pwinncess." Dia bangkit. "Sepertinya kita tidak akan cocok untuk menjadi teman, gue akan cari yang lain, bye." Dia melambaikan tangan kecil dan pergi dari meja itu lalu mencari meja lain.
"Siapa yang bisa makan dengan seseorang yang terus menerus melotot pada mu." gumam Larissa.
Tenang saja dia memang mantan pelakor tapi, di dalam kepalanya tidak pernah sekalipun Larissa kepikiran untuk merebut Kevin dari Mikayla sejak ia tahu pria itu memiliki pacar.
Seperti yang la katakan pada Kaitlyn, pria itu banyak, sisanya terserah padamu ingin memilih untuk bersama dengan siapa.
Masa lalu hanyalah masa lalu.
Larissa hanya akan makan hati jika terus mengingatnya.
...****************...
...URAURAAA ......
...BAGAIMANA EPISODE KALI INI?...
...HEHE MAAF YAA ATAS SEMUA KESALAHAN......
...OKEEE DEHHH SELAMAT MEMBACA SEMUA......
...TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA......
__ADS_1
...SARANGBEYOOOO SEMUAAA ❤️...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...