
Seperti saran Elvina, dua hari kemudian Larissa pergi ke belakang sekolah dan mendatangi rumah bertingkat yang terlihat paling mencolok diantara semua rumah yang ada di sekitarnya Setelah mengemas semua bayi-bayi milik Larissa asli dan mengirimnya kepada pembeli la segera mengemas barang-barangnya yang tinggal sedikit, bahkan ia hanya membawa satu tas ransel dan satu koper dior yang tidak ia jual.
Setelah semua ini selesai ia harus membeli pakaian baru, karena banyak pakaian bermerek yang sudah habis la jual.
"Hallo permisa eh permisi!" Larissa menekan bel-nya, rumah itu tidak terlalu lebar hanya menjulang tinggi ke atas.
"Iya sebentar!" Terdengar suara dari dalam,
suara seorang wanita.
"Wah gadis yang imut, ada perlu apa sayang?"
Larissa bersiul kecil, Ibu Kosan nya benda-benda terlihat sangat cantik dan seksi. Gaun merah yang memamerkan belahan dadanya, rambut pirang yang panjang, make-up nipis yang tidak terlalu mencolok dan sepatu hak tinggi berwana hitam. Larissa bertanya-tanya apakah setiap hari ia berpakaian seperti ini?
"Anu Kak saya mau ngekos di sini." kata Larissa.
"Aku lebih tua dari kelihatannya sayang." Dia mengerling menggoda. "Panggil Bunda aja seperti penghuni kos yang lain memanggil ku." Bunda Mawar membuka pintu lebar-lebar mempersilahkan Larissa untuk masuk. "Masuklah, kita akan membicarakan semuanya di dalam."
Dalam rumah itu juga cukup bagus, daripada kosan ini terlihat seperti rumah minimalis yang ditinggali keluarga kecil. Ada banyak kamar disini dan Larissa meminta kamar di lantai satu, ia tidak mau naik-turun tangga terlalu melelahkan menurutnya dan uang kosannya juga engga terlalu mahal, masih sanggup kali dia bayar kalau engga sanggup minta uang ke Eric aja.
"Karena kamu meminta di lantai satu, cuma kamu yang di lantai ini, yang lainnya di lantai 2 dan 3."
"Gak apa apa Bunda Mawar, capek naik turun tangga."
"Oh yaudah gak apa-apa, Bunda juga tinggal di lantai satu kok." Punda Mawar tersenyum ramah. "Kamar kamu yang ini." Ia membuka pintu kamar dengan pintu berwarna putih.
"Wahhhh!" Larissa berdecak kagum. "Ini bahkan lebih bagus daripada kosan saya sebelumnya."
"Syukurlah kamu suka, peraturan disini sangat sederhana. Semua bebas dilakukan selama kamu tidak membawa lawan jenis ke kamar." Bunda Mawar memberikan tatapan tajam ketika mengatakan hal ini. "Seseorang pernah saya usir karena ketahuan membawa pria ke kamarnya, jadi jika kamu tidak ingin saya usir mohon tepati itu....." Dia melotot tajam.
Larissa mengangguk. "Tenang aja Bunda, saya tidak akan melakukannya." Astaga menakutkan sekali.
"Baguslah, ini kunci kamarnya, selamat beristirahat dan beres-beres."
"Bunda ada Motor gak? Aku boleh pinjam mau ke mall bentar," Izin Larissa, ia melihat beberapa Motor di Garasi sebelum masuk tadi.
"Punya, ambil kuncinya di dekat pintu masuk, setiap kali digunakan ingat harus bertanggung jawab dan jaga dengan baik."
"Baik Bunda."
Bunda Mawar segera pergi dari kamar Larissa agar gadis itu bisa membereskan barang-barangnya.
Larissa meletakkan barang-barangnya dan merebahkan diri di atas kasur, gadis itu tersenyum senang. "Akhirnya gue bisa tidur nyenyak." Selama tinggal di kosan lama Larissa ia tidak bisa tidur dengan nyenyak, punggungnya sakit.
"Ayo Larissa, jangan malas-malasan, ini semua baru awalnya." Akan banyak peristiwa yang terjadi nanti dan ia harus bersiap-siap untuk menontonnya.
Iya menontonnya! Tidak mungkin ia melewatkan semua adegan favoritnya di dalam Novel ini.
Larissa terkekeh geli. "Kayaknya gue dah gila,"
Setengah jam kemudian ia membereskan barang-barangnya dan pergi ke mall terdekat untuk berbelanja.
__ADS_1
"Anjrittt gila ini kenapa bisa mahal-mahal banget semua" lirih Larissa.
Ketika ia masih menjadi mahasiswa jajan hariannya aja engga sampai 50 ribu sehari dan pakaian yang ia gunakan paling harganya kisaran 100-50 ribu. Keluarganya di kehidupan sebelumnya adalah keluarga sederhana yang sering kekurangan uang dan tidak makan karena tidak memiliki uang untuk membeli makanan. Ia memiliki 4 saudara dan dirinya adalah anak terakhir, Papa dan Mama sudah tiada sejak SMA karena penyakit diusia tua.
"Sebaiknya gue keluar aja dari sini." Sekarang ia berada di sebuah toko baju merek ternama, ia bahkan melihat beberapa pakaian yang baru saja ia jual kemarin di situs belanja unline.
"Terima Kasih atas kunjungannya."
Larissa menunduk malu, padahal ia tidak membeli apa-apa tapi tetap juga diucapin Terima Kasih.
"Toh lihat mereka berdua aktor yah? Kok ganteng banget sih."
"Gila! Itu wajah atau pahatan karya seni! Ganteng banget!"
"Kalau gue dekatin dia mau gak yah?"
Larissa yang baru saja selesai membeli Es Krim menatap beberapa gadis yang sedang bisik-bisik tidak jelas, alisnya terangkat sebelah dan karena penasaran ia berjalan mendekati kerumunan itu.
"Ada apa kak?" tanyanya pada seseorang.
"Itu ada Cogan."
Cogan?
Gadis itu berjinjit untuk melihat apa yang sedang kerumunan itu lihat dan ketika melihat seseorang yang ia kenal mata Larissa langsung melotot.
Itu Adrian
Awalnya ia ingin ke arah sana untuk mengunjungi toko baju yang lainnya tapi untuk saat ini ia akan memilih untuk segera mundur, Larissa berlari terhirit-hirit, ia tidak mau bertemu dengan pria itu dan kerena terlalu panik gadis itu memasuki toko untuk pakaian dalam pria.
Bagaimana ini? Bagaimana caranya keluar?
"Permisi kak, ada yang bisa saya bantu? Mau cari pakaian dalam untuk suami, Abang, adik atau pacarnya nih kak?" Pegawai toko menghampiri Larissa yang terlihat seperti pencuri.
"Hah! Engga ada kak hehehe saya engga cari apa-apa." Sebaiknya ia segera keluar dari sini
Tapi naas nya di depan pintu masuk ia bertemu dengan Adrian dan seorang temannya.
Larissa tertangkap basah.
Adrian yang terlihat sangat tampan dengan pakaian santainya menyeringai seperti Iblis. "Lo mau bellin gue Pakaian dalam?" ejeknya.
"Gue cuma lewat," ketus Larissa. "Siapa Bang?" tanya Cogan di samping Adrian.
Kek Bocil. Batin Larissa.
"Selingkuhan gue," kata Adrian.
"Dih, jijik banget. Kasihan Kak Kaitlyn."
"Udah putus kok," sambung Adrian.
__ADS_1
"Dih! Emangnya bisa gitu" Nih Cogan kok kayaknya agak gimana-gimana gitu ya.
"Pergi deh."
"Lo mau makan apa tadi?"
"Gue mau Pasta daging."
"Bisa sih tapi syaratnya harus tiga orang, kita cuma berdua."
"Harus kita telpon Kak Kaitlyn?"
Larissa langsung mengurungkan niatnya untuk pergi. "Hm, gue ikut boleh?" Lumayan makan siang gratis
"Siapa lo?" Adrian menatap Larissa sinis.
"Ajak Kak Kaitlyn aja." Cogan di samping Adrian juga ikut menatapnya sinis, sepertinya ia tidak suka dengan Larissa.
"Jauh, ajak dia aja." Adrian menarik lengan Larissa, la juga ikut menarik tangan adiknya.
"Ish, gue malas banget makan sama Pelakor."
Larissa menatap laki-laki itu sinis. "Lo siapa? Engga kenal udah ngatain orang."
"Gue Ethan adiknya Adrian, apa lo?" Nih Bocil julid banget.
Larissa terdiam, sekarang tatapan sinis berubah menjadi tatapan kasihan.
"Lo nantangin gue yah? Berani banget lo tatap gue kayak gitu."
Larissa menggelengkan kepalanya. "Engga kok, gue kan anak yang baik jadi gue diam aja."
"Bang gue mau jual nih cewek ke pasar gelap!"
"Coba aja, besoknya lo nyusul."
Ethan mendumel kesal. "Aneh lo, padahai cuma selingkuhan kok di bela banget?"
Adrian tidak menjawab.
Sementara Larissa ia menghela nafas dengan sedih.
Kasihan sekali adik Adrian, nantinya ia akan jatuh cinta pada Kaitlyn dan dicampakkan seperti tisu basah.
Kaitlyn sangat cantik dan hampir semua laki-laki di Novel ini menyukai dirinya.
Ck, entah kenapa Larissa kesal.
...****************...
...MAKASIH YAA KARENA SUDI MEMBACA KARYA AUTHOR...
__ADS_1
...SARANGBEYOOOO SEMUAAA ❤️...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...