
Daniel sudah mengabari kepolisian Busan untuk memata-matai rumah Lee Jun Ki. Perjalanan dari Seoul ke Busan kurang lebih memakan waktu 4 jam.
Daniel tidak hanya dengan timnya dia juga menghubungi tim khusus jadi ada sekitar 5 mobil menuju Busan sekarang.
Hari menjelang sore akhirnya mereka sampai di Busan, Daniel dan tim melapor ke kepolisian setepat terlebih dahulu, lalu mereka pergi ke rumah Lee Jun Ki.
"Lee Jun Ki tidak ada dirumah, sepertinya dia mengetahui jika menjadi buronan," lapor polisi disana, Daniel meneliti rumah tersebut.
"Apa kalian sudah mencarinya disetiap sudut rumah?" Tanya Daniel dengan nada yang serius.
Daniel langsung masuk ke dalam rumah itu dan ternyata ada 2 orangtua, sepertinya itu orangtua Lee Jun Ki dan ada 1 anak remaja yang kemungkinan adiknya.
Daniel mengeluarkan kertas dari dalam jaketnya lalu menunjukkan kepada orangtua Lee Jun Ki, setelah itu dia menggeledah rumah itu lagi.
Jane dan 5 orang lainnya ikut mencari. Daniel melihat ada lapisan lantai yang mencurigakan, dia mencoba mengetuk lantai itu dan bunyinya berbeda dengan yang lainnya.
Daniel melihat dengan saksama lalu dia menemukan seperti gagang pintu, yang warna dan motifnya dibuat seperti lantainya. Daniel membukanya dengan cara menggeser, dan benar saja ternyata ada tangga dibawah sana.
Terlihat dari atas ruangan itu remang-remang, Daniel mengambil pistor yang berada selalu dipinggangnya. Pertama dia mengecek terlebih dahulu dengan cara menggunakan kamera handphone. Setelah dirasa tidak ada yang membahayakan, dia turun perlahan-lahan pijakan demi pijakan tangga.
Daniel menajamkan penglihatannya lalu menoleh kesana-kemari, dia berjalan perlahan-lahan. Tiba-tiba ada teriakan,"Oppa awas!!!" Itu adalah suara Jane.
Sebelum Daniel memproses teriakan Jane ada pelukan dari pelakang dan....
Jleb...
Daniel memutar badan dan ternyata Jane yang terkena tusukan tersebut, dia tidak tahu jika Jane ikut masuk ke ruang bawah tanah tersebut.
Daniel melihat Park Jun Ki lalu melepaskan 1 tembakan ke kakinya..
Dor..
__ADS_1
Mendengar ada suara tembakan dari arah bawah, tim dan polisi yang berada diatas segera mengecek. Mereka masuk ke dalam ruang bawah tanah dan melihat Jane yang bersimbah darah, dan Park Jun Ki mengerang kesakitan merasakan timah panas dikakinya.
"Jane.. Jane kumohon bertahanlah!!" Panik Daniel, suaranya bergetar melihat Jane terkulai lemas. "Panggil ambulance, panggil ambulance cepat!!!" Teriak Daniel.
Salah satu dari kepolisian menghubungi ambulance. Daniel dan beberapa rekannya berusaha untuk menghentikan pendarahan yang keluar dari pinggang Jane.
"O..ppa" Suara lemah itu terdengar sangat menyayat hati Daniel, Daniel menyalahkan dirinya sendiri kenapa tidak lebih berhati-hati supaya tidak menyakiti orang-orang yang dia sayangi.
"Jangan berbicara, cukup simpan saja tenagamu jangan sampai kamu kehilangan kesadaran. Jebal Jane, kamu harus tetap sadar sampai di rumah sakit." Mohon Daniel yang air matanya sudah tidak bisa dia tahan lagi.
Tangan Jane bergerak lemas menyentuh pipi Daniel, dia mengusap air mata itu."Uljima, oppa."
"Tidak, tidak, oppa tidak menangis, tetapi Jane harus janji kalau Jane harus bertahan." Ucap Daniel yang berusaha menahan supaya tidak lepas kendali.
Jane hanya tersenyum sesekali meringis,"Kenapa ambulance sangat lama sekali?" Teriak Daniel karena sungguh Jane tidak boleh kehilangan kesadarannya.
Setelah beberapa menit kemudian ambulance datang, Jane langsung dibawa ke rumah sakit. Daniel ikut pergi ke rumah sakit, Park Jun Ki dia serahkan terlebih dahulu kepada kepolisian Busan.
...****************...
Disisi lain ibu Dami sekarang sedang berada di cafe June. Daniel, Jane, dan June adalah 3 serangkai dari SMA jadi dia juga dekat dengan June.
Cafe June tidak ramai seperti biasanya, mungkin karena sedang hujan sangat deras jadi orang-orang lebih memilih tinggal di rumah.
"June bagaimana kabarmu? Ini oleh-oleh dari Amerika," Sapa ibu Dami sambil memeluk June, Junepun membalas pelukannya.
Juje tersenyum lalu menerima bingkisan itu,"Aku baik eomma, bagaimana dengan eomma? Kenapa eomma repot-repot membelikan aku oleh-oleh?"
"Eomma selalu baik, eomma tidak repot inikan hanya oleh-oleh kecil. Apa kalian masih sering berkumpul bersama?" Tanya ibu Dami.
"Tentu saja eomma, kami sering berkumpul disini. Tetapi akhir-akhir ini karena kasus pembunuhan mereka sangat sibuk, jadi kami belum berkumpul lagi." Jelas June sambil berjalan ke arah dapur meminta karyawannya membuatkan minuman hangat.
__ADS_1
Ibu Dami tersenyum mendengar penjelasan June,"Ya mereka sangat sibuk karena kasus tersebut, tetapi eomma juga mengerti karena itu sudah tanggungjawab mereka sebagai polisi. Kamu juga sangat sibuk June, cafemu juga selalu ramaikan,"
June tertawa sebelum menjawabnya,"Tentu saja eomma, kami anak muda yang sukses." jawabnya sombong.
Mereka tertawa bersama, lalu handphond mereka bergetar hampir bersamaan. Itu semua adalah pesan dari Daniel yang mengabarkan bahwa Jane sedang dirawat di rumah sakit.
Ibu Dami panik setelah menerima kabar tersebut. June segera mengambil jaketnya dan masuk ke dalam mobil ibu Dami untuk menyusulnya ke Busan.
...****************...
Disisi lain, Jane sudah sadar sekarang tetapi wajahnya masih pucat. Daniel duduk disampingnya sambil menggenggam tangannya.
"Oppa, apakah Park Jun Ki berhasil ditangkap?" Tanya Jane dengan suara yang lemah.
Daniel menatap Jane dengan saksama,"Oh perkataan macam apa itu? Seharusnya kamu berkata oppa aku tidak apa-apa atau oppa aku haus, malah bertanya tentang keparat itu." Jawab Daniel dengan sewotnya.
Jane tertawa lalu meringis, dia lupa bahwa pinggangnya terluka jadi jika tertawa itu sedikit nyeri,"Wae? Apakah oppa sangat khawatir kepadaku?"
"Kenapa aku harus khawatir kepadamu? Aku hanya takut jika kamu kenapa-kenapa, siapa yang akan menghabiskan gajiku untuk jajan?" Daniel menjawabnya dengan cepat seperti sedang ngerap.
Jane memanyunkan bibirnya, dan disendil oleh Daniel,"Eomma dan June sedang dalam perjalanan kesini, nanti kamu ikut mereka pulang tentu saja kamu naik ambulance." Jelas Daniel.
Jane mengangkat sebelah alisnya,"Aku sedang bertugas kenapa aku malah disuruh pulang ke Seoul?"
Daniel menatap Jane tajam,"Dengan terluka begini? Kasus ini juga akan diadili di Seoul jadi kamu pulang terlebih dahulu."
Jane yang menerima tatapan itu seketika nyalinya ciut, jika sudah serius begini Daniel amat sangat menyeramkan, bahkan Jane yang terkenal dengan arogannya saja takut.
Pintu kamar Jane terbuka dan ternyata rekan timnya yang dari Seoul, mereka datang untuk menbesuk Jane dan membawakan buah-buahan. Mereka tidak terlalu lama karena Jane juga butuh istirahat.
"Aku senang bahwa kamu tidak kenapa-kenapa, karena aku sudah berjanji jika kamu sampai kenapa-kenapa aku akan membunuh keparat itu dengan tanganku sendiri." Ucap Daniel sambil mengepalkan tangannya.
__ADS_1
Jane saat ini sedang menahan tawanya melihat tingkah Daniel, tetapi dia juga percaya itu karena lelaki itu jika menyangkut Jane akan sangat posesif sekali.