
Dugh..
Daniel menutup pintu mobilnya, sekarang ia sudah berada disalah satu mall dikawasan Seoul. Baru saja ia akan melangkah masuk ke dalam mall..
"Copet...Copet.. Tolong ada copet!!!" Seru beberapa warga. Daniel yang mendengar keramaian itu langsung membalikkan badan.
Terlihat seseorang dengan tinggi mungkin 175 cm, memakai jaket abu-abu sedang berlari. Ditangan orang tersebut terlihat memegang sebuah tas.
Daniel tanpa pikir panjang ikut mengejar orang itu."Aish.. Hei berhenti!!!" Teriaknya, ia mengikuti pencobet tersebut sampai ke dalam sebuah gang. Naas, jalan yang diambil oleh pencopet tersebut adalah jalan buntu.
Copet itu memutar badannya dan terlihat tenang melihat Daniel. Ia menyeringai sambil mengambil sesuatu yang berada disaku jaketnya, ternyata ia mengambil pisau lipat.
Daniel memicingkan matanya lalu berkata"Buang mainanmu itu!"
Copet itu tidak menggubris perkataannya. Copet itu langsung menyerang Daniel dengan ganas, dan terjadilah pekehalian sengit diantara mereka berdua.
"Aish!!! Wajah tampanku."Pipi Daniel terkena pisau tersebut.
Daniel melihat copet itu dan menyeringai, ia langsung menuju kearahnya. Daniel menghajarnya tanpa ampun"Tadi baru pemanasan, bung."
Akhirnya setelah perkehalian sengit diantara keduanya, Daniel dapat melumpuhkan copet tersebut.
"Jika saja kamu langsung memberikan tasnya kepadaku tanpa neko-neko, kamu tidak akan babak belur dan tertangkap polisi." Kata Daniel dengan nafas yang ngos-ngosan.
Daniel mengambil handphonenya dan menekan nomor 112, yaitu nomor kepolisian Korea. Ia melaporkan adanya tindakan pencopetan.
Setelah melaporkan itu, terdengar ada suara dibelakang. Ternyata itu adalah beberapa warga dan pemilik tas. Ada warga yang bersiap-siap akan menghajar copet itu, tetapi langsung dicegah oleh Daniel.
"Saya sudah melaporkannya, sebentar lagi polisi akan datang."Ucap Daniel menjelaskan.
Kurang lebih 10 menit kemudian polisi datang"Detektif Daniel! Anda tidak apa-apa?" tanya salah satu petugas kepolisian.
Daniel tersenyum sampai matanya tidak terlihat"Saya tidak apa-apa, ini hanya goresan kecil saja."
Setelah selesai mengurus kejadian yang tidak diduga, Daniel kembali ke mall. Sebelum itu, ia mampir terlebih dahulu ke apotek.
__ADS_1
...****************...
Jane dan June sekarang berada di toko Bvlgari. Jane sedang memilih-milih cincin dan diikuti June yang juga ikut melihat-lihat.
Tiba-tiba dari belakang terdengar suara yang memanggil mereka"June, Jane kalian disini." Seru Daniel yang langsung menghampiri keduanya.
June dan Jane yang merasa nama mereka dipanggil, membalikkan badan."Oppa!" Pekik Jane yang langsung dibekap oleh June.
June memelototinya "Seperti sudah lama tidak bertemu saja." Gerutu June dan dibalas cengengesan oleh Jane.
Daniel hanya menggelengkan kepala melihat tingkah kedua sahabatnya tersebut"Apa yang kalian lakukan disini tanpaku?" Ucap Daniel sambil memegang dadanya seolah-olah dia sedang dikhianati.
"Ah, semalam June mengirimkan pesan kepadaku. Dia ingin aku menemaninya untuk membeli jaket, lalu aku ingin membeli cincin ya jadilah kita disini sekarang. Eoh, oppa! Ada apa dengan pipimu?" Jawab Jane lalu memicingkan matanya melihat pipi Daniel yang tertempel hansaplast.
"Eoh ini? Nanti saja aku ceritakan." Jawab Daniel dan ia berjalan ke arah salah satu pegawai Bvlgari.
Jane dan June saling bertatapan lalu mengekori Daniel. Daniel sedang menunggu cincin yang dia tanyakan.
"Oppa beli cincin untuk siapa?" Tanya Jane penuh selidik.
Daniel tidak menanggapi keduanya dia memilih untuk membayar cincin yang sudah dia dapatkan itu "Apa kalian sudah selesai? Jika sudah ayo makan siang bersama." Ajaknya.
"Tunggu aku sebentar, tadinya aku akan membeli cincin juga tetapi oppa keburu datang,"Tutur Jane lalu kembali menunjuk cincin yang tadi sudah dia lihat-lihat.
Setelah beberapa saat mereka berjalan ke restoran yang berada di samping mall, setelah mendapatkan tempat duduk, Jane langsung memborbardir Daniel dengan pertanyaan kembali.
"Oppa kamu belum menjawab pertanyaan ku tadi. Jadi untuk siapa cincin itu? Apa oppa punya pacar? Hey tidak mungkin, aku tahu oppa adalah jones abadi," Ujar Jane penuh selidik dan diakhiri ejekan diakhir kalimatnya.
"Lalu kamu membeli cincin juga untuk siapa?" tanya balik Daniel kepada Jane.
June yang mendengarkan kedua temannya berdebat itu sangat jengah"Sudah, sudah. Kita disini untuk makan bukan mendengarkan kalian berdebat. Daripada kalian berdebat hal yang tidak penting, lebih baik kalian membicarakan perkembangan kasus yang sedang kalian tanganin." Sela June. Setelah mendengar perkataan June, Daniel dan Jane saling diam.
"Belum ada perkembangan apapun, bahkan kami tidak menemukan bukti apapun. Pembunuh ini sangat jeli dan pintar,"Ujar Daniel.
"Aku merasa kasihan dengan orangtuanya, mereka sangat ingin pelaku dihukum setimpal dengan perbuatannya, tetapi sampai sekarang pelaku masih berkeliaran diluar sana,"Sahut Jane sambil menundukkan kepala kepala pelayan karena makanannya datang.
__ADS_1
Mereka sekarang berada direstoran sundubu jjigae. Mata Jane berbinar melihat makanan didepannya, sungguh orang yang gemar makan.
"Apakah kalian tidak gila dengan reporten yang setiap hari menunggu didepan kantor polisi?" Tanya June dengan sedikit tertawa.
"Sungguh sebenarnya yang bikin pusing adalah reporter, tetapi aku menghargainya karena mereka juga bekerja,"Jawab Jane sambil memakan makanannya.
"Ah oppa, besok aku akan telat berangkat karena akan pergi mencari sayuran terlebih dahulu. Bukankah eommonim akan pulang lusa, jadi aku akan mencarikannya sayuran ke pasar basah,"Kata Jane memberitahu Daniel.
Daniel yang mendengar itu meletakkan sendok makannya"Bukankah aku yang anaknya? Kenapa dia memberitahumu tetapi tidak denganku?" Sewot Daniel dan hanya ditanggapi dengan suara tawaan June dan Jane.
Ibu Daniel berada di Amerika dan akan pulang lusa. Memang dari dulu semenjak Daniel mengenalkan kedua temannya, ibunya sangat menyayangi Jane. Ayah Daniel sudah meninggal waktu Daniel masih kecil.
Setelah selesai makan siang bersama mereka berpisah, Daniel pulang ke rumahnya dan June mengantarkan Jane pulang juga sebelum dia pergi ke cafenya.
...****************...
Keesokkan harinya Daniel sudah berada di kantor polisi untuk bekerja. Ini sudah pukul 9 dan dia hanya mengecek-ngecek laporan saja.
Tiba-tiba ada ahjussi dan ahjumma datang sepertinya mereka suami istri. Ahjumma tersebut terlihat sangat khawatir, Daniel berdiri dan menghampiri mereka.
"Pak Polisi tolong carikan anak saya, dia sudah tidak memberi kabar sudah 2 hari. Biasanya dia akan selalu memberikan kabar apapun kondisinya." Kata ahjumma tiba-tiba sambil menangis.
Rekan Daniel berusaha menenangkan ahjumma yang sangat khawatir itu. Daniel mengarahkan pandangannya kepada suami dari ahjumma tersebut."Bisa ahjussi jelaskan bagaimana awalnya?"
"Anak saya adalah mahasiswi, 3 hari yang lalu dia memberitahu kepada kami bahwa dia tidak pulang karena banyaknya tugas. Dia selalu memberikan kabar kepada kami, tetapi sejak lusa dia tidak mengirimkan pesan apapun. Kami mencoba menghubunginya tetapi tidak dia angkat,"Jelas ahjussi itu.
Pintu kantor polisi terbuka, Jane masuk dan langsung diberi aba-aba oleh Daniel untuk mendekat."Siapa nama anak ahjussi?"
"Kwan I Su," Jawabnya Cepat.
"Jane, cari nama Kwan I Su dan lacak lokasinya!" Suruh Daniel, Jane langsung berjalan ke arah mejanya dan mencari nama Kwan I Su.
"Ahjussi dan Ahjumma bisa pulang terlebih dahulu, nanti jika anak anda sudah kami temukan, akan kami antar kembali ke rumah," Bujuk Daniel dan dibantu beberapa rekannya.
Akhirnya suami istri itu mau pulang, dan diantar kan oleh salah satu petugas kepolisian menggunakan mobil patroli.
__ADS_1