
Daniel dan Jane sudah memeriksa cctv dan bertanya kepada pemilik apartemen, dan apa yang dikatakan Hae Jin memang benar, jadi Hae Jin dilepaskan.
Sekarang Daniel, Jane dan 4 orang yang merupakan 1 tim sedang melakukan rapat,"Kita belum tahu motif pelaku ini apa, dan dilihat dari profil kedua korban, korban juga tidak neko-neko. Untuk jari kelingking yang hilang bisa jadi pelaku ingin menunjukkan ciri khasnya." Analisi Daniel yang memimpin rapat.
"Bisa jadi pelaku hanya mengamati lalu mengeksekusi, karena dilacak kita melacak orang yang dihubungi oleh korban tidak ada ada yang mecurigakan, kita bahkan menanyai keluarga dan teman dekat korban," Lanjut Daniel sambil membalikkan badan dan melihat papan yang berisikan foto dan data-data korban.
"Warga menuntut kepolisian untuk segera menangkap pelaku karena ini sudah sangat meresahkan, kalian bisa lihat keluar jendela bahkan mereka berkemah dihalaman depan,"Ucap Suho sambil menghembuskan nafasnya kasar.
"Menurutku pelaku sangat tahu tentang dunia forensik, karena dia sangat pandai tidak meninggalkan bukti sedikitpun."Imbuh Jane sambil menyangga kepalanya.
Mereka termenung sambil memikirkan apa langkah yang akan mereka lakukan selanjutnya,"Bahkan korban tidak memiliki hubungan sama sekali." Kata Daniel sambil membolak-balikkan foto korban.
Daniel diam memejamkan matanya, dia berpikir apa yang belum dia cek tentang kasus ini. Apa pelaku memiliki gangguan fetis? Atau memang psikopat?
Daniel melihat jam tangannya dan sudah menunjukkan pukul 18:15, sudah molor 15 menit,"Mari sudahi rapat hari ini, kita lanjutkan besok lagi. Pulang dengan hati-hati dan jangan lupa makan dengan cukup, supaya otak kita bisa berpikir untuk memecahkan kasus ini."
Mereka bubar dan pulang masing-masing, Jane jadi ikut dengan Daniel untuk menjemput ibunya ke bandara. Daniel fokus menyetir dan Jane fokus bermain handphonenya.
...****************...
June sedang sibuk di cafe, seperti hari-hari biasanya cafenya sangat ramai pengunjung. Bahkan June sampai turun tangan di dapur, dia sangat bersyukur karena cafenya meskipun bukan hari libur tetap ramai.
June tersenyum melihat para pengunjung yang datang silih berganti, apa sebaiknya aku renov atap ya? Pengunjung juga sebaik hari semakin banyak, batinnya.
June kembali fokus dengan memesaknya, akan tetepi dia tiba-tiba teringat dengan kedua sahabatnya yang sudah lama tidak mengunjunginya, apa mereka berdua sangat sibuk sekali hingga lupa denganku? Bahkan Jane tidak mengirimkan pesan kepadaku sama sekali.
Kalau Daniel tidak udah ditanyakan lagi, Daniel tidak seperti Jane yang selalu menanyakan kabar sahabatnya.
Setelah selesai memasak semua pesanan, June memilih untuk pergi ke ruangannya. Disana dia mengambil rokok yang berada diatas meja. Terlihat kepulan asap keluar dari mulutnya, June memejamkan matanya. Sepertinya aku butuh kesenangan malam ini.
June menghidupkan laptop lalu membuka-buka sosial media. Dia menscroll-scroll dengan teliti. Setelah melihat apa yang dia inginkan, June menyeringai.
Dia keluar dari ruangannya lagi dan mencari Soo-he,"Sooheya, nanti kamu tutup seperti biasanya, aku ada urusan jadi akan pergi terlebih dahulu."
__ADS_1
Soohe hanya menganggukkan kepala lalu kembali bekerja, karena cafe masih sangat ramai. June lalu keluar menuju mobilnya dan pergi.
...****************...
Daniel, Jane dan ibunya kini sedang makan malam bersama. Mereka terlihat seperti sebuah keluarga yang bahagia.
"Oppa dari sini nanti aku naik taxi saja, soalnya aku masih mau ke toserba dahulu untuk berbelanja,"Kata Jane dengan tersenyum.
"Loh nanti kita mampir dulu enggak apa-apa, nak Jane. Kenapa harus kamu naik taxi?" Tanya ibu Daniel sambil menggenggam tangan Jane.
Jane sangat senang karena dianggap anak juga oleh ibu Daniel,"Eommonimkan baru saja sampai jadi harus istirahat, lagian juga naik taxi tidak jauh kok. Eommonim tidak usah khawatir, Jane kan polisi terbaik!" Balas Jane sambil menaik-turunkan aliskan.
Daniel tidak percaya dengan ucapan Jane,"Cih polisi terbaik."
Jane melihat Daniel dengan sinis,"Apakah eommonim tahu jika oppa itu sangat pelit sekali."
Daniel yang tiba-tiba mendengar itu langsung membelalakkan matanya,"Tidak eomma sungguh, dia hanya mengada-ada saja."
"Tidak eommonim, tadi waktu aku ingin ikut aku harus janji enggak boleh minta jajan." Adu Jane sambil berpura-pura tersakiti.
Jane menjulurkan lidahnya kepada Daniel,"Eomma lihat! Jane hanya pura-pura, barusan di menjulurkan lidahnya kepadaku mengejek!"
Jane berpura-pura menangis seperti anak kecil,"Aniyo, kenapa oppa senang sekali menuduhku?"
Ibu Daniel mengusap surai Jane dengan penuu kasih sayang,"Sudah, kamu hanya bisa membuat Jane sedih saja."
"Wahhh!" Daniel tidak percaya sungguh, dari dulu Daniel selalu kalah dengan Jane didepan ibunya. Ibunya lebih menyayangi Jane daripada dirinya.
Setelahh makan malam Jane benar-benar naik taxi, jadi sekarang tinggal Daniel dan Ibunya.
"Niel, bagaimana perkembangan hubungan kamu dengan Jane?" Tanyanya dengan tiba-tiba membuat Daniel mengerem mendadak.
Tinn!!! Tinn!!
__ADS_1
Mobil dibelakangnya membunyikan klakson yang membuat Daniel sadar kembali, dia mengemudikan mobilan lagi."Ya masih seperti dulu, emang mau bagaimana?"
Ibunya menghela nafas berat, dia tahu anaknya sangat kaku dalam hal percintaan ini yang membuat ibunya gemas.
"Usiamu sudah mau 30 lebih dan kamu masih tidak berani mengajaknya berkencan?" Ibu Dami menekan nada terakhirnya dengan mengejek.
"Tidak eomma, aku sudah menyiapkan sesuatu untuknya hanya menunggu waktu yang tepat saja,"Jelas Daniel sambil membelokkan mobilnya ke parkiran apartemen.
Ibu Dami yang mendengar itu kaget karena anaknya akhirnya menunjukkan keseriusan,"Wah jinjja? Apa yang itu?" Tanyanya dengan nada menggoda.
Daniel mengambil sesuatu dilaci mobilnya lalu menunjukkannya kepada ibunya. Itu adalah cincin yang dia beli beberapa hari yang lalu.
"Seleramu bagus juga, bergerak lebih cepat lebih baik. Apa kamu tahu itu? Jangan sampai Jane diambil orang lain, dia adalah anak yang sangat baik dan pengertian." Ujar Ibu Daniel sambil meneliti cincin itu.
...****************...
Disisi lain disebuah rumah sudah ada 2 orang, yang 1 pingsan dan yang satunya menatap monitor-monitor yang terpasang disana.
"Pinky" sebutan orang-orang menamainya, karena dia membunuh selalu meninggalkan ciri khasnya yaitu menghilangkan jari kelingking.
Pinky terlihat bersiul-siul, malam ini dia akan bersenang-senang lagi. Dia memang memberi jeda jika ingin bersenang-senang, karena dia ingin mempermainkan kepolisian juga.
"Polisi-polisi goblok! Hahaha, apa sebenarnya yang mereka kerjakan? Untuk menangkapku saja sampai sekarang belum bisa,"Ucapnya sambil tertawa terbahak-bahak.
Diruangannya tersebut ada beberapa cctv dan radio, dia melihat disalah satu monitor yang mengarah ke gadis yang sedang dia kurung sudah sadarkan diri. Pinky lalu menyeringai, dia mengambil palu dan senar layang-layang. Lalu berjalan ke arah sel buatannya.
"Hai gadis manis! Bagaimana tidurmu?" Tanyanya sambil tersenyum menyeramkan.
Gadis itu meringkuk ke belakang terlihat sangat ketakutan, tangan dan kakinya diikat tali yang sangat kencang.
"Hey, hey jangan takut sayang. Malam ini kita akan bersenang-senang jadi kita harus terlihat bahagia bukan?" Kata Pinky sambil membuka gembok sel tersebut.
Pinky meletakkan palu dan senar layang-layang dia memilih-milih,"Kamu mau bersenang-senang menggunakan yang mana? Kamu saja yang pilih, aku akan mengikuti kemauanmu."
__ADS_1
Gadis itu menangis dan menggelengkan kepalanya,"Ampun, tolong jangan bunuh aku." Suara itu terdengar sangat lemah.