
Sinar matahari menembus korden. Terlihat 2 orang masih tertidur dibawah selimut yang sama.
"Hztt dingin sekali," Ucap Jane sambil menarik selimutnya, akan tetapi dia menyadari sesuatu. Ada yang melingkar diperutnya, Jane langsung membuka matanya dan melihat dibalik selimut.
1
2
"Aaaaaaaaa!!!"
Seseorang disebelahnya berjingkat dan langsung duduk. "Apa? Ada apa?" Tanya orang itu yang tidak lain adalah Daniel.
Jane menangis,"Apa yang telah kita lakukan oppa?" Daniel yang nyawanya belum terkumpul belum menyadari apapun.
Dia memijat pelipisnya,"Tentu saja tidur." ucapnya santai. Jane yang mendengar itu langsung mengambil bantal dan memukulkannya ke kepala Daniel.
"Jika hanya tidur kenapa aku dan oppa tidak memakai pakaian?" Ucap Jane sedikit meninggikan suara lalu terisak kembali. Daniel yang mendengar itupun langsung melihat ke arah dirinya dan Jane yang menutupi badannya menggunakan selimut.
Daniel melebarkan matanya,"Maafkan oppa, Jane. Oppa tidak ingat sama sekali apa yang kita lakukan tadi malam. Oppa hanya ingat kita minum diatas setelah itu oppa tidak ingat apa-apa lagi." Jelas Daniel sambil mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi semalam.
Jane masih menangis terisak, tentu saja harta yang paling dia jaga sudah hilang. Hilang dengan tidak sadar dengan kebodohannya yang tidak memikirkan konsekuensinya. Jane akan bangun dari tempat tidur,"Aww appo."
__ADS_1
Daniel mengambil dan memakai boksernya dan berjalan ke arah Jane,"Apa? Apa yang sakit?" tanyanya dengan khawatir.
Jane yang masih sedikit terisak itu menatap tajam ke arah Daniel, Daniel bingung dengan tatapan itu."Tentu saja punyaku sakit, bodoh! Aku masih peraw*n!"
Daniel menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, dia merasa sangat bersalah. Dia bingung harus berbuat apa,"Aku akan menggedongmu ke kamar mandi," Ucapnya sambil bersiap akan menggendong Jane.
"Tidak perlu! Aku bisa sendiri!" Ucap Jane sambil berdiri, dia melangkah dengan pelan-pelan dan sedikit mengangkang. Sebenarnya Jane menyadari bahwa ini salah mereka berdua, tetapi dia sangat jengkel jadi dia memarahi Daniel.
Daniel mengusap wajahnya frustasi, dan saat itu
Drrrrtt..
Drrrrtt..
"Hasil otopsinya sudah keluar, sebaiknya kamu kesini sekarang untuk melihatnya sendiri!" kata seseorang dibalik telepon tersebut. Setelah memutuskan teleponnya Daniel keluar dari kamar dan menuju kamar mandi tamu.
Jane yang berada di kamar mandi kamar sekarang terduduk melamun diatas kloset,"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku belum siap menikah apalagi punya anak." Monolognya sambil memikirkan apa yang harus dia lakukan sekarang.
Jane keluar dari kamar mandi,"Kemana oppa pergi? Dasar orang tidak bertanggungjawab! Setelah berbuat lalu dia pergo begitu saja!" Gerutu Jane yang amat sangat jengkel sekarang. Jane mengambil handphonenya dan mencari informasi bagaimana setelah berbuat itu agar tidak hamil.
Jane menyipitkan matanya sambil terus fokus membaca yang tertera diponselnya. Tiba-tiba pintu kamar dibuka dari luar, itu adalah Daniel,"Ah kenapa kamu belum mandi? Aku dikabari bahwa hasil forensiknya sudah keluar, kita disuruh untuk melihatnya sendiri." Kata Daniel memberitahu, Jane hanya meliriknya sinis lalu berjalan ke arah kamar mandi lagi.
__ADS_1
Kurang lebih 30 menit kemudian, kedua manusia itu sudah dalam mobil menuju ke kantor polisi,"Berhenti diapotik depan sebentar!" kata Jane tidak melihat Daniel.
Daniel mengernyitkan dahinya,"Kamu sakit?" Jane yang mendengar itu spontan langsung melihat ke arahnya dan menatap tajam.
"Oppa kita tidak tahu apakah kamu keluar didalam atau diluar, aku belum siap untuk menikah apalagi mempunyai anak, jadi aku akan antisipasi!" Kata Jane panjang lebar. Sebenarnya Daniel ingin menentangnya, jika Jane hamil pasti dia akan bertanggungjawab. Tetapi setelah mendengar perkataan Jane dia hanya bisa terdiam. Daniel memarkirkan mobilnya didepan apotik, Jane turun dari mobil dan masuk ke dalam apotik.
Jane langsung menuju kasir,"Permisi, saya mau membeli obat anti ham*il." Ujar Jane yang disambut ramah oleh kasir tersebut. Kasir itupun merekomendasikan beberapa obat, Jane memilih yang paling mahal semakin mahal semakin bagus pikirnya. Setelah membayar obatnya Jane langsung kembali ke dalam mobil dan meminum obat tersebut.
Daniel melanjutkan perjalannya tanpa bertanya apa-apa, begitupun dengan Jane. Sebenarnya mereka berdua gugup, gugup dengan hasil otopsi dan gugup dengan apa yang mereka berdua lakukan semalam. Kondisi didalam mobil sangat canggung, kecanggungan ini belum pernah terjadi.
Setelah beberapa saat mobil Daniel memasuki area kepolisian Seoul. Dia memarkirkan mobilnya paling pinggir.
Dugh..
Dugh..
Suara pintu mobil ditutup, Jane dan Daniel langsung berjalan ke arah ruang interogasi. Mereka belum bisa mengobrol dengan sahabatnya sebelum semuannya jelas. Tampak seorang polisi sedang menginterogasi June, dan diluar ruangan juga ada seorang polisi. Polisi itu melambaikan tangannya setelah melihat Jane dan Daniel.
"Bagaimana hasilnya?" Tanya Daniel tanpa babibu. Polisi itupun tersenyum lemah.
"Ditangan dan baju korban terdapat DNA June. Tidak ada DNA orang lain selain June pada korban, memang kemungkinan teman kalianlah pelakunya." Jelas polisi itu.
__ADS_1
"Tidak! Itu tidak mungkin! Jika June memang pelakunya apa motifnya?" Kata Jane yang sangat frustasi. Daniel berusaha menenangkannya.
"Detektif Lee sedang menginterogasinya, dari bukti cctv dan DNA itu sudah cukup untuk menjadikannya sebagai tersangkat utama." Kata polisi itu kembali.